Oleh Setta SS (Eramuslim, 2 Februari 2008)

Oh, Tuhan! Tolong sampaikan kepada adik-adik perempuan saya. Betapa sesungguhnya diam-diam saya sangat mencintai mereka.

***

DAUN pintu kamar kos saya baru terbuka setengahnya dari luar saat telinga saya menangkap ujung nada dering hp saya yang tergeletak di atas rak buku sepulang dari jamaah ‘Ashar di masjid sore itu. Ternyata telepon dari adik perempuan saya. Dia sudah ngebell dua kali.

“Ada apa?” saya langsung mengirim sebuah pesan singkat saat itu juga.

Tak lama berselang, hp mungil saya kembali menjerit lantang membawakan melodi Matahari-nya Ari Lasso. Kemudian terdengarlah suara-suara ribut dari seberang horn sana setelah saya mengangkatnya. Suara-suara renyah beberapa orang gadis awal 20-an tahun.

“Kak, aku lagi di warnet sekarang. Emailnya kok gak bisa dibuka ya? Gimana nih? Aku sudah tulis user name-nya, terus password-nya, tapi masih tetap gak bisa juga. Gimana sih, Kak?” berondongnya serta merta, sedikit manja.

Olala, ternyata dia mengikuti saran saya untuk membuat sebuah address email dan berkenalan dengan dunia maya. Tepat seminggu sebelumnya, setelah saya membelikannya pulsa sepuluh ribu, dia menelpon saya dan kami ngobrol hampir setengah jam dalam sebuah keakraban yang ceria. Salah satu butir dari obrolan kami malam itu ialah, saya memaksanya untuk sesekali mampir dan berselancar di dunia maya. Agar tidak terlalu gaptek. Dan, dia menepati janjinya. Menyempatkan diri mampir ke sebuah warnet dengan tiga orang teman kuliahnya.

Dengan sabar, telaten, dan sepenuh cinta, saya jawab dan jelaskan padanya tentang cara sign-in, mengecek surat-surat yang masuk, mengirim surat, juga cara bergabung di komunitas friendster—saat itu facebook belum tenar. Sambil mengikuti petunjuk saya, dia masih terus bertanya seputar dunia maya.

Adik perempuan saya sukses menghabiskan uang tujuh ribu rupiah untuk acara ngenetnya sore itu. Dan, hasilnya adalah sebuah email perdana yang dikirimnya nyangkut di kotak surat address saya.

***

Sekilas tak ada hal yang istimewa dari deskripsi di atas, bukan? Hanya sebuah keakraban yang sangat wajar antara seorang kakak dan adik perempuannya yang terpisah jarak sejauh ratusan kilometer. Saya berada di Jawa, Yogyakarta tepatnya, dan adik perempuan saya tinggal di Sumatera, kota Bengkulu.

Tapi tahukah Anda, berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk bisa menjadikan kami akrab seperti saat ini?

Saya dilahirkan di penghujung tahun 1981 di sebuah rumah bersalin tak jauh dari alun-alun kota Lubuklinggau, ibu kota Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan. Sekitar tujuh jam perjalanan naik kereta ke arah barat daya dari Palembang.

Tak sampai setengah tahun dalam dekapan Bunda, saya diboyong ke Jawa oleh kedua orang tua saya. Ke tempat kediaman nenek-kakek saya dari pihak Ayah. Dan sejak saat itu, saya tinggal dengan nenek-kakek saya di Jawa. Sementara kedua orang tua saya kembali ke Sumatera.

Hampir lima tahun berselang, adik perempuan saya itu lahir. Tetapi kami baru bersua untuk pertama kalinya ketika dia ikut serta mengunjungi saya ke Jawa saat saya kelas 3 SD dan dia berusia tak lebih dari 4 tahun. Tentu saja, kami tak saling mengenal satu sama lain kala itu. Ironis sekali memang.

Pertemuan kedua kami terjadi di bulan September 1993. Bunda yang sedang mengandung adik perempuan saya yang kedua kecelakaan. Angkot yang dinaikinya diseruduk bis AKAP di jalan Trans Sumatera.

Itulah kali pertama saya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Namun, saat itu pun tak ada interaksi yang berarti di antara kami. Seorang cowok imut kelas 1 SMP dan seorang anak perempuan kelas 2 SD. Begitulah, hal yang kemudian sangat saya maklumi saat ini.

Tujuh tahun kemudian, saat saya duduk di bangku kuliah tahun kedua, saya kembali bertatap muka dengan adik perempuan saya itu. Liburan semester, saya memberanikan diri pulang sendirian ke tanah Andalas. Saya kangen, sangat kangen untuk bisa ngobrol banyak dengannya.

Akan tetapi, bayangan saya tentang sebuah keakraban di antara kami ternyata masih sangat jauh panggang dari api. Bagaimanapun dalam rentang waktu hampir 20 tahun usia saya dan 15 tahun usianya saat itu, hanya tiga kali kami sempat bertatap muka. Tentu hal yang mustahil bagi kami untuk bisa langsung akrab seketika layaknya dua orang kakak beradik yang selalu tinggal bersama. Kami membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk membangun sebuah kebersamaan, memupuknya, saling memahami dan memaklumi kultur yang berbeda yang telah sekian lama membentuk karakter kami masing-masing. Juga menumbuhkan benih-benih kasih sayang.

Sekembali dari mudik di tahun 2000 itulah, saya mencoba lebih intens membangun komunikasi dengan adik saya. Saya ingat sekali, dengan mesin ketik manual warisan Ayah yang biasa saya gunakan untuk membuat laporan praktikum, saya rutin menulis surat untuknya hingga berlembar-lembar. Saya masih menyimpan fotokopiannya sampai sekarang. Ada sekitar empat puluh lembar spasi satu kertas A4.

Saya juga menyempatkan untuk meneleponnya ke asrama tempatnya sekolah sekaligus nyantri di sebuah SMP semi pesantren hampir sebulan sekali. Saya rutin membelikannya hadiah setiap hari lahirnya tiba dan saat ada uang lebih. Dari serial remaja Pingkan (Muthmainnah) dan Aisyah Putri (Asma Nadia), novel komik Olin (Ali Muakhir), majalah Annida dan Karima, kaset nasyid dan murottal, hingga buku kumpulan soal-soal EBTANAS. Cerpen pertama saya yang dipublikasikan di sebuah majalah remaja nasional pada bulan Oktober 2002 juga berkisah tentangnya. Tentang kekhawatiran seorang kakak pada adik perempuannya yang sedang beranjak dewasa. Yang saya persembahkan spesial untuknya.

Selain itu, rentang tahun 2005 sampai 2007, saya aktif melakukan riset via sms, email, dan friendster pada puluhan responden remaja putri seusianya. Menyelami karakter, harapan, cita-cita, logika berpikir, serta kebiasaan-kebiasaan mereka. Kemudian saya jadikan sebagai studi kasus untuk memahami sikap dan perilaku adik saya.

Saat kami sudah memiliki hp, saya juga selalu berusaha membangun sebuah dialog lewat sms dan meneleponnya. Saya juga meminta orang tua, terutama Ayah, untuk menjadi mediator sekaligus moderator yang menjembatani dan mengklarifikasi perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara kami.

Saya coba memanfaatkan setiap momentum yang ada untuk menjadikan kami, saya dan adik saya, bisa akrab layaknya dua orang kakak beradik. Saya juga tak pernah bosan berdoa, memohon kepada-Nya untuk menumbuhkan cinta dan kasih sayang di sanubari kami.

Pada akhirnya, setelah bilangan tahun berlalu, kini kami mulai bisa mengakrabkan diri satu sama lain. Belajar saling mencintai dan menyikapi setiap perbedaan yang ada dengan lebih dewasa sambil terus belajar untuk mengendalikan ego masing-masing. Semoga seiring berjalannya waktu nanti, kami bisa lebih akrab lagi dari saat ini. Amin.

Begitulah jalan panjang dan berliku yang harus kami lalui untuk membangun sebuah kebersamaan ini.

***

“Do you have sister?”

“Yes, I have three younger sisters.” Saya merespon pertanyaan salah seorang dari tiga interviewer dalam sebuah sesi wawancara di sebuah lembaga riset pada awal tahun 2006 dengan nada standar.

“Whom do you love so much among them?” lanjutnya tak menunggu jeda terlalu lama.

“The oldest one,” sahut saya spontanitas.

Detik itu, saya tak sempat berpikir lebih jauh tentang kenapa saya menjawabnya demikian. Baru ketika laki-laki muda pewawancara itu melanjutkan pertanyaannya, saya tercenung cukup lama memikirkan alasannya. Sampai ia harus mengulang kembali pertanyaan yang sama pada saya yang masih membisu.

“Why? Can you tell me, please?”

“Because her age is nearest with me,” jawab saya diplomatis. Setelah putus asa untuk mendapatkan jawaban yang sesungguhnya.

Ya, sejujurnya, saya tidak tahu persis alasan mengapa saya sangat mencintainya. Mencintai adik perempuan saya itu.

Mungkin ada di antara Anda yang tahu jawabannya? (*)

 

 

Yogyakarta, 2 Februari 2008 01:48 a.m.

Baarokalloh untuk akad pernikahanmu pada 2 April 2011.

 

Advertisements