Cerpen Juwairiyah Mawardy (Republika, 12 Desember 2010)

PERSIAPAN untuk menyambut kepulangan Haji Mahtum semakin hari semakin sibuk. Beberapa mobil sudah dicarter untuk para tetangga yang akan turut menyambut. Haji Mahtum sudah berpesan sebelum berangkat haji agar para tetangga dekat bisa turut menyambut kedatangannya bersama keluarga dengan biaya ditanggung Haji Mahtum.

Bagi Haji Mahtum, keberangkatannya yang pertama kali sebagai haji ini adalah berkah hidup yang tiada terkira. Meski sudah bertahun-tahun dia menjadi orang kaya yang sukses, ‘cap’ haji belum menempel di depan namanya.

Khusus untuk para tetangga, mobil carteran sudah dipesan. Khusus untuk keluarga, mobil-mobil Haji Mahtum sendiri yang sedianya akan dipakai. Puluhan sepeda motor pun sudah ‘dikontrak’ untuk menyambut dari batas kota pada saatnya nanti.

Tidak seperti kebanyakan tetangganya yang mengirimkan perubahan namanya setelah selesai ibadah haji, Haji Mahtum tetap memakai nama yang memang disandangnya sebelum ia berhaji. Menurutnya, namanya sudah tergolong baik dan serasi jika diawali gelar haji. Haji Mahtum.

Siapa yang tidak kenal Mahtum (sebelum haji)? Ia pengusaha kaya yang baik budi. Baik keluarga maupun tetangganya telah sama-sama merasakan kebaikan budinya itu. Jauh sekali sebelum naik haji, ia telah menunaikan zakat harta setiap tahun menjelang lebaran. Tidak terhitung sedekah hariannya, baik yang rutin ke masjid desa maupun pada fakir miskin dan juga sumbangan untuk proposal-proposal kegiatan keagamaan.

Selama ini ia memang belum naik haji meski orang-orang menilai bahwa ia bisa berangkat kapan saja ia mau. Bersama istrinya yang juga baik seperti dirinya itu. Akan tetapi, Haji Mahtum berpendapat bahwa naik haji bukanlah sebuah pencitraan kesempurnaan seorang yang kaya raya. Berhaji baginya tidak semata menyiapkan bekal harta yang cukup untuk membayar ongkos berangkat dan biaya selama di Tanah Suci hingga kepulangan. Ia berkeinginan bahwa jika dia berhaji nantinya akan menjadi lebih baik sebagai hamba Allah, menjadi husnul khatimah (semakin baik di akhirnya).

Haji Mahtum tidak ingin hajinya hanya menjadi haji kuantitas dalam rangka menaikkan citra dirinya sebagai anggota masyarakat. Ia ingin hajinya nanti benar-benar menyempurnakan agamanya karena telah menuntaskan semua rukun Islam.

Sejak dulu ia berpikir betapa tak bijaknya dia jika setiap tahun naik haji dengan istrinya karena harta demikian cukup, sementara banyak sanak saudaranya yang kesulitan mendapatkan nafkah sehari-hari meski untuk sekadar makan. Di samping itu, banyak pula tetangganya memiliki kesulitan hidup yang memerlukan uluran tangannya.

Baginya, naik haji bukanlah sebuah rekreasi yang berkedok ibadah meski secara materi ia dapat melakukan haji tiap tahun bersama istrinya. Ia tidak ingin seperti orang lain yang juga kaya raya dan hanya melaksanakan zakat harta sekali saja dalam hidupnya karena alasan akan menunaikan ibadah haji. Zakat harta tahunan dengan menyisihkan 2,5 persen dari hartanya bukanlah sebuah tiket pendaftaran yang harus dibayarkan dalam rangka akan melakukan ibadah haji, melainkan sebuah kewajiban tahunan bagi yang mampu.

Jika ada yang bertanya mengapa selama ini ia belum melakukan ibadah haji, dengan rendah hati ia akan menjawab: “Mohon doanya saja, insya Allah segera, Pak!”

Ia melakukan banyak upaya agar tetangganya tidak kesulitan bekerja. Sebagai pengusaha mebel kayu ia membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi tetangga dekatnya, terutama yang tidak mampu, untuk bekerja pada dirinya. Seorang kiai pernah menasehatinya.

“Orang kaya tidak boleh memanjakan fakir miskin dengan selalu memberi banyak sedekah, apalagi sedekah rutin. Karena setiap orang wajib melakukan usaha untuk mencari nafkah. Maka, yang harus dilakukan orang kaya bukan semata memberi sedekah saja. Alangkah mulianya jika ada orang kaya membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga dan kerabatnya yang susah mendapatkan mata pencaharian. Orang kaya seperti itu bukan hanya membantu fakir miskin, melainkan juga membantu pemerintah negara yang bingung mengentaskan pengangguran dan kemiskinan.”

Sejak itu Haji Mahtum berpikir bahwa targetnya sebagai orang kaya bukanlah naik haji berkali-kali, melainkan agar sekitarnya jauh dari kemiskinan dan pengangguran.

Dan kini, ia akan pulang haji. Hajinya yang pertama, yang benar-benar ia niatkan sebagai ibadah karena ia merasa telah cukup menyejahterakan lingkungannya, bukan hanya kerabat dan keluarganya sendiri.

Kesibukan di rumah keluarga Haji Mahtum memang sudah berlangsung sejak sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci. Selama ia berada di negeri langka hujan itu, setiap malam para tetangga dan kerabatnya membacakan Surah Yasin demi mendoakan keselamatan dan kelancarannya selama menunaikan ibadah dan agar ia mendapatkan berkah haji mabrur (haji yang baik/haji terbaik) dari Allah.

Para tetangga berdecak kagum dengan sikap murah hati Haji Mahtum sejak dulu. Dan, kini mereka menilai, bahkan ada yang meyakini bahwa sepulang haji nanti Haji Mahtum akan semakin baik, bukan hanya ibadahnya sehari-hari, melainkan juga sikap sosialnya pada orang lain.

Sehari sebelum Haji Mahtum dikabarkan akan segera mendarat di Bandara Juanda Surabaya, tetangga yang telah dipastikan akan ikut serta bersama keluarga dengan mobil carteran sudah siap berangkat. Mereka berangkat bersama ke Surabaya dalam iring-iringan mobil yang panjang. Seperti rombongan pengantar pejabat ke daerah. Ini sebagai tanda syukur karena telah tunai melaksanakan ibadah haji.

Tiba di Surabaya, mereka tak sabar ingin segera melihat seraut wajah Haji Mahtum yang budiman itu. Pastilah wajahnya penuh cahaya. Labbaikallahumma Labbaik…. Labbaika La Syarikalak….

Pesawat yang ditumpangi jamaah haji kloter sekian sudah diumumkan telah tiba di Bandara Juanda. Hanya dua orang dari pihak keluarga inti yang diperbolehkan menjemput langsung ke dalam asrama. Selebihnya menunggu di luar pagar berdesakan. Kakak laki-laki Haji Mahtum dan seorang pamannya yang menjemputnya ke dalam.

Betapa lamanya menunggu, meski hanya seperempat jam. Dua orang yang menjemput itu tidak segera menampakkan dirinya kembali. Orang-orang tak sabar ingin melihat, merangkul, memeluk, mengucapkan selamat, dan meminta doa Haji Mahtum. Orang-orang percaya bahwa selama 40 hari pertama seseorang tiba di tanah airnya sepulang haji, malaikat pemberi rahmat masih mendampinginya sehingga doa sang haji itu akan mudah makbul atau diterima Allah.

Wangi minyak khas orang berhaji, yaitu minyak Hajar Aswad (batu hitam), menyeruak di sekitar orang-orang. Menindih aroma keringat dan kelelahan para penjemput maupun aroma lainnya. Orang-orang terus berdesakan, tidak hanya yang menjemput Haji Mahtum, tetapi juga jamaah haji lainnya.

Beberapa saat kemudian, paman Haji Mahtum keluar. Wajahnya sepucat mayat, seperti tak berdarah. Lunglai ia berjalan ke arah keluarganya. Ia menghampiri paman Haji Mahtum yang lain. Suasana mencekam dan penasaran mulai terasa menular di sekitar penjemput Haji Mahtum. Ada yang tidak beres. Haji Mahtum tidak ikut serta. Pun kakaknya yang tadi masuk ke dalam. Pun istri Haji Mahtum yang semula bernama Mahiyati menjadi Hajjah Mahtumah, belum tampak keluar.

Bisik-bisik dengan cepat menyebar di antara para penjemput. Haji Mahtum terkena serangan jantung begitu menginjakkan kakinya di tanah air dan kini kritis. Dokter asrama haji sedang berusaha menolongnya.

Semua orang tampak berduka. Mereka komat-kamit membaca doa bagi keselamatan jiwa Haji Mahtum yang mereka kagumi dan hormati serta cintai itu. Haji Mahtum yang selalu memikirkan orang lain. Mereka berdoa dalam hati masing-masing agar Allah masih memanjangkan umurnya. Seharusnya, seseorang yang begitu berbudi luhur dipanjangkan usianya oleh Allah agar ia senantiasa tetap menaburkan kebajikan hidup bagi sesamanya di sekitarnya.

Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Haji Mahtum tak tertolong. Ia meninggal tanpa sempat bertemu dengan para penjemput setianya. Raungan dan tangisan terdengar serentak dari semua orang, baik keluarga maupun tetangga yang menjemput. Kematian selalu menyedihkan, terutama pada saat tidak diharapkan.

Iring-iringan mobil para penjemput seperti iring-iringan pengantar jenazah seorang pahlawan menuju peristirahatan terakhirnya. Di depan sebuah mobil ambulans penuh karangan bunga duka yang membawa jenazah Haji Mahtum. Di belakangnya sebuah sedan yang membawa istri Haji Mahtum dengan kakak dan putranya. Tak henti air mata mengalir mengiringi kepulangan seorang Haji Mahtum yang pulang seterusnya ke Rahmatullah.

Di mulut desa menuju kediaman Haji Mahtum, orang-orang berdiri sepanjang jalan seperti ingin memberikan penghormatan terakhir pada seorang haji yang telah menunaikan ibadah hidupnya demikian baik.

“Orang naik haji itu ada tiga jenis. Jika setelah menunaikan ibadah haji ia meninggal dunia, malaikatlah yang memanggilnya berhaji. Jika setelah berhaji ia menjadi seorang hamba yang lebih baik, Nabi Ibrahimlah yang memanggilnya. Jika setelah naik haji ia menjadi semakin buruk perangai dan ibadahnya (su’ul khatimah), iblis-lah yang memanggilnya.” Kata-kata ini pernah diucapkan Haji Mahtum sebelum ia berangkat ber-haji. (*)

 

 

Pulau Madura, 26 November 2010

Juwairiyah Mawardy, perempuan yang lahir di Sumenep, 25 Juni 1976, ini sejak sekolah memang senang menulis. Beberapa karyanya telah dimuat di sejumlah surat kabar lokal dan nasional.

 

Advertisements