Archive for October, 2011

Ai-Bi
October 27, 2011


Cerpen Indah Ariani (Koran Tempo, 23 Oktober 2011)

“Tuliskan semua yang kamu rasakan di kaca atau apa saja. Lalu hapus. Dan kau tak akan bersedih lagi.”

KALIMAT-KALIMAT itu terngiang lagi di benak Ai-Bi. Gadis kecil bermata bintang itu ragu-ragu melakukan apa yang dianjurkan Paman Han, lelaki yang pernah ditemuinya dalam mimpi. Ai-Bi bimbang. Di kaca mana ia harus tuliskan lara? Kaca jendela, kaca meja, atau cermin dalam kamarnya? Atau pada kaca piring dan gelas yang jumlahnya terus menipis karena terus jadi sasaran pertengkaran ayah dan ibu? Ah, Ai-Bi tak pernah tahan mendengar nyaring piring pecah atau muncratan darah dari telapak tangan ayah. Darah yang selalu berhasil membuat ibu bungkam. Bukan karena ibu lelah membantah, tapi karena dia pingsan. Ibu takut darah. Fobia, kata Kak Sita, anak tetangga sebelah rumah yang kuliah di fakultas kedokteran. (more…)

Cirakalasupta
October 27, 2011


Cerpen Nur Hadi (Suara Merdeka, 23 Oktober 2011)

SEBENARNYA sudah sejak dari pertapaan Goharna aku melihat kejanggalan itu. Tentang siapa sebenarnya yang dianugerahi cirakalasupta oleh Sang Brahma. Meski awal mulanya aku sangat tidak menduganya karena lelaki itulah orang yang pertama kali mentertawakan permintaanku yang tak kusengaja. (more…)

Usus Buntu
October 27, 2011


Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 23 Oktober 2011)

ANAK pertamaku lahir ketika suamiku kehilangan pekerjaan. Meski kehamilanku saat itu direncanakan, ternyata Tuhan berkehendak lain. Suamiku dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja selama bertahun-tahun. (more…)

Sumur
October 27, 2011


Cerpen Muna Masyari (Republika, 23 Oktober 2011)

SUDAH menginjak lima bulan lamanya matahari berpesta. Merayakan kemenangan atas pohon-pohon, tanah, kali, dan sungai. Daun-daun meranggas. Berguguran. Retak-retak tanah mengular. Pohon-pohon tembakau di sawah yang belum sempat dirobohkan berdiri kaku. Pohon kapuk berjajar gundul di sisi jalan kampung. Tinggal kapuknya yang berjatuhan dan bergelantungan dengan kulit mengering. Terkuak. Isinya menyembul, sebagian mulai tertiup angin. Bebatuan di dasar sungai teronggok diam menyaksikan pesta kemarau yang tak kunjung usai. (more…)

Batas Tidur
October 27, 2011


Cerpen Gde Aryantha Soethama (Kompas, 23 Oktober 2011)

JIKA hendak tamasya, kami akan pergi ke batas tidur, tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas. Benda-benda, gedung, gunung, laut, pohon, dan ternak terangkat, namun tetap terpegang erat di tempatnya. Kicau burung, suara serangga, dan desau angin, jernih dan jelas sumbernya. Bisikan-bisikan menjadi percakapan nan merdu. (more…)

Tamu Ketiga Lord Byron
October 17, 2011


Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 16 Oktober 2011)

TAK banyak yang tahu. Ah, mungkin tepatnya, tak ada yang tahu, kalau selain Mary Wollstonecraft Godwin dan kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley, yang menjadi tamu Lord Byron di musim panas 1816, ada seorang tamu lagi yang menginap di kastilnya malam itu. Kastil megah di tepi Danau Geneva. (more…)