Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 Maret 2011)

KAMI pergi memang untuk mati. Dengan menempuh jarak ribuan kilo meter, kami hendak menyetorkan nyawa yang ada dalam tubuh masing-masing. Kami pasrah. Kami telah dilepas dengan prosesi kematian oleh sanak keluarga. Air mata menetes. Kali ini adalah perjumpaan terakhir dalam hidup kami. Segenap sanak famili, handai tolan, serta para warga memberikan penghormatan saat kami dilepas. Mereka melingkar di lapangan sambil tangannya disilangkan ke depan ketika mendengar kata sambutan. Kami pun lantas berjalan. Cuaca meredup mengiringi kepergian kami. Mereka yang agak jauh dari kami terlihat melambaikan tangan di rumah masing-masing dengan wajah haru. Anak-anak yang mereka dekap pun ikut melambai, sebagian yang lebih besar terlihat berlari mengikuti di belakang kami. Di sepanjang perjalanan pohon-pohon seperti berlari berlawanan dengan arah kendaraan kami. Pagar-pagar rumah juga demikian. Kampung halaman merenggang dengan tubuh kami. Makin jauh dan jauh.

Sepanjang perjalanan kami tak banyak bicara. Kami pasrahkan semuanya. Mulut kami menggumamkan doa-doa. Tangan kami tak henti-hentinya memutar hitungan mengiringi bacaan-bacaan kalimat suci. Kami senantiasan memusatkan pikiran, melupakan segala peristiwa yang telah lewat. Kami memejamkan mata, menjaga kekhusyukan agar doa-doa dapat langsung melesat tanpa penghalang. Kini kami telah berada jauh dari permukaan bumi.

Makin jauh pula dari gravitasi. Saat kami membuka mata, langit sepi tanpa penghuni. Tempat yang senantiasa kami pandangi saat berdoa. Awan putih berkelompok-kelompok seperti gundukan salju mengapung. Kami merasa sangat kecil, seperti butiran debu melayang di angkasa yang mahaluas. Akankah kami membeku saat menerobos gumpalan-gumpalan awan itu. Sesekali kami merasa ada guncangan. Beberapa lelaki yang disertai istri masing-masing terlihat khusyuk sekali. Sementara yang lain melihat hamparan laut di bawah sana dengan wajah redup.

Irfa duduk di sebelah kananku, dekat jendela. Kami lebih banyak diam. Sebentar-sebentar kami berpandangan. Tak lama lagi memasuki kota kematian. Tanah yang gersang dan bebukitan mulai terlihat nun di bawah sana. Ada jejak angin membentuk gigir-gigir di permukaan pasir. Tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Deru angin kering mungkin menyapu udara panas sepanjang hari. Itulah wilayah yang banyak menyimpan kisah sejarah, di mana para hamba mempertaruhkan keyakinan ketika para pemuja berhala meyulut bara permusuhan, kisah-kisah umat yang dikejar raja durhaka, mereka-mereka yang berhijrah, pasukan-pasukan yang mempertahankan kesucian jiwa, insan-insan yang teguh ketika dicoba, semua menghampar di bawah sana.

Di wilayah perbatasan kami melepas pakaian, berganti kain kafan pembungkus jenazah. Irfa, yang biasanya menyukai warna ungu atau biru, kali ini mesti berserah pada warna putih. Hanya selembar kain untuk membungkus tubuh yang papa. Irfa memandangi tubuhnya. Keningnya berkerut seperti kulit jeruk.

“Saya teringat anak-anak,” kata Irfa.

“Semua sudah ada yang mengatur. Kita harus berserah.”

“Mereka masih membutuhkan kehadiran kita,” suara Irfa melemah.

“Waktunya sudah tiba.”

“Mestinya anak-anak….”

“Mereka masih punya waktu panjang. Kau kelihatannya gundah?”

Irfa tak menjawab. Pandangannya redup diarahkan kepadaku. Bertahun-tahun kami hidup bersama, namun baru kali ini aku melihat Irfa seperti berada di titik kegundahan yang puncak. Di balik kaca mata putihnya tampak ada buliran air mata. Kupegang tangannya erat-erat. Jari-jarinya yang panjang terasa dingin.

Kami digiring ke tanah lapang yang mahaluas, nyaris tanpa tepi. Kami dikumpulkan dengan orang-orang dari berbagai asal. Kami berdiam diri sepanjang hari dipanggang terik matahari.

Semua serbaputih. Kami seperti kecambah yang tumbuh, ada yang kepalanya menunduk, ada yang tegak, ada pula yang tengadah. Kami menanti nasib selanjutnya. Sementara di sisi lain tampak bebukitan kering kerontang. Di sana-sini juga terdapat orang-orang seperti kami. Irfa memerah mukanya. Ada titik-titik keringat di sana. Punggung tangannya disembunyikan pada lipatan kain.

“Pasirnya seperti digoreng,” Irfa menggeser duduknya.

“Tak ada pilihan lain.”

“Haus sekali,” dia mengernyitkan kening. Suaranya lamban.

“Semua merasakan hal yang sama,” kataku.

“Tenggorokan kering.”

“Semua juga kering.”

“Itu burung-burung beterbangan. Pasti di sekitar sini ada air,” Irfa menuding burung-burung hitam yang berkelepak di atas kami.

“Jangan-jangan mereka menantikan air dari tubuh kita.”

Raut wajah Irfa menciut. Ujung telunjuknya tampak bergetar. Urat-urat di punggung tangan itu menegang hingga menyerupai tali-temali. Irfa tampak gerah. Tubuhnya yang tinggi dan ramping terkesan makin tipis. Kami sama-sama terdiam beberapa saat. Hanya deru angin yang terdengar di kejauhan.

“Semoga ada hujan turun,” Irfa menerawang ke langit.

“Awan tak ada sedikit pun. Mungkin bertahun-tahun tak ada hujan di sini.”

“Mungkin burung-burung itu sebagai pertanda musim akan berubah.”

“Di sini tak ada yang tahu soal perubahan musim.”

“Apa salahnya berharap?” Irfa menoleh ke arahku. Nada dan gerakannya lamban, tapi dari bola matanya terkesan ada isyarat lain. Irfa tiba-tiba menoleh ke kiri.

“Seperti ada yang menyebut nama saya,” katanya. Aku ikut menoleh ke arah pandangannya. Irfa seperti tersentak ketika pandangannya tertumbuk.

“Pe… perempuan itu pernah menampar pipi saya.”

“Siapa?”

“Istri kepala kantor.”

“Mengapa?”

Irfa terdiam. Keringat di keningnya menitik.

“Kau sebagai sekretaris. Apa ada yang lebih dari itu hingga dia cemburu?”

Di sini kami tak mampu menuding. Bibir Irfa bergerak-gerak, dia ingin mengatupkan, tapi tak bisa. Pandanganku tiba-tiba juga tertumbuk pada wajah-wajah yang pernah kukenal. Bibirku spontan bergerak.

“Aku pernah berutang janji pada orang itu.”

“Sudah kaupenuhi?”

“Belum.”

“Lelaki di sebelahnya itu pernah kutipu.”

“Kau sudah minta maaf?”

“Belum.”

Aku heran, di sini orang-orang yang pernah berurusan denganku tiba-tiba muncul silih berganti. Mereka seperti rekaman yang diputar kembali untuk kupersaksikan. Semua mengarahkan pandangannya padaku. Mereka membukakan dosa-dosaku. Mereka menagih pertanggungjawabanku. Berkali-kali pula Irfa, katanya, melihat orang-orang yang pernah dikenal. Wajah Irfa terlihat tegang, gugup, bahkan takut.

Deru angin terdengar mendekat. Sesaat setelah itu terasa ada yang menerpa kami. Tidak seperti yang kami harapkan, terpaan itu terasa panas dan kering. Kami mengernyitkan kening. Haus luar biasa. Di atas tiap-tiap kepala terlihat udara meliuk-liuk membentuk fatamorgana.

Agak jauh dari kami seorang perempuan tua terengah-engah. Mulutnya terus membuka seperti tak dapat dikatupkan. Lama-lama aku seperti telah mengenalnya. Wajah itu bahkan sudah sangat akrab di mataku. Dia berkali-kali menoleh ke arah kami. Matanya yang cekung menambah ketuannya. Irfa tampaknya ingin mengatakan sesuatu. Setiap perempuan tua itu menoleh, Irfa melihat ke arahku.

“Perempuan tua itu jadi seperti saya,” katanya beberapa saat kemudian. Kata-kata Irfa menghenyakkan aku.

“Ya, wajahnya berubah menyerupai kamu.”

Ternyata gerakan perempuan tua itu seperti menirukan Irfa. Ketika Irfa mendongak, perempuan tua itu ikut mendongak. Saat Irfa menoleh ke kiri, dia juga menoleh ke kiri. Saat Irfa ganti menoleh ke kanan, dia pun ikut ganti ke kanan. Irfa menggerakkan tubuhnya, dia pun melakukan hal yang sama. Ekspresi wajah dua perempuan itu kini juga terlihat sama.

“Apakah kelak saya begitu?”

“Tak ada yang tahu. Hidup cuma sekali.”

Wajah Irfa menciut, ekspresinya kecut, seperti buah duku mengerut. Dia kembali melihat burung-burung di awang-awang dengan tatapan cemas. Terdengar bunyi melengking dari arah mereka, seperti jerit yang tertahan lalu dilepas bagai anak panah. Bunyi itu menggema dan terasa sakit di telinga. Beberapa saat burung-burung hitam itu mengumpul dan terbang berputar-putar di atas kami. Mereka membentuk sumur pusaran. Gerakan mereka makin cepat menyerupai mesin penggiling. Kami semua menatap ke arahnya. Mata kami mengikuti ke mana arah mesin penggiling itu berputar.

Tiba-tiba terdengar bunyi dipekikkan dengan sangat keras. Gemanya makin memekakkan. Bersamaan dengan itu mesin penggiling berputar makin cepat. Tak terlihat lagi bentuknya masing-masing. Seperti sumur besar menyambar-nyambar. Ketika pekikan terdengar sekali lagi, mesin penggiling itu sudah berkumpar-kumpar di atas kepala kami. Kibasan mereka terasa di telinga. Kami tak tahu apa yang bakal terjadi.

Lengan kiri Irfa kupegangi erat-erat. Sementara mataku tak henti-henti mengikuti pusaran. Sekonyong-konyong Irfa menarik lengan, meremas mulutnya, dan matanya melotot. Kami melihat sepertinya ada yang disahut dan dibawa terbang. Pusaran mesin penggiling itu meninggi. Kami melihat ada yang dijatuhkan. Kain putih. Itu adalah pakaian di antara kami. Sesosok tubuh telah dibawanya pergi. Membumbung ke langit. Makin jauh dan jauh. Entah tubuh siapa.

“Perempuan tua tadi tidak ada,” kata Irfa. Aku segera melihat ke tempatnya. Ya, dia tak ada. Aku dan Irfa saling memandang.

“Dia tadi sebentar-sebentar melihat saya. Apa itu isyarat?”

“Tak seorang pun tahu.”

Irfa mencoba menggeser pandangan ke arah kanan. Aku melihat ekspresinya berubah kembali. Wajahnya mengerut dengan lipatan di kening. Irfa terlihat ketakutan. Bibirnya bergerak-gerak mau bicara.

“Le… lelaki itu ada juga di sini.”

“Siapa?”

Ira menjadi gugup, kedua tangannya bergetar, bibirnya bergetar. Ada buliran air mata menggelincir dari sudut matanya.

Pandanganku tertumbuk pada lelaki yang dimaksud Irfa. Ingatanku tiba-tiba meloncat pada anak-anak di rumah. Wajah lelaki itu seperti bertukar tangkap dengan wajah anak-anakku. Mereka sangat mirip, bentuk matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, juga rambutnya.

“Anak-anak kita kok mirip dengan dia. Bukankah aku ayahnya?”

Bibir Irfa yang kering bergetar makin keras. Tangannya berguncang. Ada ekspresi ketakutan luar biasa. Buliran air matanya menderas.

Tiba-tiba burung-burung hitam itu muncul lagi. Kali ini jumlahnya makin banyak. Begitu terdengar bunyi pekikan, mereka dengan cepat membentuk formasi melingkar dan berputar membentuk mesin penggiling seperti tadi. Mereka menderu di atas kami. Tak tampak lagi bentuknya satu per satu. Mereka telah berubah wujud menjadi kumparan yang mahadahsyat. Gemuruhnya memekakkan telinga. Tubuh Irfa bergetar makin keras. Mulutnya membuka. Matanya nanar.

“Kau… kau mau… memaafkan saya?” kata-kata Irfa bergetar.

Mulutku seperti terkunci. Mesin pengiling itu menggilas di atas kepala kami. Mendengung-dengung. Tubuh-tubuh kami seperti hendak disedot dan digilas. Irfa memegang lenganku kuat-kuat. Dia berusaha menjerit, tapi suaranya tak muncul. Kami seperti telah masuk dalam arus terowongan yang sangat kuat. Kami hendak terlepas. Irfa beralih ingin merangkul tubuhku. Tapi usahanya selalu gagal dan gagal.

Sedotan semakin kuat. Aku merasakan ada yang membetot Irfa. Tiba-tiba sebuah pekikan memecahkan telinga. Kumparan mesin penggiling itu naik dengan kuatnya. Arus sedotan semakin luar biasa. Irfa tahu-tahu sudah tak ada di dekatku. Aku berteriak memanggilnya, tapi suaraku tercekat di tenggorokan.

Orang-orang menatap langit dengan wajah beku dan kaku. Tak ada suara dari mereka. Terdengar deru makin menjauh. Aku berusaha memekik memanggil Irfa. Tetap tak bisa. Irfa telah tiada. Aku pun terus memandang ke atas sana. Mesin penggiling itu semakin melesat naik dengan menyisakan ekor yang meruncing. Terlihat kain putih melayang-layang dijatuhkan dari ekor kumparan di atas sana. Irfa lenyap. Tubuh itu telah disedotnya. Sebentar lagi, mungkin giliranku tiba. (*)

 

 

Advertisements