Cerpen Amir Machmud NS (Suara Merdeka, 13 November 2011)

BIARKANLAH pucuk-pucuk cecandian itu bergumul dengan hitam malam. Biarkanlah, di bawah siraman cahaya bulan ia menjadi kegagahan yang menggetarkan. Raksasa hitam yang menguasai kegelapan….

Gemeremang kidung doa para pendeta memantul-mantul dari dinding ke dinding candi, melilit kesunyian. Cericit burung malam memahat gelap tanpa prasangka. Kota candi sejatinya tak pernah tertidur.

Alas doa, kidung pemujaan, harum asap dupa persembahan, dan helaan napas teratur para murid di bilik-bilik asrama di berbagai koridor candi utama menjadi denyut gairah yang menghidupkan. Cahaya obor di sejumlah titik menebarkan terang yang karib bermain-main dengan terpaan dengus napas angin. Api obor dan lelampu di hamparan bambu yang dijadikan mrutu sewu sesekali meredup bergantian dengan nyala yang genit meliuk, menari-nari gembira seperti canda anak-anak yang berlarian di atas sabana luas.

Kota Angkor tak sepenuhnya terlelap. Dan, aku tak pernah puas memandangi pucuk cecandian yang menjulang menghitam seperti tangan raksasa menggapai penuh keyakinan menuju nirwana.

Ah, yang sebenarnya adalah, aku tak pernah berhenti mencari. Akan datang lagikah Indraswara? Dari khayal keyakinanku, ia menemui, dan suatu saat yang tepat akan menjemputku untuk mengikutinya ke alam ke kemoksaan, ke keabadian. Aku, Sri Jayawarman, ingin menyempurnakan moksa dengan bimbingan tangannya, karena dengan cara itulah aku meyakini bisa menuju ke keabadian dengan dan bersama cinta Sri Indraswara….

Angkor Wat telah berdiri gagah menjadi pusat pemerintahan dan peribadatan di bumi Khmer, pusar dari cecandian yang dikelilingi hamparan hutan bodhi. Ia dikawal candi pemujaan Bayon yang tak kalah berwibawa, serta sebaran candi-candi kecil untuk meneguhkan gaung Kerajaan Khmer Yang Agung.

Gemanya menyebar ke dunia yang mengagumi, mengakui karya agung bangsaku untuk menyandingi mahakarya serupa di Javadwipa dan Svarnadwipa yang pahatkan di dinding hati lewat perjalanan panjang ke Sriwijaya dan tanah Jawa. Namun sebagai angan-angan monumen persembahan seorang Raja kepada permaisurinya, aku, Jayawarman bukan lelaki yang berhasil. Angkor Wat adalah candi yang justru membenamkan perwujudan daya asmara.

***

ENTAH dari lorong yang mana, ia tiba, dan wangi perempuannya menindas sengatan bau dupa. Kidung asmara menggelora. Kamu tiba, Indraswara, perwujudan anganku pada malam-malam puncak purnama.

Inilah antara ada dan ketiadaan, antara khayal dan kenyataan, pada usia ketika tak sepatutnya lagi hati dan dada mengembang didegupkan oleh angan-angan remaja yang penuh bara.

“Kakanda harus percaya, asmara takkan tertindih oleh masa, cinta tak pernah memilih-milih usia. Bahkan dalam moksa pun, badan cinta itu tetap bisa dipersatukan oleh rasa. Jika dewa berkehendak….”

Sukmaku bagai melambung ke langit lapis ketujuh. Rintihan pengharapan sejak aku membangun candi, dan Indraswara terbelenggu dalam penantian tak berkeputusan sampai ia berangkat menuju ke keabadian, bagai membanting kesadaranku. Semangat untuk berpikir hanya menyelesaikan dan mempersembahkan keagungan sebagai pembuktian cinta malah memotong penyatuan yang kami angankan sedari muda.

Hari-hariku adalah penantian dalam kerinduan yang menyiksa.

Tetapi, inikah siksa yang membahagiakan, ketika di puncak galau di pendaran cahaya bulan penuh, ia benar-benar datang?

Indraswara, Sri Indraswara….

Ia seperti apsari yang dengan kebijaksanaannya bisa membaca bahasa hati. Ia tahu aku ada di sini, di salah satu sudut pelataran candi tempat aku menunggu dan melihat purnama membulat pada tiap pertengahan bulan sejak ia menghilang meninggalkan Jayawarman, apsaranya yang tenggelam dalam gejolak tekad membangun monumen persembahan.

Kerinduan itu terbahasakan oleh mata, dan kami tahu geletar perasaan yang tak cukup bermakna hanya disampaikan dengan kata-kata.

Benar-benar datang dan bangkitkah ia dari moksanya?

Seperti tiba-tiba Indraswara ada di pelataran candi, bersama angin yang berdesahan di rerimbun pohon bodhi. Dalam keserbaputihan, ia lebih menyerupai seorang bhiksuni, dengan wajah welas asih dan mata yang bening membimbing. Rambutnya berjuntai menyiratkan sinar perak yang tak mengurangi keindahannya.

“Adinda datang juga….” Ah, suaraku pasti bergetar. Seperti anak muda saja. Indraswara tahu rambutku telah menipis dan memutih, isyarat alam menanti panggilan kemoksaan.

“Kakanda Jayawarman tak pernah lelah menungguku, maka aku juga tak lelah menanti Kakanda memanggil suksmaku datang.” Suaranya tenang, jernih, namun tetap memantulkan daya asmara yang hanya aku yang bisa merasakan maknanya.

“Hanya sukmamukah yang datang menemuiku, Adinda?”

“Semoga pertanyaan itu bukan guratan kekecewaanmu, Kakanda. Sukma atau raga, sama saja. Puluhan warsa kematian menjauhkan kita, dari sejak Kanda memulai impian persembahan pembuktian cinta itu, sampai Angkor Wat menjulang menaklukkan dunia. Sampai bangsa Khmer menggaungkan harga diri ke seluruh marcapada lewat Kerajaan Angkor yang menapakkan jejak keagungan mahakaryanya….”

“Jayawarman hanya raga, dan Dinda Indraswara telah mencapai kesempurnaan sukma, begitukah?”

“Bukan kesempurnaan, Kanda. Tak ada yang sempurna kecuali Sang Hyang Penguasa Mayapada. Bukankah aku masih tergoda untuk menemuimu, memenuhi panggilan kerinduanmu. Kalau bukan karena kerinduanku pula, akankah aku korbankan ketenangan perjalanan sukmaku ke nirwana dengan membentuk raga yang menyapamu, menemuimu… saat ini….”

Tanpa sadar kupandangi Indraswara. Bukan raga, itu sukma, dan perempuan yang telah merampas seluruh hidupku itu seperti ada di batas antara ada dan tiada….

“Kakanda….”

Kali ini suaranya terdengar berat.

“Candi telah menjulang, Angkor menjadi tlatah kebudayaan tak tertandingkan, nama Jayawarman akan dikenang, apakah lantaran pengorbanannya membangun kota candi ini, atau karena kekuatan cintanya untuk mempersembahkan pembuktian tak ternilai untuk kekasihnya; namun masih ada satu yang kurang….”

Aku tak kuasa berkata-kata, tetapi terkejut mendengar kalimatnya itu.

“Putra Mahkota, pangeran yang akan meneruskan kebesaran Angkor di tahta Khmer Yang Agung.” Tandas sekali suara dan penekanan kalimatnya.

Aku terhenyak, tapi bisa segera mengerti arah kalimat itu. Ada kepedihan di hati, maka kemudian aku segera menyahut, “Hanya karena urusan Putra Mahkota-kah, maka Adinda bersedia datang menemuiku, dan bukan karena ungkapan kerinduan yang sama?”

“Kanda, itu sama-sama pentingnya. Kalau bukan karena kerinduan, untuk apa aku mengorbankan bagian perjalanan moksaku ke nirwana? Kalau bukan karena daya asmara, untuk apa aku mengingatkanmu tentang Putra Mahkota?”

“Kalau kau tahu, Dinda, tak ada siapa pun perempuan selepas kepergianmu….”

“Aku tahu dan percaya, tetapi tak seharusnya Kanda mementingkan perasaan sendiri, karena Kanda adalah seorang Raja.”

“Tidak penting bagiku, apakah akan ada Jayawarman yang kesekian, setelah Ayahanda Jayawarman Sepuh, dan sekarang aku duduk di takhta Khmer yang Agung, lalu harus diartikan penerus takhta itu adalah keturunanku.”

Mata Indraswara tajam menatapku.

“Adinda tahu banyak kekuatan politik di sekeliling Istana yang menanti kesempatan untuk membangun dinasti baru….”

“Apakah Dinda mengira aku tidak tahu? Ah, biarlah hukum alam yang mengatur takhta. Aku sudah merasa cukup memberikan kebanggaan kepada rakyat Khmer, beberapa onggok cecandian, walau kerja keras itu patah berkeping karena kepergianmu….”

“Kanda seorang Raja. Jangan mementingkan diri sendiri.”

“Tidak akan ada perempuan lain sepeninggalmu. Tak harus Jayawarman kesekian itu putra mahkota keturunanku.”

“Kanda, aku tidak bahagia walaupun kalimat itu menunjukkan kesetiaanmu yang tanpa batas kepadaku. Aku datang untuk mengingatkanmu, agar tidak sia-sia pengorbananmu untuk membangun kota candi yang besar ini….”

“Tidakkah kita bisa berbicara yang lain, Adinda?”

Angin seolah-olah berhenti bertiup. Cahaya bulan meredup. Hatiku menjeritkan seluruh ungkapan perasaan ketika bayangan Indraswara tak berjejak lagi di pelataran candi ini. Ia membiarkanku dalam ketermanguan dan debar jantung yang tak beraturan. Ia meninggalkan pikiran yang tak mudah dilaksanakan meskipun sepenuhnya aku pahami, walaupun seharusnya aku bisa bertindak atas nama sikapku sebagai seorang Raja.

***

DI puncak-puncak purnama berikutnya, sukma Indraswara tak pernah datang lagi. Aku masih setia menanti, namun sekeliling pekataran candi hanya memantulkan kegelisahan tentang permintaan terakhirnya: seorang Putra Mahkota.

Sampai rambut makin menipis, dan raga tak lagi menyisakan cukup kekuatan, aku membiarkan semua berjalan dalam kodrat waktu. Tak ada yang berani menyinggung-nyinggung tentang penerusku, tentang masa depan kepemimpinan Khmer yang Agung.

Akan ada yang mengaturnya. Apakah keyakinan ini karena aku lebih memenangkan kesetiaan tentang makna keberadaan seorang Indraswara di hampir keseluruhan hidupku, atau keikhlasan menjalani hukum alam, atau ungkapan keputusasaan, raga tuaku tak mampu mengurai jawaban yang jernih.

Dan, pada hitungan warsa yang kesekian, ketika purnama menguasai penuh keelokan kota candi, di tengah para pejabat kerajaan yang mengelilingi peraduanku, Indraswara datang lagi seperti di batas ada dan ketiadaan. Wajahnya muram, tetapi memancarkan kebeningan yang menenteramkan.

“Kalau ini pilihanmu, Kakanda, aku tak berhak memaksa. Aku harus merasa tersanjung, Kanda memahkotakan kekuatan cinta menjadi lebih berharga dari urusan takhta….”

Senyum Indraswara terlihat lebih indah. Aku masih menghirup wangi dupa di antara lantunan doa dan mantra para pendeta yang menggeremang menaburkan aroma pemujaan membubung ke langit, mengiring perjalanan yang serasa senyap, senyap, dan makin senyap. Selanjutnya sunyi.

Tangan Indraswara menggapai, membimbingku, mengikutinya…. (*)

 .

.

Semarang, Oktober 2011

Cerpen ini merupakan seri keempat dari “Senyum Khmer” (24 September 2007), “Bulan di Atas Angkor” (10 Maret 2008), dan “Purnama Setia di Atas Angkor” (31 Juli 2011).

.

Advertisements