Archive for December, 2010

Memulai Hari Ini
December 31, 2010


Oleh Setta SS (Kotasantri, 22 Februari 2010)

Herzlichen Glückwünsch zum 28 Geburtstag [1]

***

DALAM salah satu bukunya yang berjudul Being Happy! A Handbook to Greater Confidence and Security, Andrew Matthews berkesimpulan di antaranya dia mengatakan bahwa happiness is a daily decision. (more…)

Advertisements

Pelepah Ikan
December 31, 2010


Cerpen Ragdi F. Daye (Koran Tempo, 26 Desember 2010)

“MAU coba anak hiu? Atau ikan pari ini?” Laki-laki itu sedang memandang perahu-perahu yang mengerubuti sebuah kapal besar penangkap ikan ketika sebuah suara sengau seperti ditujukan kepadanya. Ditolehkannya kepala ke samping. Dan benar, seorang perempuan kurus berbaju lusuh sedang menjinjing seikat ikan dan mengangkatnya ke depan si lelaki. (more…)

Manusia Es
December 31, 2010


Cerpen Haruki Murakami (Jawa Pos, 26 Desember 2010)

AKU menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya. (more…)

Pengintai
December 31, 2010


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 26 Desember 2010)

“PARA pencemburu itu bisa sewaktu-waktu mengubah setiap orang menjadi pemburu yang tak akan berhenti memburu. Tak akan berhenti. Tak akan berhenti hingga berhasil menancapkan anak panah atau mata tombak ke urat-urat lehermu. Ke urat lehermu. Seperti yang mereka lakukan pada ayahmu. (more…)

Tangan
December 31, 2010


Cerpen Rifan Nazhif (Republika, 26 Desember  2010)

SUDAH beberapa hari ini tanganku sering sulit diangkat. Apalagi untuk diayun-ayunkan. Aku sudah mendatangi Mantri Amak. Tapi, jawaban darinya tak ada yang salah di tubuhku. Dia hanya memberikan aku obat tidur. Menurut mantri, aku hanya kelelahan. (more…)

Pohon Jejawi
December 31, 2010


Cerpen Budi Darma (Kompas, 26 Desember 2010)

JANGAN buka peta Surabaya hari ini, tapi, bukalah peta Surabaya pada akhir tahun 1920-an, atau paling muda awal tahun 1930-an, ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Waktu itu, jalan dan kampung bernama “kedung” tidak sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung Gang Buntu. (more…)

Bahasa Cinta
December 21, 2010


Oleh Setta SS (Eramuslim, 16 Mei 2007)

JAM dinding menunjukkan pukul 10 pagi lewat beberapa menit saat sepupu saya yang duduk di bangku SD kelas dua tiba dari sekolah dengan sepedanya. Masih dari jalan depan rumah, ia sudah berteriak lantang memanggil ibunya, tante saya, meminta uang dua ribu rupiah. Hanya dua ribu rupiah memang, tetapi untuk anak seusianya yang tinggal di sebuah kampung kecil, uang sejumlah itu nilainya sudah cukup besar. (more…)