Cerpen A.S. Laksana (Koran Tempo, 13 November 2011)

JIKA harus membenci orang yang sangat kaucintai, apa yang akan kaulakukan? Pertanyaan itu datang Senin pagi ketika Seto baru bangun tidur. Masih samar benda-benda, masih remang pikirannya, dan tampang dungu adiknya sudah bercokol di depan mata. Seto tahu bahwa adiknya akan tampak seperti itu kapan saja, dan mungkin selamanya. Ibunya salah dalam hal ini. Pada umur dua tahun, adiknya memungut konde palsu ibunya yang, entah bagaimana, jatuh ke lantai dan memasukkannya ke mulut. Lalu ia jalan sempoyongan ke teras rumah sambil menggigit konde. “Papa, lihat dia!” kata ibunya. “Dia makan konde. Lucu sekali.”

Seto berumur enam belas tahun saat itu. Menurutnya makan konde, meski itu dilakukan oleh anak dua tahun, bukanlah tindakan lucu. Itu dungu. Selamanya dungu. Dan anak itu bahkan tak pernah memanggil Seto dengan sebutan kak atau mas.

Sekarang si kerbau, yang kini 19 tahun, duduk di tepi tempat tidurnya, dekat kaki. Anak itu terlihat lebih dungu dari biasanya dan situasi di rumah agak mencemaskan. Ayah dan ibunya sedang pulang kampung sampai minggu depan untuk mengurus tanah warisan. Artinya, dalam seminggu si kerbau akan sepenuhnya menjadi urusan Seto.

Kalau saja adiknya sedikit berakal, Seto merasa akan gampang menjawab pertanyaan yang diajukannya pagi itu. Ia akan bilang, “Pindah agama saja.”

Itu bukan jawaban main-main. Seto pernah berpindah agama tiga kali sejak berhenti kuliah: semua agama baik, kautahu. Dengan berpindah agama, kau sekadar berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lain. Lagipula semua agama bisa dijalankan begitu-begitu saja. Ia tidak pernah ke masjid ketika memeluk Islam, tidak pernah ke gereja ketika memeluk Kristen, tidak pernah bertapa ketika menganut kepercayaan.

Memang akan ada sedikit persoalan jika kau bolak-balik pindah agama. Tapi itu bisa diatasi dengan siasat. Di kartu tanda penduduk Seto selalu mencantumkan agama yang sama, seolah-olah ia memeluk agama itu secara kukuh. Itu demi kemudahan administrasi, karena Seto tidak mengurus sendiri pembuatan KTP-nya. Ia membayar orang kelurahan dan tinggal tunggu beres dalam dua-tiga minggu dan ia tidak ingin ada pembicaraan panjang dengan orang itu soal agama.

Setengah tahun terakhir, karena ilham dari sebuah novel, dan karena semua agama adalah baik, Seto memeluk tiga agama sekaligus—Islam, Kristen, Yahudi—dan ia merasa lebih tenteram. Ketika para pemeluk Islam dan Kristen saling bunuh di beberapa tempat, kedua agama itu tetap damai di dalam dirinya. Ia tidak harus membela yang satu dan mengalahkan yang lain. Ia juga tidak perlu mengutuk Yahudi. Justru dengan memeluk Yahudi, Seto bisa menikmati dirinya sebagai bagian dari suatu kaum yang meyakini diri sebagai pilihan Tuhan, yang hidup menyebar di mana-mana sembari terus-menerus merindukan tanah yang dijanjikan.

Kautahu, dengan memeluk tiga agama sekaligus (dan sekarang ia juga sedang menekuni Buddhisme dan Hindu), Seto merasa Tuhan sangat mengasihinya. Memang ia tak bisa mencantumkan ketiganya secara bersamaan dalam KTP, tetapi Tuhan mahatahu. Dia tahu apa yang ada dalam hati dan Dia pasti paham juga urusan administrasi kelurahan.

Dan sesungguhnya urusan dengan Tuhan tak pernah terlalu rumit. Beda ketika kau berurusan dengan si kerbau. Ia berkebalikan dari Tuhan. Si kerbau maha-tidak tahu dan ia pemburu yang pantang menyerah. Dan itulah ujian yang nyata bagi Seto. Maksudku, anak itu terlalu dungu untuk diladeni, tetapi ia akan terus mengejarmu sampai mendapatkan jawaban.

 .

SETO membalikkan tubuh membelakangi adiknya. Ia kembali memejamkan mata dan tertidur lagi tak lama kemudian. Ketika bangun untuk kali kedua, dilihatnya si kerbau masih duduk seperti semula, seperti batu tua, seperti kutukan dari masa prasejarah. Ia katupkan lagi kelopak matanya yang tiga hari belakangan memang terasa layu dan berat. Seto yakin tensinya sedang merosot saat itu. Sehari sebelumnya ia seperti hidup tanpa tulang. Pada Sabtu pagi, ketika ia kencing, ia merasa lantai kamar mandinya goyah dan debur jantungnya meracau dan kepalanya seperti kesemutan.

Situasi begini tak bisa kauanggap remeh. Kautahu, sering ada kabar orang terjengkang di kamar mandi dan harus dirawat di rumah sakit karena kepalanya bocor menghantam sudut bak mandi atau bibir kloset. Pasti karena tensi yang rendah. Sudah beberapa kali Seto mengalami keadaan seperti itu. Namun ia selalu baik-baik saja. Ia tahu cara kencing yang aman di saat tekanan darahnya sedang rendah.

Mula-mula ia akan melakukan hal yang biasa dilakukan oleh lelaki dewasa, yakni menyemburkan air kencingnya ke dinding bak mandi. Jika ia merasa limbung, segera ia akan menyandarkan tubuh pada dinding kamar mandi sampai debur jantungnya kembali beres dan rasa kesemutan di kepalanya hilang. Selesai kencing ia kandangkan kembali burungnya. Biasanya ada satu tetesan sisa yang masih keluar setelah burung itu masuk kandang. Selalu begitu. Selalu ada tetes kencing terakhir yang keluar saat burung itu sudah dikandangkan.

“Jadi apa yang akan kaulakukan?” tanya adiknya sekali lagi.

Seto menggeliat dan bangkit dengan gerak malas dan kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Di pintu kamar, tanpa berhenti dan tanpa menoleh, akhirnya ia menjawab juga sambil lalu, “Pindah agama.” Dan begitulah ia masuk perangkap.

Si kerbau tercenung beberapa waktu. Mungkin ia memang selalu tampak tercenung. Kemudian ia mengikuti langkah Seto menuju kamar mandi, menunggui kakaknya di depan pintu. “Kau sungguh-sungguh?” tanyanya saat Seto membuka pintu kamar mandi sehabis kencing.

Dari arah jalanan, suara penjual sapu terdengar panjang dan sedih menawarkan dagangannya. Seto tidak menjawab. Ia sudah memutuskan tidak akan meladeni adiknya lebih panjang. Tetapi, seperti pertanyaan pertama, pertanyaan susulan itu rupanya sangat serius. Melalui telepon siang harinya, ketika Seto sedang di kantor menyiapkan draf makalah untuk disampaikan di depan guru-guru bimbingan dan penyuluhan, si kerbau mengejarnya dengan pertanyaan yang kini lebih panjang, “Jadi kau sungguh-sungguh akan pindah agama jika kau harus membenci orang yang sangat kaucintai?”

Demi Tuhan yang mahatahu akan isi hati dan urusan administrasi, itu bukan pertanyaan. Itu keruwetan.

Membenci orang yang sangat dicintai adalah keruwetan. Lebih parah lagi, itu abnormal. Sudah beberapa waktu Seto menyadari bahwa hidup membutuhkan kewarasan dan aturan yang jelas. Jika seseorang sepatutnya dibenci, bencilah ia sebaik-baiknya. Jika seseorang sepatutnya dicintai, cintailah ia sebaik-baiknya. Ini sama dengan hal-hal umum yang lain: jika kau lapar, makanlah. Orang tidak harus berlari maraton pada saat ia lapar. Ibumu tak akan menyuruhmu minum saat kau mengantuk.

Mungkin para pertapa akan menyarankan, “Cintailah musuh-musuhmu!” tetapi kurasa mereka tak akan menyalahkanmu seandainya kau tidak sanggup mencintai orang yang sangat kaubenci, atau membenci orang yang sangat kaucintai.

Jauh sebelum si kerbau mengajukan pertanyaan pagi itu, Seto bahkan sudah pernah menulis makalah untuk sebuah diskusi tentang hidup waras dan alasan-alasan pendukungnya. Ringkasan presentasinya begini: Sekarang bayangkan seseorang menanyaimu, “Kenapa kau menyayangi orang itu?” dan kau menjawab, “Karena aku membencinya.” Oh, kau pasti dianggap tidak genap karena jawaban itu. Sebaliknya, kenapa kau membenci orang itu? Kaujawab, “Karena aku menyayanginya.” Ini juga jawaban yang membuatmu perlu dibawa ke Puskesmas.

 .

BAGI Seto, pertanyaan si kerbau sebetulnya memberi ke sempatan untuk mengulang diskusi beberapa tahun lalu. Sayangnya si kerbau tidak memadai untuk sebuah diskusi dan anak itu memiliki prinsipnya sendiri, yakni menagih jawaban. Ia kembali muncul pada malam hari ketika Seto sedang mulai membaca Quantum Teaching. Dan itu membuat Seto gagal membaca dan tak bisa tidur hingga setengah empat dinihari.

Besoknya hampir saja ia terjengkang di kamar mandi.

Itu terjadi hari Selasa, tetapi seperti hari Senin. Si kerbau masih berdiri di muka pintu kamar mandi dan mengajukan pertanyaan, “Jadi kau sungguh-sungguh?”

“Kenapa kau ruwet sekali?” bentak Seto.

“Karena aku sangat menyayanginya,” kata adiknya.

“Dan kau membencinya karena kau sangat menyayanginya?”

“Jadi menurutmu aku harus pindah agama?”

“Mestinya kau ikut pulang kampung saja.”

Si kerbau diam. Seto melenggang ke rak jemuran, mengambil handuk, menyampirkannya ke pundak, dan masuk lagi ke kamar mandi. Si kerbau tetap berdiri di depan pintu kamar mandi, lalu melanjutkan pembicaraan, atau tepatnya bermonolog karena Seto hanya mandi selama adiknya bicara.

“Kautahu, Seto, dia memang beragama lain,” kata si kerbau. “Dan sekarang aku betul-betul membencinya karena dia beragama lain. Dan apakah kau sungguh-sungguh? Aku harus pindah agama? Oh, itu tidak mungkin…. Aku akan semakin membencinya jika rasa sayangku padanya membuatku sampai harus bertukar keyakinan. Dan pasti ayah dan ibu akan sangat terpukul jika aku pindah agama. Lagi pula menurut mereka, orang yang sangat kusayangi itu bukanlah lelaki yang baik. Ia sudah punya istri….”

Jeda beberapa saat. Seto selesai mandi.

“Jadi apa sebetulnya maumu?” tanya Seto.

“Aku sangat menyayanginya,” kata adiknya.

Lihatlah, ia balik ke kalimat semula. Seekor kerbau memang akan berkubang di situ-situ juga. Ada setengah keyakinan pada Seto bahwa otak adiknya tertinggal di rahim ibu pada hari ia dilahirkan dan kemudian ikut ditanam di pekarangan depan rumah bersama ari-ari, diterangi nyala lampu minyak setiap malam. Karena itulah ia tumbuh menjadi hewan. Benar-benar hewan dalam pengertian yang agak harfiah. Jelasnya begini, jika kau membenarkan definisi bahwa manusia adalah hewan berpikir, maka ia benar-benar hewan ketika tidak sanggup berpikir.

“Jadi kau benar-benar akan pindah agama jika kau menjadi aku?”

“Untuk apa aku berandai-andai menjadi kamu?”

“Maksudku, jika kau menjadi aku….”

“Ya, ampun! Kenapa aku harus berandai-andai menjadi dungu?”

“Kau kakakku, kan? Aku hanya ingin tahu apa yang akan kaulakukan seandainya kau menjadi aku.”

Seto agak terpukul.

Si kerbau melanjutkan, “Sebenarnya aku sendiri sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tapi kau kakakku, aku ingin tahu pendapatmu. Ayah bilang ia orang yang tidak baik. Apakah aku keliru mencintai orang yang tidak baik?”

“Lakukan saja yang harus kaulakukan,” kata Seto, sedikit melunak.

“Sebenarnya aku rela menjadi istri kedua,” kata adiknya, “tetapi agamanya tidak membolehkan ia beristri dua.”

Kurasa di sinilah letak persoalannya. Seto kembali mengeras. Baru saja si kerbau membuatnya bungkam dan agak terharu ketika mengatakan, “Kau kakakku, kan?” Tetapi sebentar kemudian anak itu sudah mengeluarkan pernyataan yang terdengar bebal.

“Oh, adikku yang mahacerdas,” kata Seto. “Kau tak pantas bilang begitu.Yang harus rela mestinya istri bajingan itu.”

“Kau kakakku, kenapa selalu menyalahkan aku?”

Kali ini Seto tahu tak ada gunanya meluruskan orang yang tidak paham salah-benar. Ia bahkan menyesali jawaban pindah agama yang kemarin ia sampaikan sambil lalu. Sekarang si kerbau terus mencecar apakah ia perlu pindah agama.

Kalau saja ia tidak bebal….

 .

MESTINYA urusan itu bisa menjadi diskusi yang menarik. Seto bisa menjelaskan dengan amat jernih mengenai pindah agama dan alasan-alasan pendukungnya. Ia akan memberikan alasan yang kuat dan realistis, di luar kenyataan bahwa semua agama baik, dengan contoh kasus dirinya sendiri. Memang harus diakui bahwa keputusan Seto untuk berpindah-pindah agama mulanya didasari oleh peristiwa yang sangat remeh. Itu gejala yang lazim dalam munculnya berbagai bentuk pencerahan. Kautahu, Newton terilhami oleh apel yang jatuh dari pohon dan Pythagoras oleh air yang meluap di bak mandinya.

Dalam pengalaman Seto, peristiwa remeh itu adalah rasa cintanya pada gadis penjual tiket di gedung bioskop Cilandak. Sejak itu secara sungguh-sungguh ia melatih diri di depan cermin, beberapa kali sehari, untuk menyampaikan kalimat-kalimat. Namun, Seto merasa makin hari situasinya makin sulit. Setiap kali berada di depan loket (Seto memilih film-film yang tidak diminati penonton sehingga loket itu sepi antrian), ia merasa kalimat-kalimatnya selalu tidak tepat. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa gadis itu bukan ditakdirkan untuknya.

Lalu, demi mempertegas takdir itu, ia memutuskan berpindah agama sehingga kini agama mereka berbeda. Dan, ajaib, keputusan ini justru membuatnya lebih santai dan lebih fasih ketika suatu malam ia berdiri di depan loket pada jam pertunjukan terakhir.

“Hai,” katanya.

“Selamat malam,” jawab gadis itu dalam nada resmi dan profesional. Lalu ia menunjukkan denah tempat duduk dan Seto memilih sembarang tempat duduk. Ketika para penonton lain sudah memasuki gedung pertunjukan, Seto kembali ke loket.

“Sebenarnya ada yang mau saya sampaikan,”katanya.

“Silakan,” kata gadis itu.

“Boleh saya berterus terang?”

“Silakan.”

“Anda cantik sekali. Sayang agama kita berbeda. Jika kita seiman, saya pasti sudah melamar Anda dari dulu-dulu.”

Urusan beres malam itu. Si gadis tersenyum, tidak menerima, tidak menolak. Hanya tersenyum, resmi dan profesional.

Pada kesempatan-kesempatan berikutnya, Seto melakukan hal serupa dengan gadis lain yang menurut ia sama cantiknya dengan gadis penjual tiket itu. Tiga kali Seto berpindah agama karena perempuan: untuk membuktikan bahwa cintanya ditolak karena mereka berbeda agama, dan bukan oleh sebab-sebab lain. Kurang tampan, misalnya.

Jika kau ingin menirukan caranya, lakukanlah. Teknik Seto akan membuatmu terhindar dari penderitaan akibat penolakan. Maksudku, jika seorang gadis menolakmu padahal agama kalian sama, itu bisa seperti kiamat bagimu. Kenapa seorang gadis menolakmu padahal kalian seagama? Ia akan bilang kau bukan tipenya. Atau, “Kita temenan saja, deh?” Atau, “Aku belum kepikiran untuk serius.”Atau, “Maaf, ya, aku masih ingin sendiri.” Apa pun jawabannya, yakinlah itu sama belaka dengan fakta bahwa kau tidak menarik baginya.

Maka tirulah Seto agar kepalamu bisa tetap tegak dan gadis itu tak perlu berbelit-belit. Di luar itu, jika ia benar-benar mencintaimu, ia akan mengorbankan dirinya dengan berpindah agama mengikuti agamamu dan kalian akan menjadi pasangan yang berbahagia selama-lamanya, dengan agama baru.

“Jadi orang bisa menyelesaikan masalah dengan cara pindah agama?” tanya adiknya.

“Kau bahkan tidak perlu beragama,” kata Seto. Dalam hati ia melanjutkan, “Apa gunanya agama bagi seekor kerbau?”

Sasi, si kerbau, tersenyum. Usianya 19 menurut Seto, tetapi 22 menurut akte kelahiran. Seharusnya ia berangkat ke Austria bulan lalu, bersama tiga kawannya, untuk menempuh tahun terakhir kuliahnya. Itu program kerjasama antara kampusnya dengan kampus di sana. Tetapi ia membatalkannya. Situasi kakaknya terus memburuk sejak kedua orang tua mereka meninggal tiga tahun lalu. Mereka mengalami kecelakaan di Tegal dalam perjalanan ke Semarang. Sasi tak pernah sampai hati meninggalkan kakaknya sendirian—beberapa kali Seto pingsan di kamar mandi. Karena itulah setiap kali kakaknya ke kamar mandi ia selalu menungguinya di depan pintu.

Kau bisa mengatakan bahwa Sasi kini menjalani hidup serupa perawan suci, dengan satu-satunya anak lelaki yang usianya 14 tahun lebih tua darinya. Bedanya, Seto bukan juru selamat. (*)

 .

.

A.S. Laksana tinggal di Jakarta. Buku kumpulan cerita pendeknya adalah Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004).

.

Advertisements