Perempuan Tua dalam Rashomon


Cerpen Dadang Ari Murtono (Kompas, 30 Januari 2011)

PEREMPUAN itu berjongkok di antara mayat-mayat yang hampir membusuk dalam menara Rashomon. Perempuan yang tua, berbaju kecoklatan, bertubuh pendek dan kurus, berambut putih dan mirip seekor monyet. Dengan oncor dari potongan kayu cemara di tangan kanannya, perempuan itu memandangi wajah sesosok mayat. Mayat seorang perempuan dengan rambut panjang.

Bagaimana bisa ada tumpukan mayat dalam menara Rashomon, baiknya kuceritakan dulu. Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak poranda.

Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun—kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.

Perempuan itu sebatang kara, tak mempunyai keluarga. Perempuan itu tak menikah sebab tak ada lelaki yang ingin menikah dengan perempuan berwajah buruk seperti monyet. Apalagi ia bukan seorang kaya atau turunan bangsawan. Dulu, ia bekerja sebagai pelayan di rumah bangsawan Kyoto. Bertahun-tahun ia bekerja dengan baik dan tak pernah mengeluhkan gaji yang terlalu sedikit. Majikannya menyayanginya. Ia merasa bahagia. Dan sepertinya tak bakal ada alasan bagi majikannya untuk memberhentikannya. Ia sudah seperti keluarga saja dengan keluarga majikannya. Karena perlakuan seperti itulah ia tak terlalu bersedih sewaktu bapak ibunya meninggal terkena wabah penyakit.

Namun ia keliru. Kondisi Kyoto pada waktu seperti ini mengalami kemunduran yang teramat cepat. Dan majikannya yang baik itu juga merasakan dampak kemunduran itu. Majikannya memecatnya. Majikannya bilang tak mampu lagi membayar gajinya yang tak banyak dan memberinya makan. Majikannya tak sekaya dan sebaik yang ia sangka ternyata. Kemudian ia pergi dari rumah majikannya. Dan karena ia tak mempunyai sanak famili untuk menumpang tinggal, juga rumah orangtuanya yang sempit telah lama dijual untuk biaya pengobatan mereka, maka ia melantung, tidur di emper rumah penduduk atau meringkuk di relung-relung reruntuhan bangunan yang banyak terdapat di seantero Kyoto bersama pencoleng dan orang-orang buangan.

Awalnya ia kebingungan bagaimana bekerja dan mendapat uang untuk menopang kehidupannya. Ia tak punya keahlian apa-apa selain menyiapkan teh dan membikin sushi, menyapu rumah dan mencuci pakaian. Ia tahu, tak bakal ada yang mau menerimanya sebagai pelayan. Semenjak krisis berkepanjangan ini, orang-orang kaya tak lagi mencari pelayan baru, sebagian besar malah memecat pelayan mereka. Dan para istri saudagar atau bangsawan mesti belajar menanak nasi, membersihkan rumah dan merawat kebun. Krisis berlangsung terlalu panjang dan menimbulkan akibat yang teramat hebat. Pemecatan perempuan tua itu dan pelayan-pelayan lainnya barangkali hanya sekadar riak kecil saja dari kemunduran itu.

Dalam kebingungan seperti itu, perempuan tua itu berpikir untuk menjadi pencuri. Ia kelaparan. Daripada mati kelaparan lebih baik ia mencuri. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menopang hidupnya selain dengan mencuri. Namun belum sempat menjalankan pikiran itu, kesadarannya timbul. Tubuhnya sudah lemah dimakan usia, ia tak bakal bisa berlari cepat menyelamatkan diri bila terpergok pemilik rumah. Ia akan mudah tertangkap dan menjadi bulan-bulanan penduduk Kyoto. Itu akan sangat memalukan. Memang, seringkali rasa malu lebih penting dari perut yang kelaparan.

Hingga pada suatu ketika, ia sampai di Rashomon. Dengan menaiki beberapa anak tangga, ia menuju menara yang teduh untuk beristirahat. Alangkah terkejut ia dan hampir saja semaput demi dilihatnya dalam menara itu bertumpuk mayat-mayat. Sebagian mayat-mayat itu berpakaian, sebagian lagi telanjang. Sebagian mayat laki-laki dan sebagian lagi perempuan. Mayat-mayat itu berserakan dan bertumpuk di lantai, serupa boneka-boneka dari tanah. Ada yang mulutnya menganga dan tangan terentang. Sulit baginya membayangkan bahwa mayat-mayat mengerikan itu pernah hidup sebelumnya.

Perempuan tua itu nyaris berlari balik ke arah darimana ia datang, ke jalan yang tadi ia tempuh. Namun secepat ia berbalik badan, secepat itu pula terbersit pikiran untuk mendapatkan uang dari mayat-mayat itu. Barangkali di saku baju mayat-mayat yang masih berpakaian ada barang berharga yang tertinggal, barang berharga yang bisa dijual. Tapi mayat-mayat itu adalah mayat buangan. Bagaimana bisa ada barang berharga dari mayat-mayat semacam itu. Tentu orang yang membuang mayat-mayat itu telah lebih dulu mengambilnya.

Namun ia menemukan ide yang lebih cemerlang. Dulu, sewaktu masih kanak-kanak, bapaknya pernah mengajarinya membuat cemara palsu dari bahan rambut. Itu bisa dijual. Dan kini di hadapannya, tersedia banyak sekali rambut untuk membuat cemara. Rambut mayat-mayat itu. Ia tinggal mencabutinya. Kemudian ia putuskan untuk tinggal dalam menara itu, tidur bersama tumpukan mayat-mayat itu.

Senja ini, hujan mengguyur Kyoto. Perempuan tua itu tak peduli. Ia merasa nyaman dan terlindung dalam menara itu. Tadi siang seseorang melempar mayat baru ke dalam menara itu. Mayat perempuan dengan rambut panjang yang lembut, perempuan yang seperti ia kenal, atau paling tidak pernah ia jumpai, hanya saja ia tak tahu persisnya di mana dan kapan. Ia tak tahu kenapa wanita itu mati dan dibuang ke dalam menara. Tak ada bekas luka di tubuh mayat itu, karena itulah ia menyimpulkan perempuan itu meninggal karena wabah penyakit. Tapi itu tak menjadi pikiran yang penting dan perlu berlama-lama direnungkan. Ia juga tak peduli siapa yang membuang mayat perempuan itu. Yang penting baginya adalah sesegera mungkin mencabuti rambut di kepala wanita itu untuk membuat cemara.

“Alangkah bagus rambut ini. Tentu bakal jadi cemara yang bagus dan berharga mahal nantinya,” bisiknya pada diri sendiri.

Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya. Pada waktu itulah, ia teringat siapa perempuan yang kini menjadi mayat dan tengah ia cabuti rambutnya itu.

Ia terlalu bersemangat mencabuti rambut mayat itu sampai tak tahu bahwa sedari tadi seseorang tengah mengamatinya. Seorang Genin, samurai kelas rendah. Genin itu tiba-tiba saja melompat dari tangga. Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.

Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel. “Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri. Ia masih meronta-ronta dengan hebat. Namun sehebat apa pun rontaan dari tubuhnya yang lemah, tetap saja tak mampu membuatnya lolos dari cengkeraman Genin itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”

Genin itu melepaksan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya. Genin mengerti perempuan tua itu tengah ketakutan.

“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

“Aku mencabuti rambut. Aku mencabuti rambut untuk membuat cemara.”

Genin itu merasa kecewa dan kaget dengan jawaban sederhana dan di luar dugaannya itu.

Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya, memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan hering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”

Genin menyarungkan pedangnya kembali. Ia mendengar ocehan perempuan tua itu dengan dingin. “Kau yakin begitu?” tanyanya dengan nada mengejek ketika perempuan itu telah selesai bicara. Lalu sambil mencengkeram leher baju perempuan itu, ia berkata geram.

“Kalau begitu, jangan salahkan aku bila aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tak melakukannya.”

Dengan kasar, lelaki itu merenggut pakaian si perempuan tua, menarik tangan dan menyepak tubuh ringkih itu hingga jatuh menerpa tumpukan mayat-mayat. Dengan mengempit pakaian hasil rampasan, Genin itu menuruni tangga dan hilang di ujung jalan.

Beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang sakit karena ditendang dan jatuh tadi. Ia memandang jasad-jasad itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia bergumam, “Alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar, dengan perkara duniawi.”

Pada waktu itu, ia ingin menjadi mayat. Terlentang di tempat itu. Tak lagi berpikir apa-apa. Tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya. (*)

 

 

Minggu, 06 Februari 2011, Kompas secara resmi mencabut cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon di atas karena disinyalir merupakan PLAGIARISME dari cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke

“Setelah melakukan pengkajian dan menimbang berbagai masukan, cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon tulisan Dadang Ari Murtono, yang dimuat Kompas Minggu (30/1), dinyatakan dicabut dan tidak pernah termuat dengan berbagai alasan.”

9 Responses

  1. ironis, miris, kok bisa KOMPAS nggak punya pengetahuan tentang daftar cerpen setiap minggu dr berbagae media?
    kasian sekali nasib cerpensi yang ngatrinya sampe syok saking lamanya gak dimuat2.

    Like

  2. black list saja penulisnya dari semua media

    Like

  3. kok bisa kompas kecolongan? apalagi media lain ya?

    Like

  4. PLAGIAT RASHOMON
    Oleh Sungging Raga

    Saya di sini cuma melanjutkan bukti-bukti plagiat Dadang Ari Murtono terhadap karya Akutagawa yg berjudul Rashomon, saya sendiri belum sempat membuat esai, tapi sebagai soft opening, saya memint…a teman dekat saya yg kebetulan juga teman dekat Dadang untuk bertanya via sms, dan Dadang mengirimkan sms balasan kepada teman dekat saya itu, lalu teman saya ini lantas menerjemahkan sms Dadang yg berbahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia kepada saya yg isinya seperti ini:

    “maaf ya, aku gak peduli orang bilang apa. menyelesaikan? gimana? apa aku harus datang keorang orang seluruh indonesia satu persatu buat jelasin masalahnya? lha masalahnya apa? aku gak merasa punya masalah. terserah orang mau bilang apa. lha redakturnya aja nyantai kok, gak anggap plagiat kok. ya memang aku diam soalnya aku gak merasa ada apa-apa.”

    berikut ini sedikit bukti2nya antara Cerpen Dadang di Lampung Post & buku Akutagawa yg diterbitkan KPG

    oya, ternyata cuplikan utuh Rashomon versi Akutagawa bisa dilihat di google books:

    http://books.google.co.id/books?id=IL2M2djhQmoC&printsec=frontcover

    =====

    Cerpen Dadang:

    Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.

    Halaman 2 Akutagawa:

    Kota Kyoto sesepi itu karena beberapa tahun silam didera bencana beruntun, mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Karena itu Kyoto jadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Karena kondisi Kyoto seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, juga para pelonceng, memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Akhirnya, lazim membawa dan membuang mayat tak dikenal ke gerbang itu. Karena bila senja telah tiba suasana menjadi menyeramkan. Tidak ada orang yang berani mendekat.

    ========

    Cerpen Dadang:

    Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.

    Halaman 7 Akutagawa:

    Perempuan tua itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat yang sejak tadi dipandanginya. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai, persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.

    =======

    Cerpen Dadang:

    Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.

    Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

    “Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri.

    Halaman 8:

    Sambil menggenggam gagang pedang ia menghampiri nenek tua itu dengan langkah lebar.

    Sekilas ia melihat ke arah Genin. Dan saking kagetnya seketika itu pula iaterlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

    “Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin seraya mencengkeram tangan si nenek yang bermaksud melarikan diri,

    ======

    Cerpen Dadang:

    “Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya.

    Halaman 8:

    “Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepaskan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata si nenek. Tapi, nenek tua itu tetap bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya,

    ======

    Cerpen Dadang:

    “Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

    Halaman 9:

    “Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apapun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

    ========

    Terakhir, yg sudah sempat di-paste Bung Bamby:

    Cerpen Dadang:

    Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempua…n yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”

    Halaman 9 – 10:

    “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati mungkin bagimu merupakan kejahatan besar. Tapi, mayat-mayat yang ada di sini semuanya pantas diperlakukan seperti it…u. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasanya menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannnya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawal katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tidak dapat disalahkan, karena kalau tidak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat memahami pula apa yang kulakukan sekarang ini.”

    Like

  5. TANGGAPAN ATAS POLEMIK CERPEN “PEREMPUAN TUA DALAM RASHOMON”
    Oleh Dadang Ari Murtono (15 Desember 2010)

    Tulisan ini merupakan pembelaan Dadang Ari Murtono atas tuduhan plagiasi setelah cerpen itu dimuat di Lampung Post, 5 Desember 2010. Cerpen yang sama kemudian dimuat di Kompas, 30 Januari 2011. Maka, selain tuduhan plagiasi, kini ada masalah lain, yakni pemuatan ganda.
    —–

    Sungguh, saya tak ingin membuat tulisan ini sebenarnya meski saya tahu kalau polemik berkaitan dengan hal ini, berkaitan dengan cerpen saya Perempuan Tua dalam Rashomon yang terbit pertama kali di harian Lampung Post hari minggu tanggal 5 Desember 2010 kemarin terus berkembang lewat situs jejaring sosil facebook (dan barangkali juga melalui beberapa media massa cetak). Saya ingin membiarkannya saja sebenarnya. Selain karena saya jarang menggunakan situs jejaring sosial itu, alasan lain yang lebih penting adalah karena saya sesungguhnya telah pula menjelaskan permasalahan ini dalam cerpen itu sendiri dan dalam catatan kecil yang menyertainya. Namun desakan beberapa kawan yang mengikuti polemik ini dari mulai mencuat hingga hari ketika tulisan ini saya buat, membuat saya tak kuasa terus mengelak.

    Saya tidak hendak menjawab dan menjelaskan satu per satu tuduhan plagiatisme yang dialamatkan beberapa kawan atas cerpen saya itu. Sebab sesungguhnya saya telah menjawabnya. Dalam catatan kecil yang menyertai cerpen itu, telah saya jelaskan bahwa cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon bersumber dari cerpen Akutagawa Ryunosuke yang berjudul Rashomon. Penjelasan tentang istilah Rashomon itu sendiri pun telah saya terangkan yang merujuk persis pada terjemahan kumpulan cerpen Akutagawa Ryunosuke berjudul Rashomon hasil kerja Bambang Wibawarta yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, cetakan pertama tahun 2008. Jadi, tanpa ada satu pun yang mengata-kaitkan cerpen saya itu dengan cerpen Rashomon Akutagawa pembaca sudah akan mengetahuinya melalui keterangan yang saya cantumkan.

    Inti dari cerpen saya sendiri adalah upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan terlalu berlebihan – cerpen Akutagawa ke konteks pemaknaan dunia sekarang ini yang saya yakini kebenarannya. Seperti inilah idenya: merubah sudut pandang yang dipakai Akutagawa tentang kehidupan itu sendiri, tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya.

    Mari kita pelajari cerpen Akutagawa itu.

    Akutagawa menghadirkan tokoh utama yang sakit, tokoh yang kecewa dengan kondisi sosial yang berubah teramat cepat di sekitarnya. Kondisi yang membuatnya menjadi gelandangan, lontanglantung, terdampar di Rashomon, gerbang dengan menara yang menjadi tempat pembuangan mayat. Akutagawa menyelesaikan perkara-perkara itu dengan tindakan merenggut pakaian perempuan tua yang membuat cemara dari rambut mayat-mayat yang berserakan di sana. Tindakan itu diakhiri dengan perginya Genin itu, pergi dengan membawa pakaian yang ia renggut.

    Apa yang bisa kita ambil dari akhir cerita seperti itu? Adalah sebuah harapan, adalah sebuah kemenangan. Genin itu pergi dengan membawa harapan bahwa ia akan dapat bertahan hidup – entah berapa lama – dengan kondisi sosial yang demikian kacau. Genin itu pergi dengan membawa kemenangan atas perempuan tua yang bahkan kondisi fisiknya digambarkan demikian jelek itu.

    Dalam kondisi mutakhir seperti sekarang ini, hal itu seakan menemukan pembenarannya. Dalam kondisi yang susah dan semrawut seperti sekarang ini, Genin itu adalah perwujudan mereka yang berkuasa – dilambangkan dengan samurai yang ia bawa – berkuasa dan menindas – paling tidak berkuasa atas perempuan tua itu yang saya tafsirkan berada dalam dasar rantai kekuasaan, dasar rantai makanan kekuasaan – orang-orang yang dikuasainya. Namun Akutagawa juga memberi harapan perempuan tua itu dengan menuliskan, “tubuh telanjang nenek tuan yang roboh seperti orang mati itu baru bisa bangkit dari onggokan mayat-mayat beberapa saat kemudian. Sambil menggerutu dasn mengerang ia merangkak mencapai mulut tangga dibantu cahaya obor yang masih menyala. Dari tempat itu ia melongok ke bawah gerbang dengan ubannya yang pendek menjuntai”.

    Mari kita perhatikan kata-kata “bangkit” dan “cahaya obor”. Tidakkah itu simbol harapan bagi perempuan tua yang dikalahkan itu? Dan pada titik inilah saya bersebarangan dengan Akutagawa. Titik inilah yang terus mendesak saya untuk menulis Perempuan Tua dalam Rashomon. Bagi saya (sekali lagi bagi saya) tidak ada lagi harapan bagi perempuan tua itu. Jika ia terus dipaksa berharap, maka ia akan terus menerus merasa sakit. Dan ini pulalah yang terjadi pada kebanyakan orang dewasa ini. Kebanyakan orang yang tak henti-henti dikalahkan pengambil kebijakan, dikalahkan penguasa namun terus dipaksa berharap. Maka yang terjadi adalah lamunan-lamunan kosong tentang mesiah, tentang satria piningit. Ya… inilah intinya.

    Pada titik ini pula saya menyelamatkan perempuan tua itu. Memberinya hak bicara. Karena itu saya menulis, “beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia menggumam, ‘alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar.’ Pada waktu itu ia ingin menjadi mayat, terlentang di tempat itu, tak lagi berpikir apa-apa, tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.”

    Yang bisa kita baca dari Rashomon dan Perempuan Tua dalam Rashomon adalah bila Rashomon lebih memberi suara pada Genin, lebih berpihak pada mereka yang menang dan berkuasa, maka Perempuan Tua dalam Rashomon lebih membunyikan mereka yang kalah, lebih berpihak pada mereka yang dikalahkan.

    Dan kenapa ada beberapa kalimat yang sama persis dalam Perempuan Tua dalam Rashomon dengan kalimat-kalimat dalam Rashomon adalah karena saya ingin menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon, agar dunia yang dibangun dalam Perempuan Tua dalam Rashomon tidak merusak apa-apa yang telah terbangun dalam Rashomon. Sebab ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Sebab ini perkara perlawanan dan keberpihakan.

    Seperti itulah saya menulis Perempuan Tua dalam Rashomon. Seperti itulah hal-hal yang saya yakini kebenarannya dan saya berpihaki. Dan bila di kemudian hari ada yang menganggap cerpen itu gagal, mengecewakan, sekadar menyalin atau apa pun, akan saya terima dengan legawa seperti juga akan saya sambut dengan senang hati bila ada yang dapat menyelam ke kedalaman ceritanya itu, menangkap apa-apa yang saya tebar di sana.

    Terimakasih.

    Dadang Ari Murtono, penulis cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon. Lahir dan tinggal di Mojokerto. Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

    Like

  6. SURAT UNTUK CERITA PLAGIAT DADANG ARI MURTONO DI KOMPAS
    Oleh Bamby Cahyadi

    Jakarta, 30 Januari 2011

    Kepada Yth.
    Redaktur Surat Pembaca KOMPAS (u.p. Redaktur Desk Non Berita Kompas)

    Salam Sejahtera,

    Saya sangat kecewa dengan cerpen yang dimuat di Kompas, 30 Januari 2011. Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon, yang ditulis oleh Saudara Dadang Ari Murtono, adalah cerpen PLAGIAT dari cerpen berjudul RASHOMON karya Akutagawa Ryunosuke.

    Cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke (cerpenis terbaik Jepang) ini, terhimpun dalam kumpulan cerita yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), pada Januari 2008 berjudul Rashomon.

    Saya tak perlu menyebutkan di mana letak Saudara Dadang memplagiat cerpen Rashomon, seharusnya Saudara Redaktur Desk Non Berita (Sastra/Cerpen), sangat tahu bahwa cerpen Saudara Dadang (Perempuan Tua dalam Rashomon), isinya sama dengan cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke, hanya paragraf dalam cerpen itu yang dipindah-pindah oleh Saudara Dadang.

    Saya kecewa kepada KOMPAS, karena selain cerpen tersebut (Perempuan Tua dalam Rashomon) sudah pernah dimuat di Lampung Post, pada 5 Desember 2010, kenapa pula cerpen PLAGIAT itu bisa lolos dan dimuat di Kompas Minggu, 30 Januari 2011. Padahal cerpen Dadang ini, sempat membuat polemik masalah plagiat mencuat dan didiskusikan secara terbuka di media Facebook oleh beberapa cerpenis termasuk saya.

    Saya minta Kompas menarik cerpen Saudara Dadang dan mengumumkan bahwa cerpen tersebut tak pernah dimuat, karena kredibilitas Kompas dipertaruhkan dalam peristiwa ini. Kalau Saudara Redaktur Kompas keberatan, saya bersedia menemui Saudara Redaktur untuk membuktikan bahwa cerpen tersebut PLAGIAT.

    Demikian surat pembaca saya sampaikan, tanpa bermaksud menjatuhkan nama Dadang Ari Murtono sebagai cerpenis produktif yang karya-karyanya sering dimuat di media (koran nasional dan lokal), atau memang KOMPAS sudah tak memperhatikan dan tak membaca karya cerpen yang masuk ke meja redaksi. Padahal begitu banyak karya cerpen yang bagus dan berkualitas dari para cerpenis yang mengantri untuk dimuat di Kompas.

    Terima kasih.

    Salam Saya,
    Bamby Cahyadi (Cerpenis)

    Like

  7. TENTANG PEREMPUAN TUA DALAM RASHOMON
    Oleh A.S. Laksana

    Teman-teman,

    Untuk melatih diri bermental baja, anda mungkin bisa mencontoh Dadang Ari Murtono. Pada 5 Desember 2010, cerpennya yang berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon dimuat oleh Lampung Post. Sejumlah orang menyatakan bahwa cerpen tersebut melulu jiplakan dari cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke. Perdebatan sengit berlangsung di jejaring sosial facebook dan twitter. Sungging Raga berusaha membuktikan plagiarisme Dadang dengan menjajarkan paragraf-paragraf yang identik dalam dua cerpen Rashomon tersebut.

    Mengaku mendapatkan desakan dari kawan-kawannya untuk menanggapi suara-suara sengit itu, Dadang menulis pembelaan terhadap Rashomon versinya–meski sebenarnya ia “ingin membiarkannya saja sebenarnya”. Dalam pembelaannya ia menulis antara lain sebagai berikut:

    “Inti dari cerpen saya sendiri adalah upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan terlalu berlebihan – cerpen Akutagawa ke konteks pemaknaan dunia sekarang ini yang saya yakini kebenarannya. Seperti inilah idenya: merubah sudut pandang yang dipakai Akutagawa tentang kehidupan itu sendiri, tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya.”

    (Kesalahan penulisan “merubah” yang seharusnya “mengubah” dalam kutipan di atas adalah dari Dadang sendiri. Namun, karena ia orang Jepang, saya agak maklum jika ia tidak tahu bahwa kata itu dibentuk dari kata dasar ubah dan bukan rubah atau cerpelai.)

    Saya tidak ingin menjajarkan lagi paragraf-paragraf dalam kedua Rashomon itu, yang memang hampir sepenuhnya identik. Pekerjaan itu sudah dilakukan oleh Sungging Raga. Karena itu, saya pikir kita bisa membicarakan hal lain, dan saya akan berangkat dari pembelaan di atas.

    Apa yang dimaksudkan oleh Dadang dengan “merubah sudut pandang” adalah mengganti siapa yang diceritakan masuk ke gerbang Rashomon pada awal cerita. Dalam cerpen Akutagawa, ia adalah seorang lelaki, pelayan samurai yang baru dipecat majikannya dan menjumpai di ruangan atas gerbang tersebut seorang perempuan tua sedang mencabuti rambut mayat seorang perempuan. Dalam versi Dadang, ia adalah seorang perempuan tua, juga pelayan samurai yang baru dipecat majikannya. Menjumpai tumpukan mayat di sana, perempuan itu memutuskan mencabuti rambut orang-orang mati itu untuk dijadikan cemara. Jadi, yang dilakukan Dadang adalah menggabungkan karakter Genin atau pelayan samurai dengan si perempuan tua, seperti seorang pawang mengawinkan tapir dengan musang.

    Hasilnya, selain satu paragraf penutup, semuanya sama persis, baik plot, setting, maupun nada tuturan cerita tersebut dengan cerita Akutagawa. Saya kira ini sebuah ikhtiar yang agak imbisil untuk melahirkan sebuah cerita yang bersandar dari karya orang lain untuk kemudian dinyatakan sebagai karya sendiri.

    Alasan pengubahan sudut pandang saya kira menjadi terlampau lemah dalam kasus ini. Kita bisa memaafkan bahwa Dadang tidak bisa membedakan ubah dengan rubah atau burung onta. Banyak orang lain mengidap gejala seperti itu. Dalam hal ini kekeliruan Dadang bukan kasus unik. Namun yang tidak termaafkan adalah kegagalannya memahami bahwa setiap individu adalah unik. Tiap-tiap orang akan melihat kenyataan dari pandangan dunianya masing-masing. Karena itu, di tangan seribu penulis kita akan mendapatkan seribu cerita, seribu cara pandang, seribu suara tuturan, pada saat mereka diminta menggarap satu tema. Dari sudut pandang satu karakter kita bisa mendapati satu cerita dan realitas yang hanya milik karakter tersebut. Sementara dari sudut pandang karakter lain, kita akan mendapati cerita dan realitas lain, kendati peristiwanya sama. Itu karena isi kepala masing-masing dari mereka berbeda, dan realitas adalah representasi pandangan dunia masing-masing orang.

    Dadang memang memiliki kalimat yang patriotik untuk menjelaskan dirinya. Simaklah kalimat berikut:

    “Dan kenapa ada beberapa kalimat yang sama persis dalam Perempuan Tua dalam Rashomon dengan kalimat-kalimat dalam Rashomon adalah karena saya ingin menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon, agar dunia yang dibangun dalam Perempuan Tua dalam Rashomon tidak merusak apa-apa yang telah terbangun dalam Rashomon. Sebab ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Sebab ini perkara perlawanan dan keberpihakan.”

    Ia benar bahwa ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Dan ia boleh sepatriotik mungkin menjelaskan dirinya. Namun, saya akan lebih sepele melihatnya, ini adalah perkara bagaimana seorang penulis memahami sudut pandang. Setiap orang memiliki kesaksiannya sendiri atas realitas, setiap orang memiliki versi yang berbeda meski mereka ditempatkan dalam setting dan situasi yang sama.

    Akutagawa memahami hal tersebut. Karena itulah dalam cerpennya yang lain, “Di sebuah Hutan kecil”, ia membuat empat “realitas” berbeda atas satu peristiwa pembunuhan. Realitas pertama dari sudut pandang orang-orang yang mendapati mayat tersebut, mereka memberikan kesaksian di kantor polisi, termasuk kesaksian polisi yang menangkap pembunuhnya. Realitas kedua dari sudut pandang Tajomaru, si pembunuh, yang mengakui bahwa memang dialah yang membunuh korban. Realitas ketiga dari istri korban, yang mengakui bahwa dialah yang membunuh suaminya, bukan penyamun Tajomaru yang telah memerkosanya. Realitas keempat dari korban pembunuhan itu, melalui seorang cenayang.

    Dadang tidak memiliki pemahaman sebaik Akutagawa dalam hal memaknai realitas. Maka, kendati ia mengakui membuat perubahan sudut pandang, kita masih mendapati segalanya sama saja. Ia mencoba menyodori kita sebuah versi lain, namun ada yang fatal dalam versinya: tak ada perbedaan realitas yang diwakili oleh perubahan sudut pandang. Maka, kita menjumpai bahwa isi kepala seorang lelaki pelayan samurai sama belaka dengan isi kepala perempuan tua pemulung rambut mayat, kecuali pada ending yang menurut saya justru terasa lebih klise dan mandek: perempuan tua itu memandangi tumpukan mayat dan berpikir alangkah enaknya menjadi mayat, tidak ada lagi persoalan. Selesai.

    Dalam versi Akutagawa, ketika cerita berakhir, kita masih diajak melihat kegelapan. Dan kita masih diberi kesempatan “menulis” sendiri kelanjutan cerita tersebut, apakah perempuan tua itu akan terus mencabuti rambut si mayat untuk dijadikan cemara setelah si pelayan samurai merampok dirinya, atau kemungkinan apa pun. Sementara pada diri lelaki pelayan samurai, kita disodori kegelisahan apakah orang harus menjadi penjahat untuk bertahan hidup–dan kemudian sebuah ironi. Itu bagian sangat kuat pada cerita Rashomon yang justru hilang oleh ikhtiar Dadang.

    Kehadiran perempuan tua yang mencabuti rambut mayat demi bertahan hidup membuat si pelayan samurai muak pada kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mempertahankan nyawa. Ia, yang beberapa waktu sebelumnya berpikir untuk menjadi pencuri demi bertahan hidup, kemudian mendapatkan kesadaran berikut bahwa baginya lebih baik kehilangan nyawa ketimbang melakukan kebejatan sebagaimana yang dilakukan perempuan itu. Namun, sesaat kemudian, perempuan tua itu jugalah yang memberinya alasan, dalam percakapan singkat, bahwa dengan cara apa pun nyawa harus dipertahankan. Lagipula, menurut perempuan itu, “Mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu.”

    Pada saat itulah, Akugawa menyodori kita ironi. Ketika perempuan tua itu menjelaskan “apa yang pantas didapat oleh mayat-mayat itu”, ia sesungguhnya sedang menjelaskan juga apa yang pantas didapat olehnya. Maka, pelayan samurai itu menjadikan si perempuan tua korban pertamanya. Atas persetujuan si tua itu sendiri.

    Apa boleh buat, secara patriotik demi “perlawanan dan keberpihakan”, Dadang telah membantai bagian yang paling memikat dari cerpen Akutagawa.

    Itu masalah pertama dengan cerpen Rashomon versi Dadang. Masalah berikutnya, cerpen yang sama dimuat lagi tujuh pekan kemudian di Kompas minggu kemarin (30/1/2011). Raudal Tanjung Banua mengirimkan sms kepada saya pada sore harinya. Bunyinya: “Mas, baca cerpen Kompas hari ini, karya Dadang Ari Murtono? Lha, itu kan jiplakan bulat-bulat dari cerpen Ryunosuke Akutagawa berjudul Rashomon yang pernah diterbitkan akubaca. Kok redaktur Kompas tidak ingat cerpen terkenal itu ya? Demikian sekadar info. Salam.”

    Sebelumnya, siang hari, di Milis Bengkel Penulisan Novel DKJ 2009, Apendi, salah seorang anggota milis, menulis surat yang mempertanyakan cerpen itu juga. Seperti membuat kuis, ia mengajukan pertanyaan: Kompas sengaja atau kecolongan?

    Cerpenis Bamby Cahyadi menulis surat untuk Kompas, yang dimuat di situs http://indonesiabuku.com pada hari yang sama dengan pemuatan cerpen tersebut. Ia menulis antara lain:

    “Saya kecewa kepada KOMPAS, karena selain cerpen tersebut (Perempuan Tua dalam Rashomon) sudah pernah dimuat di Lampung Post, pada 5 Desember 2010, kenapa pula cerpen PLAGIAT itu bisa lolos dan dimuat di Kompas Minggu, 30 Januari 2011. Padahal cerpen Dadang ini, sempat membuat polemik masalah plagiat mencuat dan didiskusikan secara terbuka di media Facebook oleh beberapa cerpenis termasuk saya.”

    Akhirnya, setelah cukup berpanjang lebar, saran saya untuk kasus ini tetap saja: Untuk melatih diri bermental baja, tirulah Dadang Ari Murtono. Saya mendapatkan komentar juga bahwa cerpennya yang berjudul Lelaki Sepi, yang juga dimuat di Kompas, mengingatkan kita pada cerita Perempuan Berwajah Penyok karya Ratih Komala.

    Salam saya,
    A.S. Laksana

    N.B. Menurut saya akan lebih baik jika Dadang Ari Murtono membiarkan saja Rashomon seperti aslinya, jika upayanya untuk mengubah sudut pandang tidak bisa meyakinkan, dan caranya mengakhiri cerita justru menjadikan cerita itu berakhir klise. Dengan membiarkan Rashomon apa adanya, Dadang juga bisa mencantumkan namanya sebagai pengarang–kalau ia mau.

    Like

  8. Komplit. Semoga Kompas secara resmi mau menanggapainya.

    Like

  9. Kompas terlalu merasa diri paling tinggi, hingga ia abai dengan medan sastra.
    Sekadar menanggapi, jika cerpen Rashomon itu benar-benar karya imajinatif Akutagawa (Bukan cerita rakyat seperti di Indonesia yang ternyata tidak diketahui pengarangnya), maka jelaslah, apa pun alasan saudara Dadang patah.

    sebagai contoh, saya pernah membaca beberapa cerpen dengan cerita Cinderela,ia ditulis dalam berbagai versi. Atau cerita Seribu Satu Malam, banyak yang ditulis dalam berbagai-bagai cara.

    Nah, sekarang, samakah Rashomon dengan Cinderela?
    jika sama, saya rasa Dadang cukup kuat berargumen. Tetapi jika karya itu asli buah ide Akutagawa, sekali lagi, Dadang patah. Terimakasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: