Archive for September, 2011

Panggil Aku Bargawa
September 15, 2011


Cerpen Saroni Asikin (Koran Tempo, 11 September 2011)

AKU masih suka meniup seruling bambu dan bermain dengan sapi-sapi ketika Ayah menyuruhku menebas leher Ibu dengan pedang. Mulut Ayah berbuih-buih menderaskan makian dan kutukan pada Ibu yang kata Ayah telah berzina dengan seorang ksatria tampan. Dia terus mengutuk dan menyuruhku bersigegas mematuhi perintahnya. Sebelum kalimat api Ayah selesai, kepala Ibu telah menggelinding ke tanah. Kedua mata di kepala Ibu memandangku dengan pendar memelas. Bibirnya mengerucut biru. Di tanganku sebilah pedang tajam-bengis berlumuran darah dan ketika itu kulihat mata nyalang Ayah penuh kebanggaan. (more…)

Tebarkan Abu Jenazahku ke Telaga
September 15, 2011


Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 11 September 2011)

BAGAIMANA caraku menebar abu jenazah Steven ke telaga? Ia berwasiat, jauh sebelum buta matanya dan meninggal dunia, menghendaki abu jenazahnya ditaburkan ke telaga yang tak jauh dari rumahnya. Tapi bagaimana aku bisa melakukannya? Telaga itu telah beberapa tahun ini dikeringkan. Telaga, yang diyakini orang-orang sekitar, tempat bidadari mandi, berubah menjadi hamparan lahan dipetak-petak. Selalu dikisahkan Steven saat mengail di telaga: bidadari turun dari lengkung pelangi untuk berendam dan bersenda gurau, saat dilihatnya gadis-gadis desa menceburkan diri dalam bening air, membasuh tubuhnya sehabis mencuci pakaian. (more…)

Kunang-kunang di Langit Jakarta
September 15, 2011


Cerpen Agus Noor (Kompas, 11 September 2011)

IA kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan kenangan. Padahal, ia berharap menghabiskan liburan musim panas di Pulau Galapagos—meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan karena alasan romantis, tapi karena kura-kura. Kura-kura itu bernama George. (more…)

Rumah Sakit di Kota Hudiman A
September 13, 2011


Cerpen Muliadi Gf (Jawa Pos, 4 September 2011)

AKU akan bercerita tentang sebuah rumah sakit di kota Hudiman A.

Rumah sakit itu berdiri di daerah dataran tinggi. Kita masuk di gerbang rendah sejajar pos satpam yang dijaga anak kecil berpakaian biru-biru. Jika kau termasuk pasien baru yang butuh pertolongan segera, maka kau dituntun ke kanan menuju UGD, yang dijaga anak kecil berpakaian merah-merah. Jika menurut mereka kau membutuhkan infus, mereka segera menusuk-nusuk punggung tanganmu hingga 10 kali, berulang-ulang, mencoba-coba, mencari pembuluhmu. “Tidak apa-apa,” kata mereka tertawa-tawa, kau bisa melihat gigi taring di laring mereka. (more…)

Mawar yang Ia Ingin Lupa
September 13, 2011


Cerpen Gus tf Sakai (Koran Tempo, 4 September 2011)

ENTAH kapan. Ia tak sengaja memandang jendela kaca yang menghubungkan terasnya dengan teras sebelah, dan melihat mawar itu. Hanya setangkai, pekat merah, rekah, mendongak bagai tengadah. Tanpa cabang, tanpa ranting, tegak lurus bagai mencuat dari pot kecil ramping. Kemudian ia lupa. (more…)

Anak Pesisir
September 13, 2011


Cerpen Mahwi Air Tawar (Suara Merdeka, 4 September 2011)

PERAHU-perahu terkapar, membujur seurut laut; bendera merah putih lusuh terpancang miring dekat anjungan. Terkadang tiang bendera itu bergerak ke kanan ke kiri mendesirkan bau anyir ikan kering, apek, ngengat. Dengung lalat mengerubungi bagian geladak penuh bercak, jala kumal, temali jangkar, patahan ranting bergelantungan pada bentangan bambu penggulung layar. (more…)