Cerpen Eimond Esya (Jawa Pos, 4 Desember 2011)

PERTAMA-TAMA kami bertanya tentang apa yang mereka lakukan ketika merasa bosan dan berikut jawaban yang kami terima.

Fredy Timo, 42, berkata: Jika merasa bosan, ia akan mengawini seseorang. Ia akan pergi ke sebuah desa untuk melihat-lihat perawan atau janda miskin. Cantik, mulus, atau mancung tidak terlalu penting, namun gigi bersih dan tubuh padat adalah syarat mutlak. Jika ia menemukan perempuan seperti itu, ia akan menaburkan harta hingga si perempuan bertekuk lutut. Dengan demikian, ia telah mengawini tiga belas perempuan padat dan bergigi bersih yang tersebar di berbagai daerah yang pernah ia sambangi, tak semua ia ingat namanya. Ketika kami bertanya apakah cara ini masih ia lakukan hingga sekarang, ia menjawab masih, apalagi jika pekerjaannya menuai hasil besar. Perempuan terakhir yang dikawininya adalah seorang penyanyi dangdut berusia 15 tahun dan katanya, ia telah mulai bosan lagi.

Nyonya Cony Murida Suryo, 39, menjawab: Yang paling sering ia lakukan saat bosan adalah pergi ke salon langganannya, Salon Franky di Jalan Diponegoro, yang tarif potong rambutnya lima ratus ribu rupiah. Jika ia menginginkan perubahan gaya rambut, ia akan memotong rambutnya. Tapi, jika masih senang dengan gaya rambutnya, ia akan minta layanan lain seperti layanan merawat kuku, layanan menjernihkan bola mata, layanan membuat wajah terang, apa saja yang ia inginkan. Ia mengaku minimal akan menghabiskan dua juta untuk sekali kunjungan plus tip beberapa ratus ribu. Jika Anda ingin tahu berapa sering Nyonya Cony Murida Suryo ke Salon Franky, kami juga. Maka, kami menanyakan hal itu padanya dan ia menjawab, ia mengunjungi Salon Franky paling tidak dua hingga tiga kali seminggu.

Sedangkan, Tuan Antoni Mulya, 46, punya cara lain: ia akan pergi berburu sendok emas. Ia percaya sendok emas membawa keberuntungan, apalagi yang antik. Jadi, ia ingin mengoleksi sebanyak mungkin sendok emas antik. Ia pernah membeli sendok emas antik di Switzerland, pergi ke pameran emas London untuk sepasang sendok emas berhias ukiran wajah Lady Diana dan Pangeran Charles, pergi ke Madrid untuk mendapatkan sendok emas peninggalan zaman Baroque yang dilelang untuk kalangan terbatas, pergi ke Republik Molossia–negara terkecil di dunia yang jumlah penduduknya hanya tiga manusia dan dua ekor anjing–untuk sebuah sendok emas bersablonkan nama negara tersebut. Total, katanya, ia punya 18 koleksi sendok emas antik dan tiga lusin sendok emas biasa untuk makan. Ya, mereka sekeluarga makan betul-betul dengan menggunakan sendok yang terbuat dari emas. Kami bisa membuktikannya.

***

Kami adalah tiga sahabat sejak lama. Sahabatku yang pertama kupanggil Krib dan yang kedua kupanggil Brik. Krib kupanggil Krib karena ia berambut kribo, Brik karena ia berambut jabrik. Nama asli Krib adalah Joni, sama dengan nama Brik yang juga Joni dan ini sungguh sebuah kebetulan yang tak kupahami hingga kini karena namaku sendiri juga Joni.

Dulu Krib dan Brik memanggilku Bing karena menurut mereka, tampangku selalu seperti orang bingung. Tapi, belakangan panggilan tersebut mereka ganti dengan Bos. Aku tidak suka dipanggil Bing, tidak juga Bos. Aku bukan bos mereka. Setelah tamat SMA dan sama-sama nganggur lima belas tahun, aku hanya menemukan sebuah ide untuk kami kerjakan bersama. Mereka tertarik, lalu kami menjalankan pekerjaan itu bersama-sama. Sesederhana itu walau kini tidak lagi. Pekerjaan yang kutemukan itu kini akhirnya membuatku harus menderita di tangan seorang polisi pemeriksa.

“Dug!”

Polisi itu menggetok keningku dengan sebuah asbak batu, lalu bertanya itu ke itu lagi. “Ayo ngaku! Kau bos trio Joni kan? Si Joni bos si Joni dan si Joni?”

Setelah menjawab pertanyaan kami tentang apa yang mereka lakukan ketika bosan, kami memberi pertanyaan kedua kepada mereka. Namun, sayang, kali ini tak satu pun dari jawaban mereka yang membuat kami senang.

Pertanyaan kami kepada Fredy Timo adalah kenapa ia mesti merampok? Kenapa ia menjambret ibu-ibu, merampok sopir taksi, tukang ojek, dan rumah orang? Kenapa ia melakukan itu, tak mencari seorang perawan baru untuk ia kawini lagi jika ia sedang merasa bosan?

Karena tiga kali kesempatan Fredy Timo gagap menjawab, kami pun menghukumnya. Brik menembak kaki Fredy Timo lagi, kini yang kanan. Krib menjambak rambut Fredy Timo hingga Fredy Timo jatuh tertelungkup di lantai. Aku tak mau ketinggalan. Begitu Fredy Timo tertelungkup, aku segera merentangkan tangannya lurus-lurus. Setelah itu kutekankan lututku ke sikunya, lantas kutarik lengannya ke arah berlawanan. Pelan-pelan lengannya melengkung, hingga…. Pasti sakit sekali. Fredy Timo terkencing-kencing melulung minta ampun, tapi tak kupedulikan.

Untuk seorang rampok kaliber nasional seperti Fredy Timo, rumahnya tergolong yang paling buruk. Kecuali tempat tidurnya yang mahal, besar, dan empuk, semua perabotannya tampak usang dan murahan. Hanya ada dua TV, DVD player, speaker aktif, kulkas kecil, mesin cuci rusak, satu motor, kursi, dan sofa kempis yang miring. Kami kecewa, tapi kami angkut juga semua barang tersebut, semua uang, semua yang masih bernilai uang yang bisa kami temukan, dan sesudahnya melemparkan Fredy Timo ke halaman kantor polisi pada tengah malam.

Pada kesempatan lain, tiba giliran Nyonya Cony Murida Suryo. Ketika kami bertanya kenapa ia tak pergi ke Salon Franky melainkan malah menyetrika paha, punggung, pipi, mencakar muka, dan membakar puting pembantunya, ia berteriak itu bukan karena ia bosan. Itu karena ia kesal. Ia beralasan pembantunya itu bodoh dan ia curiga si pembantu telah menggoda tukang sayur keliling.

Brik pun bertambah marah. Dari tiga korban kami terakhir ini, Brik paling marah dengan Nyonya Cony Murida Suryo. Pacarnya saat itu juga seorang pembantu. Brik bahkan sudah ingin menghajar Nyonya Cony Murida Suryo ketika janda kejam itu masih bercerita tentang Salon Franky. Dan ia baru kuizinkan setelah Nyonya Cony Murida Suryo tak juga bisa memberi kami alasan yang lebih masuk akal, selain hanya karena ia kesal kepada pembantunya tersebut.

Brik menampar Nyonya Cony Murida Suryo, memperkuat ikatan kaki dan tangannya, lalu melakban mulut perempuan itu tebal-tebal. Setelah itu, Brik mengambil setrika dan sebuah tang, berniat balas menyetrika, membakar puting, dan mencabut kuku Nyonya Cony Murida Suryo yang suka mencakar. Tapi, Krib tiba-tiba minta Brik menunda niatnya karena ngiler dengan tubuh mulus Nyonya Cony Murida Suryo. Aku cepat turun tangan, tak mau hal itu terjadi. Kataku kepada Krib, boleh setrika, cabut kukunya, tapi lain dari itu tidak, apalagi memerkosa. Krib patuh, lantas mengalihkan nafsunya dengan sebuah gunting. Dengan gunting itu, ia membotaki alis, memotong bulu mata, membabat rambut, membuat kepala Nyonya Cony Murida Suryo pitak-pitak. Semua itu ia lakukan setelah Nyonya Cony Murida Suryo pingsan dan setelah Brik selesai dengan tang dan setrikanya.

Rumah Nyonya Cony Murida Suryo sungguh mewah. Apa pun yang kami lihat dalam tiga lantai rumahnya adalah barang berkualitas bagus. Dari perabotan besar hingga setrika yang dipakai Brik. Namun, bukan kondisi rumahnya saja yang ternyata membuat kami berdecak kagum. Perhiasan dan uang dalam lemari rahasianya juga. Kami bagai dapat durian runtuh hari itu. Pantas saja ia mampu pergi ke Salon Franky tiga kali seminggu. Di lemari itu ada uang utuh lebih dari dua miliar dan ketika perhiasannya berhasil kami jual, kami mendapat tambahan satu setengah miliar. Kami langsung kaya raya. Aku menaikkan haji dan membelikan ibuku sebuah rumah. Krib pergi pelesiran tiga bulan menggoda semua perempuan bule di Bali. Brik menikahi pacarnya, mengubah status pacarnya dari pembantu jadi majikan, juga di rumah mereka yang baru.

Tang!

Kini si polisi menimpakan selembar pelat besi ke ubun-ubunku setelah pertanyaannya yang kedua juga tak kujawab seperti yang pertama. Kukira pelat besi itulah alat siksa favoritnya. Sejak mengganti asbak batunya dengan pelat besi itu, telah setengah jam lebih ia terus menghantamkan pelat besi itu ke ubun-ubunku. Sakitnya luar biasa. Setiap pelat besi itu menghantam ubun-ubunku, semua isi telingaku rasanya keluar, dua bola mataku terenyak padam.

Tang!

“Ayo bicara!! Kenapa kau sekejam itu?!”

Tuan Antony Mulya sama saja dengan Fredy Timo dan Nyonya Cony Murida Suryo. Ia pun kebingungan dengan pertanyaan kedua kami. Aku tak mengerti. Ia adalah seorang anggota parlemen dan ia tak mengerti maksud pertanyaan kami. Mestinya, ia tak sebodoh itu. Kuberi ia kesempatan terakhir untuk menunjukkan kepintarannya dengan kembali bertanya: kenapa ia mesti makan beras orang miskin kalau ia biasanya pergi berburu sendok emas saat merasa bosan?

“Aku tak pernah makan beras orang miskin. Aku makan beras yang paling mahal. Beras Kepala Pandan Wangi.”

Akhirnya, Antoni Mulya menjawab dan Brik tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Krib menggeleng-geleng, aku menyebut sepuluh nama Tuhan sekaligus.

Antoni Mulya terikat duduk di sebuah kursi kayu, Krib lalu menjambak dan menarik kepalanya hingga teleng, setelah itu menuangkan segayung air secara bergantian ke dalam dua lubang telinganya. Segera dan sejak itu, Antoni Mulya terus menggoyang-goyangkan kepalanya dengan panik, membuatnya jadi tampak lucu. Brik jadi sesak napas karena tertawa. Krib dan aku juga mulai ikut tertawa.

Kau tentu ingat bunyi dengung di kepalamu jika ada air dalam kupingmu kan? Aku juga ingat dan aku juga tahu sebabnya. Dengung itu terjadi karena air menutup jalan udara yang dibutuhkan telingamu–sama jika kau menyumbat telingamu dengan cara apa pun. Sesungguhnya, jika kupingmu bersih, berapa pun banyak air yang masuk ke kupingmu, air tersebut akan keluar lagi dengan sendirinya atau kau hanya butuh sedikit menggoyangkan kepalamu untuk mengeluarkannya. Tapi, jika kupingmu kotor, penuh serumen sekeras batu di lubang S, air akan melembutkan serumen tersebut, lalu menutup kupingmu dengan sempurna. Jika kau tak segera ditolong dokter, kau akan mengalami nyeri yang tinggi dan terancam tuli karena perbedaan tekanan udara antara telinga luar dan tengahmu bisa menjebol selaput gendangmu. Aku yakin semua kuping Tuan Antoni Mulya penuh serumen busuk sekeras batu, lalu kami menahannya di sebuah dusun dengan kepala terjepit tak bisa bergerak. Sebulan kemudian, pada saat kami melepaskannya, selain telah tuli, ia bahkan tak lagi mengenali kami. Ia jadi linglung dan, kata orang, tetap linglung hingga kini.

Dari sendok-sendok emas Antoni Mulya yang kami lebur dan lemari penyimpan uangnya yang kami temukan berisi puluhan ribu US dolar, kekayaan kami jadi bertumpuk lebih banyak. Kami semua senang, tapi Krib yang paling senang saat itu. Selain jatah pembagian yang ia terima, ia mendapatkan 272 keping koleksi DVD porno orisinal serta sebuah boneka seks milik Antoni Mulya. Setelah itu, Krib memutuskan pensiun dan tak lama kemudian Brik juga. Brik beralasan ingin bertobat, Krib lebih lugas dengan berkata tak ingin tertangkap polisi setelah mendapatkan semua kebahagiaan yang ia inginkan. Aku tak bisa menahan mereka. Dari awal pun aku tak pernah memaksa mereka. Setelah mereka berhenti, aku terus bekerja sendiri hingga akhirnya berakhir juga di kantor polisi itu.

Aku tertangkap setelah menembak mati seorang hakim korup yang bernama Horrijah Usman. Jika Brik paling membenci Nyonya Cony Murida Suryo, aku paling membenci Horrijah Usman ini. Ia seorang hakim korup yang ketika bosan akan pergi bermain golf ke mana pun ia mau. Aku mungkin bisa memaafkan Antony Mulya atau mantan suami Cony Murida Suryo atau orang-orang kaya yang dirampok Fredy Timo jika mereka terbukti korupsi, tapi seorang hakim, jaksa, pengacara yang korupsi dengan cara jual beli kasus, tidak. Demi ibuku yang telah kunaikkan haji tiga kali, tak akan kumaafkan orang seperti ini. Aku mengeksekusi Horrijah Usman dengan satu peluru: sebuah tembakan dari atas ke bawah, melewati seluruh tubuh.

Tang!

Sekali lagi pelat besi itu menghantam ubun-ubunku. “Jawab!!” bentak polisi itu lagi.

“Kenapa kau sekejam itu pada Pak Horrijah he?!”

Aku mulai tak tahan. Hantaman pelat besi itu telah membuat tengkorakku memuai, perutku mual, batinku tak normal. Kurasakan hangat darah segar kembali meleleh di mukaku. Aku merasa di awang-awang. Dengan sisa kesadaranku, aku menjawab.

“Aku bukan Joni bos trio Joni! Aku tak tahu trio Joni dan aku tak kejam! Aku hanya bosan! Sungguh bosan!”

Si polisi menatapku, mengatakan sesuatu yang kudengar samar-samar. “Oh, begitu ya? Kalau begitu, aku juga punya kegiatan kok kalau bosan. Ini salah satunya….”

Kulihat polisi menghimpun napasnya banyak-banyak. Kulihat pelat besi tersebut terangkat lagi, lalu Tang!! Polisi itu menghantamkannya ke ubun-ubunku lagi dan Tang!! ia menghantam lagi dan Tang!! sekali lagi, dan Tang!! sekali lagi dan Tang!! lagi, lagi, dan lagi. (*)

.

.

Advertisements