Burung Api Siti


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 30 Oktober 2011)

Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya, “Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

TAK ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga, tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan. Mereka juga melompat, berlari, melompat lagi, dan berlari lagi. Dan yang membuat lelaki kencur 10 tahun itu lebih takjub, bangau-bangau itu berdiri tegap saling menatap dengan paruh menusuk ke langit. Ia tak tahu kenapa sang pejantan hanya mengeluarkan suara sekali dan para betina berkali-kali.

Itulah pemandangan yang berulang-ulang dilihat oleh Siti dan berulang-ulang pula membuat dia kehilangan cara untuk mengungkapkan ketakjuban. Akan tetapi hari itu, pada Oktober 1965 saat angin laut begitu asin dan amis, burung-burung bangau itu nyaris tidak melakukan gerak apa pun. Isya sudah usai menghampiri kampung di ujung tanjung itu, tetapi satwa-satwa tropis ini tetap saja membisu. Siti menduga ada ratusan ular raksasa yang menelan mereka. Dan dalam benak lelaki kencur itu hewan melata yang menjijikkan itu mula-mula menyambar sayap, lalu menghajar, dan meng-kremus kepala-kepala mereka.

Karena penasaran, Siti yang dari masjid hendak bergegas ke rumah, tiba-tiba berbalik arah menuju ke tanah lapang yang dikelilingi hutan bakau tak jauh dari makam yang dikeramatkan. Dari tanah lapang itulah, ia akan bisa dengan seksama melihat segala yang terjadi pada burung-burung bangau yang berkerumun di tanah becek, di antara pohon-pohon bakau. Tentu jika memang benar ular-ular raksasa itu melahap secara sembarangan burung-burung bangau kesayangan, dengan oncor [1] yang terus menyala Siti akan mengusir binatang-binatang menyeramkan itu.

“Kalian tak boleh menyakiti teman-temanku,” kata Siti sambil mengacung-acungkan oncor kepada ular-ular yang ia bayangkan sangat ganas itu.

Ternyata tidak ada yang mencurigakan. Tak ada ular-ular raksasa yang berkeliaran. Tak ada satu pun bangkai bangau yang berdarah-darah. Ratusan bangau itu justru nyekukruk [2] meskipun tetap mencericitkan suara-suara kacau yang memekakkan.

“Mengapa kalian tak menari?”

Tak ada jawaban. Siti sama sekali tidak tahu sesungguhnya alam punya cara merahasiakan segala peristiwa buruk kepada anak-anak. Bangau-bangau dan pohon-pohon bakau itu malam itu seakan-akan menjadi benteng kokoh yang tidak bisa ditembus oleh mata lemah Siti. Saking rapat mereka menyembunyikan segala hal yang terjadi di balik gerumbul bakau dan benteng bangau, Siti hanya melihat semacam dinding tebal hitam memisahkan tanah lapang dari ujung tanjung. Akibat air menyurut ujung tanjung itu berubah menjadi alun-alun penuh pasir, selongsong siput, dan aneka kerang.

“Ayolah, mengapa kalian tidak menari?” teriak Siti sekali lagi.

Tetap tak ada jawaban. Tetap hanya angin amis yang menampar-nampar tubuh Siti yang terlalu rapuh untuh berhadapan dengan amuk malam.

***

Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja telinga Siti tidak ditulikan oleh kicauan bangau, sesungguhnya ada jerit panjang terakhir yang menyayat dari sebelas perempuan dan laki-laki dewasa yang lehernya dipancung oleh para pembantai dari kampung sebelah. Para pembantai itu meneriakkan nama Allah berulang-ulang sebelum dengan hati dingin mengayunkan parang, sebelum dengan kegembiraan bukan alang kepalang menusukkan bayonet ke lambung.

“Kami harus membunuh mereka karena sebelumnya mereka akan membunuh kami,” kata seorang serdadu.

“Kami harus membantai orang-orang yang menistakan agama ini karena mereka telah membunuh para jenderal terlebih dulu,” kata seorang pemuda berjubah serbaputih.

Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja mata Siti tidak dibutakan oleh ratusan bangau yang membentuk semacam dinding pembatas, sesungguhnya ada puluhan perempuan dan laki-laki dewasa, serta anak-anak kecil dari kampung sebelah mengarak sebelas makhluk malang dibelit tali ke ujung tanjung. Para makhluk yang dianggap manusia paling laknat dan bersekutu dengan setan itu, dipaksa untuk menggali kubur bagi dirinya sendiri di tanah lapang berpasir. Setelah semuanya selesai orang-orang yang merasa paling suci menusukkan bayonet dan mengayunkan parang sesuka hati ke leher atau ke punggung ringkih.

“Jangan menganggap kami kejam…. Jika sekarang mereka tak mati, pada masa depan mereka akan membantai seluruh keturunan kami,” desis seorang perempuan nyaris tak terdengar oleh orang lain.

Ia berbicara untuk dirinya sendiri.

“Ini tugas negara. Tak perlu kalian anggap ini sebagai kekejaman yang tak terampuni,” desis seorang serdadu nyaris tak terdengar oleh serdadu lain.

Ia berbicara untuk dirinya sendiri.

Apa yang juga tak didengar dan dilihat oleh Siti? Tangis bangau dan jerit pohon bakau. Mereka gigrik menyaksikan segala peristiwa yang terjadi saat itu karena Allah tidak menyembunyikan sorak-sorai dan tarian suka cita para pembantai setelah makhluk bantaian terbunuh kepada mereka.

Lalu makin malam laut kian pasang. Para pembantai telah kembali ke rumah. Sorak-sorai menghilang. Tanah lapang di ujung tanjung telah tenggelam. Pasir yang semula digenangi darah dengan cepat terhapus. Segalanya sunyi diam. Segalanya dilupakan oleh para pembantai dan saksi mata pembunuhan kejam itu.

***

Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk  memperkenalkan kematian kepada Siti. Para pembantai—yang dari bisik-bisik di kampung sebelah telah dirasuki arwah para jenderal yang dibunuh di kota yang jauh—sepanjang siang sepanjang malam mencari siapa pun yang dianggap sebagai para pemuja iblis, yakni iblis-iblis yang senantiasa mengibar-ngibarkan bendera palu arit dan menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi saat menghajar para jenderal dan para pemeluk teguh.

Azwar, ayah Siti, hanya karena tidak pernah mau bergabung dengan para serdadu dan orang-orang yang mengaku paling suci, kali ini tak terhindarkan harus menjadi makhluk buruan paling dibenci.

Puluhan orang dari kampung sebelah—tentu bersama para serdadu dan lelaki beringas berjubah serbaputih—menyerbu kampung di ujung tanjung setelah Isya yang sangat tenang itu. Mereka mengasah amarah sambil menjulur-julurkan lidah, mengacung-acungkan parang, dan meneriakkan kebesaran Allah berulang-ulang agar segala tindakan tersucikan dari kesalahan.

Untuk membantai Azwar, kau tahu, seharusnya cukup seorang serdadu menusukkan bayonet ke lambung. Tetapi mengutus serdadu yang ringih tidaklah mungkin. Warga kampung di ujung tanjung sangat mencintai Azwar. Membunuh lelaki kencana yang senantiasa menjadi suluh kampung dalam segala tindakan akan membuat warga kalap. Karena itu agar bisa meredam kemarahan para pemuja Azwar, tidak ada cara lain puluhan pembantai harus disiagakan.

“Bunuh, Azwar! Selamatkan warga kampung dari iblis laknat ini!”

“Bunuh, pembela para pembenci Allah ini!”

“Bunuh dia!”

“Bunuh dia!”

Siti yang saat itu sedang mengaji dan mempercakapkan dengan Azwar tentang perbedaan burung-burung bangau di tanjung dari burung-burung ababil yang menghajar tentara gajah, terperanjat mendengar teriakan-teriakan itu.

Setelah ia bertanya, “Apakah para bangau bisa menjadi burung api?” dan dijawab Azwar, “Semuanya bisa terjadi jika Allah mengizinkan.”, Siti lalu  mengintip dari lobang jendela dan mendapatkan puluhan orang mengacung-acungkan parang dan mengacungkan bayonet. Ia juga melihat puluhan warga kampung dengan gagang pendayung sampan mencoba menghalau para pembantai.

Lalu teriakan pun berbalas teriakan. Acungan parang dan bayonet pun berbalas acungan gagang pendayung. Pertumpahan darah akan segera terjadi jika tak seorang pun berusaha mencegah pertempuran pada malam yang hanya disinari oleh separo bulan itu.

Pada situasi yang semacam itu, di luar dugaan Siti, Azwar membuka pintu dan dengan langkah yang sangat tenang menyibak kerumunan. Warga kampung menghalang-halangi, tetapi Azwar tetap berusaha membelah kerumunan dan bergegas menghadapi para pembantai yang berteriak-teriak tak keruan.

“Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku hidup kalian lepas dari iblis paling laknat,” Azwar berteriak membelah malam.

Tak ada jawaban. Sebuah parang mengayun di punggung Azwar.

“Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku kalian akan jadi manusia-manusia paling suci!”

Tak ada jawaban. Sebuah bayonet ditusukkan ke lambung Azwar.

Tentu saja warga kampung di ujung tanjung tak bisa membiarkan Azwar dibantai di depan mata mereka. Karena itu sebelum leher Azwar dipancung, sebelum tubuh Azwar diseret dan dibuang ke laut, warga kampung melakukan perlawanan.

Lalu parang-parang dan bayonet pun beradu dengan gagang pendayung. Beberapa orang tertebas parang, beberapa orang tertusuk bayonet, beberapa orang terhantam gagang pendayung sampan.

Di mana Siti? Siti tidak melihat pemandangan mengerikan itu. Pada saat sama burung-burung bangau yang menghuni hutan bakau di kampung itu terbang bersama-sama dan mengepung orang-orang yang sedang bertikai. Tak ada celah sekecil apa pun yang memungkinkan Siti melihat darah yang mengucur dari lambung atau bacokan parang di punggung. Bangau-bangau tetap tak menginginkan kekejaman dan kekerasan diendus oleh anak-anak sekencur Siti.

Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk memperkenalkan kematian kepada Siti. Teriakan-teriakan para pembantai kian keras. Teriakan-teriakan yang dibantai juga tak kalah keras. Darah mengucur. Tanah berpasir di tanjung pun memerah hingga ke ujung, hingga ke relung-relung cangkang siput dan kerang murung.

Tak ada cara lain untuk menghentikan pertempuran sia-sia itu, kecuali burung-burung bangau di ujung tanjung itu harus mengulang peristiwa bertahun-tahun lalu yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Atas izin Allah, bangau-bangau yang riuh mencericitkan semacam zikir itu lalu meliuk-liuk ke arah pembantai dan setiap liuknya menebarkan api. Bangau-bangau itu sebagaimana burung ababil menjatuhkan batu-batu sijil dari neraka ke tubuh para pembantai. Batu-batu api itu bergesek dengan udara, menembus dada para pembantai sehingga tubuh-tubuh para pembunuh itu terbakar. Dan karena para pembantai itu berlarian tak keruan—dan alhamdulillah Allah mengizinkan dan tak berhasrat membunuhnya—dari kejauhan tampak seperti panah-panah api yang melesat menembus kegelapan malam.

Saat itulah Siti melihat segala peristiwa yang mengerikan itu. Melihat tubuh para pembunuh menyala, Siti bertanya, “Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

Tak ada jawaban. Siti hanya melihat Azwar tertatih-tatih—dengan luka di lambung dan leher yang terus mengucurkan darah—berjalan ke arah masjid dan sisa-sisa kilatan api para bangau yang terus riuh mencericitkan semacam zikir menggores langit Oktober yang perih. Siti hanya tahu kampung pada akhirnya jadi sunyi kembali seperti tak pernah terjadi kekejaman agung yang tak tepermanai.

Siti hanya…. (*)

 .

.

Semarang, 7 Agustus 2011

 .

Catatan:

[1] Oncor (Jawa) = suluh

[2] Nyekukruk (Jawa) = mengatupkan sayap

.

3 Responses

  1. sekedar majinasi pengarang atau cerita beneran ya?!

    Like

  2. Bgus bget cerpenya.
    Saya tunggu updatenya ya

    Like

  3. cerpen ini seperti sisi lain sejarah ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: