Oleh Setta SS (Antologi Apology and Forgiveness, 2011)

Sobat/rangkaian masa yang tlah terlewat/membuat batinku menangis/mungkin karena egoku/mungkin karena egomu/maaf, aku buat begini/maaf, aku begini/ [1]

***

MENGACU pada kitab kumpulan watak Personality Plus (Kepribadian Plus) karya fenomenal Florence Littauer, yang merupakan rangkuman hasil mengajar dan memberikan penyuluhan selama bertahun-tahun, saya membuat kesimpulan sendiri bahwa saya memiliki kecenderungan dominan termasuk pada kelompok tipe kepribadian Melankolis Sempurna.

Saya tidak pernah bernafsu menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi atau mungkin sekadar dalam sebuah kelompok diskusi kecil yang saya ikuti, layaknya tabiat seorang Korelis Kuat. Saya bukan tipe pribadi yang mudah diajak bergaul dengan orang dari berbagai kalangan, bukan pula orang yang tidak mudah marah dan pandai menyembunyikan emosi; yang menjadi ciri khas kelompok Phlegmatis Sempurna. Saya pun bukan seorang Sanguinis Populer yang sangat suka mengobral kata-kata, mendominasi setiap pembicaraan, dan suka dipuji-puji, namun sekaligus bisa cepat meminta maaf atau mudah memaafkan saat membuat kesalahan atau menjadi korban kecurangan orang lain.

Maka berikut inilah deskripsi lengkap emosi diri saya apa adanya. Mendalam dan penuh pikiran, analitis, serius dan tekun, berbakat dan kreatif, filosofis dan puitis, menghargai keindahan, perasa terhadap orang lain, suka berkorban, penuh kesadaran, dan idealis. Dalam hal pekerjaan, saya berorientasi pada jadwal, perfeksionis—standar tinggi, sadar perincian, gigih dan cermat, tertib dan terorganisasi, teratur dan rapi, ekonomis, juga suka dengan diagram, grafik, bagan dan daftar.

Jika kelak saya sempat merasakan menjadi orangtua, tak akan jauh meleset dari poin-poin berikut ini. Selalu ingin segalanya dilakukan dengan benar, menetapkan standar tinggi, menjaga rumah selalu rapi, merapikan barang anak-anak, tak keberatan mengorbankan keinginan sendiri demi kebahagiaan istri atau anak-anak, dan tipe seorang mediator yang baik untuk mendorong berkembangnya intelegensi dan bakat di dalam rumah.

Dan dalam membina hubungan pertemanan atau dalam sebuah lingkaran social network (jejaring sosial), seorang Melankolis Sempurna seperti saya akan cenderung hati-hati, suka memilah-memilih teman, menghindari perhatian, dan lebih puas tinggal di belakang layar. Bisa menjadi seorang pendengar yang baik, sangat memperhatikan orang lain, bisa membantu memecahkan masalah teman, mudah terharu, dan penuh belas kasihan. Namun ada satu hal yang bisa diterjemahkan berkonotasi negatif, seseorang dengan tipe kepribadian ini hanya akan mencari teman yang benar-benar sempurna di matanya.

Begitulah kurang lebih gambaran sekilas tentang diri saya. Selanjutnya bisa diprediksi, dalam interaksi dengan berbagai karakter dan tipe kepribadian lain yang bersebrangan tentu akan sangat rentan mengalami friksi, pertengkaran, percekcokan, atau bahkan sampai menjurus pada sebuah permusuhan yang serius. Dan memang demikian pulalah yang telah terjadi. Sebagian kecil di antaranya, pada sebuah rentang waktu 28 tahun enam bulan dan dua puluh satu hari usia saya hari ini, akan saya kisahkan apa adanya di bawah ini.

***

Adalah sebuah insiden yang terjadi hampir tiga tahun ke belakang. Saat itu fasilitas Yahoo Messenger (YM) masih menjadi primadona para aktivis dunia maya. Saya termasuk yang terimbas dampaknya karena hampir selalu membukanya saat online. Melihat account YM beberapa teman yang sedang on di belahan bumi entah di mana, selalu timbul keinginan saya untuk menyapa mereka. Pada yang sudah kenal akrab, bertukar kabar terkini. Yang baru pertama kali menyapa—saya sering mendapat request dari orang yang tidak saya kenal sebelumnya yang pernah membaca tulisan saya di beberapa portal online, saling bertukar identitas diri.

Pada tahapan awal itu memang baik dan bernilai positif. Silaturahim dan menambah sahabat. Nah, yang menjadi pertanyaan kemudian ialah, dengan teman akrab yang hampir setiap hari ngobrol kira-kira kita mau bertukar info terkini tentang apa ya? Curhat online? Sejujurnya, seperti apa yang sering saya alami, jika terus dilanjutkan untuk waktu sekian menit berikutnya setelah say hello, sudah tidak berbobot lagi output dari dialog yang tercipta. Kecuali memang ada agenda tertentu yang sudah dijanjikan sebelumnya.

Seperti sore itu, saya telah menjadi penyebab seorang rekan yang ngobrol via YM menangis. Meski saya tidak tahu pasti kenapa dia menangis. Dugaan terkuat saya, penyebabnya tak lain adalah ucapan jujur saya yang tidak tepat sikonnya hingga terasa begitu menyakitkan olehnya. Mungkin.

Awalnya dia menyapa saya lebih dulu. Dan dialog-dialog kosong (baca: ngobrol ngalor-ngidul tak jelas) meluncur begitu saja setelahnya. Saya pun sadar sepenuhnya, namun terus saja merespon setiap kata dan kalimat yang tertera di layar YM saya. Hingga akhirnya jemari saya mengetikkan kalimat, “Sorry, I think it’s always a useless dialog created between you and me. So, please stop till here, okay?”

Teman saya membalas—setelah terdiam beberapa jenak, “You’ve broken my afternoon for twice.” Dan kalimat-kalimat susulan yang mendeskripsikan bahwa dia benar-benar sedang menangis saat itu.

Ah! Sebegitu kejamkah diri ini?

Satu hal yang membuat saya merasa tidak enak setelahnya, bisa jadi apa yang dialami teman saya itu hanyalah puncak dari gunung es yang menyeruak ke permukaan saja. Yang di bawahnya ada banyak sekali orang-orang yang sesungguhnya sakit hati karena ucapan saya, tetapi mereka hanya diam dan berusaha menelannya bulat-bulat tanpa berani jujur mengungkapkannya. Karena kadang tanpa saya sadari sepenuhnya, banyak pertanyaan mereka yang saya acuhkan atau sengaja tidak membalasnya. Dan sangat mungkin akan membuat mereka kecewa tanpa sepengetahuan saya.

Sedih/bila kuingat pertengkaran diriku/membuat jarak antara kita/resah tiada menentu/hilang canda tawamu/tak ingin aku begini/tak ingin begini/ [2]

Selintasan waktu di masa lampau, di sebuah kamar berukuran 3 x 2.5 meter, saya dan seorang sahabat sedang berdiskusi seputar masalah-masalah khilafiah—perbedaan pendapat di kalangan para ulama fikih yang tidak pernah sampai pada satu titik temu. Awalnya diskusi kami berjalan normal, namun seiring semakin meruncingnya topik yang kami bahas, ternyata kami semakin jelas berada di dua kutub yang bersebrangan. Watak kami yang sama-sama tak mau mengalah menyebabkan persinggungan yang dahsyat.

Dan, entah sadar atau tidak, saat itu saya mengusirnya dengan sangat kasar. “Keluar!!!” bentak saya menggelegar. Kesenyapan beberapa jenak menjadi jeda sempurna yang seolah sedang merentangkan sebuah jarak di antara kami berdua mulai detik itu juga. Sebelum dia beranjak dalam hening yang sulit terdefinisi. Menyembunyikan gejolak perasaan yang bergolak di benaknya saat itu.

Astaghfirullahal ‘azhiim…. Sungguh, kadang saya lelah sendiri saat-saat menghitung kesalahan-kesalahan yang sudah saya ciptakan di masa silam.

Di lain waktu dan tempat di masa lalu, saya pernah bentrok dengan teman sekamar sesama penunggu masjid. Saya membuat jadwal piket untuk membersihkan masjid, adzan, termasuk mengurusi kesibukan di hari Jum’at mempersiapkan ritual shalat Jum’at. Namun tak pernah sekalipun dia tampak bersungguh-sungguh mematuhi jadwal yang sudah saya buat dengan memperhitungkan banyak pertimbangan itu. Hal itu masih ditambah dengan kebiasaan jeleknya tidur lagi sehabis shalat shubuh dan acara bersih-bersih di kamar mandi yang super lama.

Maka, saya pun muntab!

Hampir sepuluh tahun ke belakang, saya pun pernah ‘diadili’ oleh para pemuda-pemudi di lingkungan kos saya di bilangan Santren, Yogyakarta. Atas musabab apa gerangan? Beginilah cerita lengkapnya.

Kamar kos saya dan kamar sebelah—tetangga rumah ibu kos dan berbeda bangunan, hanya dibatasi selapis dinding batu yang sekaligus menjadi dinding kamar sebelah itu. Kamar itu dihuni oleh seorang ABG putri, siswi Sekolah Menengah Atas. Di sebelah atas pada dinding batu tipis itu ada penghubung kedua ruang berupa lubang ventilasi seluas kurang lebih 0.75 x 0.5 meter yang sudah ditutup rapat dengan karton yang tidak terlalu tebal. Bekas lubang ventilasi itulah sumber malapetaka yang mengemuka.

Saya tidak bisa konsentrasi belajar ketika ada suara-suara bising yang masuk ke telinga saya. Saya pun sangat alergi mendengar lagu-lagu pop bertema cinta picisan yang selalu mendengung dan menerobos lewat bekas lubang ventilasi itu hampir setiap malam menjelang hingga larut. Benteng pertahanan kesabaran saya akhirnya jebol juga ketika ABG rese di sebrang dinding batu tipis itu memasang interkom yang terhubung melalui kabel ke seluruh penjuru kampung. Suara-suara bising itu semakin menjadi-jadi, bahkan tak kenal waktu lagi. Kali ini tidak hanya lagu-lagu pop cinta picisan yang menyambangi telinga saya, tetapi juga obrolan ngalor-ngidul via interkom—kadang diselingi obrolan cabul.

Pada akhirnya saya gebrak dengan sengaja karton penutup bekas lubang ventilasi itu sebagai aksi protes. Suara-suara di sebrang biasanya senyap, tapi tak lebih setengah jam kemudian kegaduhan akan terdengar kembali. Meski setelah itu yang masuk ke indra pendengaran saya adalah obrolan mubazir diselingi tawa cekikikan tanpa rasa sungkan atau bersalah sedikitpun. Atau disengaja? Begitu seterusnya hingga bilangan hari berganti menjadi lipatan-lipatan pekan.

Oya, saya belum ceritakan, lintasan kabel interkom kamar sebelah itu persis melewati samping kamar saya karena merupakan sambungan dari kamar anak ibu kos yang juga memasang interkom di kamarnya.

Maka di puncak rasa kesal yang menggelegak itulah, saya gunting lintasan kabel menuju ke kamar sebelah. Dan, saya pun ‘diadili’ oleh para pemuda-pemudi sekampung. Namun setelah mereka mendengar klarifikasi saya dan melihat reaksi si ABG rese yang hanya diam tak bersuara, keadaan berbalik 180 derajat. Si ABG rese itulah yang menjadi terdakwa. Begitulah.

***

Masih ada puluhan kisah serupa yang menyertai perjalanan usia saya hingga hari ini. Sangat mungkin salah satu atau beberapa dari kisah-kisah pertengkaran itu juga melibatkan salah seorang di antaramu, Sahabat-sahabat. Tapi tak perlu saya urai semuanya di sini ‘kan?

Kepada siapa pun yang pernah berinteraksi dengan saya, bila saya pernah membuat goresan luka di hatimu, mohon keikhlasanmu untuk memaafkan kekhilafan saya dengan setulus-tulusnya. Dan jika dirimu yang merasa telah menzholimi saya, insya Allah saya pun sudah memaafkanmu dengan segenap pemakluman.

Hmm, meski tak semudah membalik telapak tangan, sikap saling memaafkan itu ternyata indah ya?

Bila ingat kembali/janji persahabatan kita/tak kan mau berpisah karena ini/pertengkaran kecil kemarin/cukup jadi lembaran hikmah/karena aku, ingin tetap sahabatmu/ [3] (*)

 

 

Yogyakarta, 13 Juli 2010 04:12 p.m.

[1], [2], dan [3] dikutip dari lirik nasyid Pertengkaran Kecil (edCoustic)

 

Advertisements