Cerpen M Daniel Ilyas (Republika, 14 Agustus 2011)

KABUT pagi masih menyelimuti desa saat desingan peluru mortir pertama melesat diikuti gelegar ledakan. Kicau burung dan kokok ayam yang semula riuh, membungkam sepi. Tembakan pertama disusul tembakan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh dan seterusnya sampai aku keliru menghitungnya. Penduduk yang telah berangkat ke sawah dan ke ladang buru-buru pulang ke rumah masing-masing. Anak-anak yang telah sampai di sekolah berlarian ke sana ke mari seperti anak ayam kehilangan induk.

Aku bersama beberapa laki-laki bersembunyi di tepian danau yang tertutup deretan pohon kelapa dan bambu Aur. Air danau menyembur ke atas dihunjam peluru mortir. Kebanyakan peluru mortir itu jatuh di tengah sawah dan guguk yang banyak ditumbuhi pohon Pauh dan Durian. Di antara kami tidak seorang pun yang berbicara. Kalaupun ada, hanya dengan bisik-bisik. Tidak ada yang berani merokok.

Menjelang tengah hari, suara tembakan mortir berhenti sama sekali, berganti dengan gemuruh iring-iringan konvoi yang sedang bergerak perlahan ke utara melintasi jalan raya yang membentang di tengah sawah. Di atas setiap panser seorang tentara bersiaga melayani senapan mesin. Anggota pasukan berdiri berjejer di atas truk terbuka memegang senjata siap tembak. Kami tahu kini desa kami telah diduduki APRI.

Dari arah kampung terdengar suara seseorang berteriak-teriak memberitahukan situasi sudah aman. Semua penduduk dipersilakan pulang dengan tenang ke rumah masing-masing sambil menunggu instruksi selanjutnya.

Sampai di rumah kudapati ayah duduk kebingungan. Belum pernah ayah semurung itu. Selama ini ayah seorang yang suka bercanda dan selalu gembira. Di atas meja tergeletak sepucuk revolver tanpa sarung dan enam pelurunya dalam kotak rokok. Ibu memeluk kedua adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Rakyat. Jelas sekali, ibu baru saja menangis.

“Ayah tidak tahu apa yang akan ayah perbuat dengan revolver ini. Kalau ayah serahkan, ayah pasti ditangkap. Tetapi, kalau ayah sembunyikan pasti ada orang yang melaporkan kepada APRI. Itu lebih berbahaya, ayah tidak hanya ditangkap, tetapi bisa juga ditembak.” Dalam usia ayah yang telah lima puluh sembilan tahun, ayah saat itu tampak lebih tua dari umurnya.

Waktu aku pertama kali tahu ayah diberi sepucuk revolver oleh Letnan Gendut, seorang tentara pemberontak, aku telah meminta ayah mengembalikan senjata itu kerena ayah bukan seorang tentara atau intel. Pada waktu Perang Kemerdekaan, senjata ayah hanya bambu runcing yang dipakai ayah kalau lagi ronda malam. Tetapi, ayah tidak memperdulikan permintaanku. Bahkan dengan bangga ayah memamerkan revolver itu kepada setiap orang. Dengan sengaja ayah membiarkan kancing jasnya terbuka sehingga popor revolver yang terselip di pinggang ayah itu bisa terlihat jelas. Aku berani bertaruh bahwa ayah tidak tahu cara menggunakan revolver itu, apalagi menembak tepat sasaran. Aku juga meragukan, apakah revolver itu masih bisa bekerja dengan baik atau mungkin saja sudah rusak dan afkir sama sekali.

Pada malam hari, suasana desa terasa sunyi dan mencekam kerena jam malam mulai diberlakukan. Sesekali terdengar rentetan tembakan di kejauhan. Di tengah keheningan itu kami mendengar suara sepatu menginjak kerikil halaman disusul ketukan pintu. Dengan tangan gemetar ayah membukakan pintu. Tiga orang tentara bersenjata lengkap diantar dua orang petugas ronda berdiri di halaman. Setelah memberi salam, salah seorang di antara mereka masuk ke rumah.

“Kami mendapat laporan, Bapak memiliki sepucuk revolver?” Tentara itu membuka pembicaraan.

“Betul, Pak.” Sahut ayah dengan nada pasrah. Ayah langsung mengambil revolver dan pelurunya dari dalam lemari dan menyerahkannya kepada tentara itu. Setelah menerima senjata itu, ayah diperintahkan ikut mereka. Aku dan ibu hanya bisa memandang ayah berjalan dikawal tiga orang tentara.

“Ayah pasti dibebaskan kerena ayah tidak bersalah. Ayah orang baik, tidak pernah bermasalah dengan siapa pun. Mereka hanya memerlukan keterangan dari ayah tentang asal-usul pistol itu. Tidak mungkin ayah dipenjara, apalagi ditembak.” Aku berusaha menghibur ibu. Aku sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang kukatakan. Hanya saja, aku berusaha untuk menyembunyikan kecemasanku.

Pagi-pagi sekali aku dan ibu telah tiba di Balai Desa untuk menghadap Kepala Nagari yang baru. Kami harus menunggu berjam-jam kerena pagi itu Kepala Nagari telah berangkat menghadiri rapat di Kecamatan. Setelah Zhuhur, barulah kami dapat bertemu langsung dengan kepala Nagari. Kamarulzaman tersenyum ketika kami salami. Aku merasa lega. Secercah harapan berkelabat, Kamarulzaman akan membantu kami membebaskan ayah.

Waktu hendak mengikuti ujian akhir SMP, malam hari kami belajar bersama di rumahku. Sementara aku sibuk menghapal pelajaran, Kamarulzaman asyik membaca buku tentang Sosialisme Indonesia. Mengetahui aku senang membaca buku sastra, Kamarulzaman meminjami aku buku Ibunda karangan Maxim Gorky.

“Saudara tentu ada keperluan bertemu dengan saya. Apa yang bisa saya bantu?”

“Ayah saya ditahan di Buterpra.”

“Sejak kapan?”

“Tadi malam, tiga orang tentara menjemput ayah saya ke rumah dan membawanya ke Markas Buterpra.”

“Mengapa mamak sampai ditahan? Setahuku mamak bukan tentara.”

“Ayah saya memiliki sepucuk revolver pemberian Letnan Gendut.” Kamarulzaman terkejut mendengar penjelasanku.

“Tolong saudara jelaskan untuk apa Letnan Gendut memberi ayah saudara revolver.” Lalu kuceritakan bahwa ayahku memiliki keterampilan meramal peristiwa yang akan terjadi. Caranya simpel sekali. Ayah mengoleskan sadah pada siku bagian dalam, pergelangan dan ujung jari tengah tangan kirinya. Kemudian ayah membaca mantra dan meniup olesan sadah tiga kali. Setelah itu ayah menjengkali olesan sadah itu dengan jari tangan kanan ayah. Bila jengkalan ayah selalu jatuh pada olesan sadah berarti jawabannya “ya”, tetapi apabila ujung telunjuk ayah melewati ujung jari tengah tangan kiri berarti jawabannya “tidak”. Dengan cara seperti itu ayah memberi jawaban kepada setiap pertanyaan Letnan Gendut, apakah APRI besok pagi masuk atau tidak. Setahuku hampir semua ramalan ayah meleset. Kalaupun ada yang benar hanyalah kebetulan.

Aku pun tidak tahu, apakah ayah sendiri percaya dengan ramalan itu. Pernah aku wanti-wanti supaya ayah tidak lagi meramalkan apakah APRI akan masuk ke desa kami atau tidak. Hal itu membahayakan keselamatan ayah sendiri. Seandainya ayah meramalkan APRI besok tidak masuk, ternyata APRI masuk, ayah bisa dituduh menjebak tentara pemberontak. Namun, ayah masih tetap saja melayani permintaan Pak Gendut dan anak-buahnya yang datang malam-malam ke rumah kami. Kata ayah, Pak Gendut memaksanya di samping memberikan sedikit uang sebagai tanda terima kasih kepada ayah.

Selesai mendengar ceritaku, Kamarulzaman berujar, “Jadi, Letnan Gendut memberi ayah saudara revolver kerena ayah saudara bisa meramal. Tapi, untuk apa senjata itu?” Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Kamarulzaman melanjutkan, “Baiklah, saya akan menulis surat kepada Komandan Buterpra supaya mamak dibebaskan.” Kamarulzaman mengambil secarik kertas, menulis surat, kemudian memasukkan surat itu ke dalam amplop dan mengelemnya. Sementara, aku dan ibu menunggu dengan penuh harapan surat itu benar-benar sakti. Kamarulzaman langsung menyerahkan surat itu kepadaku. Sambil mengantarkan kami ke pintu keluar, Kamarulzaman berkata pada ibuku, “Etek tidak usah cemas. Mamak pasti dibebaskan. Saya tahu mamak orang baik-baik.” Ibu hanya bisa mengucapkan terima kasih.

Kami buru-buru berangkat naik bendi ke Markas Buterpra. Sampai di sana, surat Kamarulzaman kuserahkan kepada petugas piket. Rumor yang beredar melalui bisik-bisik di antara sesama warga di Balai Desa pagi tadi bersileweran di kepalaku. Bang Sidiq yang biasa disuruh-suruh Wali Nagari mengantar nasi bungkus untuk pasukan pemberontak yang singgah di desa kami tewas tertembak APRI. Bang Sidiq kepergok mengenakan seragam tentara pemberian seorang komandan pasukan pemberontak.

Seorang sersan mayor NRP dan seorang Jaksa yang tertangkap APRI langsung dieksekusi. Tukang apa yang biasa menempa cangkul, sabit, dan parang dijemput tentara malam-malam. Aku dan Ibu hanya bisa berdoa memohon kepada Allah supaya ayah terhindar dari malapetaka. Aku dan Ibu yakin, sebuah doa mampu mendatangkan keajaiban.

Setelah lama menunggu aku disuruh masuk. Aku merasa bahagia sekali melihat muka ayah kembali ceria setelah dibebaskan, walaupun setiap hari Selasa harus lapor ke Markas Buterpra. Paling melegakan aku, ayah berjanji akan bertaubat tidak lagi membuka praktek ramal-meramal. Ayah sadar pekerjaan itu termasuk syirik, kekal dalam neraka. (*)

 .

Catatan:

APRI sebutan TNI di daerah yang dikuasai PRRI.

 .

.

M Daniel Ilyas lahir di Bayur Maninjau tahun 1938. Mulai menulis cerpen tahun 1956 untuk kisah minggu pagi RRI Bukitinggi, dilanjutkan dengan menulis naskah sandiwara radio dan mengasuh acara sastra di RRI Padang (1962-1965). Novelnya Bunga Api Revolusi dimuat sebagai cerita bersambung pada harian Res Publika Padang. Harian Res Publika Padang merupakan surat kabar independen yang menampung karya sastra pendukung Manifes Kebudayaan tahun 1960-an. Cerpen-cerpennya antara lain dimuat dalam Republika.

.

Advertisements