Cerpen Indrian Koto (Jawa Pos, 27 Februari 2011)

SEMUA orang di kampungku tahu kalau lontong buatan Tek Sidar paling nikmat dan enak. Tak ada tandingannya. Ketupat dengan beras baru akan menerbitkan selera siapa saja yang menciuminya. Jika banyak orang membikin nasi lontongnya dengan membungkus beras dengan plastik, Tek Sidar selalu membikin ketupat dengan pucuk daun kelapa. Gulainya pun akan menitikkan air liur siapa saja. Kalau tidak gulai cabadak, gulai pakis dicampur ikan teri pun jadi, sesekali ia memanjakan selera kami, para pelanggannya, dengan jantung pisang. Di atasnya ditaburi sedikit mihun atau ditambah taburan kerupuk merah.

Maka selalu ramai saja lepau kecilnya setiap pagi. Sebelum berangkat sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk makan lontong di sana. Berdesak-desakkan dengan pembeli yang lain. Beruntung kami, yang memakai seragam, akan selalu didahulukan. “Kasihan, biar tidak terlambat ke sekolah.” Begitu komentar beliau kalau ada pembeli yang sudah menunggu lebih dulu memprotes.

Sudah menjadi kebiasaan di kampungku untuk selalu mengisi perut pagi-pagi. Setelah itu segudang kerja sudah menunggu mereka di ladang dan di sawah. Barulah nanti siang mereka kembali mengisi perut dengan nasi sebelum waktu duhur datang.

Pagi-pagi sekali asap akan mengepul dari dapur. Ibu-ibu dan anak gadis sudah bangun. Salat subuh dan merebus air. Sebentar saja akan terdengar hiruk pikuk di sumur. Suara gelas piring, guyuran air di kamar mandi, dan batuk-batuk para suami. Bersamaan dengan terbitnya matahari, kehidupan telah pula dimulai. Para lelaki akan menikmati secangkir kopi sambil menunggu jajanan lewat di jalan; kue mangkuk, kue talam, godok ubi, onde-onde, goring ubi-talas-pelo. Dan menjadi kebiasaan, pagi-pagi warung dan lepau hanya diisi oleh para perempuan. Belanja keperluan dapur, dan kudapan kecil pengisi perut. Maka ramailah pondok kecil Tek Sidar dikunjungi ibu-ibu dan para dara.

Orang fasih mengingat yang nikmat. Lontong Tek Sidar salah satunya. Kalau untuk penganan dan makanan kecil teman ngopi, orang-orang akan diingatkan dengan gorengan Mak Sahar yang dijajakan Rudi dan Aci, anak mereka, sebelum berangkat sekolah. Jika haus, mereka akan diingatkan pada es cincau buatan Pangulu Lutin. Begitulah orang-orang kampungku, begitu fasih dengan sesuatu dan bertahan dengan apa yang diketahuinya itu. Serupa sawah-ladang tak ada yang berkehendak mengganti pekerjaan yang mereka kenal sejak mereka kecil dulu.

Dulunya Tek Sidar bukanlah penjual lontong seperti sekarang. Sebelum rumahnya dijual oleh mendiang suaminya ia dikenal sebagai pembuat kue talam yang paling andal. Anak-anaknya banyak dan berderet. Susun paku, kata orang-orang. Setiap pagi anak-anaknya akan berjualan kue talam, satu ke atas, bagi kami menyebut Utara, dan satu lagi ke lurah untuk menyebut Selatan. Selalu saja, setiap ada yang tumbuh besar dari anak-anaknya akan ada yang menggantikan kakaknya berjualan.

Suaminya adalah mantan veteran. Panungkek gelar suaminya. Sewaktu SDSB sedang marak, dialah yang menjadi bandar di daerahku. Bandar besar. Tapi keberuntungan tak jua mengubah hidupnya. Rumah dan segala perabotannya, tanah yang mereka punya, satu per satu lenyap. Tek Sidar membanting setir, jualan.

Setelah suaminya meninggal, ia menjual rumah dan tanahnya, lalu mencari lahan yang agak sempit di Selatan kampung, tak terlalu jauh dari rumahnya yang dulu. Tanah itu dulu bekas kuburan masal. Entah waktu PRRI, entah zamannya pe-ka-i. Untuk yang satu ini, kepala orang-orang kampungku terlampau bebal. Atau barangkali kedua peristiwa itu sama saja bagi mereka, sebab sama-sama ada yang dibunuh? Entah!

Yang aku ingat, dulu ketika kami pulang mengaji di rumahnya Ayek Tengkak yang terletak di ujung kampung dan pulangnya kami harus melewati hamparan tanah kosong yang kini ditempati Tek Sidar itu. Tidak ada yang berani berjalan sendiri-sendiri. Terlalu banyak cerita yang didengungkan orang-orang. Tentang sepeda yang tiba-tiba memberat dan ketika ditengok ke belakang sudah ada sesosok tubuh asing di boncengan. Atau cerita tentang pocong yang berdiri kaku di sisi polongan atau menyembul di antara pohon sagu. Sampai aku remaja, sebelum keluarga Tek Sidar pindah ke lahan baru itu, tempat itu tetap saja begitu menakutkan buat siapa saja.

Tanah itu dibeli dengan harga murah. Dan Tek Sidar mulai membuat warung kecil di depan rumah. Jualan lontong. Demikianlah hampir bertahun-tahun lamanya, sampai kemudian di sisi kanan-kiri rumahnya telah berdiri rumah-rumah lain.

Seperti sudah menjadi garisan, semakin lama tanah rawa-rawa yang dulu sepi dan berhantu itu semakin ramai ditinggali. Satu dua tetangga mulai membuka warung kopi, warung rokok, nasi uduk dan lontong juga. Apalagi tempatnya berdekatan dengan sekolah.

Sebagaimana kami hafal nikmatnya kue talam Tek Gadih, goreng pisang Mak Sahar, es cincau Pangulu Lutin, pecel Ujang Es, lontong Tek Sidar juga masuk dalam imaji kami. Makanan selalu berkaitan dengan pembuatnya.

***

Yeni, duhai nama itu melambung-lambungkan kami para anak muda. Siapa yang tidak kenal nama itu di kampung kecil yang bernama Ayie Tajun ini? Gadis cantik yang periang, yang menyapa kami dengan senyum setiap kali berkunjung. Sepasang lesung pipit di wajahnya yang selalu memerah, amboi, membangkitkan rasa yang paling rahasia.

Itulah awalnya kami mulai terbiasa mendatangi lepau yang berjarak beberapa rumah saja dari warung Tek Sidar itu. Tepatnya di seberang lepau Tek Sidar. Ibunya, Uni Rana, membuka warung rokok dan warung kopi di teras rumah. Sepulang sekolah Yeni akan menunggui warungnya sampai malam datang. Itulah saat-saat paling ramai. Warung tumpah ruah. Kami, anak-anak muda, entah kenapa selalu berkumpul di sini demi menikmati senyum maut sang gadis cantik.

Malam, warung diisi orang tua kami. Semula hanya ngopi dan berbagi kisah seputar sawah ladang, tentang tebat yang tak berair, bukit yang terpanggang, kemarau yang tahun ini agak panjang atau tentang padi yang dihinggapi wereng, sawah di Taratak yang tak berair, laut yang tak menjanjikan sampai baju Lebaran untuk anak istri. Semua tumpah jadi satu, mulai dari rantau tempat banyak orang menggantungkan harapan sampai peruntungan dan perasaian.

Entah siapa yang memulai, kartu-kartu mulai dibuka, batu domino mulai balakak dan dibanting, taruhan mulai dipasang. Sejak itu kampung kami seperti tak ada mati. Malam-malam menjadi menggeliat oleh gerutu dan asap rokok, oleh keluh dan gelak tawa. Kami mulai menyelinap diam-diam, menunggui orang-orang mengempaskan kartu, ikut berceloteh tentang balak enam, as skop, joker merah, kiu-kiu dan empat satu. Kemudian kami pun mulai belajar memegang kartu, menggantikan seseorang yang mau kencing, menyelipkan uang kemenangan di sela selangkang, dan di belakang menyusupkan di balik sarung. Tentu langkah yang paling manis untuk berhenti ketika menang dengan pura-pura mengeluh dan kehabisan uang. Kami juga belajar menyisip di kerumunan, menggantikan siapa yang kalah dan duluan pulang, ikut mengempaskan kartu, mengisap rokok, melontarkan sumpah jika kartu tiba-tiba mati, melempar kutuk di tengah malam.

Warung Angku Kaliang—ayah Yeni—menjadi besar dan luas, tak hanya rokok dan kopi dan mi rebus, juga kacang goreng dan topi miring. Malam-malam adalah waktu yang enak bagi kami, anak-anak muda, menghamburkan uang. Pagi adalah berkah bagi yang menang maupun kalah. Kami—anak-anak muda yang betah berjaga sampai pagi—bisa melihat Yeni keluar dari rumah dengan seragam sekolah. Memandang rambut basahnya dengan mata nyalang, menghirup aroma sabun mandi dan parfum murahan dari tubuhnya, sampai dia hilang di balik mobil angkutan. Setelah itu kami bergegas pulang. Pagi adalah waktu ibu-ibu dan anak gadis. Kami para bujang memilih tidur di pos ronda kalau tidak menginap di rumah salah satu teman.

Lantaran sering pulang pagi itulah, Uni Rana mulai menjual nasi uduk dan gorengan bagi perut yang keroncongan. Lalu juga berjualan lontong. Tentu kami merasa dimanjakan. Setelah merasa mendapat anugerah, melihat Yeni itulah, saat di mana menang kalah tak lagi perlu dipercakapkan, kami berebutan mentraktir kopi, mengunyah gorengan, dan memesan sepiring lontong sampai mata kami tak bisa berkompromi lagi.

Kami meninggalkan warung yang riuh oleh denting sendok piring.

Uh, masa yang menggairahkan. Sepanjang waktu kami habiskan di warung kopi. Sehabis bekerja di ladang, setelah mendapat upah kerja, kami mengempaskan kartu di warung kopi, melihat sepasang dada ranum Yeni, gadis seronok yang pandai menarik pelanggan. Kami mulai berkhayal, bagaimana kalau salah satu dari kami mendapat berkah memiliki Yeni gadis manis berlesung pipit si bunga desa itu. Ahai!

Sejak itulah kami mulai lupa lontong ternikmat yang pernah kami kenal. Karena waktu kami telah tak cukup mengingat hal-hal sederhana. Musim-musim hujan kami turun ke sawah, di hari terang kami memegang kartu, musim gelap, sebagian kami melaut, jika kemarau bertandang kami mengolah petak sawah menjadi ladang semangka. Ah, betapa murahnya hidup di sini, di kampung sendiri. Dan keletihan kami akan tergantikan begitu secangkir kopi terhidang di atas meja oleh gadis lesung pipit yang selalu ikhlas membagi senyum dan bertanya kabar. Ia memang pandai menghibur kami, jika ada kawan yang beberapa malam tak datang ke warung dia akan bertanya, dari mana saja? Dan tentu akan menambah-nambah sensasi saja.

Tak ada kisah yang melulu sama. Suatu malam beberapa hari sehabis Lebaran, sebuah truk berhenti di  pinggir jalan. Tak ada yang mau peduli, semua sibuk membanting kartu. Sampai kami tersadar telah dikepung oleh polisi. Semalaman kami menghabiskan waktu di kantor polisi kecamatan.

Pagi itulah kami disadarkan oleh hal-hal lain yang kami lupakan. Perut yang keroncongan sehabis ditanyai macam-macam, dihardik, disuruh push-up, bertelanjang, dan dimaki. Ketika matahari terbit, kami diantar sampai batas kampung. Lepau Angku Kaliang tutup setelah semalam didatangi polisi. Dan tuan rumah masih mendekam di sana. Uh, tak ada lontong dan makanan sekadar pengisi perut sepagi ini.

Tek Sidar? Ahai, aduh mengapa begitu alpa. Kami mempercepat langkah, tak sabar ingin menikmati kerupuk merah berderuk, bihun di atas kuah. Gulai pakis, jantung pisang atau cabadak sama saja. Lagi pula sudah berapa lama kami tak menikmati lontong Tek Sidar yang nikmat dan membikin kami ingin selalu nambah?

Astaga!! Betapa kami mulai banyak melupakan peristiwa. Pondok kecil itu sudah doyong. Atapnya sudah lama bolong, tiangnya miring dan dimakan anai-anai, bangkunya berwarna hitam termakan jamur. Tak ada lontong, tak ada Tek Sidar. Perempuan setengah tua itu memilih merantau ke Malaysia, menjadi pekerja kasar di negeri orang, setelah kami—para pelanggannya, tak pernah datang.

Aduh, betapa banyak peristiwa selain Yeni dan kartu remi. Kami mulai melempar kutuk di pagi buta itu. Pada apa saja…. (*)

 

 

Rumahlebah, 06-11

 

Advertisements