Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 27 Februari 2011)

BERANDA berbentuk setengah lingkaran, dan seorang perempuan kecil di hadapanku. Sudah ratusan kali aku duduk di beranda ini bersamanya. Biasanya mulai pukul lima, sepulangku dari kerja. Persis seperti saat ini. Ia akan datang dengan kopi serta kudapan dalam toples. Lalu kami bercakap sedikit tentang peristiwa hari itu, atau sekadar termangu menatap kaki bukit, memerhatikan galur-galur ladang tembakau yang tampak seperti permukaan kasur berwarna hijau tua. Pemandangan luar biasa yang tak pernah kujumpai di tanah kelahiranku. Namun karena sejak pagi berkutat di tengah ladang tembakau, seringkali aku lebih tertarik membenamkan diri di balik lembaran koran.

Apabila itu yang terjadi, ia memilih diam, atau menisik baju sambil sesekali ikut menikmati kudapan. Itulah sebagian besar hariku bersamanya, sebelum semua kembali surut, seperti awal kedatangannya di rumah ini. Jauh, asing, bahkan lebih parah lagi: hampa.

Dan sore ini, kehampaan itu menemukan wujudnya: Kopor besar, buntalan kain berisi barang-barang pribadi, serta kebaya ungu yang dengan haru dipakainya untuk menggantikan kebaya putih berenda yang telah akrab dengan lekuk tubuhnya selama enam tahun terakhir.

Sesungguhnya telah kuminta ia membawa seluruh kebaya putihnya. Aku tak mau istriku kelak melihat tumpukan kain itu di dalam lemari. Tapi ia menolak. Takut dianggap menyalahgunakan simbol status, yang kini tak lagi disandangnya. Pernyataan itu ibarat tamparan keras di wajah. Membuatku berpikir, siapa pecundang gila hormat yang dulu membuat peraturan aneh bahwa seorang nyai harus bisa dibedakan secara kasat mata lewat warna bajunya?

Mengapa sehelai kebaya––dan maksudku memang benar-benar kain kebaya––yang berwarna putih memiliki nilai lebih dibandingkan warna lain? Apakah karena dianggap paling dekat dengan warna kulit orang Eropa?

“Imah,”aku berhenti sebentar seolah baru sadar, selama ini aku tak pernah memanggil nama Belandanya.Ya, kurasa nama yang ia ucapkan saat tiba pertama kali dulu memang lebih cocok untuknya dibandingkan Maria Goretti Aachenbach.

“Imah, dengarkan.”

“Saya, Tuan,” jawabnya lirih dalam Melayu. Di wajahnya, kesedihan terpahat jelas meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Sekali lagi, aku tidak mencampakkanmu. Engkau masih anggota keluarga,” kugigit pangkal cerutu, lalu kusulut ujungnya dengan korek api. “Jadi, kalau ada masalah, terutama keuangan….” aku mengangkat bahu, berusaha menemukan kalimat lanjutan, tapi tak ada yang hinggap di benak.

“Tuan tak usah memikirkan saya,“ sahutnya. “Tetapi sesekali jenguklah Sinyo dan Nona.”

“Tentu, itu toh rumahku juga,” gumamku. “Katakan kepada anak-anak, mereka boleh menginap di sini setiap akhir bulan.”

Imah mengangguk. Kini, air matanya benar-benar tergelincir. Ingin sekali kuraih kepala berhias bunga melur itu, sembari meletakkan tanganku di pipinya seperti tahun-tahun kemarin, atau membisikkan sesuatu ke cuping telinganya. Bahkan sesungguhnya, ingin sekali kucium bibirnya perlahan untuk memberinya ketenangan, bila memang itu yang ia perlukan saat ini. Sayangnya, tak tersedia lagi pilihan yang lebih baik untuk menyelamatkan sesuatu yang hanya kupinjam sebentar untuk menggenapi kekosongan hidupku tempo hari.

Aku menghela napas. Kuhampiri tumpukan barang di sisi meja. Kutarik sebuah papan berbingkai keemasan. Potret anak lelaki dan perempuan, tertawa girang dalam baju seragam pelaut. Anak-anakku. Lahir dari rahim Imah.

“Mereka punya wajah Belanda. Mereka akan baik-baik saja. Hanya saja….” lagi-lagi aku tak sanggup menuntaskan kalimat.

Imah menyeka mata.

“Ini dunia yang mustahil kaupahami, Imah. Aku pun sering kesulitan memahaminya,” gumamku.

 

YA, mana mungkin ia, dan mungkin seluruh penduduk Hindia Belanda ini paham, betapa seorang pegawai swasta seperti aku sanggup hidup terpisah ratusan kilometer dari tanah air di Eropa. Lepas dari bangsanya, lepas dari peradaban, untuk ditempatkan di sebuah perkebunan tembakau terpencil di Deli? Aku memang tak akan sanggup… bila hanya sendirian.

Minggu-minggu awal sebagai asisten administratur merupakan masa tersulit dalam hidupku. Ada perasaan terkucil, sepi, gelisah, yang sangat mengganggu sebelum aku berhasil memicingkan mata setiap malam. Mungkin lantaran masih terbawa sisa masalah dalam sehari: menghukum kuli pemberontak, memberi sanksi kepada tandil yang malas bekerja. Memastikan bahwa siklus pekerjaan berputar sempurna agar pasar tembakau di Eropa mendapat pasokan cukup.

Sesungguhnya aku tidak benar-benar sendiri. Ada seorang jongos yang membersihkan rumah serta menyiapkan makanan sederhana untuk sarapan. Ia datang subuh, pulang menjelang pukul tujuh petang. Ada juga seorang tukang kebun merangkap tukang kayu yang tidur di ruang belakang.

Saat aku mulai terbiasa dengan pola hidup seperti itu, datanglah undangan makan malam di kediaman sep-ku, sang kepala administratur perkebunan, Dirk van Zaandam. Selesai santap malam, ia menepuk bahuku.

“Sudah waktunya engkau punya pengurus rumah tangga, Fred. Di negeri ini, akan terlihat aneh bila urusan rumah tangga kaukerjakan sendiri.”

“Aku sudah punya, Heer. Anda sudah bertemu Unang, yang tempo hari memperbaiki meja kerjaku, bukan?” Jawabanku membuat van Zaandam terpingkal-pingkal.

God Almachtig,” serunya di antara tawa. “Bersembunyi di mana engkau selama ini, Fred? Apakah mereka tidak pernah mengatakan hal ini kepadamu? Tak ada lagikah orang baik hati yang membagikan brosur ‘Tata Cara Hidup di Hindia’? Itu brosur yang sangat bagus. Tuntunan lengkap menyesuaikan hidup di sini.”

“Pernah kubaca, meski tak yakin apakah brosur itu yang Anda maksud. Tapi aku tahu kebutuhan rumah tangga di sini agak berbeda. Itulah sebabnya aku memelihara jongos dan tukang kebun untuk….”

“Fred, Fred, Fred,” van Zaandam menggeleng-gelengkan kepala. “Lupakan brosur itu.”

Ia masuk sebentar ke dapur, kemudian keluar lagi menggandeng seorang wanita pribumi, yang tadi sepintas kulihat menyiapkan meja makan.

“Fred, ini pengurus rumah tangga. Namanya Mina,” van Zaandam merangkul bahu wanita itu, membuatku sedikit tercengang.

“Mina, sedikit salam manis untuk Tuan Aachenbach?” van Zaandam mendorong Mina ke hadapanku. Wanita berkulit cokelat itu cekikikan, mencubit bahu van Zaandam, lalu membungkuk kepadaku, “Selamat petang. Semoga Tuan suka hidangan tadi,” sapanya dalam Melayu.

Aku berusaha memasang senyum walau dalam pikiran berkecamuk seribu satu hal yang saling bertentangan. Sudah tentu perkara moral tidak termasuk di dalamnya, karena sejak berangkat dari Holland telah kutetapkan bahwa pekerjaan yang akan kugeluti di Hindia ini tidak banyak membutuhkan pertimbangan moral. Apalagi cinta kasih.

Beberapa hari kemudian, atas rekomendasi van Zaandam dan Mina, aku memilih Imah, seorang wanita yang berangkat bersama rombongan kuli wanita dari Jawa untuk menjadi pemetik daun tembakau. Tubuhnya kecil, kulitnya cokelat muda. Wajahnya, menurutku, tidak buruk untuk ukuran rekan sebangsanya, apalagi untuk daerah perkebunan ini. Ditambah lagi, saat datang ke rumah ia sudah didandani habis-habisan oleh Mina, sehingga tampak bersinar di balik kebaya putih berendanya.

“Dia sudah digembleng matang untukmu,” van Zaandam mengedipkan mata.

Aku tak menyangkal. Kehadiran Imah menghasilkan rutin baru yang terasa janggal tapi menyenangkan. Mungkin karena ia cukup cerdas, tidak seperti kebanyakan wanita pribumi lain yang sulit sekali diajak bicara.

Pagi-pagi buta, seluruh pelosok ruangan sudah rapi dan bersih. Di meja makan terhidang kopi panas kental, lengkap dengan roti panggang, selai, dan telur rebus. Tengah hari, ia menyuruh Unang mengantar makan siang dalam rantang. Malamnya, setelah seluruh rangkaian kegiatan tuntas dikerjakan, Imah akan menghampiriku di ranjang. Menuang minyak gosok, lantas memainkan jemarinya dari ujung kepala hingga ujung kakiku. Meluruhkan kepenatan yang menggelayuti tubuh selama satu hari. Seringkali kegiatan ini berujung pada gelinjang perempuan itu di pelukanku. Ya, Imah dan aku. Tuan dan pengurus rumah. Agak aneh pada mulanya, tapi kami melakukannya cukup sering.

Biasanya setelah gelora besar itu, untuk menit-menit yang cukup lama, kami berbaring saling hadap, tanpa busana. Masing-masing dengan serpih pikiran, yang jarang sekali kami bagi. Untuk apa berbagi? Semakin lama bersamanya, semakin kuketahui bahwa wanita Hindia sangat piawai membaca pikiran. Sekali melihat raut wajah, mereka tahu persis apa yang kita butuhkan. Bagaimana dengan semua berita buruk tentang gundik jahat, pemalas, boros, keras kepala, yang akhirnya terpaksa menanggung siksa tubuh dari pasangannya? Ah, tidak pernah. Tak ada itu di dalam rumah tanggaku.

“Tetapi kau harus tetap waspada,” kata van Zaandam pada suatu kesempatan. “Sekali kausakiti, atau kaubuat cemburu, saat itu pula kau harus hati-hati terhadap makanan dan minuman yang mereka hidangkan.”

“Pil nomor 11?” tanyaku yang segera disambut derai tawa van Zaandam. Aku mengingatnya selalu.

Pada tahun kedua dan ketiga, lahirlah anak-anakku. Seperti keluarga lain, kegembiraan menjadi seorang ayah tak bisa kusembunyikan. Apalagi menemukan kenyataan bahwa dengan separuh darah pribumi mengalir di tubuh mereka, Joost dan Kaatje tumbuh sehat. Tidak mudah sakit seperti anak-anak Belanda totok yang kukenal.

Barangkali lantaran tak lagi memikirkan urusan rumah, aku bisa memusatkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan. Sejumlah bonus berhasil kuraih sebagai imbalan naiknya target produksi serta rendahnya kasus perlawanan kuli di dalam kelompok kerjaku.

 

MEMASUKI tahun kelima, aku naik pangkat menjadi administratur dan berhak mengambil cuti selama sebulan ke Belanda. Mula-mula aku singgah ke Rotterdam, menyerahkan laporan kerja kepada induk perusahaan, lalu pulang ke Spijkenisse, menengok ibuku yang hidup seorang diri.

Penuh sukacita, Ibu mengundang sejumlah tetangga masa kecilku menikmati makan siang sederhana di halaman belakang. Di situlah, di antara gelak tawa antrean hidangan, aku bersua dengan Helena Huberta Theunis, putri dari Johannes Theunis, teman Ayah.

Helena terpaut usia lima tahun denganku. Aku mengenangnya sebagai gadis kecil yang kelaki-lakian. Selalu ikut main perang-perangan bersama kami, gerombolan anak lelaki. Telinganya lebar, sehingga dulu kami juluki dia si gajah. Siapa sangka kini menjelma menjadi gadis yang anggun. Kami banyak berbincang, menjahit kembali perca kenangan, dan menjadi sangat akrab.

Keesokan harinya, kutegarkan hati bertandang ke rumah keluarga Theunis menemui Helena. Seperti kemarin, sambutan kedua orang tuanya demikian terbuka. Aku memang bukan orang asing. Dulu Mama Theunis kerap mengundang pasukan anak lelaki menikmati panekuk buatannya. Lagipula orang tua mana yang keberatan anak gadisnya didekati seorang wakil kepala perkebunan tembakau Hindia? Kulakukan beberapa kunjungan susulan yang semakin menguatkan hati. Ya, sebuah keputusan besar harus kubuat.

Tepat di akhir bulan, kuajak Helena berkeliling kota dengan kereta kuda milik almarhum ayahku. Ia membawa serta Anneke, seorang teman karib yang juga berperan sebagai chaperone. Sejak pagi, tak putus kami bercakap di antara gedung-gedung lama sepanjang Oostkade, Noordkade, dan Westkade. Dilanjutkan ke Voorstraat, menyusuri Veerweg yang berujung pada dermaga feri, sebelum akhirnya duduk melepas penat, membongkar bekal piknik kami di rerumputan tepi sungai di sekitar Oude Maaspad, dekat pintu air.

Langit Spijkenisse beranjak merah, cuaca dingin berangin. Di seberang sungai, sebuah kincir angin tua berputar pelahan menimbulkan derak berulang yang mencemaskan. Itulah sedikit gambaran tentang keadaan sekitar kami, saat aku minta kepada Anneke dan Helena untuk berhenti sebentar dari kesibukan mereka membereskan bekal makanan.

“Anneke,” kataku. “Aku ingin engkau menjadi saksi pernyataanku kepada Helena sebentar lagi.”

“Pernyataan apa?” hampir bersamaan, Anneke dan Helena menoleh.

Aku merangkak mendekati Helena, kujemput ujung telapak tangannya perlahan. “Menikahlah denganku, Leen.”

Anneke memekik mendengar kalimatku, sementara Helena tergelak, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Ini sangat mendadak,” ujar Helena. “Apakah aku harus tinggal di Hindia?”

“Apakah itu sebuah kalimat persetujuan?” dalam genggamanku, tangan Helena terasa dingin. Dapat kurasakan pula getar keraguan di situ. Di belakang Helena, Anneke tak putus mengucap mijn God, sehingga dengan sedikit kesal perlu kutenangkan.

“Jadi, bagaimana?” kuburu mata Helena.

“Fred, aku belum bisa memberi jawaban,” Helena menunduk. “Terutama karena aku tak yakin bisa bertahan di sana. Kudengar kehidupan di perkebunan tembakau sangat keras. Banyak pemberontakan kuli. Entah di mana, pernah kubaca kritik seorang pengacara atas perlakuan kejam para pengelola perkebunan terhadap kuli.”

“Van den Brand?” tanyaku. “Sebelum berangkat ke Hindia sudah kubaca brosurnya. Siapa pun akan berontak bila diperlakukan kasar. Sejauh ini kami berusaha bersikap adil. Namun takkan kusangkal bahwa di lapangan bisa saja terjadi penyelewengan moral yang memicu penyerangan terhadap orang Eropa. Bukankah semua jenis pekerjaan memiliki risiko?”

Ada jeda sebentar yang kami gunakan untuk bersitatap.

“Akan kubicarakan dengan orangtuaku. Bersediakah menunggu?” terdengar kembali suara Helena.

Aku memang harus menunggu. Bukan karena orangtua kami tak setuju, melainkan karena jatah cutiku habis. Padahal tak mungkin membawa Helena ke Hindia sebelum meresmikan hubungan kami dalam sebuah pernikahan. Mustahil pula melangsungkan hal ini secara tergesa.

“Kirim saja sarung tanganmu,” tulis ibuku, tak lama setelah aku tiba kembali di Deli. “Bulan depan kami nikahkan Helena dengan sarung tanganmu. Setelah itu ia boleh menyusul ke Hindia.”

Menikah dengan sarung tangan atau keris sebagai wakil mempelai pria, sudah sering kudengar. Sejujurnya aku tidak mendukung laku semacam itu. Bagaimana mungkin Tuhan, yang dipercaya hadir menjadi saksi utama dalam sakramen suci, bersedia memberi berkat kepada benda mati, meskipun benda itu dipegang oleh wakilku di sana? Tapi itulah yang kulakukan. Sebagai balasannya, minggu lalu kuterima sebuah telegram dari Helena: tiba di genoa stop dua minggu lagi belawan stop sarung tangan kubawa stop segenap cinta stop leentje stop.

 

SUARA langkah kaki kuda diakhiri dentang panjang lonceng delman meruntuhkan lamunanku.

“Imah pergi dulu, Tuan,” perempuan di depanku bangkit dari duduk, meraih barang-barangnya. Gerakan tubuhnya terlihat kaku, seperti di perbatasan antara hendak lekas pergi atau diam di tempat. Pada saat yang sama, ada semacam tekanan keras mengimpit dadaku. Membuat kedua kakiku goyah. Aku tahu, ini perasaan yang biasa berkecamuk manakala kita menyadari akan kehilangan orang yang kita sayangi selamanya. Perasaan yang dahulu juga hadir saat liang lahat ayah tercinta mulai ditimbuni tanah.

“Imah,” kedua tanganku terjulur, nyaris membentuk sebuah pelukan kalau saja Unang tak berlari keluar membantu Imah mengangkat barang-barang ke atas delman. “Cium sayang untuk Sinyo dan Nona,” akhirnya kuloloskan sepotong kalimat. “Dan kowe Unang, lekas kembali setelah antar Nyai.”

Hampir serempak Imah dan Unang mengangguk. Delman memutar arah. Ketika memintas kembali di depanku, Imah berseru: “Sudah Imah siapkan makan malam di meja.”

Aku melambai. Kubiarkan mataku mengikuti laju delman hingga lenyap ditelan tikungan, lantas dengan gontai kuseret kaki menuju ruang makan.

Di balik tudung saji kujumpai makanan kegemaranku: sambal goreng tempe, rendang balado, sayur lodeh, telur dadar, serta semangkuk besar cendol. Kuisi gelas dengan cendol, santan dan gula kelapa hingga penuh. Sejengkal sebelum mendarat di bibir, aku tersentak. Terngiang kembali nasihat van Zaandam. Pil nomor 11. Larutan fenil, arsenik, atau air liur ular kobra. Oh, baru saja aku menyakiti hati Imah, bukan? Ya, bahkan telah kubuat remuk hatinya dengan mengusirnya dari rumah agar istri Eropaku bisa masuk dan tidur di sisiku.

Aku termangu sejenak. Kutebar pandangan. Berharap melihat sebuah tanda, isyarat, atau hal lain yang bisa kugunakan untuk… ah, entah untuk apa. Yang jelas, segera tertangkap olehku jendela kaca ruang tamu yang jernih, bebas debu, dengan gorden berlipit-lipit yang dikelantang sempurna sehingga terlihat berkilau terkena cahaya lampu. Agak ke kanan, terpampang lemari perpustakaanku. Aku mendekat. Buku-buku itu disusun rata sesuai ketinggiannya, dan kupastikan tak ada debu di permukaan setiap buku. Di seberang lemari, terbujur meja panjang bertaplak putih tempat aku biasa menerima tamu. Sisi luar meja tampak lurus tanpa cela mengikuti permukaan tembok di belakangnya. Di sekelilingnya, sebuah sofa berikut tiga buah kursi dibariskan dengan keteraturan jarak satu sama lain yang seimbang. Tepat di sudut ruangan, terhampar sebuah kursi malas dilengkapi selimut serta bantal kecil yang dahulu digunakan Imah untuk merawatku selama sebulan saat terserang malaria. Sungguh, dibutuhkan ketulusan hati mengerjakan itu semua.

Kutimang sekali lagi gelas di tanganku. Lantas kureguk habis isinya. (*)

 

 

Jakarta, 25 November 2010

M. Iksaka Banu bekerja di bidang desain grafis dan periklanan. Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Bermukim di Jakarta.

 

Advertisements