Oleh Setta SS (Eramuslim, 16 Januari 2007)

SAYA tersentak kaget ketika bangun dini hari dan menemukan sebuah SMS di handphone (hp) saya, yang berbunyi:

“Ya Allah, beritahukanlah pada orang yang bernama… (nama saya yang penulisannya salah), bahwa tidak baik bersikap seolah belum bersuami kepada wanita yang telah bersuami. Apakah menurutnya itu baik?”

Dari nama pengirim yang tertera di inbox, saya langsung bisa menebak dari siapa SMS bernada menuduh itu berasal. Tapi saya membutuhkan waktu cukup lama untuk mengingat kembali tentang apa gerangan yang telah saya lakukan pada istri dari laki-laki yang mengirimi saya SMS itu sebelum membalasnya. Sungguh, saya tidak pernah menyangka akan mendapat SMS yang membuat denyut jantung saya langsung bertambah begitu cepat dalam beberapa detik saja.

Reflek, otak saya memutar ulang memori yang telah lalu. Semua hal yang berhubungan dengan wanita yang suaminya barusan mengirim SMS itu.

Sekitar tiga bulan sebelumnya, tepatnya di pertengahan bulan Ramadhan, seseorang yang tidak saya kenal memanggil ke hp saya saat waktu sahur tiba. Saya telepon balik ke nomor itu, tetapi tidak diangkat. Sepulang dari jamaah Shubuh di masjid, saya dapati sebuah SMS masuk ke hp saya dari nomor yang sama. Berisi permohonan maaf karena dia mengaku salah panggil ke nomor saya. Saya pun memaklumi kealfaanya itu. Mungkin nomor yang akan dihubunginya hanya berbeda satu angka saja dengan nomor saya.

Tetapi, SMS pertama itu ternyata terus berlanjut dengan SMS-SMS berikutnya. Mulai dari sekadar say hello, tanya seputar fikih Ramadhan, dan… curhat masalah pribadi. Hingga pada akhirnya, saya tidak hanya tahu siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya, tetapi juga hal-hal pribadi tentang dirinya. Ia sudah menikah dan suaminya bekerja di pelayaran yang jarang sekali pulang. Karena suaminya sibuk dengan pekerjaannya, awalnya ia curhat pada kakak laki-lakinya. Namun, karena kakak lelakinya juga mulai sibuk, ia mencari orang lain untuk berbagi. Ia juga mengakui bahwa ia mengetahui nomer hp saya dari teman akrabnya yang kebetulan menyimpannya.

Dan, saya pun membalas hampir semua SMS darinya meskipun tanpa ada tendensi apa-apa. Hanya untuk menghargainya. Hal inilah yang di kemudian hari, setelah saya renungkan dengan pikiran jernih, saya sadari sepenuhnya sebagai letak kesalahan saya yang sesungguhnya.

Suatu hari di penghujung Nopember 2005, sebuah SMS darinya masuk ke hp saya. Ia mengabarkan akan berangkat ke Surabaya untuk bertemu dengan sang suami yang kapalnya akan berlabuh di Tanjung Perak.

Setelah itu, ia masih mengirim SMS dua kali, pada awal Desember dan tepat tiga hari menjelang pergantian tahun. Saat itu, ia menulis sedang berada di Bau-bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, ikut berlayar bersama suaminya. Saya masih ingat, saya hanya mengetikkan kalimat, “Selamat melihat tanda-tanda kebesaran Allah di belahan bumi-Nya,” setelah menjawab pertanyaan say hello-nya.

Terakhir kali saya mendapat SMS darinya berupa ucapan selamat hari raya ‘Idul Adlha, yang kemudian hanya saya balas dengan kata, “Amin.” Hingga sampailah SMS yang melonjakkan denyut jantung saya dua kali lipat dalam sekejap itu.

Setelah membaca kembali beberapa kali SMS dari suaminya dan berusaha menenangkan pikiran, saya pun membalas SMS itu. Saya mengucapkan terima kasih atas SMS-nya yang—bagaimanapun, telah mengingatkan saya. Saya juga mengklarifikasi tuduhannya dengan menjelaskan apa adanya.

Bahwa sejak pertengahan Ramadhan, istrinya beberapa kali mengirim SMS pada saya menanyakan seputar hukum shalat Tarawih dan itikaf, yang saya jawab dengan posisi balligh ‘annii walau aayah (sampaikan dariku walau hanya satu ayat). Tidak lebih.

Beberapa jam kemudian, kembali hp saya berdering. Sebuah balasan dari nomer yang sama. Tapi kali ini isi pesannya berbeda. Ia menulis:

“Saya yang salah. Sebagai suami mungkin selama ini jarang memperhatikan istri karena pekerjaan. Maaf beribu-ribu maaf karena telah salah paham. Sudikah kiranya Saudara memaafkan saya?”

Alhamdulillah, masalah ini sudah tuntas.

Namun, ada satu hal yang sangat membekas pada diri saya setelahnya. Di waktu yang akan datang, saya harus lebih berhati-hati dalam berhubungan dengan orang lain, siapapun dia. Karena saya yakin, seperti kata pepatah, tak akan ada api jika tidak ada yang menyulutnya. Tak akan muncul suatu masalah jika tak ada yang memulainya. Dan, hal itu bisa saja berawal dari sekadar mengirim SMS pada orang yang bahkan mungkin sangat kita kenal.

Hati-hati! (*)

 

 

Karangkandri, 3 Pebruari 2oo6 oo:26 a.m.

 

Advertisements