Cerpen Retno Adjie (Republika, 17 April 2011)

“KEMARIN, udah satu yang mati, ini ada lagi… besar pula ayamnya.” gerutu ibu yang kembali menemukan ayam mati tergeletak di bawah pohon Akasia. Meski bau bangkainya belum tercium, onggokan buntang itu tetap saja memancing perhatian ibu.

***

Kejadian menggemparkan meliputi kampungku. Seminggu terakhir ini keadaan makin mencekam. Hampir setiap hari, warga—terutama ibuku—menemukan bangkai ayam tergeletak di bawah pohon Akasia. Warga pun mulai resah karena setiap malam selalu saja ada ayam milik mereka yang hilang dari kandang.

Pohon Akasia ini terletak di sebelah luar pagar sebuah kompleks SD dan kompleks SD ini berada di seberang rumahku, tepat di depannya. Luasnya mungkin mencapai empat kavling rumah warga. Cukup untuk menampung seluruh siswa mengingat ini adalah SD satu-satunya di kampung ini. Dan otomatis pohon Akasia itu berada di seberang rumahku juga, cuma agak ke pinggir batas.

Seperti biasa, di pagi yang cerah, ibu menyapu halaman rumah hingga ke tepi jalan dekat selokan. Pagi itu hidung ibu yang begitu tajam kembali mengendus sesuatu tak beres di pohon Akasia itu. Setelah ditelusuri, ternyata ada bangkai ayam lagi. Begitulah berhari-hari. Tak tanggung-tanggung, ayam-ayam yang mati rata-rata gemuk dan segar bugar.

Keadaan makin mencekam setelah ada beberapa warga mengalami hal-hal menyeramkan ketika melintasi pohon Akasia di depan SD itu. Sebagian peronda mengaku mereka selalu melihat bayangan hitam seperti bersembunyi di balik pohon. Tak adanya lampu penerangan (dan hanya ada satu di dekat gerbang sekolah) membuat pohon itu hanya terlihat remang-remang saja.

Sebagian warga lain yang kebetulan melintas di depan pohon Akasia mengatakan bahwa menjelang tengah malam mereka kerap mendengar suara perempuan, kadang-kadang merintih, kadang-kadang terkikik.

Pohon itu sebenarnya tak punya sejarah yang kelam. Sepanjang bapak tinggal di kampung ini, tak pernah ada kejadian orang mati gantung diri atau (paling tidak) mati di dekat pohon Akasia. Hanya saja, cerita aneh seputar kompleks SD melatarbelakangi keganjilan pohon Akasia akhir-akhir ini.

Biasanya, jalanan depan rumah selalu ramai dilalui orang hingga tengah malam, kini sudah agak lengang. Tak banyak yang berani melintasi pohon Akasia itu. Kalaupun ada, dia akan ngebut ketika melintasinya sehingga banyak yang lupa bahwa sekitar sepuluh meter di depan ada polisi tidur yang cukup tinggi.

Desas-desus keangkeran pohon Akasia yang mulai memakan korban itu telah menyebar luas. Pak Bowo selaku ketua RT dibuat pusing oleh banyaknya laporan warga yang ‘diganggu’ makhluk penunggu pohon Akasia. Meski belum pernah ada yang melihat wujud makhluk itu, hampir semua warga sepakat bahwa pohon Akasia itu telah mulai angker. Mungkin saja hantu-hantu di kompleks SD itu sudah beranak pinak sehingga ada yang pindah ke pohon itu.

“Saya sudah tiga kali mendengar suara dari atas pohon itu. Yaa, tak berani menengok lah, bisa-bisa jantung saya meloncat keluar,” ujar Pak Sali di suatu siang. Rupanya, bapak-bapak sedang mengadakan pertemuan ringan alias kongkow ala bapak-bapak di pos ronda yang tak jauh dari kompleks SD.

“Iyyaa. Lha saya pas sekali keliling buat ronda, ada item-item di belakang pohon. Ya saya langsung lari lah.” tukas Pak Ratno dengan logat Banjar yang kental.

“He eh. Si Misno yang tinggal di sebelah rumah saya kan pernah sampe demam gara-gara katanya denger ada yang nangis di pohon itu tengah malam. Betul nggak, Pak Yoto?” Pak Sidi bertanya pada bapak. Bapak hanya manggut-manggut sambil meraba jenggot yang mulai tumbuh lagi di janggutnya.

“Jadi gimana, apa perlu kita tebang juga pohon satu itu?” sela Pak RT. Yang lain masih terdiam di tempat sambil gelenggeleng.

***

Sebenarnya, dulu ada lima batang pohon Akasia yang tumbuh di lahan sebelah kanan sekolah. Di sana, dulu tempat kami main sewaktu kecil, panjat-panjatan, perang-perangan, atau sekadar ngadem di siang bolong. Karena kebutuhan gedung baru, lahan tempat tumbuhnya pohon itu terpaksa dibuka dan pohon-pohon Akasia itu sudah pasti akan ditebang.

Tapi, berhubung pohon yang satu ini tumbuh agak ke pinggir jalan di sebelah luar pagar sekolah, maka tidak ikut ditebang dan terus tumbuh rindang sampai sekarang. Pohon itu sudah hampir berumur 25 tahunan.

Meskipun sendiri, pohon Akasia ini cukup tinggi, rimbun, dan rindang sehingga sering kali dijadikan tempat berteduh para orang tua yang menjemput anak mereka pulang sekolah, atau dipakai penjaja makanan ringan mangkal. Sekarang, di sepanjang pagar sekolah, sudah ditanami tumbuhan lain yang tidak berkayu keras, namun cukup rindang sehingga sepanjang jalan di depan SD ini selalu adem sepanjang hari meski kadang merepotkan karena daun yang berguguran jadi tambah banyak dan sebagian ‘mlipir’ ke halaman rumah kami.

Yah, dua minggu belakangan pohon Akasia yang rindang itu mulai memunculkan isu ada penunggunya. Aku pun bertanya-tanya siapa yang telah ikut ‘menunggui’ pohon itu di malam hari karena dulu di siang hari kami para bocah lah yang menguasai pohon itu. Tapi yang lebih mengherankan, mengapa harus ayam yang jadi korban?

Akhirnya, hasil musyawarah RT menghendaki pohon itu ditebang saja agar tidak lagi mengganggu pemakai jalan di malam hari. Yang paling lantang bersuara adalah Mas Misno yang sempat meriang gara-gara diganggu penunggu pohon Akasia.

Pokok’e harus ditebang. Saya ndak mau semaput gara-gara penunggu pohon itu lagi. Saya siap menjamin mesin chainsaw. Soal minyak, aman.” ujar Mas Misno berapi-api.

“Ya… Ya… Tebang saja, Pak RT.” Sontak bapak-bapak yang lain bersorak-sorai. Pak RT mulai dilanda kebingungan, mirip ketua DPR sekarang yang tak bisa mengatasi anggotanya saat rapat paripurna.

“Usul, Pak RT,” tiba-tiba Pak Kasim mengangkat tangannya, “Apa nggak sebaiknya kita buktikan dulu kebenaran berita itu. Jika memang ada penunggunya, kita bisa pikirkan cara lain yang lebih bijak mengingat pohon itu juga berjasa meneduhi jalan.”

“Caranya, Pak?” tanya Pak RT.

“Begini saja, Pak. Dua hari lagi kan malam Jumat, pas jatuh di kliwon. Kita pasang perangkap di pohon itu, dikasih umpan ayam. Lantas, setelah kita selesai yasinan mingguan di rumah Pak Haji, kita beramai-ramai mengintai pohon itu. Jika semua warga bergerak, saya yakin misteri ini bisa terpecahkan,” kata bapak menyambung kalimat Pak Kasim.

“Tapi, kan dia makhluk halus, Pak Yoto. Mana mungkin bisa dijerat pakai jerat kijang atau jerat babi…?!” Pak Sunar menimpali.

“Ya, bisa aja dia tahu kalau kita pasang jebakan. Biarpun malam Jumat kliwon, dia nggak bakal keluar, Pak.” Pak Narso menambahkan, menciutkan nyali para hadirin yang tadi telah berkobar-kobar. Sebagian mulai berbisik satu sama lain, “Iya ya….”

“Kita kan belum tahu makhluk apa dia, bapak-bapak. Jadi, rasanya tidak ada salahnya kita mencoba,” Pak Kasim mencoba menengahi.

“Atau ada usulan lain?”

“Saya punya senapan jaring, Pak. Kalau mau nanti saya pinjamkan senapan bius sama kawan saya. Jadi, dia tak perlu lah pasang jerat babi. Tinggal kasih umpan saja lah,” Pak Tupang akhirnya angkat bicara. Bapak satu ini memang sudah paham betul perihal berburu, jadi wajar saja dia punya senapan macam itu. Bah, mengapa ikut-ikutan Medan pula aku.

“Baiklah. Semua sudah jelas. Malam Jumat besok kita akan mengintai pohon itu untuk tahu siapa penunggunya, sementara waktu kita terima usulan Pak Tupang untuk memakai senapan bius dan senapan jaring. Betul, Pak Tupang?” Pak Tupang hanya mengangguk takzim. Lalu Pak RT meneruskan orasinya.

“Jika tak berhasil, kita pikirkan cara kedua untuk memasang jerat juga. Jika nanti memang terbukti penunggunya adalah makhluk halus atawa lelembut, kita akan menebang pohon Akasia itu dan mencoba mengusirnya dengan aman. Dan sebaiknya umpan dipasang sejak sore hari, nanti saya suruh si Karso beli ayam broiler di pasar. Biar nanti Adi dan kawan-kawan yang mengintai pohon itu sewaktu kita yasinan. Bagaimana, bapak-bapak? Setuju?”

“Setuju…!” Koor peserta sidang mengakhiri rapat rahasia Tim Pemburu Hantu Akasia malam itu. Tapi tidak bagiku, aku dan tiga orang teman mainku harus mengintai pohon itu. Meski dulu kami pernah jadi raja siang di sana, untuk kali ini agak gentar juga. Hihihi….

***

Malam Jumat menjelang. Corong masjid jami mulai mengalunkan pengajian menandakan Maghrib sebentar lagi datang. Suasana gelap perlahan menyelimuti seiring imam mengumandangkan iqamah shalat Maghrib. Bulan separuh muncul, menyinari kampungku dengan remang saja, tak luput pohon itu, membuat bayangan hitam pohon Akasia semakin menyeramkan.

Setelah shalat Maghrib dan makan malam agar tak masuk angin, disambung dengan shalat Isya dan belajar biologi, kami berempat mulai mengintai pohon itu dengan restu ibu kami masing-masing, sementara bapak-bapak sedang yasinan di rumah Pak Kasim, satu-satunya orang yang pernah mengunjungi Makkah Al-Mukaromah sehingga kerap dipanggil Pak Haji saja.

Aku dan teman-temanku mengintai pohon Akasia itu dari satu penjuru saja, dari balik pagar rumah Mas Misno yang terbuat dari bata sehingga dinilai cukup aman untuk mengintai, atau lebih tepatnya bersembunyi. Meski berempat, ternyata keseraman pohon Akasia mulai menelan nyali kami satu-satu.

Sambil tak henti makan permen ‘Kopikok’ kami terus mengamati, sembari berharap jarum jam cepat berputar. Tapi, sudah lewat jam sembilan, belum ada nampak hidung bapak-bapak itu. Biasanya yasinan hanya butuh waktu sejam, yang lama itu ya ngobrol-ngobrolnya.

Kira-kira jam setengah sepuluh, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang. Hawa dingin langsung merasuk ke punggungku. Bisa jadi penunggu Akasia tahu aku menguntitnya dari sini dan memergoki kami. Sambil agak gemetar aku menoleh ke belakang.

Whuaa….

Nyaris aku menjerit setelah tahu itu adalah bapak. Huh, ngagetin aja. Bapak bilang semua sudah di posisi masing-masing. Mas Misno kebagian jatah menemani Pak Tupang dan jarak mereka cukup dekat dengan pohon itu karena jarak tembak senapan jaringnya hanya 10 meter. Aku yakin Mas Misno gemetaran di sana, sedangkan yang lain mengintai agak jauh, ada yang di balik perdu Kaca Piring, di dalam gedung SD, di balik tembok gedung kelas 1A, dan di dalam rumah sambil makan ‘Chiki’. Ups, itu adikku yang paling kecil, nggak masuk hitungan.

Komunikasi dilakukan lewat SMS dengan HP di-silent-kan (canggih euy!) dan isyarat cahaya dari layar HP untuk tindakan selanjutnya. Komando ada di tangan Pak RT.

Detik demi detik berlalu. Sudah hampir pukul 11 malam dan sebagian mulai menguapkan hawa naga. Permen ‘Kopikok’ tak mempan mengatasi kantuk yang mulai merayapi alam sadar.

Tepat pukul 11 malam lewat sedikit, Pak Karso melihat sosok hitam merayap turun agak cepat dari atas pohon. Suasana gelap membuat sosok itu hanya berupa bayangan hitam, tak jelas bentuk rupanya. Aku pun tak mau membahas lebih jauh, sementara anjing-anjing milik orang Batak yang tinggal di sekitar gedung SD mulai menyalak panjang. Aduh, iseng aja tuh anjing, bikin kuduk merinding.

Semua terdiam menunggu instruksi dari Pak RT. Lama-lama mulai terdengar suara rintihan dari arah pohon Akasia. Semua orang jadi makin sering menelan ludah sendiri. Tiba-tiba dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, si ayam umpan berteriak. Seketika Pak RT memberi isyarat kepada Pak Tupang agar menembakkan jaringnya.

Dos….

Jbret….

Sepertinya jaring Pak Tupang mengenai sesuatu dan dari arah jaring yang bergerak-gerak itu terdengar rintihan pilu nan menyayat hati. Sekali lagi Pak RT memberi aba-aba dan menyalalah lampu tembak 2000 watt ke arah pohon Akasia itu. Sayangnya, lampu tembak itu berada di posisi yang salah sehingga keberadaan jaring berada dalam bayangan cahaya lampu.

Aku terbelalak. Entah dari mana mereka dapat lampu sorot itu, rasanya tak ada dalam pembahasan rapat memburu hantu tempo hari di rumah Pak RT. Rupanya Mas Rofique pemilik orkes dangdut bersedia meminjamkan lampu sorotnya.

Perlahan bapak-bapak mulai mendekati ke arah pohon Akasia. Paling depan Pak RT dan Pak Kasim, kelihatan juga ada bapakku, sementara aku dan tiga temanku menyempil di antara tubuh bapak-bapak yang lain.

Dada masing-masing kami berdegup kencang. Setelah jaring digeser, tampaklah sosok hitam tertangkap di dalam jaring. Belum jelas wujudnya, hanya saja dia punya taring dan cakar. Semua mata makin penasaran.

Oalaaah….

Seketika koor bapak-bapak mengudara setelah tahu apa yang ada di dalam jaring tadi. Sepasang musang tertangkap di dalamnya. Mas Wiji segera mengeluarkan pisau dan menyembelih ayam umpan yang masih kelojotan kehabisan darah diterkam musang tadi.

“Lumayan… bisa dibakar nih ayamnya, Pak.” Katanya setelah menghabisi nyawa si ayam.

Misteri terpecahkan sudah. Bayangan hitam yang sering dilihat para peronda adalah si musang. Suara mirip perempuan menangis juga berasal dari si musang. Bapak yang sudah sering keluar masuk hutan, bahkan menginap di sana sudah hafal suara musang seperti ini.

Untuk sementara waktu, kedua musang itu dimasukkan dalam kandang besi berukuran sedang dan disemayamkan di rumah Pak RT. Ketegangan malam itu dilunasi dengan ayam hasil panggangan Mas Wiji sang tukang sate. Sedaaap…!

Esoknya, beberapa orang memanjat pohon Akasia untuk memastikan tak ada hal aneh lainnya di pohon itu dan menemukan empat bayi musang dalam sarangnya yang tertutup rimbun daun Akasia. Pantas saja sepanjang malam si musang meronta-ronta. Aku jadi sedikit mengerti perasaan induk yang dipisahkan dari anaknya.

Atas kesepatakan bersama, keluarga musang itu diserahkan ke pihak desa agar dikirim ke dinas peternakan kota daripada nanti dibantai warga.

Usut punya usut, kepindahan musang-musang itu ke pohon Akasia adalah berbarengan dengan penggusuran rumpun-rumpun bambu di belakang SD, tepatnya di belakang rumah dinas para guru, untuk keperluan jalan dan pembangunan menara BTS operator GSM. Mungkin si musang merasa telah kehilangan rumahnya dan memilih pindah ke pohon Akasia yang rimbun itu. Kasihan sekali mereka. Rumpun bambu itu adalah rumpun satu-satunya yang tersisa di RT kami setelah makin banyaknya pendatang dan lahan yang menjadi rumah warga.

Setelah kejadian penangkapan musang itu, keadaan pohon Akasia itu mulai kembali aman sentosa. Jalanan depan rumah kembali ramai meski hingga tengah malam. Namun tak lama, dua minggu kemudian ibu kembali menemukan bangkai ayam di bawah pohon Akasia itu, agak kecil (mungkin ayam yang baru beranjak dewasa) dengan kondisi sayap patah, paha sobek, dan lidahnya melet keluar.

Hadueh… ampun, saya nggak mau lagi mengintai pohon Akasia itu. Minggu depan ada ulangan biologi. (*)

Mengenang pohon Akasia di depan rumah

Padang, 23 Februari 2011 11.30­13.00 Waktu Sumatra Barat

Retno Adjie, lahir di Jambi pada 3 Ramadhan 1407. Puisinya pernah menjuarai Unsa Award 2010 Grup untuk Sahabat dan menjadi runner-up dalam Lomba Cipta Puisi Kehidupan (LCPK) Komunitas Pena Santri (2010). Beberapa karyanya terdapat dalam Selaksa Makna Cinta (Antologi Cerpen dan Puisi, 2010), Lafaz Cinta di Ambang Gerhana (Antologi Novelet, 2010), dan Kolase 2: Dari Balik Jendela (Kumcer, 2011).

Advertisements