Kelak Einstein di Surga atau Neraka?


Oleh Setta SS (Eramuslim, 18 Mei 2009)

PERTENGAHAN bulan November 2005. Bertepatan dengan pencanangan Tahun Fisika Internasional dan peringatan 100 tahun munculnya teori fotoelektrik Einstein yang ditetapkan UNESCO, serta menyambut Tahun Ilmu Pengetahuan Internasional 2006, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengundang salah seorang dari tiga pemenang Nobel Fisika tahun 1996: Douglas Dean Osheroff. Untuk berceramah dan berdialog dengan para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu di negeri kita.

Osheroff adalah seorang profesor fisika dan fisika terapan di Stanford University yang “tidak sengaja” bersama dua koleganya, pada tahun 1972, mendapati bahwa satu dari dua isotop helium yakni helium-3, dapat dijadikan supercair (superfluiditas) pada suhu hanya sekitar dua per seribu di atas nol mutlak.

Pada perkembangan selanjutnya, Osheroff tercatat sebagai penggagas utama teknologi kriogenik. Yaitu fisika terapan kontemporer yang termasuk jajaran teknologi paling sophisticated abad ini. Memanfaatkan cara pendinginan di bawah suhu nol derajat celcius, kriogenik telah mengantar manusia pada kemampuan-kemampuan luar biasa, seperti misalnya menangkap cahaya. Cahaya yang memiliki kecepatan luar biasa itu (~ 3×10^8 meter per detik) dapat diperlambat pergerakannya lewat mekanisme pendinginan kriogenik, lalu “ditangkap” ke dalam sebuah wadah. Juga menciptakan bank sperma dan aplikasi teknologi kriogenik pada proses pencairan gas alam (LNG).

Teknologi kriogenik juga sangat diperlukan untuk menghasilkan hidrogen cair yang digunakan untuk fuel-cell. Salah satu kandidat sumber energi alternatif unggulan masa depan pengganti bahan bakar fosil.

Saat itu, saya berdiskusi dengan seorang kawan yang kebetulan menghadiri langsung ceramah sang Nobelis. Tentu, kami tidak hanya membahas tentang hasil kerja kerasnya di laboratorium semata. Juga tentang fakta bahwa ternyata di usianya yang ke-60 saat itu, pada sosok fisikawan kelahiran Aberdeen, Washington, berdarah Rusia dan Slovakia keturunan Yahudi itu tidak pernah terlintas di pikirannya untuk memiliki anak.

“Tidak. Tidak memiliki anak membuat orang tetap muda. Karena memiliki anak membuat orang harus bertanggung jawab. Padahal saya sering kali harus berada di laboratorium sampai dini hari. Begitu juga istri saya—Phyllis Liu, ilmuwan Biokimia, yang harus bepergian ke berbagai kota di Amerika sampai berhari-hari. Saya rasa, kalau kami jadi orang tua, istri saya akan menjadi ibu yang sangat disiplin. Sedang saya akan menjadi bapak yang terlalu memanjakan,” begitu alasannya saat menjawab pertanyaan, “Apakah Anda memiliki anak?” yang dilontarkan seorang pewawancara dari sebuah surat kabar nasional.

Diskusi kami merembet ke fisikawan lain. Yaitu ilmuwan nyentrik, yang lagi-lagi juga seorang Yahudi, Albert Einstein. Pendiri Universitas Hebrew, Jerusalem, dengan teori-teori ilmiahnya di bidang fisika teoretis yang sangat fenomenal itu. Hingga salah satunya mengantarkannya meraih Nobel Fisika 1921 untuk penyelidikannya tentang hukum efek fotoelektrik.

Dan di akhir diskusi kami, saya melontarkan sebuah pertanyaan usil tentang ilmuwan yang mempunyai tiga kewarganegaraan (Jerman, Swiss, dan Amerika) dan juga menulis karya non-sains berjudul About Zionisms, 1930, ini.

“Banyak fisikawan menuhankan Einstein karena jasa-jasanya. Kelak ia di surga atau neraka?” tanya saya waktu itu.

Tidak sampai lima menit, kawan saya itu menjawab diplomatis dengan mengutip pendapat beberapa pakar muslim, “Surga atau neraka adalah otoritas Allah. Teori Einstein bisa menjelaskan relativitas waktu perjalanan Nabi pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj dengan buroq. Ilmu modern secara akal bisa diterima dan membenarkan Al-Qur’an.”

Saya hanya diam dan mencoba memaknai apa yang diutarakannya itu tanpa berniat untuk mendebatnya. Dan diskusi kami berakhir sampai di situ.

***

Pekan lalu di forum liqo’at—belajar agama dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari 5-10 orang. Saat membahas tentang tiga amalan yang akan terus mengalirkan pahala bagi pelakunya, salah satunya ialah ilmu yang bermanfaat, pertanyaan senada dengan redaksi yang berbeda kembali mencuat dari bibir saya.

Dengan definisi ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang secara aplikatif berguna bagi umat manusia dan membawa perubahan-perubahan ke arah positif dan kebaikan. Saya mengambil contoh sosok yang lebih mudah untuk dibayangkan berkaitan dengan hasil penemuannya yang sangat bermanfaat bagi umat manusia dewasa ini.

Thomas Alva Edison, si penemu bola pijar. Bagaimana wajah dunia saat ini di malam hari jika saja bola lampu tidak “diciptakan” olehnya? Atau George Brayton, penggagas pertama siklus Brayton yang kini digunakan pada turbin gas untuk “menerbangkan” pesawat di angkasa. Juga para pionir jaringan nirkabel yang membangun piranti untuk menghubungkan tempat-tempat di ujung dunia tanpa ada eliminasi waktu sedikitpun.

“Coba buka surat Ibrahim [14] ayat 18,” jawab ustad kami kalem.

“Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka ibarat abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”

Tiba-tiba terlintas rasa kasihan diam-diam pada mereka—para ilmuwan jenius yang ingkar kepada Tuhannya (baca: bukan seorang Muslim), menyelusup di sanubari saya membaca vonis di atas. Namun juga tak bisa digambarkan, betapa bersyukurnya ketika menyadari diri ini termasuk orang-orang yang dapat merasakan indahnya hidayah Islam, yang ternyata begitu mahal eksistensinya.

Kini, setidaknya saya mempunyai alternatif jawaban sendiri untuk pertanyaan pada kawan saya dua tahun silam itu.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” ( Q.S. Ali ‘Imran [3] : 8 )

Allahu a’lam bish-shawab. (*)

 

 

Yogyakarta, 16 Juni 2oo7 o3:51 a.m.

 

Sekilas tentang karya-karya Einstein

Tahun 1905 adalah tahun penuh prestasi bagi Einstein karena pada tahun ini ia menghasilkan karya-karya yang cemerlang.

Maret, paper tentang aplikasi ekipartisi pada peristiwa radiasi. Tulisan ini merupakan pengantar hipotesa kuantum cahaya dengan berdasarkan pada statistik Boltzmann. Penjelasan efek fotoelektrik pada paper inilah yang memberinya hadiah Nobel pada tahun 1921.

April, desertasi doktoralnya On a New Determination of Molecular Dimensions tentang penentuan baru ukuran-ukuran molekul. Einstein memperoleh gelar Ph.D-nya dari Universitas Zürich.

Mei, papernya tentang gerak Brown.

Juni, papernya yang tersohor, yaitu tentang teori relativitas khusus, dimuat Annalen der Physik dengan judul Zur Elektrodynamik bewegter Körper (Elektrodinamika benda bergerak).

September, kelanjutan papernya bulan Juni yang sampai pada kesimpulan rumus termasyhurnya E = m.c^2, yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E). c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik ~ 3×10^8 meter per detik).

Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Dimana satu gram massa setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3000 rumah berdaya 900 watt selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya.

Kurang lebih seperti ini perhitungannya:

E = m.c^2 = 0,001 kg . (3×10^8 m/s)^2 = 9×10^13 kg.m^2/s^2 = 9×10^13 watt.detik

Setara dengan = (3000 rumah) . (900 watt) . (365 x 24 x 3600 detik) = 8,5 x 10^13 watt.detik.

Jika satu tahun dimisalkan 365 hari. Berarti tepatnya cukup untuk memasok kebutuhan listrik 3000 rumah berdaya 900 watt selama 385,8 hari atau setahun lebih 20,8 hari.

Tahun 1909, Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zürich. Tahun 1915, ia menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Selain itu, Einstein juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu.

Meskipun demikian, Einstein sempat menangis pilu dalam hati karena karya besarnya—teori relativitas umum dan khusus, digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.

 

No offense. Sekadar sebuah renungan tentang nasib masing-masing kita di yaumul Akhir kelak.

Link diskusi di note facebook ada di sini.

 

 

7 Responses

  1. Salam hangat.
    Suka sekali bahasan teoritik para pembaharu kehidupan fana yang menjadikan fana modernis dunia. Saya pribadi adalah insan yang takjub pada fenomena alam, terkhusus lagi fenomena yang ilmunya ditemukan oleh orang yang telun meneliti guna memajukan peradaban insani. Saya tak akan membahas masalah yaumul Akhir, karena devinisi hal itu amat rekat pada pandangan pribadi seseorang terhadap keyakinannya memeluk agama(Allahu a’lam bish-shawab). Tentu saja saya akan memberikan sedikit komentar tentang individu-individu kreatif dalam kegigihannya menemukan ilmu pengetahuan yang di temukan oleh manusia pekerja keras, ulet, intelek dan teguh pada profesi penelitian. Dari macam ras manusia, lintas agama, bermacam pola pikir,aspek psikologis, dan kepribadian individu(jahat/baik) yang memotivasinya untuk memajukan peradaban manusia. Mulai zaman batu hingga zaman telematika serta informatika. Kadang pun tak bisa dipungkiri motivasi perang mendorong penciptaan senjata mutakhir yang amatlah canggih, jadi ilmu pengetahuan bisa memakan dua aspek: menciptakan kemajuan peradaban atau menghancurkan peradaban itu sediri. Jasa para ilmuan dalam penemuannya tetaplah dikenang, ditelusuri dan diaplikasikan ke progres yang lebih mutahir lagi guna mencapai titik peradaban manusia yang paling tinggi.

    Satu yang perlu diingat adalah tentang filosofi ringan yang tentu saja beberapa kitab suci menorehkannya : Sesuatu yang hidup(bernyawa) pasti akan mati. Pandangan demikian yang mendorong manusia(unsur hidup yang cerdas) berfikir tengtang hari setelah kematian kelak, dan seperti apakah jalan kehidupan setelah kematian tak ada satu pun yang tahu, karena disini sangat berperan seberapa besar tingkat iman terhadap agama dalam mempercayai hari setelah kematian. Nah, saya punya korelasi pandangan bahwa ilmu pengetahuan pun tak dapat secara teoritis menjelaskan tentang hari setelah kematian.

    Jadi hemat saya, semua penemu yang berjuang dalam memajukan peradaban manusia adalah satu karakter manusia yang Tuhan limpahi keajaiban pemikiran, begitu juga para nabi, rosul dan pemuka agama yang Tuhan berikan keajaiban pemikiran dalam mencerahkan wajah dunia dan menciptakan dunia yang lebih baik lagi dari berbagai stuktur ahklak, ilmu sain, muhasabah(kemasyarakatan/sosial), dan iman kepada Tuhan.

    Saya suka sekali artikel Saudara Setta ini, begitu mencerahkan dan mengingatkan saya.

    Sukses dan mencerdaskan selalu.

    Like

  2. Kelak Setta SS di surga atau neraka?

    Like

    • Sebelum saya jawab, kelak Miftahrahman Makruf di surga atau di neraka?

      Like

  3. Kenapa melempar pertanyaan Mas? Enggak bisa jawab?

    Like

    • Klarifikasi saya sudah lengkap ada di “Link diskusi di note facebook” pada kata paling akhir artikel di atas. Makanya yang jeli jika membaca! Jika belum punya account di facebook, buatlah dulu jika ingin membacanya.

      Like

  4. Apa bedanya diskusi di sini dengan di facebook? Lagian Mas hanya menuliskan ‘Link diskusi di note facebook ada di sini’, sekadar untuk menunjukkan ada diskusi tentang tulisan ini di facebook, bukan meminta untuk mendiskusikan tulisan ini di facebook, benar begitu? Kalau tidak ingin ada diskusi, kenapa mesti membuka kolom komentar di sini?

    Ngomong-ngomong, apa susahnya menjawab pertanyaan saya itu. Kalau Mas sudah bisa memikirkan surga nerakanya orang lain, pasti Mas bisa jawab pertanyaan saya itu, kelak Mas Setta SS di surga atau neraka?

    Oh iya, komentar saya di artikel ‘When Silent is Gold’ kok nggak ditampilkan?

    Like

    • Saya HARUS masuk surga! Itu adalah cita-cita tertinggi saya. Tidak perlu saya tampilkan komentarmu di sana karena topik komentarmu ada di artikel ini kan?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: