Cerpen Benny Arnas (Suara Merdeka, 19 Desember 2010)

LALU kurampungkan karangan ini. Cerita tentang seseorang yang kutemui pada masa lalu. Aku tak memaksa khalayak mempercayai karena lelaki mulia itu, orang yang pernah bergumul denganku dalam cahaya, tak pernah mengajarkan itu. Ya, aku tiba-tiba mengagumi apa-apa yang terserla dalam dirinya, petuah dan peritabiatnya. Di masa sebelum aku mati, lalu hidup lagi, mati lagi, hidup lagi…. Begitulah seterusnya. [1]

Ketika itu, pertikaian antarwilayah kekuasaan Dinasti Chou menyebabkan perpecahan. [2] Lalu muncullah kerajaan-kerajaan. Kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan baru. Dengan raja-raja yang baru. Dengan raja-raja yang kecil. Raja-raja itu menjadi simbol negeri yang dititahnya. Masing-masing negeri mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Raja-raja mengharapkan rakyatnya turut membangun negeri. Namun begitu, raja-raja tak menjanjikan apa-apa (apalagi kedudukan di kerajaan) bagi yang (merasa) berjasa. Bagi yang hendak membantu, silakan. Bagi yang tak berhasrat, jangan membuat masalah. Dan bagai mendapat angin yang berkarib, muncullah pemikir-pemikir. Namun, waktu adalah arena pertandingan yang paling makbul. Maka, seperti buah-buah zaitun yang jatuh berserakan di gurun karena diserang tuba dari Saudi, putaran demi putaran bumi merontokkan satu demi satu para pemikir itu.

Kong Fu Chius. Ialah satu dari segelintir pemikir yang masih layak dipandang. [3] Aku kali pertama bertemu dengannya pada 485 Sebelum Masehi, di Pasar Mun Sian, persis dua puluh kaki dari Pasar Zhengguo. Walaupun namanya sudah menggema di mana-mana—termasuk di Tanah Melayu, namun sekalipun aku belum pernah melihat wajahnya. Jadi, wajar saja kalau awalnya aku tak tahu kalau ia adalah Tuan Kong, demikian orang-orang Cina memanggilnya.

Ketika itu, secara tak terencana, pandangan kami ditabrakkan oleh sesuatu yang bernama kebetulan. Tuan Kong menarik kedua ujung bibirnya melengkung ke atas. Aku serta merta membalas senyumnya. Entah bagaimana, tiba-tiba aku melihat ada cahaya putih yang menyeruak dari wajahnya yang bersih. Cahaya itu makin besar, tebal, dan benderang. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapakah laki-laki itu. Laki-laki yang kutaksir usianya dua puluh tiga tahun. Belum sempat terjawab pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak dalam benakku itu, Tuan Kong menghampiriku. Ia menyentuh, menggamit bahuku. Dan orang-orang sekitar yang tengah sibuk keluar-masuk pasar, serta-merta memperhatikan kami. Tak lama, mereka semua mematung bagai ditotok aliran darahnya. Aku tahu—walaupun tebakan ini belum tentu benar—bagaimana aku (maksudku kami berdua) tiba-tiba menjadi pusat perhatian; karena Tuan Kong menyalurkan kekuatan (entah semacam ilmu kanuragan, entah semacam energi positif, atau…entahlah!) yang membuat tubuhku berlumur cahaya (maksudku tubuh kami berdua bercahaya).

Tuan Kong memperkenalkan diri. Aku tertegun. Ia menanyakan sesuatu kepadaku. Kabar Dzulkarnain. [4] (O o, benarkah kabar yang mengawang itu: Dzulkarnain adalah guru Kong Fu Chius?) Dan aku masih tertegun karena belum mampu memahami apalagi menguasai keadaan. Belum sempat kutanggapi keingintahuannya, ia sudah menyambung pertanyaannya. Apa kabar perdebatan tentang Tembok Dzukarnain? Apakah sudah tersurat dan dimaklumatkan bahwa ialah yang membangun tembok raksasa di negeriku itu? [5] Kalau saja para raja yang mengaku-ngaku itu dapat kutemui, ingin kukatakan yang sebenarnya! [6]

Aku tak sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang bergerombol itu. Sepertinya Tuan Kong sengaja tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Lebih tepatnya lagi, Tuan Kong secara halus memeras semua ingatan dan keterbatasan pengetahuan tentang Dzulkarnain dan Tembok Dzulkarnain itu. Tentu aku takkan menduga bahwa Tuan Kong hanya ingin membuatku penasaran. Tentu pula aku takkan berprasangka bahwa Tuan Kong hanya ingin memberitahuku bahwa dia adalah pemikir hebat, orang yang bercahaya, orang yang dapat membagi cahaya. Satu hal yang membuatku benar-benar heran, mengapa Tuan Kong menanyakan Dzulkarnain dan Tembok Dzulkarnain kepadaku? Maksudku, apakah ia tahu bahwa aku tengah meneliti Tembok Besar China?

“Hei, Kisanak!”

Aku tergeragap. Seolah bangun dari mimpi. Orang-orang yang tadi mematung kini mengerumuniku. Mereka bertanya bagaimana Tuan Kong dapat menemuiku, lalu memelukku. Apa? Memelukku? Tentu saja aku tak dapat menjawab pertanyaan itu karena kepalaku bagai bergasing. Kini, justru aku yang bertanya.

“Jadi, kalian juga melihat pemuda itu, eh, maksudku Tuan Kong?”

Mereka terbahak-bahak. Mereka mengejekku sebagai orang asing. Mereka katakan (seolah mengejekku) bahwa Tuan Kong selalu hadir di titik keramaian, tempat rakyat China menyambung nyawa. Di pasar salah satunya. Mereka sering tak menyadari kehadiran Tuan Kong karena ia selalu pandai mengubah penampilan. Hanya satu yang mencirikan keberadaannya (biasanya bila ia menemui seseorang): Cahaya.

“Apakah wajahnya sudah mengeriput?”

“Mengeriput?”

“Mengeriput dengan cahaya.”

Aku masih bergeming.

“Atau matamu sudah lamur?”

Aku tatap mereka satu-satu sebelum memutuskan untuk mengunci mulutku rapat-rapat. Apakah mereka akan percaya bahwa aku bertemu Tuan Kong dalam penampilannya yang lebih muda? Atau aku memang tengah bertemu Tuan Kong muda? Mungkin saja. Sudahlah, aku tak mau merumitkan ingatan mereka tentang Tuan Kong. O o, tiba-tiba aku bagai tersadar. Kong Fu Chius lahir pada 552 Sebelum Masehi!

Aku permisi minta diberi jalan. Mereka membuka kerumunan. Tak seperti dugaanku bahwa mereka akan bertanya ini-itu (yang tentu saja sedikit banyak akan menghalangi perjalananku). O, alangkah mulianya Tuan Kong di mata mereka hingga kepada aku—seorang Sumatra yang hendak mengunjungi Tembok China—yang baru saja ditemui pun, mereka tak kuasa mencuat tanya karena takut kualat telah menganggu “sahabat” Tuan Kong.

Enam tahun berikutnya aku mendengar kabar kalau Kong Fu Chius meninggal dunia. Tampaknya Tuhan hanya membolehkanku melihat wajahnya sekali seumur hidup. Entah bagaimana, ketika aku bertolak menuju China melalui Singapura, pesawat yang kutumpangi tiba-tiba terbang di atas Segitiga Formosa. [7] Kami angslup dalam pusaran waktu. Kami hidup dalam kerajaan Iblis di bawah laut. Kalian tahu, kadang-kadang Raksasa Bermata Satu mengunjungi kami. Kami tak kunjung tahu dari mana ia berasal. Ada yang bilang ia berasal dari Segitiga Bermuda, ada pula yang bilang ia berasal dari Khurasan.

Ah, aku tertawa sendiri kini. Tertawa sendiri mengingat peristiwa itu. Peristiwa yang bila kuceritakan pada keluarga, kawan, ulama, bahkan sejarawan pun, belum tentu ditanggapi dengan serius. Peristiwa klasik yang masih kuredam dalam ingatan. Peristiwa yang dialami diriku yang lain pada masa lalu. Masa ketika aku masih hidup, lalu mati, hidup lagi, mati lagi….

Begitu seterusnya. (*)

 

 

Lubuklinggau, Agustus 2009-Agustus 2010

 

Catatan:

[1] Reinkarnasi pada umumnya sering dimaknai sebagai kelahiran kembali (rebirth). Kadangkala manusia mendapati dirinya dapat berkelana ke alam atau keadaan atau peristiwa pada masa lalu saat ia terlibat di dalamnya (bukan sekadar pengamat atau penonton); dan hal ini sering dimasukkan dalam tanda-tanda bahwa orang tersebut adalah manusia (hasil) reinkarnasi. Bahkan tanda-tanda kecil semacam seringnya seseorang mengalami de javu, juga dimasukkan ke dalam tanda-tanda manusia (yang telah ber-) reinkarnasi. Deborah Sommer dalam Chinese Religion: An Antology of Sources (1995) menyatakan bahwa reinkarnasi hanyalah sebuah istilah yang masih perlu diperdebatkan, karena de javu, dan mind-twist masih sangat lemah untuk dimasukkan ke dalam ciri bahwa orang tersebut manusia-reinkarnasi. Morris Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times (1988) bahkan mengumpamakan “reinkarnasi” sebagai sebuah kebetulan yang hanya dikarang-karang oleh para dukun untuk menunjukkan kehebatan semu mereka demi mengelabui para tentara agar tidak mengusir mereka dari Mongolia.

[2] Awal kekuasaan Dinasti Chou di Timur mencakup 170 wilayah yang mayoritas kecil, yang akhirnya berhasil dihimpun oleh wilayah-wilayah yang tergolong besar dan dipersatukan hingga menjadi negeri yang kuat. Dan wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Chou di antaranya adalah Q-Chi di timur, Yan (wilayah yang mencakup daerah ibukota saat itu), Jin di sebelah barat Yan (yang mencakup daerah selatan Shanxi), dan Qin yang terletak di barat-jauh dan barat daya wilayah kekuasaan, mencakupi ibukota lama dan daerah-daerah yang belum dikuasai bangsa Barbar, dan daerah-daerah yang masuk wilayah mereka namun masih tunduk kepada Dinasti Chou. (Stephen G. Haw dalam A Traveller’s History of China, 1988).

[3] Pokok pemikiran filsafat Konghucu adalah perwujudan sifat-sifat yang bersumber kepada kebaikan, kebajikan, ketaatan, dan ketakwaan, berdasarkan moral dan perilaku positif. Mengenai hal itu, Konghucu mengatakan, “Janganlah kau menyuruh orang lain berbuat sesuatu yang engkau sendiri enggan melakukannya.” (A Concise History of China, JAG Roberts, 1999).

[4] Kisah Dzulkarnain serta berbagai peristiwa dan keajaiban yang terkait dengannya merupakan kisah paling menakjubkan dalam seluruh rangkaian kehidupan manusia. Karena dia merupakan kisah nyata yang titik tolaknya berawal lebih dari 2400 tahun sebelumnya, terutama jika berpatokan pada simpulan penelitian seputar kesamaan sosok Akhnaton, Raja Mesir, yang lahir di mesir sekitar zaman itu, dan peninggalan hidupnya pun masih tersisa sampai sekarang. (Coming of Dzulkarnain, Liu Wenyuan, 1997).

[5] Siapa yang sebenarnya membangun Tembok Besar China hingga kini masih diperdebatkan. Pedebatan itu merujuk pada beberapa raja yang juga berkuasa dan hidup pada masa itu. Perdebatan Dzulkarnain dengan beberapa Dzulkarnain (yang berkemungkinan) palsu perihal siapa yang membangun Tembok Besar China, dapat ditelisik lewat cerpen “Tembok Dzukarnain” karya Benny Arnas di Jurnal Cerpen Indonesia edisi 11 (Akar, Desember 2009).

[6] Dalam subab buku Munculnya Yaíjuj dan Maíjuj di Asia (2007), yang bertajuk “Apakah Konghucu Salah Seorang Pengikut Dzulkarnain”, Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid menyatakan bahwa membaca pemikiran dan filsafat Konghucu seolah-olah sedang mengaji lembaran-lembaran pemikiran dan filsafat Islam. Ia meyakini bahwa pemikiran dan filsafat yang demikian tidak akan pernah muncul, kecuali dengan mengikuti petunjuk para rasul dan nabi. Karena Kong Fu Chius lahir dan tumbuh pada masa keemasan Dzulkarnain, maka banyak literatur yang menyebutkan bahwa Dzulkarnain adalah gurunya. Dalam beberapa literatur sejarah, Tembok Besar China-lah yang dianggap sebagai Tembok Dzulkarnain. Kemasyhuran Dzulkarnain itu juga diperkuat pendapat Aisyah Muhammad Said dalam Mengungkap Misteri Perjalanan Dzulkarnain ke Cina (2007) yang menyatakan bahwa Tembok Besar China adalah Tembok (sebagai mahakarya dari) Dzulkarnain sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Al Kahfi ayat 83-99.

[7] Penelitian tentang keberadaan kerajaan Iblis di Segitiga Bermuda, juga menyeret nama Segitiga Formosa. Segitiga Formosa diyakini sebagai kerajaan Iblis kedua. Dajjal sendiri, yang dilukiskan sebagai Raksasa Bermata Satu, diceritakan sering berlalu-lalang Bermuda-Formosa demi mengatur kinerja para pungawa kerajaannya (The Bermuda Triangle, Hippy Marl, 1990).

 

 

Advertisements