Oleh Setta SS (Annida, 2003 dan Eramuslim, 13 Mei 2009)

What is in a name?

SEBUAH pertanyaan retorik Shakespeare, si pujangga Inggris yang lahir pada 26 April 1564 dan wafat 23 April 1616 itu. Nama, atau simbol apa pun, bagi seorang Muslim tentu diharapkan akan mampu menjiwai si empunya untuk berperilaku seperti laiknya nama atau simbol yang dikenakannya itu. Contoh sederhana, nama Fir’aun atau Qarun, adakah orang tua yang rela menyematkan dua nama itu untuk nama putra tercinta mereka?

Bagaimana dengan jenis simbol-simbol yang lainnya?

Suatu sore azan ‘Ashar sudah terdengar ramai bersahut-sahutan, memanggil manusia untuk jeda sejenak dari aktivitasnya. Menghadap Sang Pencipta untuk mengingat-Nya. Akan tetapi, dari masjid tak jauh dari kos saya belum terdengar panggilan paling mulia itu.

Kemudian saya berangkat ke masjid. Mengumandangkan azan dan shalat sunah dua raka’at. Sampai beberapa saat setelahnya, belum juga ada seorang pun yang datang ke masjid. Hingga ketika datang seorang mas-mas, saya langsung qomat.

Mas itu, yang hanya mengenakan kaos oblong lengan pendek dengan tulisan memenuhi punggungnya, saya tawari untuk menjadi imam. Di luar dugaan, ternyata dia tidak menolaknya. Mas itu langsung maju ke depan menjadi imam dengan pedenya. Dan, jadilah saya yang memakai kemeja lengan panjang dan sarung makmum pada mas tadi yang ‘hanya’ mengenakan kaos oblong lengan pendek dengan tulisan-tulisan besar memenuhi punggungnya. Saya tidak merasa lebih baik dari mas itu, hanya tiba-tiba ada sesuatu yang tidak sreg bergolak di benak saya. Entahlah, semacam perasaan tidak rela karena orang yang hanya mengenakan kaos oblong mengimami saya dan jamaah lainnya—bila ada yang datang belakangan nanti.

Setelah mas itu takbiratul ihram, iseng saya baca tulisan-tulisan besar di punggungnya itu. Maaf, tulisan itu berbunyi—sekali lagi maaf:

SEGOBLOK-GOBLOKNYA ORANG GOBLOK, MASIH LEBIH GOBLOK LAGI ORANG YANG MEMBACA TULISAN INI. APALAGI JIKA MEMBACANYA DENGAN SUARA KERAS.

Setelah membacanya, saya selalu berusaha untuk mengingatnya meskipun sudah masuk dalam shalat. Hingga ketika salam pun, saya tidak dapat melupakannya begitu saja. Bahkan, saya malah berusaha untuk menghafalkannya. Astaghfirullah!

Seorang bapak yang datang belakangan menjadi makmum di samping saya pada akhirnya mengingatkan si mas tadi secara khusus dengan menunggunya sampai selesai berdoa. Berarti bapak itu juga merasa terganggu oleh tulisan di punggungnya itu.

Begitulah, ternyata mas itu—dan mungkin sebagian dari kita—belum begitu memahami adab-adab shalat, terutama yang berkenaan dengan masalah pakaian. Cukup mengenakan kaos oblong, kan hanya sekadar simbol, yang penting suci dan menutup aurat. Bukankah itu syarat sahnya shalat?

Tetapi Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan. Ada banyak hadis yang memerintahkan kita untuk memakai pakaian yang paling bagus (berwarna putih) ketika akan shalat. Hingga Al-Qur’an pun mengabadikan perintah ini di salah satu ayatnya dalam surat Al-A’raf ayat 31. Bukankah ketika kita shalat, hakikatnya kita sedang berdiri di hadapan-Nya?

Kalau kita mau jujur, ketika akan berangkat ke sekolah, ke kampus atau ke tempat kerja yang notabene hanya akan berhadapan dengan makhluk-Nya, kita selalu berusaha untuk tampil perfect. Dan tentunya dengan mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki.

Kita memerlukan waktu sekian menit untuk berdandan, berlenggak-lenggok di depan cermin, menyisir rambut, meminyakinya, dan memakai minyak wangi. Belum lagi menyemir sepatu dan segala tetek-bengek lainnya yang kadang membuat kita sampai pusing sendiri.

Bukankah dengan demikian, secara tidak sadar kita telah mengesampingkan pertemuan agung dengan Allah Swt., Sang Khalik, dan lebih menghargai pertemuan dengan mereka yang hanya sekadar hamba-Nya, makhluk-Nya yang tidak kuasa apa-apa?

Lantas, di manakah kita letakkan rasa malu kita?

Allahu a’lam bish-shawab. (*)

 

 

Yogyakarta, 16 Mei 2oo2

 

Advertisements