Cerpen Gabriel Garcia Marquez (Suara Merdeka, 10 April 2011)

Sepasang Mata Anjing Biru ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka
Sepasang Mata Anjing Biru ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

DAN dia menatapku. Kukira dialah yang kali pertama menatapku, tapi kemudian ketika dia berbalik di belakang lampu masih kurasakan wajahnya yang licin dan berminyak di belakangku, di dekat bahuku. Lalu aku mengerti akulah yang pertama menatapnya. Kunyalakan rokok. Kuisap dalam-dalam sebelum aku berputar di kursi yang bertumpu hanya di satu kaki. Setelah itu aku melihatnya di sana, seolah dia berdiri di samping lampu, menatapku setiap malam. Kami saling menatap dalam menit-menit yang singkat. Aku melihatnya dari tempat duduk, dengan kaki belakangnya dia berdiri, tangannya yang panjang dan tenang di lampu, dia menatapku. Kulihat matanya yang menyala seperti biasannya. Itulah ketika kuingat hal yang biasa, ketika kukatakan padanya, “Sepasang mata anjing biru.” Tanpa melepaskan tangannya dari lampu dia berkata, “Itulah yang tak akan pernah kita lupakan.” Kemudian ia pergi. Sepasang mata anjing biru. Itulah yang kutuliskan di mana-mana.

Aku melihat dia berjalan menuju meja rias. Kulihat dia muncul di cermin dan menatapku, dia menatapku dengan matanya yang hitam batubara, menatapku sambil membuka kotak kecil yang diselimuti mutiara merah jambu. Kulihat dia membedaki hidungnya. Begitu selesai, dia menutup kotak itu dan berdiri, berjalan melewati lampu sambil berkata, “Aku takut seseorang bermimpi tentang ruangan ini dan mengetahui rahasiaku.”

Dan dia kembali menghangatkan tangannya yang panjang dan gemetaran yang tadi telah dihangatkannya sebelum duduk di depan cermin. Dan dia berkata, “Apa kau tidak merasa kedinginan.” Kujawab, “Kadang-kadang.” Lalu dia berkata, “Sekarang kau pasti merasakannya.” Dan aku mengerti mengapa aku tidak bisa sendirian di tempat ini. Dinginlah yang memastikan kesunyianku. “Sekarang aku merasakannya,” kataku. “Dan ini aneh karena malam begitu tenang. Mungkin alas tempat duduknya jatuh.” Dia tidak menjawab. Lagi-lagi dia berjalan menuju cermin dan aku kembali ke kursi, membelakanginya. Tanpa melihatnya, aku bisa tahu apa yang dia lakukan. Aku tahu dia kembali duduk di depan cermin, menatap punggungku, ada waktu untuk sampai ke kedalaman cermin itu dan tertangkap pandangannya, seolah ada waktu yang cukup untuk mencapai kedalaman itu dan kembali lagi, sebelum ada waktu untuk memulai yang kali kedua—sampai bibirnya dibaluti warna merah tua, ketika tangannya mulai beraksi di depan cermin.

Kulihat, berhadapan denganku, dinding lembut yang serupa cermin buta ketika aku tak bisa melihatnya duduk di belakangku, tapi aku bisa bayangkan di mana dia berada seolah-olah sebuah cermin tergantung di dinding itu.

“Aku melihatmu,” kukatakan padanya.

Dan melalui dinding itu kulihat dia memandangku ketika aku berbalik ke arahnya dari tempat duduk, di kedalaman cermin itu wajahku mendekati dinding. Lalu lagi-lagi kutatap matanya dan dia tertunduk, tidak berkata apa-apa. Dan kukatakan lagi padanya, “Aku melihatmu.” Dan dia menegakkan wajahnya. “Itu tidak mungkin,” katanya. Kutanyakan kenapa. Dan dia, dengan matanya yang tenang tertunduk kembali. “Karena wajahmu menghadap ke dinding.” Lalu kubalikkan kursi itu. Asap rokok mengepul dari mulutku. Saat aku masih menghadap ke cermin, dia sudah berada di belakang lampu.

Sekarang dia mengembangkan tangannya dekat unggun, seperti dua kepak sayap ayam betina, menghangatkan dirinya, dan bayangan jari-jari menutupi wajahnya sendiri.

“Rasanya aku ingin menangkap rasa dingin ini,” katanya, “Ini pastilah kota es.” Dia memalingkan wajah, memperlihatkan kulitnya yang berubah merah padam, seketika dia bersedih.

“Lakukanlah sesuatu,” katanya.

Dan dia mulai melepas pakaiannya. Satu demi satu, mulai dari bagian paling atas, aku berkata, “Aku akan menghadap dinding ini lagi.”

Dia menjawab, “Jangan, kau akan melihatku ketika kau membalikkan punggungmu.”

Setelah berkata begitu, lidah-lidah api menerangi kulitnya yang merah tembaga. “Aku selalu ingin melihatmu seperti itu, dengan kulitmu yang penuh pertarungan seolah kaulah yang dikalahkan.” Dan sebelum aku menyadari betapa konyol kata-kataku itu, dia mematung, menghangatkan tubuhnya di dekat lampu dan berkata, “Terkadang aku berpikir aku terbuat dari logam.” Lalu dia diam seketika. Tangannya bergerak-gerak di atas api. Kukatakan padanya, “Terkadang di mimpi yang lain aku mengira kau mengira kau adalah patung perunggu kecil di sudut sebuah museum. Mungkin karena itu kau kedinginan.” Dan dia berkata, “Kadang, jika aku tidur dalam hatiku, bisa kurasakan tubuhku memiliki rongga dan kulitku terasa datar. Lalu, ketika darah terpompa dalam tubuhku, seolah seseorang sedang memanggil, mengetuk-ngetuk perutku dan aku bisa rasakan suara logam itu di tempat tidurku, kau menyebutnya seperti dilapisi logam. Dia mendekati lampu. “Aku ingin mendengarkanmu,” kataku. Dan dia menjawab, “Dan jika kita saling menemukan nanti, saat aku tertidur, dekatkan telingamu di rusuk kiriku, maka kau akan mendengar aku bergema. Aku selalu ingin kau melakukan itu.” Kudengar napasnya yang berat saat dia bicara. Dan berkata, selama bertahun-tahun dia selalu melakukan hal yang sama. Dia telah memutuskan jalan hidupnya untuk mencariku dalam kenyataan, mengucapkan kalimat yang jelas itu, “Sepasang mata anjing biru.” Dan di jalanan dia akan meneriakkannya dengan lantang, memberi tahu seseorang yang paling mengerti dirinya.

Akulah yang datang dalam mimpimu setiap malam dan memberi tahumu tentang “sepasang mata anjing biru”. Dan dia berkata kalau dia pergi ke sebuah restoran. Sebelum memesan dia berkata pada pelayan “sepasang mata anjing biru”. Tetapi pelayan itu hanya memberi hormat tanpa mengingat apakah kata-kata itu pernah ada dalam mimpi mereka. Dan dia akan menuliskannya di serbet dan menorehkannya di meja dengan pisau. Dan dia akan menuliskan dengan telunjuknya di mesin pembersih jendela hotel-hotel, di stasiun-stasiun, di gedung-gedung “sepasang mata anjing biru”.

Pernah di sebuah apotek dia mengenali aroma yang sama dengan aroma kamarnya pada malam setelah memimpi tentangku. “Dia pasti sudah dekat,” pikirnya, sambil melihat ubin yang bersih dan baru di apotek itu. Dia mendekati seorang pegawai dan berkata, “Aku selalu bermimpi tentang seorang lelaki yang berkata padaku tentang sepasang mata anjing biru.” Dia meminta pegawai itu melihat matanya dan pegawai itu berkata, “Sesungguhnya Nona, kau memiliki mata seperti itu.” Lalu dia berkata, “Aku harus menemukan lelaki dalam mimpiku itu.” Dan pegawai itu terkekeh dan menjauhinya. Dia tetap menatap ubin bersih yang juga wangi itu. Lalu dia membuka tasnya, di ubin itu dia tulis “sepasang mata anjing biru” dengan lipstiknya yang merah tua. Pegawai itu datang kembali dan menegurnya, “Nona, kau mengotori ubinnya.” Pegawai itu memberinya pakaian basah dan berkata, “Bersihkan.” Dia menjawab, sepanjang sore dia telah membersihkan ubin-ubin itu sambil berkata “sepasang mata anjing biru.” Hingga orang-orang berkerumun di pintu dan mengira dia gila.

Kini, di samping lampu, dia sedang menatapku. Aku ingat dia juga memandangku seperti itu pada masa lalu. Dari mimpi yang jauh ketika aku berputar di atas kursi dan menatap perempuan asing yang bermata abu-abu. Di mimpi itulah aku bertanya untuk kali pertama, “Siapakah kau?” Dan dia menjawab, “Aku tidak ingat.” Kukatakan padanya, “Tapi, kukira kita pernah bertemu sebelumnya.” Dengan acuk tak acuh dia berkata, “Kurasa aku pernah memimpikanmu, juga ruangan ini.” Kujawab, “Nah itu dia, aku mulai ingat sekarang.” Dan dia berkata, “Sungguh aneh, jelas kalau kita pernah bertemu di mimpi yang lain.”

Dia mengisap rokoknya dua kali. Aku masih berdiri, menghadap lampu, ketika tiba-tiba aku menatapnya. Kuamati dari atas sampai ke bawah dan dia masih saja kulihat seperti logam, tapi tidak lagi keras dan dingin, dia berwarna kuning, lembut, logam yang bisa dibentuk. “Aku ingin menyentuhmu,” kataku. Dan dia menjawab, “Kau akan menghancurkan semuanya.” Kujawab, “Itu bukan masalah lagi sekarang, yang harus kita lakukan adalah mengambil bantal dan bertemu kembali.” Belum sempat aku menyentuhnya, dia berkata, “Mungkin jika kau ke sini, di belakang lampu ini, kita akan bangun ketakutan, siapa yang tahu ini bagian dunia yang mana.” Tapi aku memaksa, “Itu bukan masalah.” Dan dia menjawab, “Jika kita mengambil bantal, kita akan bertemu lagi. Tapi begitu bangun kau akan lupa.” Aku berjalan melewati sudut ruangan. Dia tetap di belakang, menghangatkan tangannya. Dan aku sudah tidak lagi di samping kursi ketika kudengar dia berkata di belakangku, “Ketika aku bangun tengah malam, aku tetap di tempat tidur, dan pinggiran bantal itu membakar lututku hingga subuh “sepasang mata anjing biru”.

Aku masih saja menghadap dinding. “Sudah subuh,” kataku tanpa melihat padanya. “Hal ini mengejutkanku, aku terbangun dan itu adalah waktu yang lama.” Aku berjalan menuju pintu. Ketika pegangan pintu sudah di tanganku, lagi-lagi aku mendengar suaranya, suara yang sama. “Jangan buka pintu itu,” katanya, “Jalanan itu dipenuhi mimpi-mimpi yang sulit.” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. “Karena aku di sana beberapa saat yang lalu dan aku harus kembali ketika aku sadar kalau aku sedang tidur dalam hatiku.” Kubiarkan pintu itu setengah terbuka. Aku membukanya perlahan, angin dingin yang tipis membawa aroma tumbuhan dan ladang basah. Dia kembali bicara, kudengarkan saja sambil terus membuka pintu, melangkah diam-diam dan berkata padanya, “Kurasa tidak ada jalanan di luar sana.” Aku mencium aroma sebuah negeri. Dan dia pada jarak yang dekat berkata, “Aku mengetahuinya melebihi kau. Yang ada di luar sana adalah seorang perempuan yang bermimpi tentang sebuah negeri.” Dia mendekatkan bahunya di unggun dan kembali berkata, “Dia adalah seorang perempuan yang selalu memimpikan sebuah rumah di sebuah negeri dan dia tetap tidak bisa meninggalkan kota itu.” Aku ingat pernah melihat seorang perempuan di mimpi-mimpi yang lalu, tapi aku tahu, dengan pintu yang sedikit terbuka dan dalam waktu satu setengah jam aku harus ke bawah untuk sarapan dan berkata, “Aku harus meninggalkan tempat ini yang artinya aku harus bangun.”

Di luar angin menggelepar seketika lalu kembali tenang dan napas orang yang berkeluh kesah dalam tidurnya terdengar begitu jelas. Angin yang berembus dari ladang sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi aroma tumbuhan. “Besok aku akan menemukanmu,” kataku. Aku akan mengenalimu di jalanan ketika kulihat perempuan menuliskan “sepasang mata anjing biru” di dinding-dinding. Dan dia, dengan senyum pahitnya, senyum yang menyerah pada kemungkinan, yang tak bisa diraih, berkata, “Nanti kau tidak akan mengingat apa pun di siang hari.” Dan dia meletakkan tangannya di lampu, kehadirannya ditutupi awan kesedihan. “Kau adalah lelaki lupa pada mimpi-mimpi setelah bangun dari tidurmu.” (*)

 

Gabriel Jose Garcia Marquez, lahir 6 Maret 1928 di kota Aracataca. Ia adalah seorang novelis, jurnalis, penerbit, dan aktivis politik Kolombia. Ia dianugerahi Penghargaan Nobel Sastra untuk bukunya Seratus Tahun Kesunyian pada 1982. Judul asli cerita ini adalah “Eyes of Blue Dog”. Cerpen ini diterjemahkan oleh Ramadhani.

 

Advertisements