Oleh Setta SS (Kotasantri, 29 Juni 2009)

GENAP lima belas hari yang lalu, ayah saya menyempatkan mampir ke Yogyakarta sebelum bertolak ke Batu, Malang, untuk keperluan dinas dari kantornya. Beliau sampai dengan taksi selepas ‘Ashar, setelah sehari sebelumnya menjenguk kakek nenek saya di Cilacap. Sekarang Ayah masih bertugas di sebuah instansi plat merah di kota kelahiran saya di tanah Andalas.

Sabtu malam itu, sepulang dari TB Togamas, Ayah mengajak saya makan malam di warung makan tenda tak jauh dari tempat saya tinggal. Kami memesan dua porsi nasi goreng dan dua gelas jeruk hangat.

Sambil menunggu pesanan tersaji, saya membaca-baca sekilas sebuah buku non-fiksi baru yang dibeli dari TB Togamas. Tak lama berselang, nasi goreng pesanan kami tiba. Saya letakkan buku baru itu di atas meja tepat di depan saya. Dan akan mulai mencicipi nasi goreng bagian saya.

Warna dan ilustrasi cover buku itu ternyata menarik perhatian seorang mahasiswa yang duduk tepat bersebrangan dengan meja saya. Tanpa sungkan, ia minta izin meminjamnya sebentar. Ia membuka lembar demi lembar buku itu penuh minat. Hingga kemudian terciptalah dialog di antara kami, saya dan dia, seputar isi buku, memecah kebekuan yang gagu. Belakangan ayah saya juga ikut nimbrung.

Mahasiswa supel itu lahir di Purwokerto, sebuah kota di Jawa Tengah di mana terdapat Universitas Jendral Soedirman (UNSOED). Dan, kebetulan ayah saya menghabiskan sekolah menengahnya di kota itu, pertengahan tahun 1970-an, hingga masih hafal betul seluk beluk tata kotanya meski sudah berkembang pesat saat ini. Saya yang tidak begitu akrab dengan Purwokerto cukup menjadi pendengar yang baik saja. Hanya sesekali menimpali obrolan hangat mereka.

Dan, tibalah satu lagi episode yang saya kagumi dari pribadi ayah saya. Saat mahasiswa itu pamitan untuk pulang lebih dulu dan hendak membayar uang makannya, dengan sigap ayah saya bilang, “Biar saya yang bayar.”

Mahasiswa itu tampak sungkan dan berusaha mati-matian untuk membayarnya sendiri. Tapi, tak kalah antusias, ayah saya meyakinkannya dan si pemilik kedai tenda untuk menolak uang yang disodorkan kepadanya oleh si mahasiswa tadi.

Saya tersenyum diam-diam menyaksikan adegan itu. Ayah suka berbagi dengan orang lain, bahkan pada mereka yang baru beberapa menit dikenalnya. Jiwa philanthropist-nya cukup potensial untuk diwariskan kepada kami, empat orang putra-putrinya. Dan itu bukan kali pertama saya melihatnya saat-saat bersama Ayah, tetapi yang kesekian kali dari sedikit kebersamaan kami.

Saya masih mengingatnya dengan jelas, ketika terjadi invasi brutal Israel ke Jalur Gaza di penghujung Desember 2008 silam. Saat itu saya mengirim sebuah SMS berisi sebuah nomer rekening salah satu lembaga penyalur dana kemanusiaan ke Gaza. Beberapa hari kemudian, Ayah membalas SMS itu, “Pagi ini sudah ditransfer sejumlah uang ke rekening itu. Semoga berkah.”

Begitulah, ayah saya telah mengajarkan sesuatu yang berharga lewat perbuatan nyata tanpa banyak berkata-kata.

Seni seviyorum, Dad! (*)

 

 

Yogyakarta, 28 Juni 2oo9 o1:22 a.m.

 

Advertisements