Jilbab Kondangan


Oleh Setta SS (Eramuslim, 27 November 2008)

ANDAI saya boleh berandai-andai. Andai setiap hari adalah hari kondangan. Tapi saya yakin, akan ada banyak orang yang protes. Karena kondangan berarti menghadiri acara syukuran khitanan atau resepsi pernikahan atas undangan dari keluarga dekat, sahabat, tetangga sekampung, atasan atau bawahan di kantor, dan ada kalanya undangan itu datang dari orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Seperti undangan secara lisan dengan metode kolenang, yaitu satu kampung diundang semua tanpa memperhatikan apakah orang yang diundang itu mengenal si empunya hajat atau tidak.

Dan, tentu saja, kita datang tidak semata dengan tangan kosong. Meskipun di kartu undangan atau yang diucapkan secara lisan oleh orang yang dipercaya menyampaikan undangan dengan sangat jelas hanya menyebutkan “mohon doa dan restu”. Tetap saja, kita merasa tidak enak kalau datang hanya untuk mencicipi hidangan yang disediakan dan kemudian pamit pulang tanpa memberikan apa-apa.

Sehingga pada akhirnya, seperti yang sudah menjadi tradisi, ada yang ngamplop, memberikan kado, membawa beras dan berbagai jenis makanan lainnya. Ada juga yang membawa seekor ayam jago seperti tradisi di kampung kelahiran saya di tanah Sumatera sana. Yang jika diringkas, intinya adalah kondangan berarti menyumbang.

Tapi bukan hal itu yang ingin saya bahas pada kesempatan ini. Namun tentang hal lain yang jauh lebih urgen untuk kita gali sebagai sebuah wacana.

Seperti pagi ini, saya duduk-duduk di teras rumah memperhatikan ibu-ibu muda, setengah baya, dan beberapa gadis remaja berangkat kondangan. Beriringan menuju rumah tetangga dekat yang sedang mengadakan syukuran pernikahan. Dari ratusan warga kampung saya dan kampung sebelah yang berangkat kondangan, hanya ada satu-dua yang tidak mengenakan busana muslimah.

Ya, kampung kecil saya berubah menjadi Kota Santri pagi ini. Alhamdulillah, syukur saya sambil diam-diam sambil berdoa semoga hari-hari berikutnya tetap seperti pagi ini.

Ternyata harapan tinggal harapan. Bahkan tidak perlu menunggu hari esok tiba. Sepulang dari acara kondangan itu, mereka—para wanita di kampung saya, sudah menanggalkan kembali busana muslimah yang mereka pakai. Dan bangga hanya dengan mengenakan pakaian ala kadarnya seperti hari-hari sebelumnya. Begitulah fakta yang ada.

Saya jadi teringat saat seorang pembicara kultum shalat Tarawih menyatakan rasa syukurnya tentang fenomena maraknya pemakai jilbab, khususnya ibu-ibu yang sudah lanjut usia, di lingkungan warga kami. Beliau menyebutnya sebagai tradisi yang baik. Tanpa menegaskan bahwa sesungguhnya memakai jilbab adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslimah yang sudah kedatangan haid.

Bahwa jilbab harus dipakai tidak hanya saat mendatangi pengajian di masjid, pergi kondangan, bertakziah, dan saat pergi ke sekolah atau kampus yang ‘mewajibkan’ para siswi dan mahasiswinya mengenakan jilbab saja. Tetapi di mana pun dan kapan pun.

Saya merasa terpanggil untuk menjelaskan kembali hal ini kepada mereka—para wanita di kampung saya. Sehingga saat giliran kultum saya tiba, saya mencoba meluruskan kembali pandangan mereka tentang jilbab dengan mengutip terjemah Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59 dan surat An-Nuur ayat 31. Juga beberapa hadis yang membahas tentang kewajiban untuk memakainya.

Bagaimana hasilnya?

Memang tidak ada perubahan signifikan. Mereka masih tetap nyaman dengan pakaian keseharian mereka seperti biasanya. Akan tetapi, saya merasa sedikit lega, setidaknya saya sudah menyampaikan sebuah kebenaran dengan apa adanya kepada mereka. Dan adalah hak mereka sepenuhnya untuk memilih sekaligus bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri.

Bukankah hanya sebatas itu kewajiban saya?

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (Q.S. Al-Ghaasyiyah [88] : 21-22).

Bagaimana dengan para wanita di kampung Anda? (*)

 

 

Karangkandri, 24 Januari 2oo6 11:5o a.m.

 

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: