Cerpen Patrick Suskind (Koran Tempo, 23 Januari 2011)

Racun Tikus ilustrasi Yuyun Nurrachman - Koran Tempo
Racun Tikus ilustrasi Yuyun Nurrachman/Koran Tempo

PADA pameran perdananya, seorang gadis dari Stuttgart yang menggambar sketsa dengan indah mendapat komentar dari seorang kritikus yang sesungguhnya tak bermaksud buruk, bahkan berniat menyemangatinya. Kritikus itu berkata, “Yang Anda lakukan menarik dan Anda memang berbakat, tapi karya Anda belum menunjukkan kedalaman.”

Perempuan muda itu tak paham apa yang dimaksud oleh sang kritikus dan segera melupakan perkataannya itu. Namun, dua hari kemudian tulisan tentang pameran itu muncul di koran, ditulis oleh kritikus tersebut. Di dalamnya dia menyatakan, “Seniman muda itu berbakat dan pada sekali pandang karyanya tampak menyenangkan. Namun, sayangnya dia tak memiliki kedalaman.”

Si perempuan muda kini mulai memikirkan soal itu. Dia menatap sketsa-sketsanya yang baru dipamerkan dan memeriksa karya-karya lamanya. Dia melihat seluruh karyanya, termasuk yang sedang dia kerjakan. Lalu, dia mengencangkan tutup botol tintanya, mencuci penanya, dan pergi berjalan-jalan.

Pada malam itu dia diundang menghadiri sebuah acara. Orang-orang di acara itu seakan-akan telah membaca tulisan di koran tentang karyanya dan berulang-ulang mengatakan bahwa sketsanya mampu membangkitkan rasa senang dalam sekali pandang, juga bahwa dia memang berbakat. Namun, dari gumaman di belakang dan dari mereka yang memunggunginya, perempuan muda itu dapat mendengar bisik-bisik, “Tak ada kedalaman. Itulah. Dia tidak jelek, tapi sayangnya dia tak memiliki kedalaman.”

Sepanjang minggu itu sang seniman muda tak menggambar apa pun. Dia duduk diam di flatnya, merenung, dengan hanya satu pertanyaan di benaknya yang merengkuhnya seperti gurita dan melahap segala sisa isi kepalanya, “Mengapa aku tak memiliki kedalaman?”

Pada minggu kedua dia mencoba menggambar kembali, tapi hanya mampu menghasilkan coretan-coretan kacau. Terkadang dia bahkan tak mampu membuat satu titik pun. Akhirnya, dia begitu gemetar sehingga dia bahkan tak mampu mencelupkan ujung penanya ke dalam botol tinta. Lalu, dia terisak dan menangis, “Ya, memang benar, aku tak memiliki kedalaman!”

Pada minggu ketiga dia mulai membuka-buka buku-buku seni rupa untuk mempelajari karya-karya para seniman lain. Dia juga mulai menjelajahi galeri-galeri dan museum-museum seni. Dia membacai buku-buku tentang teori seni rupa. Dia pergi ke toko buku dan meminta pramuniaga membawakannya buku paling dalam tentang seni rupa yang ada di toko itu. Dia diberi sebuah buku karya Tuan Wittgenstein yang terkenal. Namun, seniman kita tak mampu memahaminya.

Di sebuah pameran di Museum Kota (“500 Tahun Sketsa Eropa”), dia menggabungkan diri dengan serombongan anak sekolah yang tengah dipandu berkeliling museum oleh guru seni rupa mereka. Tiba-tiba, di depan satu sketsa karya Leonardo da Vinci, dia maju selangkah dan bertanya, “Maaf, apakah menurut Anda karya ini memiliki kedalaman?” Guru seni rupa itu tersenyum kepadanya dan menjawab, “Nak, jika kau ingin mengujiku, kau harus melakukannya lebih baik daripada itu!”—dan seisi rombongan pun meledak tertawa. Perempuan muda itu pulang dengan berurai air mata.

Seniman muda itu jadi semakin muram. Dia makin jarang meninggalkan studionya. Namun, dia juga tak mampu berkarya. Dia minum obat pencegah tidur, tapi dia tak tahu mengapa dia harus tetap terjaga. Ketika dia merasa lelah, dia tertidur di kursinya, seakan ia takut tidur terlalu pulas jika pindah ke ranjang. Dia juga mulai minum minuman keras dan terus merokok sepanjang malam. Dia tak lagi menggambar.

Ketika seorang pedagang barang seni dari Berlin meneleponnya untuk meminta beberapa sketsanya, dia berteriak ke gagang telepon, “Jangan ganggu aku! Atau tak punya kedalaman!” Sesekali dia bermain lilin mainan, tapi tak pernah membuat sesuatu yang khusus dengannya. Dia hanya mengubur ujung-ujung jemarinya di dalamnya atau membuat pangsit-pangsit mungil dengan benda mainan itu. Dia mengabaikan diri sendiri. Dia tak lagi menjaga penampilannya dan membiarkan flat yang ditinggalinya berantakan.

Kawan-kawannya cemas. Mereka bilang, “Kita harus menolongnya. Dia sedang menderita depresi. Mungkin dia tengah mengalami krisis kepribadian atau sedang menghadapi masalah artistik. Atau mungkin dia sedang tak punya uang. Jika itu krisis kepribadian, tak ada yang bisa kita lakukan. Jika itu masalah seni, dia harus bisa mengatasinya sendiri. Jika masalahnya uang, kita bisa mengumpulkan uang untuknya, tapi jangan sampai dia merasa malu.”

Jadi, mereka memutuskan untuk mengundang perempuan seniman itu untuk makan malam dan menghadiri pesta. Namun, dia selalu menolak, beralasan sedang sibuk berkarya. Padahal, dia tak pernah berkarya lagi. Alih-alih, dia duduk mematung di kamarnya, menatap lurus ke depan seraya meremas-remas lilin mainan.

Suatu kali, dia bersedia menerima undangan kawan-kawannya. Setelah acara, seorang lelaki muda yang tertarik kepadanya ingin mengajaknya pulang dan tidur bersamanya. Perempuan itu bilang kepada lelaki yang menaksirnya bahwa ajakannya itu sangat menarik karena dia juga sebenarnya tertarik kepada lelaki itu. Namun, si perempuan meminta lelaki itu menyiapkan diri secara total terhadap satu kenyataan bahwa dia tidak dalam. Begitu mendengar hal ini, si lelaki segera meninggalkannya.

Perempuan muda yang dulu menggambar sketsa dengan begitu indah itu kini sungguh tampak kacau balau. Dia tak lagi pergi keluar rumah dan berhenti berhubungan seks. Dia jadi gemuk karena tak pernah berolahraga. Sementara, alkohol dan obat-obatan membuatnya tampak menua sebelum waktunya. Flat tempat tinggalnya makin berantakan dan tubuhnya mulai menebarkan bau busuk.

Dia mewarisi harta sejumlah 30.000 mark setelah kematian orangtuanya. Dia hidup bergantung pada uang ini selama tiga tahun. Suatu kali pada masa ini dia bepergian ke Napoli—tak seorang pun tahu untuk apa itu. Siapa pun yang mencoba berbicara dengannya hanya menerima gumaman tak terpahami sebagai jawaban.

Ketika dia telah menghabiskan seluruh uang warisan itu, dia merobek-robek dan melubangi seluruh sketsa yang pernah dibuatnya, memanjat puncak menara pemancar sebuah stasiun televisi setinggi 139 meter, dan melompat. Namun, karena angin bertiup sangat kencang pada hari itu, dia tak jatuh membentur lapangan tanah liat di bawah menara. Alih-alih, dia terbawa angin melintasi sebuah padang gandum dan terdampar di tepi hutan setelah membentur pohon-pohon besar. Dia tewas seketika.

Tabloid-tabloid picisan menyambut peristiwa ini dengan penuh syukur. Kasus bunuh diri ini, rute terbawa angin yang tak biasa, fakta bahwa ini terjadi pada seorang perempuan seniman muda yang pernah amat menjanjikan—semua itu membuatnya menjadi berita menggemparkan dan laku.

Saat flatnya diperiksa, kondisinya amat kacau. Ribuan botol kosong berserakan; tanda-tanda keruntuhan tampak di mana-mana; sketsa-sketsa terkoyak; gumpalan lilin mainan menodai dinding; bahkan ada bekas tinja menumpuk di sudut-sudut ruangan!

Koran-koran bukan hanya meliputnya di berita utama halaman satu, tapi juga menjadi kepala berita halaman dua dan tambahan reportase di halaman tiga!

Di rubrik ulasan sebuah koran, sang kritikus yang tadi sempat kita sebut menulis satu paragraf singkat yang merenungkan mengapa perempuan muda itu mengalami akhir yang menyedihkan. Dia menulis, “Sekali lagi kita menyaksikan—setelah terjadinya sebuah sebuah peristiwa mengejutkan—seorang muda yang berbakat tak mampu memiliki kekuatan untuk menyesuaikan diri di panggung kehidupan. Tidak cukup bila seorang seniman memiliki dukungan publik dan inisiatif pribadi, tapi hanya sedikit pemahaman atas atmosfer seni. Pastilah benih dari akhir yang tragis ini telah ditanam sejak lama. Tidakkah itu bisa dicerna dari karya-karya awalnya yang naif? Itu mencerminkan agresi monomaniak yang melanda diri sendiri dan dorongan introspektif yang berkubang menjemukan serupa spiral di dalam batin—dua-duanya sungguh emosional dan tak berguna, sekaligus mencerminkan pemberontakan terhadap takdir. Saya menyebutnya kehendak-memiliki-kedalaman yang berakhir secara fatal.” (*)

 

Patrick Suskind adalah penulis Jerman. Novelnya, Das Parfum, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Cerita di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris Peter Howarth.

 

Advertisements