Selamat Jalan, Sahabat


Oleh Setta SS (Kotasantri, 7 September 2009)

“Aku ingin hidup lama. Terlalu serakahkah aku jika berharap untuk hidup? Jika memang harus mati cepat, aku sangat ingin jadi rumput di surga nanti. Bisa tidak, ya? Aku tidak mungkin jadi bidadari. Aku hanya ingin menjadi rumput saja.” (Lin, 25 Desember 2006)

***

SAYA pertama kali mengenal sosoknya di tahun 2003 silam. Seorang gadis Chinese. Lin atau Alin, saya lebih suka memanggilnya demikian saat menyapanya. Nama lengkapnya Yoanita Afrianty Lin Che Ying. Dia mendeskripsikan arti namanya itu lewat sebuah pesan singkat di bawah ini.

“Dari dulu aku tahu kalau arti namaku ada hubungannya dengan cinta. Tapi aku baru tahu kalau artinya ternyata “Tuhan adalah Cinta”. Asal namaku dari bahasa Yunani. Papa ingin aku selalu menebarkan cinta kasih di mana pun aku berada.” (Lin, 29 Januari 2006)

Lin adalah salah seorang sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Kami kerap berjumpa di Yogyakarta, antara rentang waktu 2003 hingga 2007, tetapi kami lebih sering berkomunikasi via SMS dan email.

Sore itu, 6 Nopember 2007, tepat pukul 16:19 WIB. Ponsel saya berdering. Dari seorang sahabat akrab. “Apa benar Lin telah wafat seminggu yang lalu setelah operasi?” Ia bertanya—atau lebih tepatnya meminta klarifikasi.

Saya terdiam cukup lama mendengar pertanyaan itu sebelum menjawabnya. Hampir dua minggu sebelumnya, Lin masih mengirim sebuah SMS pada saya. Sebuah SMS yang isinya terasa janggal. Saya baru menyadarinya setelah membaca kembali SMS terakhirnya itu.

“U. Setta, aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Berjanjilah untuk selalu bahagia. Maafkan aku. Terima kasih atas semuanya. Hik-hik-hik, aku pergi. Assalamu ‘alaikum wr. wb.” (Lin, 26 Oktober 2007)

Ucapan salam dalam pesan singkat itu terletak di akhir. Seperti orang yang sedang berpamitan.

Dan, setelah konfirmasi ke salah seorang anggota keluarganya, benar Lin telah kembali ke haribaan-Nya beberapa waktu sebelumnya. Sebelum naik ke meja operasi akibat komplikasi beberapa penyakit yang sudah lama dideritanya: kanker otak, kanker darah, TBC usus, dan beberapa penyakit lainnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun. Semoga kembali ke sisi-Nya adalah yang terbaik untukmu, Sahabat.

***

Lin, mengenangmu kembali adalah belajar tentang keceriaan menikmati hidup dalam belitan penyakit, belajar tentang semangat hidup, belajar tentang cinta dan empati pada sesama, belajar tentang indahnya persahabatan, juga belajar tentang pemaknaan atas keagungan-Nya.

“Aku kena TBC usus. Keren ya namanya? Hehehe, tapi kok gak sengetop aku ya? Perlu dianalisa nih! Oya, aku turun 7 kg! Pantas kalau jalan seperti melayang-layang. But don’t worry! I’m gonna be OK! Sure! Insya Allah! Coz I know God with me.” (Lin, 26 Agustus 2005)

“Alhamdulillah, aku lagi sakit parah. Mungkin harus dioperasi lagi yang kedua. Amandel. Sudah beberapa hari tidak bisa ngomong dan makan/minum. Kekebalan tubuhku sangat jelek. Aku kan lahir prematur, sudah bagus bisa hidup seperti bayi lain. Tapi aku lelah sakit terus.” (Lin, 30 November 2005)

“Hidup ini memang penuh perjuangan. Dunia ini bukan untuk seorang pengecut, tetapi untuk mereka yang tak pernah lelah dan berani berjuang menjalani hidup. Manusia lahir dengan masalahnya sendiri. Bahkan bayi pun dituntut untuk berjuang menyampaikan rasa laparnya. Setiap orang diberi ujian yang berbeda. Karenanya, Tuhan, aku berjanji akan selalu berjuang.” (Lin, 31 Desember 2006)

“Bagaimana aku makan jika membayangkan saudara-saudaraku di pengungsian? Mereka sudah makan belum ya? Aku merasa seperti penjahat. Di luar sana banyak yang kena musibah, kenapa aku malah tiduran! Aduuh, aku pengin ke Palestina, Libanon, Pangandaran—saat dihantam tsunami. Pasti keren. Kapan aku bisa ke sana?” (Lin, 7 Mei 2006)

“A tree is known by its fruit, a man by his deed. A good deed is never lost, he who saws courtesy, reaps friendship; and he who plants kindness, gathers love.” (Lin, 28 Pebruari 2007)

“I breathed a song into the air. It fell to earth I knew not where and the song from the beginning to end. I found again in the heart of a friend.” (Lin, 2 Maret 2007)

“Hiasilah mimpimu dengan tetesan air sembahyang. Lelapkan matamu dengan alunan zikrullah. Selimutkan dirimu dengan kalimat syahadat. Alaskan tidurmu dengan doa.” (Lin, 21 Maret 2007)

“Allah lebih canggih dari video pengintai ya? Subhanallah banget deh. Tapi sebel, lagi ngapa-ngapain aja perasaan selalu dilihatin Tuhan. Aku kan jadi malu. Grogi. Gak PD. Aduuuh!!” (Lin, 21 Mei 2006)

***

Kami, sahabat-sahabatmu, akan mengenangmu sebagai sosok yang selayaknya kami kenang. Kesungguhanmu membaca tujuh juz Al-Qur’an dalam semalam di malam i’tikaf Ramadhan terakhirmu, akan kami coba ikuti, Lin.

Selamat datang di haribaan-Nya. Selamat berjumpa dengan kekasih sejatimu. Kami yakin, itu tempat yang layak untukmu. Bahkan tidak sekadar menjadi rumput di sisi-Nya. Amin. (*)

 .

Yogyakarta, 14 April 2009 07:29 WIB

Tempatkan dia di tempat terbaik di sisi-Mu, Robb. Amin.

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: