Cerpen Arif Hidayat (Suara Merdeka, 20 November 2011)

KADANG-KADANG sering terbayang juga masa tua. Masa saat aku mungkin mengenang yang telah kulewati sambil menanti ajal, sambil kubayangkan juga ruhku akan terbang seperti kupu-kupu.

Ini mungkin karena aku sering melihat kakek-nenek itu melintas menyapa sambil menundukkan kepala dan tersenyum. Nenek itu matanya agak sipit. Walau kerutan-kerutan itu membekas, namun aku tahu bahwa nenek itu semasa muda memiliki kulit yang putih. Dia menyapa dengan huruf-huruf yang tak fasih, namun aku masih mengerti dan paham. Ia selalu pergi bersama seorang kakek yang tak terlalu ada keistimewaan apa pun pada tubuhnya, selain bibir yang berusaha memberikan senyum.

Mungkin usia nenek itu setara dengan pohon jati yang berada di pekarangan rumahnya. Dari rumahku, aku menatap pohon jati yang mulai meninggi kembali, walau dalam beberapa kali dipangkas ranting-rantingnya dengan alasan angin bakal merobohkan. Batang bawahnya, dua pelukanku tak cukup. Akar-akarnya seperti tulang raksasa yang dibaringkan. Kuat mencengkeram bumi. Dan dari sebuah pintu teralis, seorang pembantu berlari-lari kecil sambil bergegas dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia keluar dari sana dan menghampiriku. Wajahnya seputih awan yang mendung. Tangannya agak gemetar. Ada yang ingin disampaikan dari mata yang menatapku dengan serius, tapi sopan.

“Sudah tiga hari ini, majikanku tak di rumah,” katanya.

Aku tahu dia sedang cemas, dan biasanya kecemasanku akan hilang dengan senda gurau oleh kawan-kawanku.

“Dia sudah jadi kupu-kupu, tadi menyapaku. Sekarang hilang di antara pohon jati dan bambu,” jawabku sambil tersenyum, tapi pembantu itu tidak bicara apa-apa.

Matanya menjadi melotot. Pipinya yang putih jadi agak merah. Ototnya mengeras. Aduh, aku jadi gemetar.

Aku mencoba menenangkan bahwa tidak terjadi apa-apa. Segenap kemampuan berpikir kukerahkan untuk memberi keyakinan agar percaya dengan kata-kataku. Kini aku tidak bercanda lagi. Aku tahu, konon majikannya punya anak di Jakarta atau Surabaya yang tak pernah menjenguk. Pastinya mereka pergi menemui anaknya, atau justru anaknya yang menyuruh pindah. Biarpun, dalam cerita yang kuingat dari ibuku juga para tetangga bahwa mereka berdua tak ingin beranjak ke mana pun sampai ajal menjemput. Bahkan, mati pun ingin dikubur di pekarangan rumah, bagian belakang.

Ah, rumah yang sendiri, dengan pekarangan yang cukup luas. Ada pohon jati dan bambu kecil berbaris yang merindangi bagian belakang. Di halaman samping tampak bunga-bunga, yang ketika kau melihatnya di agak pagi akan banyak kupu-kupu berhinggapan. Kupu-kupu yang entah datang dari mana sebab tak ada kepompong maupun ulat di sekitarnya. Kupu-kupu yang bermain dengan matahari dan tak terlihat di malam hari. Matahari yang biasanya menyengat, namun di halaman itu udara terasa sejuk, maka kau akan merasakan berada di taman hutan atau seperti berada dalam dongeng tentang rumah peri atau semacamnya.

Kalau kau berkunjung di pagi, kau juga akan menemukan seorang nenek yang menyapu daun-daun kering sambil meneteskan air mata di dekat pohon jati dan beberapa bambu kecil berbaris. Ia akan merenung di situ, bergumam sendiri, kemudian tersenyum dan berbalik sambil menaburkan percikan air yang harum ke segala penjuru arah. Ciumlah aromanya. Benarlah seperti berada dalam cerita musim semi, di mana segala kebajikan doa akan tumbuh dan membuat hati merasa senang karena kesejukan pohon-pohon dari daun, juga sisa embun yang tetap bertahan di situ.

Nenek itu bersama seorang kakek yang sudah tidak bisa berjalan lagi dan seorang pembantu. Kakek itu hanya duduk di kursi roda. Bila nenek itu menyapu, maka kekek akan berada di antara kupu-kupu sambil menengadahkan tangan. Sedang pembantu akan sibuk masak dan mengurusi seisi rumah, menyapu lantai, mengepel, membersihkan debu, mengelap kaca, juga memasak. Pernah pembantu itu menyapu halaman dan menyirami tanaman ketika kemarau tiba, tapi nenek dan kekek itu marah. Pembantu dimaki-maki, tak lama mereka berdua meminta maaf dan berpesan untuk pembantu itu agar tidak mengulangi lagi. Dan pembantu itu mengangguk dengan sambil terus menunduk cukup lama.

***

SEMINGGU sekali, mereka berdua akan pergi jalan-jalan yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Di pagi yang benar-benar pagi. Nenek akan mendorong kursi roda sambil menyapa tetangga atau pun orang yang dikenal. Mereka berjalan pelan. Aku sering menatap mereka dari jendela rumah. Kemudian meledek mereka. Lama-kelaman menjadi akrab. Ketika aku kecil, mereka sering membelikan jajan pasar. Membelai rambutku dengan tersenyum. Kemudian pergi setelah dari pohon jati dan bambu turun beberapa ekor kupu-kupu.

Ibuku marah kalau aku menerima jajan pasar yang mereka berikan. Takut untuk tumbal. Takut ada racunnya. Takut ini dan itu. Yang jelas tidak boleh. Dan aku akan serba bingung. Dalam marah, ibu pernah bercerita jika mereka berdua bukanlah warga asli dari sini. Mereka datang dari kota yang jauh karena melakukan hubungan di luar nikah, orang tuanya marah kemudian mengusir, namun sudah terlanjur punya anak. Dan mereka tak boleh mengasuh anaknya.

“Nenek Ming dan suaminya itu memang kaya, tidak ada yang tahu pasti dari mana berasal. Lha, tidak kerja saja bisa bayar pembantu. Punya rumah bagus. Aku tidak ingin kamu nanti jadi tumbal.”

Ibu membanting seplastik cenil yang belum sempat kucicipi.

Nenek Ming dan suaminya datang ketika masih muda, kemudian membeli rumah bekas kawedanan yang dipakai oleh Landa. Mereka tertarik rumah itu bukan karena bagusnya, tapi karena ada pohon jati dan bambu kecil berbaris yang merindangi bagian belakang. Itu selalu mengingatkan pada tempat tinggalnya dulu, di mana leluhurnya dimakamkan dengan diberi asap dari semacam lidi, kemudian ditaburi oleh minyak wangi.

Nenek Ming dan suaminya hidup dengan sederhana. Hingga aku besar sampai sekarang ini tidak ada yang berubah padanya. Hanya cara berjalannya yang mulai makin membungkuk dan mulai sering batuk-batuk. Mereka tidak berobat, tapi membuat ramuan dari tanaman-tanaman yang ada di pekarangan rumah. Ada kunyit, jahe, kencur, dan semacamnya. Mereka rajin meminum semacam jamu dari tanaman, bahkan rajin makan daun yang masih hijau. Sesekali mereka membeli madu asli dari pasar. Aku pernah dibuatkan obat batuk dari semacam akar-akar yang penuh dengan serbuk, kuminum setelah itu bumi terasa di bolak-balik dan pandangan gelap hingga benar-benar tak berdaya. Aku bermimpi sepasang kupu-kupu di antara pohon jati dan bambu mengitariku kemudian pergi, bahkan kemudian aku merasa punggungku ditumbuhi sayap dan pergi meninggalkan ibuku. Kata Ibu, dalam itu, aku tertidur seharian, dan setelah terbangun aku benar-benar sembuh dari batuk.

“Segala yang sakit, segala yang sehat itu ada pada alam dirimu. Kau akan melihat pengetahuan sejati bersama bumi sebagai tubuhmu, dan yang lainnya mengisi,” jawabnya ketika aku bertanya tentang rahasia obat yang diberikan padaku. Aku sendiri sampai sekarang tidak paham maksudnya. Aku malah pusing sendiri memikirkannya. Jangan dipikirkanlah.

“Lihatlah yang terbang.” Aku mencari-cari yang terbang, walau tak ada apa-apa selain desir angin di daun bambu.

“Kau dengan pohon apa bedanya, jadi kau harus merawat karena telah menanam, sebagaimana ia memberikan buah untukmu.” Aku makin bingung saja. Ini lebih membingungkan dari ujian pelajaran di sekolah.

Tanpa sepengetahuan Ibu, aku sering sembunyi-sembunyi menemui nenek Ming dan suaminya. Aku tidak melihat diri yang jahat pada mereka. Toh, pembantu rumah itu pun tetap selamat. Setidaknya sampai sekarang. Tak ada teriakan apa pun dari rumahnya. Tak ada keanehan.

“Nenek Ming dan suaminya itu menyembah pohon. Apanya yang tidak aneh.” Ibu menghardikku. Aku merinding. Bingung mau bicara apa. Terbayanglah aku pada film kartun tentang nenek sihir yang hidup di dalam kastil yang besar. Terbayang pula aku pada….

***

“HEI, hei, kenapa bengong.” Pembantu itu membangunkan lamunanku. Mengajak buru-buru untuk masuk ke rumah nenek Ming.

Aku menurut saja mencoba mengikuti pembantu itu, menelusuri rumahnya tanpa peduli ibu akan marah. Ada banyak jendela yang terbuat dari kayu jati. Jendela lama yang tetap utuh. Dari situ cahaya matahari samar-samar menembus ruangan. Aku berjalan dalam terpaan bayanganku sendiri. Sedikit merinding. Ada sunyi yang hangat berhembus. Pelan dan hati-hati sambil melihat atap dengan gapit bambu yang cukup rapi, aku terkesima pada lukisan seribu kupu-kupu dalam terpaan cahaya. Semuanya bersih, bahkan almari yang kuraba tak kutemukan debu. Dan, ternyata sebagian rumah ini tersusun atas pohon jati dan bambu yang utuh tanpa tersentuh rayap.

Di dalam kamar tak ada siapa-siapa. Hanya ada bulu-bulu halus yang bertaburan di lantai dan dinding. Aku mencium ramuan obat batuk dari Nenek Ming, yang cukup membuat pusing dan mengaburkan pandangan menjadi gelap kemudian melihat diriku menjadi keriput, berjalan dengan terbungkuk dengan ada bulu-bulu halus yang rontok dan tumbuh. Perutku gendut. Bumi serasa terbalik. Dalam begitu, aku pulang ke rumah dengan sisa tenaga yang kukerahkan untuk merambat di jalan, ibu tak mengenali, malah membuang tubuhku ke kebun dengan jijik. (*)

 .

.

Arif Hidayat, lahir di Purbalingga 7 Januari 1988. Tulisan alumnus Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini pernah dipublikasikan di beberapa media massa. Buku antologi puisinya Syair-syair Fajar, Pendapa 5: Temu Penyair Antar Kota, Anak-anak Peti, Puisi Menolak Lupa, Rendezvous dan Catatan Perjalanan. Buku esainya: The Spirit of Love, Kekuasaan dan Agama, Manusia = Puisi, dan Dari Zaman Citra ke Metafiksi.

.

.

Advertisements