Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 16 Oktober 2011)

TAK banyak yang tahu. Ah, mungkin tepatnya, tak ada yang tahu, kalau selain Mary Wollstonecraft Godwin dan kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley, yang menjadi tamu Lord Byron di musim panas 1816, ada seorang tamu lagi yang menginap di kastilnya malam itu. Kastil megah di tepi Danau Geneva.

Andai, andai saja aku tidak pernah bertemu dengan tamu ketiga Lord Byron itu, mungkin kisah mencekam yang diceritakan tamu ketiga itu akan lenyap selamanya. Ah, kau tahu? Tentu, tentu kau tahu. Di malam musim panas yang tiba-tiba bercuaca buruk itu, Lord Byron mengajak Mary dan Percy untuk berlomba menulis kisah mencekam. Hujan badai yang disertai petir, guntur, dan kilat di luar kastil membuat mereka jenuh karena tak bisa melakukan apa pun di halaman kastil. Telah banyak cerita yang mereka uraikan di depan perapian hingga Lord Byron merasa tak ada lagi cerita menarik. Maka, tercetuslah idenya itu. Berlomba menulis cerita mencekam.

Tentu kau pun tahu, kalau Marylah yang memenangkan taruhan dalam menulis kisah itu. Walau sejujurnya, aku pun berani bertaruh, seandainya kisah mencekam tamu ketiga itu diceritakan di depan Lord Byron, Mary, dan Percy, mungkin sekali ia yang jadi pemenangnya. Atau, bila tamu ketiga itu menerbitkan ceritanya dalam bentuk novel (seperti yang dilakukan Mary) dua tahun setelah ia menemukan ide lewat mimpi buruknya di kastil itu, maka bisa jadi pula novelnya akan menjadi termasyhur seperti novel Mary Frankenstein.

Jadi, kisah mencekam apa yang tamu ketiga itu ceritakan?

Seperti halnya Mary yang terjaga dari mimpi buruk di malam berbadai itu, demikian juga tamu ketiga. Namun jika Mary ketika terjaga langsung bergegas meraih kertas dan pena menuliskan mimpi buruknya itu untuk jadi cerita mencekam, tidak demikian halnya dengan tamu ketiga.

Mimpi itu seperti nyata. Tamu ketiga melihat lorong kastil Lord Byron yang ia kenal, berkelok dan senyap, lalu sebuah ruangan pengap. Ia masih merasakan tangannya mendorong pintu itu dan sebuah pemandangan mengerikan terhampar di depan matanya. Ia terkesiap. Terpekik. Dan terengah-engah di atas ranjang. Kilat menggores tajam di jendela kastil, angin yang bersiut ganas mengobrak-abrik gorden seperti liukan tari seorang perempuan di klub-klub liar, dan petir berdentum. Tamu ketiga itu mengelap dahinya.

Advertisements