Archive for December, 2011

Kado
December 28, 2011


Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 25 Desember 2011)

 

HUJAN!

Hari ini hujan, lebat benar. Aku merasa linglung. Hari yang aneh! Seharusnya kita dapat bernyanyi bersama, dalam irama hujan. Mengapa kini aku tak mampu menghayati irama hujan seperti biasanya? Mengapa aku merasa hujan itu seperti menghinaku? Menyindir kesenyapanku sejak ketiadaanmu?  Mengapa kau tergesa-gesa pergi? Dengan alasan yang tidak kau beri? (more…)

Advertisements

Bunga Ilalang
December 21, 2011


Cerpen Miftah Fadhli (Jawa Pos, 18 Desember 2011)

ANAKKU, Sandy, berumur delapan tahun, tak kelihatan di antara anak-anak yang baru saja lewat di depan rumah. Di antara mereka aku bisa melihat Bagas, Sucipto, dan Adijaya berjalan beriringan. Pukul sebelas ini, anak itu seharusnya pulang bersama tiga serangkai itu. Tapi tak satu pun dari mereka yang melihat Sandy keluar sekolah. Bagas mengatakan, tiba-tiba saja dia kehilangan Sandy di halaman sekolah. (more…)

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
December 21, 2011


Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 18 Desember 2011)

AMBILLAH pisau dan daging paha sapi atau kambing yang tergantung di dapur. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikamlah. Jika kau tak mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, beginilah bunyinya, jleb! Empuk, enak di telinga, nyaris merdu.

Pikiran seperti itu semestinya tak mampir jika bagian belakang paha kirimu tertembus anak panah. Tapi, itulah yang terjadi padaku. Aku pernah tersabet pedang, golok, belati, bahkan kena cakar binatang buas, tapi panah belum sehingga bunyi itu yang justru pertama terlintas. (more…)

Saya dan Lelaki yang Menangis
December 21, 2011


Cerpen Yetti A. Ka (Suara Merdeka, 18 Desember 2011)

SUDAH satu jam ia menangis. Sudah satu jam pula saya hanya memandanginya dengan tatapan mata sama melankolis dengan perasaan seseorang yang telah meminta saya datang menemuinya ini. Saya tahu betul apa yang ia butuhkan, sebagaimana saya tahu keinginan orang-orang yang pernah menghubungi saya, lalu membuat janji bertemu di tempat yang mereka tentukan sendiri (biasanya tempat yang jauh dari keramaian). Dan, bagi saya, ini kali pertama menghadapi seseorang yang menangis selama satu jam dan belum berkata sama sekali, apalagi berteriak-teriak mengeluarkan seluruh kotoran yang mengendap di perasaannya, yang barangkali telah ia simpan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Lelaki ini hanya betul-betul menangis. Namun begitu, dari cara menangis, saya tahu sesungguhnya ia telah mengalami sesuatu yang berat dalam hidup. Saya tidak akan menanyakan soal itu padanya. Itu bukan urusan saya. Saya dihubungi olehnya untuk menjadi seorang pendengar (bukan seseorang yang menatapnya dengan mata ingin tahu dan bertanya macam-macam). Pekerjaan yang satu tahun ini saya jalani. Ah, jangan berpikir kalau pekerjaan sebagai pendengar itu sesuatu yang mudah. Kalau tidak percaya, cobalah mendengar seseorang berbicara selama sepuluh menit saja tanpa menyelanya apalagi bertanya atau berkomentar, setelah itu kau akan mengerti betapa sulit menjadi seorang saya yang mendengar orang bicara hingga berjam-jam. (more…)

Surat Terakhir
December 21, 2011


Cerpen Novrizal (Republika, 18 Desember 2011)

DI malam yang hening, masih juga aku terusik dengan suara-suara hembusan napas yang megap-megap. Suaranya yang berat, seakan-akan tidak mampu untuk mengucapkan sebuah kalimat dengan sekali napas. Orang tua yang terkulai lemas itu memanggil dan memintaku untuk dibuatkan segelas kopi hangat. Yang tak kusuka, ketika dia memintaku untuk membeli tiga batang rokok di warung pada malam itu. Dia berusaha mencoba beranjak sendiri untuk membelinya dengan kondisi seperti itu apabila kuabaikan. Aku pikir itu tidak mungkin sebab berdiri saja dia tidak sanggup, apalagi berjalan. (more…)

Tart di Bulan Hujan
December 21, 2011


Cerpen Bakdi Soemanto (Kompas, 18 Desember 2011)

“TERNYATA harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu, Pak,” kata Sum kepada lakinya, Uncok.

“Barang apa yang kau bicarakan itu, kok mahal amat?” bertanya suaminya.

“Lho, musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga, kan, saya bilang, Pak, roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu harganya tiga ratus lima puluh ribu. Roti itu besar, cukup untuk satu keluarga dengan beberapa tamu. Tapi, sekarang naik dua puluh lima ribu,” Sum mencoba menjelaskan. Lakinya tetap tak paham. Ia menarik rokok sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek. (more…)

Bola Mata di Lubang Pintu
December 15, 2011


Cerpen Budi Afandi (Koran Tempo, 11 Desember 2011)

UJUNG telunjuk itu mendekati sakelar di tembok hijau muda. Begitu benda itu ditekan, warna terang menghilang, berganti berkas sinar yang merembes di tirai jendela, meninggalkan bayangan terali berbentuk trapesium. Tubuh sebentuk bayangan mendekati jendela, kedua tangannya memegang, lalu menyingkap ujung tirai. Seperti sedang memandang ke luar. Satu tarikan napas terdengar sebelum bayangan itu menggeret langkah menuju ranjang.“Sepertinya ada orang di luar.” Suara merdu yang setengah berbisik terdengar dari atas ranjang.“Biarkan saja.” Suara lain menimpali dengan nada berat. “Tidurlah,” sambungnya. (more…)