Apresiasi (sebagian) Pembaca dan Sekelumit Cerita di Balik “Kucing Kiyoko”


Oleh Rama Dira

“SAYA menyukai film-film karya Alejandro Inarritu (Babel, Biutiful). Menurut saya, cerita-cerita Rama Dira adalah versi tertulis dari karya-karya Inarritu yang kelam, tragis, dan mengaduk-ngaduk perasaan namun penuh permenungan. Anda menyukai Inarritu? Bacalah Kucing Kiyoko.” (Lukman al-Hakim, Fotografer, Samarinda)

“Rama Dira sepertinya tahu betul bagaimana cara menggiring pembacanya perlahan-lahan masuk ke dalam nikmat dunia imajinasinya. Setelah pembaca hanyut dan terlena maka dengan cerdasnya ia menjungkirbalikkan dunia itu menjadi hal-hal yang memukau yang bahkan tak kita duga sebelumnya. Memukau, cerdas, begitulah….” (Herdoni Syafriasyah, Penulis, Palembang)

Kucing Kiyoko dan sejumlah cerita Mas Rama, selain melibatkan emosi pembaca, juga memiliki ending-ending yang menggigit. Salut!” (Muhammad Anhar, Penulis, Medan)

Recomended book. WAJIB BACA!!!” (Juliansyah Farid, Wiraswasta, Balikpapan)

“Bagus, saya akhirnya bisa menikmati, walaupun agak sulit menyesuaikan diri dengan bacaan seperti ini. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari cerita-cerita Rama Dira.” (Mama Salsa, Ibu Rumah Tangga, Samarinda)

“Saya membeli Kucing Kiyoko karena dua sebab. Pertama, karena harganya relatif murah dibanding kumpulan cerpen lain. Kedua, saya penasaran dengan Rama Dira yang lebih saya kenal sebagai penerjemah cerpen. Apakah cerita-ceritanya sebagus cerpen-cerpen yang ia terjemahkan? Setelah membaca habis saya berani berkomentar: Well, not bad. Sepertinya ia bisa belajar banyak dari cerpen-cerpen yang ia terjemahkan sehingga cerpen-cerpen karyanya sendiri, hampir sebanding dengan karya terjemahannya. Congrat!” (Wiliam Abiyaksa, Mahasiswa, Jakarta)

.

DATA BUKU

Judul Buku        : Kucing Kiyoko (Kumpulan Cerita Pendek)

Penulis               : Rama Dira

Penerbit             : Tuk Padas, Yogyakarta

Cetakan             : Pertama, Agustus 2011

Tebal                  : 124 halalam (book paper)

Harga                 : Rp. 33.000,-

 .

Bermula dari Seekor Kucing yang Terluka

Suatu hari, bulan Januari. Hujan tumpah di Pulau Tarakan. Pagi itu, saya sudah bersiap-siap membuka kantor pemasaran tempat saya bekerja sebagai marketing leader sebuah perusahaan garmen lokal, dimana bangunan kantornya menjadi satu dengan tempat tinggal saya yang merupakan bagian dari fasilitas kantor. Teman-teman satu kantor belum berdatangan, justru seekor kucing kecil yang mendahului mereka. Kucing itu mengeong-ngeong dan mencakar-cakar pintu kantor. Karena saya memang tak begitu suka dengan kucing, saya biarkan saja sampai teman-teman sudah berdatangan dan hari menginjak siang.

Hujan masih saja tumpah dan hawa dingin makin menggigilkan tulang dan kucing itu semakin letih dalam harapannya untuk sekedar diberi kehangatan. Ia terus mengeong-ngeong dan mencakar-cakar pintu.

Lebih karena tak ingin terus terganggu oleh suaranya, saya akhirnya membuka pintu dan membawa masuk kucing itu. Karena ia basah kuyup dan berlumur lumpur, saya angkat supaya ia tak mengotori lantai kantor. Saya membawanya ke belakang, tempat tinggal saya bersama istri saya dan dua malaikat kecil kami, Maneka (3 tahun) dan Akbar (2 tahun).

Sampai di dalam, istri saya begitu terperangah melihat saya melakukan aksi yang tak biasa itu. Ia tahu dengan pasti bahwa saya tak menyukai kucing. Saya bergegas memberikan kucing itu padanya dan berharap dia bisa membuatnya diam. Saya masuk kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.

Lima belas menit kemudian, istri saya masuk ke kantor dan memberi tahu saya bahwa kucing itu ternyata memiliki luka di pinggang sebelah kirinya. Luka itu, luka lama, sudah bernanah, sepertinya luka akibat tusukan benda tajam. Saya bergegas mendapati kucing yang ternyata sudah dimandikan oleh istri saya dan sudah diselimuti handuk pula. Ia menempatkannya dalam sebuah kardus bekas mie instan. Saya perhatikan, luka itu terus saja mengeluarkan nanah busuk. Pada akhirnya saya berinisiatif membelikan obat yang cocok buat luka kucing itu meski hujan belum kunjung berhenti. Saya pun menembus badai hujan dengan sepeda motor dan membawa pulang salep chlorempenicol yang direkomendasikan penjaga sekaligus pemilik sebuah apotek tua di ujung kota.

Di rumah, saya sudah mendapati anak saya riang dalam tawa-tawa kecil mereka. Dua-duanya bahagia berkat kehadiran kucing mini itu. Saya bergegas mengoleskan salep itu setelah terlebih dulu mengompres luka si kucing dengan air hangat. Saya juga memberinya semangkuk susu dan nasi yang saya campur dengan potongan-potongan ikan. Kucing itu lahap dalam makan dan minumnya, anak dan istri saya gembira bukan main melihat keadaannya yang demikian.
Keesokannya, kucing itu sudah bisa berlari ke sana kemari, meski dengan terpincang-pincang. Saya perhatikan, lukanya masih bernanah namun nanah yang keluar mulai berkurang.

Kedua anak saya tertawa lepas, berlari mengejar berputar-putar kucing yang sadar dirinya disukai kedua anak saya itu. Kini, anggota keluarga kami bertambah. Dialah si kucing mini yang ternyata amat menyenangkan.

Di hari kelima, kondisi kucing itu sudah benar-benar membaik. Lukanya sudah kering, tak lagi bernanah. Ia pun bisa berjalan normal. Di hari ke enam, ia mulai berani bermain-main di luar (di halaman belakang), ketika dua anak kami sedang tidur siang. Jika Maneka dan Akbar sudah bangun dan memanggil-manggilnya, ia akan melompat masuk melalui jendela dapur dan bermain-main bersama kedua anak saya itu lagi.

Siang itu, di hari ketujuh, kedua anak saya tidur dan si kucing bermain di belakang rumah. Sorenya, ketika mereka berdua bangun dan mencari-cari kucing itu, mereka tak menemukannya. Mereka berdua pun menangis sejadi-jadinya, kehilangan kucing yang begitu mereka sayangi itu. Saya dan istri tak mampu berbuat apa-apa. Kami penuh dalam harap agar tak ada hal buruk yang menimpa si kucing. Meski tak pulang sampai sore hari, kami tetap berharap kucing itu akan kembali. Namun, sampai keesokan harinya, ia tak kunjung kembali.

Malamnya, istri dan anak-anak kehilangan gairah. Kegembiraan dan keceriaan mereka meluap bersama kepergian si kucing mini. Saya sebagai orang yang mulanya sama sekali tak menyukai kucing, tiba-tiba dihinggapi perasaan sentimentil saat itu juga dan tiba-tiba saja saya merasa telah ditinggalkan oleh seseorang, padahal dia hanyalah seekor kucing. Serta merta saja perasaan kehilangan yang begitu dalam itu menggiring saya untuk segera berada di depan komputer.

Mulanya saya hanya bermaksud menulis semacam catatan curahan hati, namun dalam prosesnya, jemari saya tak henti mengetik kata demi kata yang kemudian menjelma cerita. Dalam proses penulisan, setelah paragraf pertama rampung, saya tiba-tiba teringat sebuah artikel yang pernah saya baca tentang alat musik petik shamisen yang katanya penutup pada bagian kepalanya terbuat dari kulit kucing atau kulit anjing. Kemudian, saya juga tiba-tiba teringat seorang kawan yang berhenti kuliah karena ketiadaan dana. Ia memutuskan untuk merantau ke Jepang dengan menumpang kapal barang dari Surabaya. Di Jepang, ia bertahan hidup dengan bekerja sebagai tukang cuci piring dan tukang masak di berbagai restoran.

Lintasan beberapa ide inilah yang membuat saya pada akhirnya memutuskan Kyoto sebagai setting cerita. Karena saya tak pernah ke Kyoto, saya memerlukan bantuan Google Earth dan Google Search untuk mendapatkan seluk beluk informasi yang berhubungan dengan kota Kyoto.

Semua kejadian dan ingatan saya akan pengalaman-pengalaman di lain waktu itu menjelma menjadi satu dan tak saya sadari dalam waktu kurang lebih tiga jam, lahirlah sebuah cerpen yang kemudian saya beri judul: Kucing Kiyoko.
Berulang-ulang saya baca lagi cerpen yang sudah lahir itu, saya timbang-timbang dan dengan penuh percaya diri, saya merasa saya telah melahirkan sebuah cerita pendek yang cukup kuat.

Dengan penuh percaya diri pula, cerpen tersebut langsung saya kirimkan ke Kompas, sebuah koran yang belum berhasil saya ‘tembus’ meski saya sudah ‘menembakkan’ tak kurang dari 20 judul cerpen semenjak saya mulai menulis tahun 2000. Saya sempat menunggu selama seminggu. Dalam kurun waktu itu, hampir setiap waktu saya mengecek email saya. Ada keyakinan yang begitu kuat, kalau cerpen itu akan dimuat.

Suatu pagi, tepat pada hari ulang tahun saya, 4 Februari 2009, saya mendapat email dari redaksi Kompas yang memberitahukan bahwa cerpen saya memenuhi kriteria layak muat. Sehabis membaca itu, dada saya langsung bergemuruh. Sungguh sebuah hadiah ulang tahun yang manis.

Saya beritahukan kabar baik itu pada istri saya. Istri saya girang bukan main dan mendadak kami sama-sama teringat kucing mini yang menjadi pemantik imajinasi saya dalam melahirkan cerpen itu. Di mana dia sekarang?
Kami pun diam dalam kenangan masing-masing. (*)

.

.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: