Archive for March, 2011

Sebelum Tiba Giliran Saya
March 29, 2011


Oleh Setta SS (Kotasantri, 14 Februari 2009)

ADA banyak hal yang memaksa saya untuk lebih banyak merenung akhir-akhir ini. Bertanya dengan jujur, sejujur-jujurnya, tentang berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar saya. (more…)

Advertisements

Sihir Batu Bata
March 29, 2011


Cerpen Zelfeni Wimra (Jawa Pos, 27 Maret 2011)

IA berdiri di atas setumpuk batu bata, sebagai penambah tinggi badannya. Tangannya berpegang ke salah satu tiang kedai bagian belakang. Ia dekatkan matanya ke salah satu celah dinding papan, mengintip, apakah pria gendut berkumis tebal itu berani menyakiti ibunya lagi? (more…)

“La Vie”
March 28, 2011


Cerpen Randu Wangi (Koran Tempo, 27 Maret 2011)

“INGIN mati.”

“Pagi, Ange,” Tristan menyapa dengan nada biasa. Terlalu sering ia mendengar kalimat yang sama. Kalimat favorit Angelie. Tristan tidak lagi ambil pusing dan cemas. Pura-pura saja tidak mendengar. Tidak menanggapi. (more…)

Rindu di Penghujung Petang
March 28, 2011


Cerpen Rama Dira (Suara Merdeka, 27 Maret 2011)

DI pengujung petang itu, lidah-lidah api jingga berkeretap liar, memangsa cepat sejengkal demi sejengkal badan kapal dongfeng berbahan kayu milik Hosni Mubaroq. Dari kejauhan, orang-orang pulau yang bergegas mendekat belum bisa memastikan apakah juragan ikan itu ada dalam dongfeng yang tengah sandar di dermaga itu. (more…)

Pak Sakim
March 28, 2011


Cerpen M Daniel Ilyas (Republika, 27 Maret 2011)

PAK Sakim baru saja naik bus di terminal bus Grogol. Dia langsung duduk di tempat duduk yang kosong. Walaupun penumpang belum penuh sesak, sopir tergesa-gesa memberangkatkan bus menuju Depok. Sebuah bus dengan rute yang sama sudah masuk ke dalam terminal. Dari arah belakang, seorang anak muda berjalan di antara para penumpang. Tangannya menggenggam sebuah dompet hitam. Spontan Pak Sakim meraba kantong belakang celananya, tempat dia biasa menaruh dompet. Ternyata, dompet itu sudah tidak ada. Semula Pak Sakim merasa ragu dan takut bertindak. Pak Sakim yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta tahu betul pencopet di Jakarta ini kalau beroperasi tidak pernah sendirian, berdua bahkan bertiga. Mereka juga membawa senjata tajam. Dalam keadaan kepepet, mereka tidak segan-segan melukai korbannya. Mengetahui pencopet itu sendirian, timbul keberanian Pak Sakim. Buru-buru ditangkapnya tangan anak muda itu dan minta dompetnya dikembalikan. Tanpa banyak bicara, anak muda itu menyerahkan dompet itu kepada Pak Sakim. Pak Sakim memeriksa isinya. Semua masih utuh, uang maupun kartu-kartu. Mungkin anak muda itu mengira aku punya ilmu, pikir Pak Sakim. (more…)

Tradisi Telur Merah
March 28, 2011


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Kompas, 27 Maret 2011)

KAU tak hendak menghitung. Namun, tahun-tahun yang melintas itu setiap kali mengucapkan salamnya kepadamu. Seolah pamit sembari menerakan jejak yang melekat di dinding ingatanmu.

Nyaris sembilan tahun terlalui. Belum satu dasawarsa, tetapi bukan rentang waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Berapa lama lagi? Masihkah tersisa ketabahan untuk menjalani rentang masa yang tak terkira itu? (more…)