Cerpen Jun Nizami (Suara Merdeka, 4 Desember 2011)

DARI kejauhan, hanya cahaya lampu-lampu yang menyelamatkan kota itu untuk tak disebut tenggelam. Angin tiba. Angin yang terlihat sudah begitu tua bangka. Ia seperti menghela nafasnya yang mulai lambat, satu-dua, seusai mengunjungi kota demi kota, melewati negeri demi negeri. Ia terlihat begitu lelah, semacam ingin rebah atau istirah dari keperihan barang sejenak saja. Begitulah!

Tetapi kukira, ia harus berpikir ulang sekalipun untuk tidur sebentar. Mungkin sebab sebuah kota yang dikunjunginya kini, adalah sebuah kota dengan seribu cerobong asap. Mesin bergemuruh siang-malam, pagi dan petang. Maquiladoras [1]!! Selamat datang di dunia beban [2]!!

Hari sudah malam, Senor! Dan di malam-malam seperti inilah sebuah jalan raya kerap menyergap, sehabis sepanjang siang menyembunyikan sebilah pedang di balik pinggang. Diiringi salak anjing, ya salak anjing! Juga letusan pistol, ya… yang entah berapa ratus ribu kali lagi ia akan berdesing.

“Percayalah, bau kotamu akan semakin asing, Ernest! Terlebih Kota itu kini dipimpin Walikota yang serupa tikus got!” Ia mengingat kata-kata itu sesampainya di pekarangan sebuah rumah. Sembari memperhatikan teras, tempat dulu bermain kuda kayu bersama ayahnya sewaktu kecil. Chery, serta cemara-cemara yang telah tumbang.

Kemudian terlihat pintu rumah dibuka oleh seorang lelaki tua yang membalikkan badan, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam. Terakhir, lelaki tua itu membanting pintu, lantas menuju mobil bak yang juga tua yang tengah terparkir di halaman, di samping taman.

“Hei, rupanya kau pulang juga, anak berandal. Musim dingin yang berkah, Maria!” lelaki tua itu menyapa Ernest.

“Ya, Senor!” ucap Ernest dingin, setelah terdiam agak lama.

“Malam yang dingin, Nak! Sepertinya aku membutuhkan sedikit alkohol. Aku hendak keluar. Mungkin kau juga membutuhkan sesuatu?” tawar lelaki tua itu sambil memasuki mobil baknya, seusai mengenakan topi serta mengetatkan jaketnya.

“Tidak! Terima kasih banyak!” jawabnya, “Dari dulu aku hanya meminta kau menjaga ibu dan adikku,” lanjut Ernest lirih setelah lelaki tua bangka itu berlalu.

Dan di depan pintu, seorang wanita yang juga telah tua menyambutnya penuh rindu, buru-buru wanita itu memeluknya, seperti ingin merahasiakan pipinya yang lebam biru.

“Lama kamu tak pulang, Nak! Roose sudah jadi gadis yang cantik sekarang. Ia selalu mengigaukanmu dan merindukan dongeng-dongengmu!” ucap wanita tua itu melepaskan pelukan. Tetapi pemuda itu, seperti masih enggan melepaskan mata dari rambut ibunya yang telah dirimbuni uban, dan getar bibir keriput yang seperti menyimpan penyesalan.

“Bagaimana keadaannya, Bu? Penyakit itu?” pemuda itu melepas tatapannya lalu bergegas menuju pintu sebuah kamar. Wanita tua itu hanya tertunduk.

Di dalam kamar, seorang gadis terbaring tenang. Seperti seseorang yang melewati tahun demi tahun dengan nyaman. Persis delapan tahun lalu, masih di kamar dan di ranjang itu.

“Lihatlah, Bu, ia benar-benar telah tumbuh menjadi gadis yang cantik! Seperti putri tidur!” ucap pemuda itu di sisi ranjang, sambil mengusap dan mengecup rambut adiknya yang pirang dan mulai jarang. Juga pita hitam yang masih menyimpul di leher baju adiknya itu, adalah pita hitam delapan tahun silam. Sebuah tanda perkabungan dan dukacita yang lama dan dalam.

Betapa Ernest ingat ketika ia pergi meninggalkan rumah; kampung dan berhektare-hektare ladang yang murung, pembangunan, pabrik-pabrik, dan pusat-pusat perbelanjaan. Pembangkangan, kandang kuda, dan gereja-gereja yang terbakar. Dan terakhir, sebuah penjara bawah tanah yang benar-benar sunyi. Yeah, betapa segalanya masih terekam dalam kepala.

***

TELAGA lima warna, di samping lokasi pemakaman sempit yang dihuni ratusan salib. Pemuda itu masih tertunduk di hadapan kubur ayahnya yang telah lama meninggal. Beserta adiknya yang berwajah lesu. Di atas kursi roda.

“Seperti katamu dulu, telaga ini kini telah begitu keruh! Mungkin tak ada lagi peri-peri yang kerap bersuci dengan riang di sini seperti yang kau ceritakan dalam don geng-dongeng itu.” kata gadis itu di bibir telaga, sambil memainkan simpul pita hitam di leher bajunya.

“Begitulah Roose, halnya dengan udara yang tercemar. Bayangkan! Akhirnya kita dipaksa belajar menghela nafas dengan sangat pelan-pelan, sangat hati-hati dan sabar,” kata pemuda itu seusai mengecup sebuah nisan, lalu melemparkan matanya ke tengah telaga. Menatap hidupnya, dan menatap kenangan.

Ah, kenangan! Siapa pula yang bisa mengingkarinya. Tahun-tahun silam, begitulah yang sering ia lakukan: ketika senja, kerap dengan matanya ia menggiring angsa ke bibir telaga, dan mengkhidmati permukaan telaga yang gemerlap. Terkadang, jika sehabis hujan, telaga itu kerap menyalakan pelangi.

Tetapi begitulah kapitalisme, katanya, suatu ketika. Dari tahun ke tahun terus mengusung kecemasan demi kecemasan. Dan sekeras apa pun itu disembunyikan, tetapi tetap ia adalah sebuah kecemasan.

Sebuah lapangan kosong di samping sebuah pacuan kuda, tempat ia dan teman-temannya bermain sepakbola, telah menjelma bangunan lapangan futsal. Berhektare-hektare ladang, menjelma pabrik-pabrik dan perkantoran, dan swalayan-swalayan. Dan sebuah mata air di sebelah utara rumahnya, dipagari benteng paling tinggi setelah sebuah perusahaan air mineral mengklaim bahwa sumber mata air itu miliknya. Dan seperti yang kau tahu, segala sesuatu itu meruncing pada sebuah kesimpulan: bayar!

Mungkin sejak saat itulah Ernest mulai jarang berada di rumah. Ia pergi kemana saja dengan hatinya yang naif, meratapi kenyataan, bahwa kenapa uang adalah jalan penghabisan [3]. Dan barangkali jika suatu kali kau pernah mendengar ada seseorang yang menangis di dalam hatimu karena hal semacam itu, maka percayalah, orang itulah orangnya!

“Aku ingin tertawa Roose! Ketika mendoakan kesembuhanmu, mendoakan mendiang Ayah, mengecup kening Ibu, dan mencintai sesuatu aku harus membayar telebih dulu dengan sejumlah dollar!” ucapnya seusai mendongeng, pada suatu ketika, pada suatu malam, saat suara mesin-mesin dari arah pabrik begitu bising di telinga.

“Maka bekerjalah, anak berandal! Desa kita telah menjelma kota. Maka kau bisa bekerja di mana saja, seperti teman-temanmu! Daripada keluyuran! Lagipula apa yang kau hasilkan dari acara keluyuran itu?” potong ayah tirinya di ruang tamu, di hadapan televisi yang tengah menayangkan iklan produk susu. Dari dalam televisi itu muncul dua sosok wajah yang bertutur dengan ramah. Tetapi telinga Ernest hanya mendengar seruan dan teriakan-teriakan: Konsumsi! Konsumsi! Ayolah konsumsi produk kami! Kami bersumpah demi Bunda Maria, demi badai tornado, jangan mengaku Anda adalah seorang manusia kalau Anda belum mengonsumsi produk kami!

Sejenak pemuda itu tertawa mendengar khayalannya mengoceh. Tetapi lantas, ia kemudian melanjutkan apa yang hendak diucapkan sebelumnya.

“Senor, dan tiba-tiba aku membaca, bahwa di matamu segala hasil akhir mestilah sejumlah uang! Benarkah perkiraanku ini, Senor?”

“Tentu saja, anak tolol! Lagi pula di zaman seperti ini tak ada seorang pun yang tak menyembah uang! Sebab minyak wangi, bir, dan tusuk gigi sekali pun harus dibeli memakai uang,” sergah tua bangka itu dengan wajah merah padam.

“Jika begitu, maka sepertinya aku memilih kafir saja, Senor!” pemuda itu menyahut dengan nada enteng.

“Dasar anak sampah! Kau pantas jadi orang miskin,” hardik ayah tirinya itu lantas menatap ke arah kamar. “Lihatlah anakmu ini, Maria! Anak yang sia-sia!” lanjutnya.

Tapi pemuda itu memilih keluar rumah, menuju arah suara mesin pabrik yang begitu bising seperti amarah. Seperti amarah. Dan malam itu, mungkin adalah sebuah malam terakhir ia pamit pada ibunya dan menceritakan sebuah dongeng bagi Roose. Sebab di malam itu pulalah ia kedapatan tengah berusaha menghancurkan mesin utama sebuah pabrik tekstil, menggunakan sebuah martil.

Dan, oh Roose… potongan dongeng malam itu melayang-layang di kepalanya ketika ia terjaga, ketika mendapati kabar bahwa kakaknya telah masuk penjara:

Alkisah, pada suatu ketika aku dikutuk Tuhan menjadi uang. Kemudian kepadaku, orang-orang bersujud bersembahyang. Markus jadi miskin dan gila, Charro mendadak kaya dan sama jadi gila. Dan Tuhan, Ia yang Mahakaya, telah sama jadi gila karena cemburu padaku, Roose. Sementara aku, benar-benar merindukan kesunyian di tengah-tengah mereka yang gila….

“Selamat dipenjara! Selamat sunyi!” ucap Roose lirih.

***

HARI hampir malam. Ernest, pemuda itu menimbang-nimbang sebuah batu, lalu seolah mengalirkan hidup ke dalam genggaman tangannya. Ia melemparkan batu itu ke tengah telaga, seperti membuang nasib, takdir, dan hidupnya.

“Setelah masa hukumanmu berakhir. Lalu kau pergi ke mana saja?” tanya Roose.

“Chiavas! Zapatista, aku bersama orang-orang kelaparan, rakyat yang terluka, yang letih mendengarkan kebijakan ekonomi neoliberal,” jawabnya.

Kau tahu, Roose? Tiba-tiba saja ia, kakakmu, pemuda itu teringat kepada seorang bocah kecil di Chiavas sana.

Yang berperut buncit, yang kerap merintih dan berkata seperti ini; Kakak, dongengi kami, biar lupa pada rasa lapar ini mungkin dongeng tentang pesatnya pertumbuhan ekonomi [4]. Dan pada akhirnya, ia hanya bercerita tentang sebuah dongeng yang kepadamu pernah ia ceritakan, Roose. Dan Puji Tuhan, sepertinya anak-anak itu cukup senang. Dalam kelaparan.

“Hari hampir malam, Roose. Kau harus pulang! Ibu pasti khawatir! Kuantar kau sampai ke halaman rumah. Aku hendak ke gereja!” ucap pemuda itu, seraya mendekati kursi roda. Roose hanya mengangguk. Tetapi di rumah itu, di rumahmu, Roose.

Tiba-tiba saja melingkar sebuah sunyi, setelah datang seorang pengetuk pintu. Seseorang menyerahkan sesuatu kepada ibumu yang setelah itu tiba-tiba saja tersedu.

Sepucuk surat di atas meja terkapar di atas meja.

“Ada apa, Bu?” tanya Roose sesampainya di rumah. Wanita tua itu tak menyeka air matanya.

“Kamu pulang sendiri, Roose? Mana Ernest?” wanita tua itu balik bertanya. Dengan nada yang berat.

“Kakak mengantarku sampai halaman, ia kemudian pergi ke gereja!”

 “Hmm, semoga saja begitu.” Wanita tua itu terisak, kini, sambil menyeka air matanya.

Kemudian ia menyerahkan sepucuk surat yang sudah basah itu kepada Roose. Roose terlihat keheranan, ditambah ia seperti lantas mencium bau kematian.

“Dari siapa, Bu?” tanya Roose.

“Seseorang mengantarkannya dari kakakmu… yang tewas dua tahun lalu…,” ucap ibunya terbata. Wajah Roose menegang.

Dan jika saja aku ditakdirkan mati di sini, di tengah para petani yang menghargai tanah leluhurnya. Di Asia Tenggara, di sebuah negara dunia ketiga, setidaknya aku mati dalam dua penyerahan: perlawanan dan kepasrahan.

Kertas surat itu kembali basah. Roose melipat surat itu dan meletakkannya dalam ingatan. Tetapi tetap saja ia menanti kakaknya pulang dari gereja meski hari sudah malam. Yeah, sudah larut malam, Roose. Dongeng untukmu selanjutnya, mungkin tentang mesin-mesin yang terus bergumam, tak henti berdebam, hingga larut malam. (*)

 .

.

2010

 .

.

Catatan:

[1] Istilah pabrik-pabrik baru berskala multinasional. Dalam maquiladora, para buruh memperoleh upah minimum dengan kondisi kerja yang mengenaskan. How to Succeed at Globalization: A Primer for Roadside Vendors, Rafael Barajas Duran (El Fisgon), terjemahan Ronny Agustinus (Marjin Kiri, 2005)

[2] Dikutip dari sajak Jamal Rahman (JaRah), Eksodus ke Tanah Harapan “Sepenggal Kisah Anak Buyat (Wahana Lingkungan Hidup, Walhi, 2006)

[3] Dikutip dari sajak Irvan Mulyadie, “Tembang Kota Malam”.

[4] Dikutip dari How to Succeed at Globalization: A Primer for Roadside Vendors, Rafael Barajas Duran (El Fisgon), terjemahan Ronny Agustinus (Marjin Kiri, 2005)

.

.

Advertisements