Cerpen Mikmilia Aziz (Republika, 4 Desember 2011)

LAKI-LAKI itu tinggi, jangkung, dengan kumis yang tidak dicukur. Cambangnya menyemaki wajahnya yang tirus. Dia mengenakan topi hitam untuk menyembunyikan sedikit wajahnya. Kemeja dan celananya sudah lusuh. Sangat cocok dipadukan dengan sepasang sandal jepitnya yang longgar. Sesaat dia memberikan kesan sangar bagi orang yang pertama kali melihatnya. Namun, pada bola matanya yang cokelat tua ada keteduhan. Ada pancaran kebaikan yang terbit dari lubuk jiwanya.

Dia berdiri mematung di emperan toko. Di tangannya terbentang lebar sehelai koran. Sementara, di hadapannya orang-orang berseliweran tanpa menghiraukan dia. Semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang berjalan cepat-cepat dengan raut wajah cemas, entah mencemaskan apa. Ada juga yang asyik berbelanja, masuk keluar toko-toko beton yang angkuh seperti menertawakan orang-orang kere seperti dia. Laki-laki itu sebentar-sebentar mengintip lewat koran yang diturunkannya sedikit.

Dia sama sekali tidak membaca koran. Koran itu terbitan lama yang beritanya sudah basi. Paling isinya cuma masalah makan uang para pejabat dan kriminal. Ekor mata lelaki itu mengikuti derap langkah kaki seorang ibu yang baru saja keluar dari sebuah ATM bank. Dia melihatnya saat ibu itu memasukkan setumpuk uang yang ditariknya dari mesin uang tersebut ke dalam tas tangan yang sekarang ia jinjing.

Ibu itu berjalan lamban di antara orang-orang, masuk ke lorong-lorong yang sedikit sepi. Laki-laki itu sudah tidak ada lagi di emperan. Koran di tangannya sudah dicampakkannya ke dalam tong sampah. Dia mengikuti wanita itu dengan diam-diam. Si ibu berhenti untuk melihat gaun-gaun indah yang dipajang di etalase sebuah butik.

Ia memutuskan akan memilih beberapa gaun yang cocok untuknya. Dengan uang segini apa yang tidak dapat dibeli, pikirnya senang. Baru saja ia hendak melangkah ke dalam, tiba-tiba tas di tangannya disentak dengan kasar. Dia melongo bagai terhipnotis. Lalu, kesadaran lain timbul dalam hatinya untuk berteriak sekeras-kerasnya.

“Maliiing…! Tolooong ada maliiiing…!!!”

“Tas saya dilarikan maling. Ituuu malingnya! Kejaaar! Ayo, tolonglah saya…!” Siang yang terik jadi bertambah gerah dengan kegaduhan yang tiba-tiba. Orang-orang berlarian ke arah si ibu.

“Mana malingnya, Bu?!” tanya mereka tak sabaran.

Ibu itu menunjukkan laki-laki yang sedang lari hendak menyelamatkan dirinya. Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, mereka langsung memburu sang pencuri. Langkah-langkah kaki yang banyak menciptakan satu melodi keliaran.

Massa menghadang dari berbagai arah. Lorong-lorong diblokir. Toko-toko digeledah. Setiap sudut diperiksa. Akhirnya, ketahuanlah kalau pencuri itu bersembunyi di dalam tong sampah.

Mengetahui tempat persembunyiannya diketahui, laki-laki itu nekat lari. Dia menerobos massa yang murka. Tapi, itu mustahil karena massa terus berdatangan, memblokir dan menghadangnya. Lalu, mereka menerkamnya dengan buas seperti sekawanan serigala mengeroyok seekor kambing kampung. Kayu, batu, dan apa saja benda yang bisa dipakai untuk memukul terus menghajar tubuh ringkihnya. Mendadak udara berbau amis dan laki-laki itu sudah tak sadarkan diri.

Wajahnya telah hancur. Darah segar menutupi setiap inci wajahnya yang rusak itu. Tubuhnya juga tidak jauh berbeda. Banyak genangan darah yang menembusi kemeja lusuhnya. Kondisi jari-jari kakinya lebih memprihatinkan lagi. Mereka telah menghancurkan semua jari-jari yang malang itu sehingga kelihatan pipih, tanpa tersisa daging lagi. Tampaknya dipukul dengan batu-batu jalan yang besar.

Beberapa saat kemudian serombongan polisi datang. Mereka memeriksa tubuh sang pencuri. Mereka yakin keadaannya sudah tak tertolongkan lagi. Beberapa warga ditanyai keterangan tentang kasus itu. Salah seorang di antara mereka terlihat mencatatnya di sebuah buku kecil. Lalu, tiba-tiba wanita korban pencurian itu menyeruak masuk kerumunan orang-orang itu. Sambil menangis ia memekik melengking.

“Mana taskuuu??? Cepat berikan padaku!”

“Kemana kalian bawa tasku??? Kembalikan uangku!”

“Tenang, Bu. Tas Ibu aman-aman saja,” kata seorang polisi sambil memeriksa tas uang wanita itu. Tapi, begitu membuka tas itu ia tercengang. Tas itu telah kosong! Teman-temannya yang lain silih berganti melihat. Dan, mereka semua heran. Batin mereka langsung berbisik, massa yang telah mengeroyok pencuri itu juga ikut mencuri.

Sebuah ambulans datang untuk membawa jenazah pencuri itu ke kamar mayat. Sementara, wanita korban pencurian itu masih berteriak-teriak menanyakan uangnya. Orang-orang bubar. Polisi pulang. Yang tinggal hanya wanita itu sendirian.

“Kalian semua maliiiing …!” jeritnya melengking. Namun, semua tak ambil pusing dan membiarkannya sendirian di sana.

***

Satu hari sebelum pencurian, “Ayah, aku butuh uang untuk beli seragam olahraga. Kata pak guru, yang tidak pakai seragam tidak boleh ikut pelajaran,” ujar Siti, anak perempuan laki-laki itu yang masih duduk di kelas lima SD. Dia tercenung sejenak.

“Baik, nanti ayah belikan ya,” sahutnya singkat, hendak berlalu dari hadapan anaknya.

“Yah, aku juga minta uang. Sepatuku sudah butut dan terkoyak parah. Kata teman-temanku mirip perahu oleng. Aku tidak peduli, tapi wali kelas juga menegurku. Katanya sepatuku sudah tidak layak pakai lagi. Beliau menyuruh ayah membeli yang baru,” ujar Zulfan, anak laki-lakinya yang sudah duduk di kelas tiga SD. Laki-laki itu kembali tercenung. Tapi, cepat-cepat dia mengangguk ke arah anaknya.

“Baik, Nak. Nanti ayah belikan. Yang penting kamu harus selalu masuk kelas,” sahutnya tersenyum getir.

Zulfan terlihat gembira dan kembali bermain dengan kakaknya. Namun, tanpa sepengetahuan mereka laki-laki itu menyimpan resah di dadanya. Dia bergegas keluar rumah. Dia sudah bertekad untuk dapat kerja hari ini. Dia tahu di rumahnya sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan anak-anak dan istrinya. Karung beras sudah kosong, apalagi yang lain. Beruntung dia punya keluarga yang sudah terbiasa lapar.

Dia menawarkan diri jadi kuli angkut, namun tidak ada yang mau menggunakan jasanya. Dia juga mendaftar jadi penyapu jalan kota, kata petugas peminatnya sudah banyak. Tanpa kenal lelah dia terus menawarkan diri pada orang-orang yang membutuhkan tenaga keras seorang buruh, toh, sampai senja dia pulang dengan tangan hampa.

Pikirannya membisiki yang asing-asing, dia cepat mengenyahkannya. Dia masih sanggup mengusir setan yang gentayangan di pelupuk mata dan hatinya. Tapi, di sebuah tikungan jalan, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu. Bungkusan plastik hitam. Dia memungutnya. Isinya adalah cambang dan kumis palsu. Dan, mendadak pikirannya semakin keras berbisik seperti gema besar yang berulang-ulang. Setan-setan menyumpal pikiran sehatnya. Dia tak dapat membendungnya lagi.

“Baiklah, ini hanya untuk satu kali saja,” gumamnya dengan berat. Esoknya dia keluar rumah setelah malamnya seharian mematut di depan cermin, belajar cara memakai cambang dan kumis palsu. Harapannya hanya satu, kalau dia ditangkap nanti, anak-anaknya tidak tahu kalau pencopet itu adalah ayah mereka. (*)

 .

.

Penulis kelahiran Padang, Sumatra Barat, ini menulis sejak sekolah dasar. Beberapa karyanya tersebar di sejumlah media massa. Ini adalah karya pertama penulis yang dikirimkan ke Republika.

.

.

Advertisements