Archive for November, 2011

Traktor
November 29, 2011


Cerpen Adi Zamzam (Jawa Pos, 27 November 2011)

NYALANG mata Wo Rikan acapkali melihat derum benda itu. Meraung-raung seperti tengah mentertawakan dirinya yang kini jadi sering menganggur karena tak ada lagi pekerjaan. Padahal telah lama musim penghujan menjadi mimpi indah dalam kepala lelaki gaek itu. (more…)

Advertisements

Heute Herbst
November 21, 2011


Cerpen Desi Puspitasari (Koran Tempo, 20 November 2011)

BEL yang digantung di pintu berkelinting.

“Menjelang musim dingin yang beku!”

Katja Heinenmann menaikkan kacamata tuanya. Ia melihat Klaus, salah satu profesor tua sekaligus pelanggannya yang setia, melepas mantel. Laki-laki itu baru pulang dari kampus tempatnya mengajar. (more…)

Kupu-kupu di Antara Pohon Jati dan Bambu
November 21, 2011


Cerpen Arif Hidayat (Suara Merdeka, 20 November 2011)

KADANG-KADANG sering terbayang juga masa tua. Masa saat aku mungkin mengenang yang telah kulewati sambil menanti ajal, sambil kubayangkan juga ruhku akan terbang seperti kupu-kupu.

Ini mungkin karena aku sering melihat kakek-nenek itu melintas menyapa sambil menundukkan kepala dan tersenyum. Nenek itu matanya agak sipit. Walau kerutan-kerutan itu membekas, namun aku tahu bahwa nenek itu semasa muda memiliki kulit yang putih. Dia menyapa dengan huruf-huruf yang tak fasih, namun aku masih mengerti dan paham. Ia selalu pergi bersama seorang kakek yang tak terlalu ada keistimewaan apa pun pada tubuhnya, selain bibir yang berusaha memberikan senyum. (more…)

Pulang
November 21, 2011


Cerpen Pirngadi (Republika, 20 November 2011)

PEDIH, melihat wanita yang sangat dicintainya terbujur kaku tak bernyawa. Pilu, menyaksikan perut sang jenazah yang mulai kelihatan membuncit karena hamil. Lebih mengiris hati, menyadari kenyataan calon jabang bayi di perut itu bukan dari benihnya. Luka hati yang sangat perih dan kobaran amarah di tempurung kepala Maman membuat laki-laki itu terpaku seperti patung batu. Orang-orang terus mengalir berdatangan mengungkapkan dukacita, menyampaikan penghiburan, atau sekadar hadir melihat. Rumah yang belum sepenuhnya jadi karena dindingnya masih belum diplester semen itu pun ramai dalam kedukaan. (more…)

Kimpul
November 21, 2011


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 20 November 2011)

AWAN hitam merangkak pelan. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. Curah hujan belakangan ini memang tinggi. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa tempat. (more…)

Apresiasi (sebagian) Pembaca dan Sekelumit Cerita di Balik “Kucing Kiyoko”
November 21, 2011


Oleh Rama Dira

“SAYA menyukai film-film karya Alejandro Inarritu (Babel, Biutiful). Menurut saya, cerita-cerita Rama Dira adalah versi tertulis dari karya-karya Inarritu yang kelam, tragis, dan mengaduk-ngaduk perasaan namun penuh permenungan. Anda menyukai Inarritu? Bacalah Kucing Kiyoko.” (Lukman al-Hakim, Fotografer, Samarinda) (more…)

Mati Sahid
November 21, 2011


 Cerpen Aan Haryono (Jawa Pos, 13 November 2011)

.

.

SUBUH itu membuat Ghani merinding. Tangannya bergetar kencang. Lehernya mulai berair. Denyut jantungnya ikut berdetak. Belum selesai imam masjid bangkit dari duduknya semua makmum menyimpan rasa penasaran. Sorot pasang mata semua tertuju pada makmum di barisan kedua. Pak Magbul. Ia belum juga bangkit dari sujudnya. (more…)