Cerpen Dien Wijayatiningrum (Republika, 11 Desember 2011)

KALAU saja ibu tak memaksaku untuk pulang ke kampung setelah mendapat gelar sarjana, tentu aku sudah menerima tawaran bekerja sebagai staf redaksi di salah satu majalah mingguan. Tapi, kata-kata ibu di telepon menjadi senjata ampuh untuk menarikku paksa pulang ke kampung. Demi menjadi pegawai negeri sipil.

Entah apa yang ada dalam pikiran ibu. Baginya, pekerjaan yang paling baik adalah menjadi seorang pegawai negeri sipil. Tidak ada pekerjaan lain yang baik di matanya.

“Pokoknya, Dodot, kau tak boleh bekerja di sembarang tempat yang tidak bisa memberimu jaminan untuk hidup enak, serta jaminan pensiun buat hari tuamu nanti. Pulanglah ke sini, Desember nanti akan ada pembukaan tes pegawai negeri sipil di kota kita, kau harus ikut. Pokoknya harus.”

“Tapi, Bu, aku sudah mendapat pekerjaan di sini….”

“Jangan membantah, Dodot. Kau lihatlah anak-anak kampung di sini yang bekerja di kota sebagai karyawan swasta, pulang ke kampung kotor betul raut wajahnya. Sepertinya, mereka itu tidak bahagia. Kau lihat saja para pegawai negeri yang hidup di kota kita, pakaiannya wangi dan licin-licin. Dan, aku lihat betapa gagahnya mereka itu.”

Aku menghela nafas panjang dengan kesat. Titah ibu seperti pagar duri yang akan menghalangi langkahku. Kemauan ibu tidak akan dapat dipatahkan oleh siapa pun.

Bukannya aku tidak ingin menjadi pegawai negeri. Jujur saja, aku pun memimpikan untuk memiliki nomor induk pegawai dan mendapatkan ketenangan masa tua dengan dana pensiun yang sudah mutlak akan aku miliki.

Aku juga ingin, mendapatkan kartu askes seperti ibu dan bapakku. Sehingga, pengobatan di rumah sakit bisa bebas biaya. Meskipun ibu dan bapakku tidak jarang memiliki pengalaman yang tidak enak ketika menyodorkan kartu Askes itu kepada si pegawai rumah sakit. Kadang-kadang, muka-muka cantik dan tampan para pegawai rumah sakit itu akan berubah menjadi masam dan kecut ketika menerima pasien dengan sehelai kartu Askes di tangannya.

“Kenapa kau tak mau pulang dan menolak untuk menjadi pegawai negeri?”

Bagaimana lagi harus aku katakan pada ibu. Bahwa, aku bukan menolak. Mungkin, hanya ingin menunda saja kata yang lebih tepatnya. Aku ingin memiliki pengalaman dulu beberapa tahun bekerja di mana saja. Tapi, ibu telanjur berburuk sangka padaku. Ia malah menuduhku yang bukan-bukan. Ia menuduh, aku takut kalau nanti hidup seperti ibu dan bapakku. Duh, ibuku mulai menjadi.

“Kenapa kau ini? Kau takut hidup seperti aku berprofesi sebagai pegawai negeri, tetapi melarat hidupnya karena surat kerja yang aku miliki digadai ke bank? Dan, gajiku minus pula. Begitu? Kau ini bagaimana pikirannya, Dodot. Walaupun sekarang aku hidup begini, nanti di masa tua hidupku akan bahagia. Aku tidak akan merepotkan anak-anakku, meminta uang untuk biaya hidup. Karena aku punya uang pensiun. Kau pun seharusnya berpikir ke arah sana.”

***

Aku menyerah. Takut menjadi Malin Kundang tiba-tiba bila terus saja melawan perkataan ibu. Setelah selesai semua urasan kuliahku, aku pun segera berbenah pulang ke kampung halaman, mengikuti tes pegawai negeri sipil mewujudkan mimpi ibu agar aku memiliki nomor induk pegawai nanti.

Sial memang tak dapat ditolak dan malang tak dapat dihadang. Kali ini aku gagal. Tidak ada namaku di surat kabar yang mengumumkan siapa saja yang berhak menyandang nomor induk pegawai, seperti yang menjadi mimpi ibu. Memang belum jodoh begitu pikirku. Maka, setelah aku membeli koran di kecamatan, aku pulang dengan langkah gontai ke rumah.

Setibanya di rumah, suasana riang gembira aku tangkap melalui telingaku. Ketika membuka pagar, aku dengar ibu tertawa-tawa, begitu juga bapak. Mereka tampak sangat bahagia. Berita gelap yang akan aku sampaikan pastinya akan menghapus kebahagiaan mereka. Mengingat hal itu, sedih dan malu menjalari hati dan pikiranku. Bagaimana kata ibuku nanti, aku yang selalu ia bangga-banggakan karena kepandaianku yang Tuhan berikan, ternyata tidak bisa lolos tes pegawai negeri.

Tapi, sepahit-pahitnya kenyataan harus aku sampaikan pada ibu dan bapak. Tidak peduli betapa akan kecewanya mereka mengingat begitu besar harapan mereka agar aku menjadi pegawai negeri setelah tamat kuliah.

“Dodot gimana. Lolos?”

Tanya Kusman, kakakku, yang juga ikut tes pegawai negeri tahun ini. Aku menggeleng pelan, mata ayah dan ibuku seperti hendak meloncat keluar dari sangkarnya. Aku menunduk. Ibu berkaca-kaca. Hendak menangis.

“Kau bagaimana?”

Aku bertanya menendang sunyi yang semakin membuatku tidak bebas bergerak. Senyum mengembang dari mulut Kusman. “Aku lulus, alhamdulillah. Nanti ibu dan bapak akan syukuran beberapa hari lagi. Beberapa temanku yang menyogok tidak lulus. Uang mereka bahkan raib begitu saja. Uang hilang, nomor induk pun melayang, hahaha….”

“Oh. Malang betul nasib mereka.”

Aku bersyukur Kusman menyampaikan hal itu di depan ibu dan bapak. Setidaknya, membuat mereka sedikit berbahagia. Aku hanya tidak lolos saja, nasib ibu dan bapakku lebih mujur dibandingkan dengan nasib orang tua teman-teman Kusman yang telah membayar mahal, tetapi tidak lolos pegawai negeri.

***

Semenjak Kusman lolos tes pegawai negeri sipil dan aku tidak lolos, perlakuan ibu sangat berbeda sekali pada kami berdua. Pagi-pagi, Kusmanlah yang pertama kali dipanggil untuk makan ke dapur dan ditanya oleh ibuku apakah masakan ibuku pas di mulutnya atau tidak. Sedangkan aku dibiarkannya terlelap sampai siang.

Apabila aku sudah bangun, maka ibu akan mulai menyapaku dengan kata-kata yang lumayan pahit. Ia akan mengatakan bahwa enak betul menjadi pengangguran. Tidur sesukanya dan bangun pun sesukanya. Tak apa bagiku ibu berkata seperti itu. Hanya saja, aku paling tidak tahan apabila ia mulai membanding-bandingkan aku dengan Kusman dalam hal pegawai negeri.

Kali ini, ibu mengajakku untuk membereskan bekas sarapan bapak dan Kusman di meja. Aku disuruhnya memberikan sisa tulang belulang ikan ke si Cintiya, kucing kesayangan ibu. Di sampingku, ibu tengah membereskan piring-piring kotor sambil sesekali diratapinya nasibku yang malang, tidak lolos pegawai negeri.

“Nanti April akan ada tes pegawai negeri lagi. Kau harus ikut dan harus lolos, Dodot.”

“Bagaimana kalau aku tidak lolos lagi?”

“Mustahil. Aku akan membeli gelar pegawai negerimu.”

Mata ibu lurus menatapku, aku yakin ibu tidak sedang main-main dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya.

Membeli gelar pegawai negeri? Bagaimana bisa ibu punya pikiran kotor seperti itu. Padahal, ibu sendiri yang selalu mengatakan kepada tetangga-tetangga bahwa pekerjaan menyogok itu adalah pekerjaan nista.

“Anak saya Kusman, tidak menyogok ketika lolos sebagai pegawai negeri. Karena, saya tahu bahwa menyogok itu dosa. Orang yang menerima suap dan yang memberikan suap akan masuk neraka.”

Itulah kata-kata ibu di depan beberapa orang, ketika syukuran Kusman dilangsungkan.

“Sudahlah jangan terkaget-kaget seperti itu. Kusman bisa lolos pun karena dia pakai duit. Enam puluh juta. Kau pun pakai duit, aku yang atur. Hanya saja jatah untuk kau aku bayar setengahnya saja dari jumlah yang seharusnya aku bayar. Aku sedang tak punya duit waktu itu, buat kau, aku hanya bisa kasih tiga puluh juta. Maka, dari itu kau tidak lolos dan jatah buatmu diserempet oleh orang yang mampu membayar penuh. Buat April nanti duit untukmu pasti sudah aku dapat. Jadi, jangan khawatir kau tidak akan lolos lagi tes pegawai negeri.” (*)

 .

.

Penulis lahir di Banten, 31 Desember 1989. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi semester enam Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia.

.

.

Advertisements