Archive for August, 2011

Lembaran dari Kendeng
August 29, 2011


Cerpen Sarjoko (Suara Merdeka, 28 Agustus 2011)

AKU menemukan lembaran-lembaran ini di wilayah Pegunungan Kendeng yang membentang di wilayah Kayen Kabupaten Pati, tepatnya di sebuah gua yang baru saja aku temukan bersama kawan-kawan petualang. Lembaran-lembaran kertas ini sudah melapuk dan menguning, namun tulisan berbahasa Jawa kuna itu masih bisa dibaca. (more…)

Advertisements

Bujang Jauh
August 29, 2011


Cerpen Benny Arnas (Koran Tempo, 28 Agustus 2011)

JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para di lengkung papan. Sungguh riang gadis berdendang, pemuda tampan di kampung halaman.

Itulah yang dirasai Bunga Raya, putri tunggal seorang duda. Semua bukan tanpa alibi, bujang itu adalah Sakiaki. Beberapa hari belakangan, ia selalu dalam pikiran. Di beberapa kesempatan, ia menyelinap dalam perbincangan. Tak hanya oleh kerumunan perawan, tapi juga ibu-ibu yang mulai beruban. Ada yang bilang ia titisan Yusuf. Ada yang menduga ia Malaikat yang menyusup. (more…)

Cahaya di Malam Seribu Bulan
August 29, 2011


Cerpen La Birruni (Republika, 28 Agustus 2011)

“BANG Zein….” seru Wina bahagia melihat sang suami dari kejauhan dengan abaya putihnya yang cemerlang seperti dilapisi taburan cahaya. Dengan senyum menawan menyambut kedatangannya. (more…)

“Pakiah” dari Pariangan
August 29, 2011


Cerpen Gus tf Sakai (Kompas, 28 Agustus 2011)

BAGI orang-orang di kampung itu, cerita tentang pakiah sudah jadi masa lalu. Ia tertinggal dalam surau-surau tua, di tebal debu kitab-kitab kuning yang berhampar-serak, dalam bilik-bilik garin yang daun-daun pintunya telah somplak. (more…)

Keimanan per Kapita
August 29, 2011


Oleh Setta SS (Eramuslim, 31 Agustus 2011)

I.

ADALAH Da’tsur, seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Jabir r.a., seorang Arab badui. Sekembali Rasulullah Saw. dari perang Dzatir Riqa’, beliau berhenti di sebuah hutan yang banyak pohon durinya, berteduh di bawah pohon. Datanglah Da’tsur, menghunus pedangnya di hadapan Rasulullah Saw. (more…)

Aku Berlindung dari Godaan Pengarang yang Terkutuk
August 24, 2011


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 21 Agustus 2011)

Ia lebih mirip merpati betina yang sekarat. Tubuh belang tiga. Kepala dan paruhnya hijau tahi kuda. Kedua sayapnya putih salju. Ekornya merah kepiting.

 .

WAJAHNYA yang keriput tampak letih seolah baru saja terbang dengan sekarung nostalgia di kepala. Ia menghampiri beranda rumah yang kami bangun dari setumpuk kata. Kata-kata itu direkatkan oleh mata pena. Pena pemberian Ibu. Pena Ibu. (more…)