Bunga Ilalang


Cerpen Miftah Fadhli (Jawa Pos, 18 Desember 2011)

ANAKKU, Sandy, berumur delapan tahun, tak kelihatan di antara anak-anak yang baru saja lewat di depan rumah. Di antara mereka aku bisa melihat Bagas, Sucipto, dan Adijaya berjalan beriringan. Pukul sebelas ini, anak itu seharusnya pulang bersama tiga serangkai itu. Tapi tak satu pun dari mereka yang melihat Sandy keluar sekolah. Bagas mengatakan, tiba-tiba saja dia kehilangan Sandy di halaman sekolah.

“Kami sempat menunggu Sucipto membeli gulali, Bu.” Kata Adijaya.

Pagi tadi, Sandy menghabiskan semua nasi di piringnya. Biasanya dia lari begitu saja dari kursi dan menyisakan setengah isi piring. Tapi hari ini dia memakan semua sayurnya. Aku membuatkannya tumis kangkung dan sayur bayam. Sandy menyendokkan kedua sayuran itu ke piringnya dan makan dengan lahap. Biasanya dia mengeluh soal sayur-mayur dan tidak pernah menghabiskannya alih-alih tak pernah menyentuhnya.

Aku, sebenarnya, cukup sering memperingatkan Sandy supaya tidak mengompol lagi. Setiap tiga hari sekali, dia mengompol.

“Kamu sudah delapan tahun, Sayang.”

Tapi Sandy memang masih kecil, sebenarnya. Dia mengaku tidak bisa menahan perasaan ingin kencing ketika tidur. Seolah-olah semua itu hanya mimpi dan keesokan paginya, celananya basah.

Pagi ini, adalah sebuah keajaiban anak itu tidak membasahi celananya. Katanya, dia sengaja bangun tengah malam untuk pipis dan bangun pukul tiga untuk memastikan celananya tidak basah. Dia juga mengaku menggosok gigi sebelum tidur dan berdoa sebagaimana Pak Roji’i melafalkan doa tidur untuknya. Berkali-kali Pak Roji’i datang kepadaku hanya untuk memastikan Sandy sudah hafal doa tidur. Guru ngaji itu merasa perlu memastikan Sandy menghafal doa tidurnya karena pada hari ujian, doa itu selalu gagal diucapkannya.

“Sandy sering mengeluh soal mimpi buruk, Bu Ani.”

Tapi sekarang anak itu menghilang setelah perilaku tidak biasanya hari ini. Aku memeriksa meja belajarnya barangkali ada surat undangan yang lupa dia berikan. Tapi mejanya bersih, baik dari kotoran bekas penghapus ataupun perlatan tulis yang berserakan. Robekan kertas juga dia buang di keranjang sampah. Beragam pikiran menumpuk dalam kepalaku hari ini. Hari ini, Sandy menjadi anak yang tertib dan disiplin.

***

Aku menelepon ke sekolah Sandy untuk memastikan keterlambatannya karena ada acara penting di sekolah. Bu Farida, bagian tata usaha, mengatakan sekolah sedang tidak mengadakan acara apa pun dan semua murid sudah semuanya pulang. Tidak satu pun murid tinggal di sekolah. Setelah shalat Zuhur aku duduk-duduk di beranda sambil berharap seseorang datang dan mengabari soal Sandy. Lebih dari itu, aku berharap Sandy menemukan jalan pulang.

Pukul satu aku sudah mondar-mandir di halaman sambil sesekali melongok ke jalan, dari ujung ke ujung, barangkali Sandy ada di bahu jalan. Kepada orang-orang yang lewat aku bertanya apakah mereka melihat Sandy. Pak Luhur, penjual bakso keliling, lewat di depan rumah dan berhenti.

“Wah, saya tidak lihat Sandy di sekolah, Bu. Hari ini dia tidak beli bakso saya.”

Kalau begitu, tentu saja, dia belum makan siang. Hari ini dia tidak terlalu ngotot meminta uang jajan lantaran uang yang kuberikan lebih sedikit dari biasanya. Sandy tidak mungkin tidak membeli bakso Pak Luhur karena, memang, sedikit apa pun uang jajannya, kucukupkan agar dia bisa membeli bakso Pak Luhur. Akhirnya, kupesankan semangkuk bakso Pak Luhur agar ketika pulang, dia bisa tetap memakan bakso itu.

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia belum pulang hingga siang. Pagi tadi, aku membuatkannya omelet—seperti yang dimintanya kemarin—dan membuatkannya susu cokelat. Aku tidak memaksanya untuk memakan sayur—tapi Sandy menyendokkannya sendiri ke piringnya. Seingatku, aku tidak memarahinya pagi ini—juga kemarin-kemarin sebelumnya. Lagipula aku tidak pernah marah—apalagi berkata-kata kasar—pada anak delapan tahun itu. Kalau dia nakal, kupikir itu biasa karena dia baru delapan tahun dan aku tidak pernah memukulnya. Aku hanya menasihatinya dengan cerita-cerita Nabi, atau kadang mendongengkannya legenda-legenda rakyat dari tanah seberang. Sama sekali tidak ada kemarahanku pada anak kecil itu.

Kalau lemari pakaiannya berantakan aku hanya memperingatinya sekali agar tidak mengulanginya—dan tidak pernah bersuara keras. Pagi ini anak itu tidak membuat lemari pakaiannya berantakan. Bahkan dia memakai bajunya sendiri. Dia mandi sendiri dan bangun sendiri. Tempat tidurnya sudah rapi saat aku masuk untuk memastikan dia sudah bangun. Hari ini, lantaran memang aku tak pernah memarahinya, kehidupan dimulai dengan keajaiban bahwa Sandy tidak membuat pagi hari seperti pasar malam.

Lagipula dia tidak banyak bicara—alih-alih mengomel—pagi ini, selain pengakuan-pengakuan tidak biasa itu. Dia juga tidak membawa peralatan olahraga apa pun atau mengatakan apa pun karena ingin bermain sepulang sekolah. Biasanya dia mengadu akan terlambat kalau ingin singgah ke rumah Bagas, atau temannya yang lain. Tentu saja, dia tidak pernah mengaku terlambat karena ingin mengerjakan PR di rumah teman.

Tapi semalam, Sandy mengerjakan semua PR-nya sendirian.

Akhirnya aku mendatangi rumah Bagas—dua blok dari rumahku—untuk memastikan Sandy berada di sana. Tapi Bagas sedang tidur siang (dan tentu saja, tidak ada Sandy di sana). Kepada Amira aku bertanya, tapi dia mengaku melihat Sandy duduk sendirian di taman sekolah hari ini.

“Sandy pendiam hari ini, Bu.”

Aku khawatir. Apa yang membuatnya begitu aneh? Aku mendatangi rumah Pak Roji’i berharap anak itu ada di sana sedang menceritakan mimpi buruknya. Tapi Pak Roji’i sedang pergi menghadiri hajatan Pak Sami’un. Aku tak menemukannya di lapangan mesjid, karena dia sering bermain sepakbola di sana. Kudekati kerumunan anak-anak untuk memastikan Sandy ada di antara mereka. Tapi, anak-anak itu bahkan tidak mengenal Sandy. Aku sadar telah berada jauh dari rumah.

Pukul tiga, aku kembali ke rumah tapi tidak ada Sandy di dalamnya. Suamiku baru akan pulang pukul delapan. Aku duduk-duduk sebentar di beranda berpikir di mana seharusnya Sandy berada. Mas Karso, satpam yang sering mengelilingi komplek menjelang sore, mengaku tak melihat Sandy.

Pukul setengah empat kuputuskan untuk mendatangi sekolahnya. Lapangan sekolah itu dipenuhi anak-anak bermain sepakbola—tapi tak satu pun di antara mereka mengenal Sandy. Guru-guru dan pegawai sekolah telah pulang. Ruang-ruang pegawai telah dikunci. Aku duduk di bawah pohon beringin di taman sekolah, sementara langit di ufuk Barat mulai menguning. Burung-burung berterbangan di langit, berkicau, menerbitkan kegelisahan di hatiku. Kupikir, tak mungkin anak berumur delapan tahun itu melarikan diri. Aku hanya terlalu takut. Tapi Sandy tak pernah melakukan ini.

Perlahan-lahan bayangan pohon beringin membesar sehingga aku tak dapat menemukan bayanganku sendiri. Lembayung di langit membuat bangunan sekolah kelihatan muram padahal lapangan sekolah masih penuh dengan anak-anak bermain sepakbola. Aku tidak tahu harus mencari Sandy ke mana lagi sementara hari mulai sore. Suamiku akan pulang dan mendapati Sandy tak ada di rumah adalah satu hal yang membuatku sangat khawatir. Sandy dan beragam pikiran yang berkecamuk dalam kepala adalah banyak hal yang membuatku tak ingin pulang—setidaknya sampai aku menemukan anakku.

Tapi lapangan sekolah mulai kosong. Anak-anak pulang ke rumahnya sementara aku masih bingung memilih apakah pulang atau terus mencari. Tapi aku harus berada di rumah—setidaknya—ketika suamiku pulang (dan berharap ketika Sandy juga pulang).

Anak itu menyiapkan semua buku pelajarannya sendirian. Menyiapkan air hangat agar tidak kedinginan ketika mandi, juga sendirian. Sandy tidak ingin dicium seperti anak kecil, tapi pagi ini dia meminta aku menciumnya. Kemarin dia bertanya apakah aku akan pergi hari ini. Segala ketidak-biasaan itu membuatku risau. Sepanjang jalan aku beberapa kali melongok ke belakang berharap Sandy mengikuti. Terpikir olehku untuk kembali ke sekolah barangkali Sandy ada di sana. Terpikir olehku juga untuk kembali mendatangi rumah teman-temannya mungkin Sandy singgah di sana. Tapi hari mulai gelap, dan aku masih tak percaya Sandy masih belum kutemukan.

Aku bahkan tak tahu harus melakukan apa kalau Sandy masih belum pulang. Tapi pintu pagar terbuka saat aku sampai di rumah. Dari kegelapan teras Sandy muncul dengan baju kotor dan bau keringat yang tercium samar-samar. Anak delapan tahun itu menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya dan menatapku dengan mata yang sangat lelah. Aku ingin mengejarnya tapi dia mulai mendekati dengan langkah yang ragu-ragu, tapi toh Sandy masih berjalan. Sebenarnya aku ingin memeluknya lantaran selama seharian ini aku telah kehilangan anak itu. Tapi tepat di depanku, Sandy berhenti dan memperlihatkan tangannya kepadaku.

“Ibu, aku berjanji tidak akan mengompol lagi.” Ucap Sandy, seperti doa.

Tapi bukan pernyataan itu yang membuat aku bergeming dan tak menahan diri untuk meneteskan airmata. Bahkan aku ragu untuk berkata-kata. Tapi Sandy terus berucap dan menyodorkan tangannya kepadaku.

“Uang jajanku tak cukup untuk membeli bunga. Aku mencari bunga liar seharian, tapi aku cuma menemukan ilalang. Ini untuk Ibu, tapi sudah layu.” Katanya, dengan kepolosan anak berumur delapan tahun.

Aku baru ingat, ini tanggal 22 dan Sandy menghilang seharian bukan tanpa alasan. Aku mengambil ilalangnya dan memeluk anak itu erat sekali—seperti dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun kehilangan. Dia tentulah belum mandi sore ini dan tubuhnya bau keringat. Tapi bagiku, itu bau pengorbanan. (*)

 .

.

Desember, 2011

— selamat Hari Ibu, untuk Ibu Tercinta;

   tak ada malaikat paling cantik selain Ibu.

.

.

Advertisements

12 Responses

  1. keren bagus sekali

    Like

  2. “Uang jajanku tak cukup untuk membeli bunga. Aku mencari bunga liar seharian, tapi aku cuma menemukan ilalang. Ini untuk Ibu, tapi sudah layu.”

    Like

  3. Ampuuuuun… Udah was-was aja Sandy ke mana. Kalau saya yang jadi ibunya pasti saya udah mikir macam-macam deh. Tapi ternyata… ow ow ow… Andai saya bisa begitu sama ibu saya atau anak saya begitu sama saya he he…

    Like

  4. cerpen ini menceritakan tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya yang begitu dalam .oleh karena itu anak merupakan buah hati yang sangat dicintai dan anak merupakan generasi penurus bangsa yang akan membangun bangsa kita ini,dan juga anak merupakan kader-kader penerus bangsa yang akan menjaga bangsa dan negara ini.sekaligus anak merupaka titipan yang maha kuasa. oleh karena itu marilah kita semua menjaga dan merawat genarasi ini se,baik mungkin karena merekalah yang akan menjadi tulang punggung bangsa dan kalo bisa pendidikan di negara kita ini lebih maju lagi untuk menciptakan generasi yang berahlak mulia.oleh karena itu cerpen ini sudah sangat bagus

    Like

  5. apa email cerpen ke Jawa Pos?

    Like

  6. louding

    Like

  7. very touchy and i’m glad to know Sandy could go back home safely. nice ending. congratulation for the writer.

    Like

  8. alur cerpen ini sangat bagus……………….!!!! cerita cerpen sangat cocok seperti keadaan di lingkuangan sekitar kita ini

    Like

  9. Subhanallah.
    Spechless gue gan.
    :mewek

    Like

  10. aku nangis baca cerpen ini.. luv u so much, mum..

    Like

  11. Keren abis. Ga’ nyangka endingnya bakal kaya’ gitu. Luar biasa! 🙂

    Like

  12. Bang Miftah Fadhli berhasil membuat saya penasaran akan ending cerita. Luar biasa.

    “Uang jajanku tak cukup untuk membeli bunga. Aku mencari bunga liar seharian, tapi aku cuma menemukan ilalang. Ini untuk Ibu, tapi sudah layu.” Katanya, dengan kepolosan anak berumur delapan tahun.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: