Archive for May, 2011

Kamus Cerita Abdul Muin
May 30, 2011


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 29 Mei 2011)

ABDUL Muin, mahasiswa semester keenam sebuah perguruan tinggi, ditemukan mati pagi itu di kamar kosnya di bilangan Jalan Papringan, Yogyakarta. Tak seorang pun tahu penyebab kematiannya. Setahu kawan-kawan kosnya, Abdul Muin masih segar-bugar pada malam sebelumnya, bahkan ia tetap melaksanakan kegiatannya keluyuran keliling kota dengan sepeda ontel tua. (more…)

Anakku Lahir dari Rahim Televisi
May 30, 2011


Cerpen R Giryadi (Jawa Pos, 29 Mei 2011)

ANAK-anak hilang

Aku takut mendengar jeritan anak-anak yang berlari di pematang sawah. Bermain-main layang-layang mengusir mendung dan halilintar yang menyambar-nyambar ujung rambutnya. (more…)

Pertarungan Terakhir
May 30, 2011


Cerpen Hermawan Aksan (Suara Merdeka, 29 Mei 2011)

PADA suatu malam gerimis, ketika dedaunan bugenvil menampar-nampar jendela kaca rumah, aku kehilangan tokoh utama ceritaku. Tiba-tiba alur kisah yang tengah kurangkai menjadi buntu, seperti menumbuk bidang datar yang pejal. Tema, konflik, deskripsi suasana, segalanya menjadi tanpa arah, tak ubah tersesat di hutan antah berantah. (more…)

Ia yang Bertemu Malaikat
May 30, 2011


Cerpen Guntur Alam (Republika, 29 Mei 2011)

MULANYA, lelaki itu tak hendak menterakan kisahnya ini. Cerita tentang ia yang pernah bertemu dengan malaikat pada satu pagi lembab. Duganya, orang-orang akan sepakat memberi ia cap gila, lalu lamat-lamat orang sekampung akan mengucilkan anak bininya pula. Hal itulah yang membuat lelaki itu kuat mendekap mulutnya. Akan tetapi, semakin lama ia menyimpan cerita itu, semakin tak kuat ia mengunci mulutnya. Lidahnya terasa seperti seekor ular yang melata, menggeliat-geliat, memaksanya membuka mulut. Hingga, ia pun tak kuasa, dan cerita itu bergulir begitu saja tanpa bisa ia tahan. (more…)

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita
May 30, 2011


Cerpen Ayi Jufridar (Kompas, 29 Mei 2011)

KETIKA kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda. (more…)

Kita dan Sang Musafir Muda
May 30, 2011


Oleh Setta SS (Kotasantri, 14 Juni 2011)

ALKISAH, seorang musafir muda tersesat di padang pasir, berhari-hari tidak makan dan minum. Sedemikian kehausan sehingga berjalan terseok-seok. Sepatu dan pakaiannya sudah rusak, rambutnya kusut masai dan berantakan tertiup angin. (more…)