Aku Mencintaimu


Oleh Setta SS (Kotasantri, 18 Mei 2009)

DULU, seorang sahabat saya beberapa kali mengungkapkan via layanan pesan singkat, “I love you.” Dan saya membalasnya, “I love you too because of Allah.”

Adakah yang salah dari dialog di atas?

Mungkin sebagian kita akan menganggapnya sebagai suatu hal yang tabu. Apalagi jika hal itu terjadi di antara dua orang berlainan jenis, bukan muhrim, dan bukan pula sepasang suami istri. Sangat riskan untuk menafsirkan lebih jauh tentang hubungan apa yang sesungguhnya telah terjalin di antara keduanya.

Sepenuhnya saya setuju.

Namun, sejujurnya, saya pun salut dengan apa yang pernah diungkapkan sahabat saya itu. Ia telah berkata jujur pada orang yang dicintainya. Tidak berpura-pura. Tidak menutupi apa yang ia rasakan nun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Hingga orang yang dicintainya pun mengetahui perasaannya.

Di lain waktu, saat saya mengirim SMS pada adik-adik saya, saya biasa menuliskan kata luv (baca: love) di akhir SMS sebagai ungkapan sayang pada mereka. Tetapi tak pernah mereka menuliskan kata-kata serupa itu di balasan SMS-nya. Tidak pernah sekalipun.

Bahkan, saat saya menanyakan kepada salah seorang adik saya, “Dek, apakah kau mencintai Abang?” Ia tak pernah menjawabnya. Tak pula sebuah anggukan kepala atau kedipan mata sebagai isyarat. Dan sungguh, saya masih menyimpan sisa perasaan kecewa itu hingga detik ini, diam-diam.

Saya tidak meragukan, bahwa perasaan cinta itu pasti ada di antara dua orang saudara kandung, terlepas dari seberapa besar kadarnya. Tak ada orang yang tak mencintai keluarganya sendiri. Sudah menjadi fitrahnya dan tak terbantahkan lagi. “Tak perlu dipertanyakan lagi,” kata sebagian orang.

Jadi, salahkah jika saya masih mempertanyakannya?

Suatu ketika, seseorang berada di samping Rasulullah Saw. Lalu seorang sahabat lewat di hadapan mereka. Orang yang berada di samping Rasulullah Saw. itu tiba-tiba berkata, “Ya Rasulullah, aku mencintai dia.”

“Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya,” tanya Nabi.

“Belum,” jawab orang itu.

“Beritahukanlah kepadanya,” timpal Nabi.

Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.”

Dengan serta merta orang itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”

***

Cinta adalah anugerah terindah yang diwariskan pada diri setiap insan. Tak pernah ada yang salah dengan kehadirannya di tengah-tengah kita. Hanya saja, ada kalanya kita perlu memaknainya dengan lebih cerdas dan dewasa.

Cinta adalah menghargai. Bukan ruang sempit yang memenjarakan. Terbebas dari nafsu hewani. Terlalu suci untuk dianalogikan dengan aktivitas murahan. Dan tidak selalu identik dengan memiliki.

Cinta adalah cinta.

Sudahkah Anda memiliki cinta yang seperti itu? Jika sudah, apa yang menghalangi Anda untuk mengungkapkannya? (*)

.

Yogyakarta, 14 Mei 2009 13:21 WIB

One Response

  1. terkadang… untuk mengatakannya sangat sulit. bukan karena tak ada cinta… tapi mungkin karena terlalu besar. heheheeh… lanjut nulisnya!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: