Oleh Setta SS (Antologi Ramadhan Tiba, Erlangga, 2008)

Ia termasuk penggemar berat acara-acara sejenis ini. Usianya sudah 21 tahun, tetapi di mata saya ia tak lebih baik dari seorang anak TK yang sedang belajar tertawa. Waktu senggang hariannya nyaris habis untuk menyaksikan mata acara favoritnya itu. Dari mulai bangun tidur di waktu sahur hingga menjelang waktu tidur lagi di malam harinya.

Ia pun tak pernah terlihat sedang membaca Al-Qur’an yang sangat dianjurkan di bulan mulia ini. Ia lupa keutamaan Lailatul Qadr, yaitu suatu malam di bulan Ramadhan yang kadarnya lebih baik dari seribu bulan. Bahkan shalat Tarawih di masjid pun hanya sempat ia laksanakan di awal Ramadhan.

Ya, ia terlena dan sibuk nongkrong di depan kotak ajaib itu sambil berhaha-hihi ria.

***

ADA satu fenomena baru di bulan Ramadhan 1425 H yang baru saja meninggalkan kita. Sebuah tradisi lama tergusur, tetapi muncul lagi hal lain yang lebih “segar” di layar kaca negeri berpenduduk muslim terbanyak di dunia ini.

Ngabuburit alias jalan-jalan sore, meski bukan alternatif terbaik menanti bedug buka puasa tiba, sudah dianggap kuno dan tradisional. Dan sebagai gantinya, setiap hari stasiun TV berlomba-lomba menyajikan acara yang–katanya, islami. Mulai dari sinetron-sinetron islami, lagu-lagu islami, dan semua yang ada embel-embel islaminya.

Namun, di luar seabreg acara yang ada kata “islami”-nya itu, ada satu mata acara yang patut kita kritisi bersama sebagai bahan perenungan di masa yang akan datang. Karena ternyata mata acara yang satu ini rating-nya cukup tinggi. Terbukti hampir setiap stasiun TV menayangkannya. Dengan target pemirsa semua umur: anak-anak, ABG, orang tua, hingga mereka yang sudah tergolong lansia pun tak ketinggalan ikut menyaksikannya.

Saya lebih suka menyebutnya acara Dagelan. Atau Anda yang lebih familiar dengan sebutan Reality Show, itu sepenuhnya hak Anda. Sebut saja “Dagelan Oke” (RCTI), “Ngelaba Puas…ah” (TPI), “Bajaj Bajuri”, “Ceriwis” (Trans TV), “Campur-Campur Sahur” (ANTV), “Keluarga Senyum” (TV-7), dan “Canda” (TVRI).

Selain karena tujuan utama acara-acara itu memang sengaja untuk memancing pemirsa agar terus tertawa terbahak-bahak di sepanjang jam tayangnya, isinya juga hanya dialog-dialog kosong yang kering dari nilai-nilai kebaikan. Tak jarang dalam ritual dagelan mereka juga terlontar kalimat-kalimat bermuatan porno (cabul ), umpatan kasar atau hinaan yang saling merendahkan satu sama lain, dan ghibah [1]. Belum lagi kostum dan atribut yang mereka pakai yang tidak mencerminkan pribadi seorang muslim yang seharusnya berpakaian sopan dan menutup aurat [2].

Akankah bangsa besar ini kelak berganti nama menjadi Republik Dagelan?

Sungguh, bukan suatu hal yang mustahil akan terjadi jika generasi muda bangsa ini—kita semua, terus-menerus dijejali sedemikian rupa oleh berbagai acara dagelan yang melenakan semacam itu.

Apakah kita tidak boleh tertawa?

Saya kira, di sinilah sesungguhnya letak kesalahan mayoritas masyarakat kita yang tidak atau belum cerdas dalam menyikapinya. Adalah benar, tertawa bukanlah sesuatu perkara yang dilarang melakukannya dalam agama kita, Islam. Akan tetapi, tertawa dalam pengertian mengeluarkan suara meledak-ledak oleh sebab rasa suka, geli (lucu), apalagi mengandung unsur menghina seseorang adalah jenis tertawa yang dilarang Islam. Karena jenis tertawa semacam ini bisa menyebabkan hati menjadi keras dan membatu, mengurangi kecerdasan, membuat lengah dan lupa akan akhirat, juga menjadi penyebab bercucurannya tangis di neraka kelak.

Terkait masalah ini, Rasulullah Saw. juga telah mengingatkan kita lewat sebuah sabdanya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa.” [3]

Tentu kita semua tidak ingin menjadi bagian dari mereka yang akan menyesali diri dan mendapatkan siksa api neraka, bukan?

Oleh karena itu, sekaranglah saat yang tepat bagi kita untuk berlatih menahan diri dari tertawa dan boros berkata-kata yang tidak ada manfaatnya. Menyusun langkah agar bisa lebih baik beramal di bulan Ramadhan yang akan datang. Menyambutnya dengan penuh suka cita. Mempersiapkan segala perbekalan untuk mengisinya dengan amal yang lebih berkualitas daripada sekadar berhaha-hihi ria di depan layar kaca. Dan cukuplah perkataan yang baik dan senyuman hangat menjadi hiasan diri dalam keseharian kita.

Sehingga pada akhirnya kita layak menyandang sebutan muttaqin (orang-orang yang bertakwa) selepas Ramadhan nanti.

Semoga.

***

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu berpuasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan; barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya, maka dia tidak memperoleh apa-apa.” [4]

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya ia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [5]

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum.” [6] (*)

.

.

Bogor, 31 Oktober 2004 – 24 Juni 2008

 .

Catatan:

[1] Ghibah yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu. (H.R. Muslim) Orang yang meng-ghibah diibaratkan memakan daging saudaranya yang sudah mati. (Q.S. Al-Hujuraat [40] : 12).

[2] Aurat adalah anggota badan yang wajib ditutupi; aurat laki-laki dari pusar hingga lutut, dan aurat wanita seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan.

[3] H.R. Abu Dzar.

[4] H.R. Ahmad dan An-Nasa’i.

[5] H.R. Muttafaq ‘Alaih.

[6] H.R. Al-Bukhari.

.

Advertisements