Archive for February, 2011

Pertengkaran-pertengkaran Kecil
February 27, 2011


Oleh Setta SS (Antologi Apology and Forgiveness, 2011)

Sobat/rangkaian masa yang tlah terlewat/membuat batinku menangis/mungkin karena egoku/mungkin karena egomu/maaf, aku buat begini/maaf, aku begini/ [1]

***

MENGACU pada kitab kumpulan watak Personality Plus (Kepribadian Plus) karya fenomenal Florence Littauer, yang merupakan rangkuman hasil mengajar dan memberikan penyuluhan selama bertahun-tahun, saya membuat kesimpulan sendiri bahwa saya memiliki kecenderungan dominan termasuk pada kelompok tipe kepribadian Melankolis Sempurna. (more…)

Racun untuk Tuan
February 27, 2011


Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 27 Februari 2011)

BERANDA berbentuk setengah lingkaran, dan seorang perempuan kecil di hadapanku. Sudah ratusan kali aku duduk di beranda ini bersamanya. Biasanya mulai pukul lima, sepulangku dari kerja. Persis seperti saat ini. Ia akan datang dengan kopi serta kudapan dalam toples. Lalu kami bercakap sedikit tentang peristiwa hari itu, atau sekadar termangu menatap kaki bukit, memerhatikan galur-galur ladang tembakau yang tampak seperti permukaan kasur berwarna hijau tua. Pemandangan luar biasa yang tak pernah kujumpai di tanah kelahiranku. Namun karena sejak pagi berkutat di tengah ladang tembakau, seringkali aku lebih tertarik membenamkan diri di balik lembaran koran. (more…)

Percakapan di Serat Lontar
February 27, 2011


Cerpen Muhammad Amin (Suara Merdeka, 27 Februari 2011)

HALIMUN menipis. Air laut menyurut memperlihatkan bebatuan karang yang mendatar di sepanjang tepian pantai. Sinar keemasan jatuh pada ujung dedaun. Berpendar pada riak-riak jernih air yang tenang. (more…)

Lontong Tek Sidar
February 27, 2011


Cerpen Indrian Koto (Jawa Pos, 27 Februari 2011)

SEMUA orang di kampungku tahu kalau lontong buatan Tek Sidar paling nikmat dan enak. Tak ada tandingannya. Ketupat dengan beras baru akan menerbitkan selera siapa saja yang menciuminya. Jika banyak orang membikin nasi lontongnya dengan membungkus beras dengan plastik, Tek Sidar selalu membikin ketupat dengan pucuk daun kelapa. Gulainya pun akan menitikkan air liur siapa saja. Kalau tidak gulai cabadak, gulai pakis dicampur ikan teri pun jadi, sesekali ia memanjakan selera kami, para pelanggannya, dengan jantung pisang. Di atasnya ditaburi sedikit mihun atau ditambah taburan kerupuk merah. (more…)

Kambing
February 27, 2011


Cerpen Siti Sa’adah (Republika, 27 Februari 2011)

PAGIKU geger. Kambing yang kubeli satu minggu lalu untuk kukurbankan pagi ini hilang. Sempat terpikir mungkin kambing itu sudah diantar bapak ke masjid sebelum shalat Idul Adha dilaksanakan. Tapi, masa bapak tidak memberi tahu aku yang telah sabar menabung agar bisa membeli kambing kurban itu? (more…)

Pemburu Air Mata
February 27, 2011


Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 27 Februari 2011)

BUAT penggemar matahari, malam selalu menakutkan. Karena hanya pada malam, semua kayalan tentang iblis dan hantu memiliki tempatnya. Malam entah kenapa selalu mampu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat. (more…)