Cerpen Sungging Raga (Koran Tempo, 4 Desember 2011)

2011.

Danau Renville.

Sebuah perahu.

Angin musim gugur.

 .

“AYO cepat naik!” ucap anak laki-laki itu kepada gadis kecil di dekatnya. Ia mengulurkan tangannya.

“Apa tidak berbahaya?”

“Sudah, tidak apa-apa. Kan ada aku.”

Gadis itu pun melompati tepi perahu, lantas duduk di salah satu kayu penyangga.Tubuhnya sedikit menggigil karena embusan angin.

Anak laki-laki itu lantas mengayun perahu ke tengah danau. Gadis kecil berpita putih di bagian kiri rambutnya itu diam saja, sedikit ketakutan, wajahnya diterpa berkas matahari pagi yang tampak pecah ketika menembus ranting pepohonan. Musim gugur seperti ini, pohon-pohon nyaris tak memiliki daun.

“Kalau kita ke tengah, pasti ikannya lebih banyak,” ucap si anak laki-laki. Awalnya mereka memang berniat memancing di tepi danau, namun tak juga mendapat ikan. Dan karena melihat perahu yang ditambatkan di tepiannya, mereka pun menaiki perahu tersebut….

 .

KETIKA kutuliskan cerita ini, aku benar-benar yakin dengan sepenuh ingatanku, bahwa menjelang sore itu memang ada perahu yang kosong, tapi terapung di tengah danau. Perahu kecil itu tak tertambat ke sudut mana pun, mungkin talinya telah lepas, atau sengaja dilepas? Aku dan Robby—teman bermainku—hanya duduk di tepi danau.

“Kita tak perlu ke tengah danau itu,” ucap Robby sambil memegang pundakku, ada kehangatan di sana, yang hingga kutulis kisah ini, masih memenuhi seluruh tubuhku.

“Apa dengan berada di tepi danau kita bisa mendapat ikan?” tanyaku. Ia tersenyum. Ada lesung pipi terbentuk di wajahnya.

“Bukankah kau suka menulis?” Aku mengangguk.

“Nah, sepulang dari sini nanti, kau cukup tuliskan cerita bahwa kita telah ke tengah danau dengan perahu, dan mendapat banyak ikan. Bagaimana? Besok kubaca.”

Aku mengangguk lagi.

Maka segera setelah aku tiba di rumah, aku menuju kamar, duduk menghadap meja, mengambil pulpen dan selembar kertas, lalu mulai menulis.

Aku membayangkan perahu yang sama, namun perahu itu berada di tepi danau. Dan ia mengajakku mendekati perahu, lalu melepas ikatan tali pada pasak yang tertanam di rerumputan tepi danau. Ia memegang tanganku ketika aku melangkah ke dalam perahu. Dan seperti itulah cerita yang kutuliskan….

 .

SEPASANG gadis dan anak laki-laki itu kini sedang berduaan di tengah danau yang tenang, air yang jernih, mereka bisa melihat ikan-ikan kecil menyingkir dan menyajikan gerakan ekornya meliuk, membentuk aliran kecil dalam air. Segera anak itu mengambil kail, memasangkan umpan di ujungnya, lantas melemparkan ujung kail itu kuat-kuat.

Selebihnya mereka hanya diam, angin bergerak dari ujung pepohonan di utara, membuat gerakan seragam dari pohon cedar yang ada di sekitar mereka. Terkadang angin bergerak kencang, sehingga sesekali perahu itu bergoyang dan membuat kedua anak di atasnya cemas, tapi anak laki-laki itu berusaha menenangkannya. Dan gadis itu pun tampak ceria ketika melihat kail bergerak-gerak, pertanda bahwa umpannya dimakan ikan.

“Ayo! Ayo! Tarik,” si gadis kecil menyemangati.

Maka segera anak laki-laki itu memutar pangkal alat pancingnya, dan dengan seekor ikan yang masih menggelepar-gelepar terangkat ke perahu.

“Nah, ini ikan pertama kita. Nanti dimasak di rumahku, ya?”

Gadis itu mengangguk. Anak laki-laki itu senang melihat si gadis tampak ceria, membuatnya juga lebih bersemangat untuk menangkap ikan berikutnya. Ia pasang umpan lagi, ia lemparkan lagi, ia tunggu lagi.

Waktu pun berlalu.

 .

SEANDAINYA aku memang hidup di dalam fiksi, aku tentu bebas membayangkan kisah persahabatan sepasang gadis dan bocah yang menyambut musim gugur memenuhi hari-hari mereka. Dan aku akan membuat sebuah danau untuk mereka berdua, agar mereka bisa hidup di sana, membentuk cerita mereka sendiri.

Bayangan semacam ini sudah bertahun-tahun muncul dalam benakku, tepatnya sekitar tujuh tahun lalu, ketika aku berusia sembilan tahun, suatu sore ibu dan ayah mengajakku berjalan-jalan ke suatu tempat yang tak kukenal sebelumnya. Aku hanya tahu, ayah mengendarai mobil, kami melewati dataran tinggi penuh pepohonan, dan ayah menghentikan mobilnya di dekat pagar tinggi berupa bambu-bambu yang dikaitkan dengan teralis, tampak ada danau yang cukup luas tak jauh di seberang pagar itu.

“Coba lihat Nalea, itu danau tempat ibu dan ayahmu bertemu pertama kali,” ucap ibu.

Aku memandang danau yang tenang, cukup luas, dan ada sebuah perahu di tepiannya. Tapi aku heran kenapa ada pagar di tepi jalan menuju danau.

“Kenapa danau itu ditutup?” tanyaku.

Ibu lantas membelai rambutku beberapa kali.

“Karena danau itu sudah tidak aman, Nalea.”

“Tidak aman?”

“Iya. Semakin lama, danau itu semakin dalam. Dan dua minggu lalu ada kecelakaan di sana.”

“Kecelakaan apa, Bu?”

Ibu tak menjawab.

Kecelakaan apakah yang bisa terjadi di sebuah danau? Mungkinkah ada yang tenggelam? Apakah ada yang tenggelam dan terlambat untuk diselamatkan?

“Begitulah, Nalea,” tiba-tiba ayahku berkata. “Dulu danau itu ramai oleh keluarga yang berlibur, tapi sejak dua minggu lalu ada kejadian anak kecil tenggelam, danau itu tidak boleh dikunjungi lagi. Kita cuma bisa melihatnya dari balik pagar ini.”

Aku tertegun mendengar penuturan ayah. Tapi dalam waktu singkat, danau itu sudah menciptakan ingatan lain di kepalaku, bukan kesedihan, bukan kecelakaan, melainkan keindahan yang sempurna. Aku membayangkan diriku berada di tepi danau, bermain bersama Arteta, sahabat baikku. Sesaat aku membayangkan, Arteta pasti suka bermain di danau, meski sangat tidak mungkin aku mengajaknya kemari karena tempatnya jauh sekali.

Dan ketika kami kembali ke rumah, aku telah berjanji pada diriku, suatu saat, aku ingin menuliskan sesuatu, tentang danau yang tenang, sepasang anak kecil, sebuah perahu, dan alat pancing sederhana. Maka tujuh tahun kemudian, tepatnya saat ini, aku mulai menuliskannya.

Aku tak langsung menulis cerita tentang sepasang anak kecil di tengah danau, tapi aku membayangkan seorang gadis kecil yang gemar menulis cerita, sedang melamun di tepi danau, ditemani seorang bocah di sampingnya. Dan tokoh gadis kecil ini kubiarkan membuat kisahnya sendiri di dalam fiksi, kubiarkan gadis kecil ini membayangkan dirinya sendiri menaiki perahu bersama si bocah, lantas menuliskan kisahnya sendiri….

Maka aku pun hanya membaca kisah yang dituliskannya: Sepasang anak kecil itu sudah berada di tengah danau selama setengah jam. Tapi sampai detik ini aku belum tahu, apakah gadis itu akan mengakhiri cerita mereka dengan bahagia, semacam mereka telah mendapat satu ember ikan, menepikan perahu, dan segera membawa ikan-ikan itu pulang agar ibu si bocah meraciknya menjadi menu makan malam, atau justru gadis itu akan bercerita tentang angin yang tiba-tiba berembus kencang, merobohkan pohon-pohon yang meranggas di sekitar danau, dan beberapa batang pohon itu menghantam perahu sampai terbalik, kemudian dua anak kecil itu pun tenggelam, sayang sekali bahwa keduanya sama-sama tak bisa berenang. Lalu ketika kedua orangtua masing-masing tiba di sana pada petang hari, mereka hanya menemukan dua jasad mengambang ke tepian. Tangisan pun meledak, kesedihan tak tertahankan….

Dan sejak kejadian itu, mungkin danau tersebut akan ditutup, dipagar, tak boleh dikunjungi lagi. (*)

 .

.

Sungging Raga tinggal di Yogyakarta. Bergiat di Komunitas Edansepur.

.

.

Advertisements