Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 14 November 2010)

“LETNAN Pieter Verdragen, Sir!” sebuah seruan membuatku menunda menyalakan rokok. “Pesan radio dari Bravo!”

Godverdomme. Sampai mana mereka, Rufus?” kutatap kopral tambun di seberang meja yang tampak sibuk dengan radionya. “Seharusnya mereka sudah di sini setengah jam yang lalu.”

“Di sekitar Meester Cornelis,” sahut Rufus. “Pecah ban.”

Kualihkan pandangan kepada kedua belas anak buahku. Persiapan patroli malam hampir tuntas. Kendaraan sudah dibariskan di depan ruang briefing. Sebuah truk mini Dodge beratap kanvas, serta sebuah jip Willys terbuka, yang bangku belakangnya dibongkar untuk menempatkan sepucuk Browning M 1919 kaliber 7,62 mm. Ini perubahan besar yang melegakan. Minggu lalu, jatah kendaraan kami hanya empat buah sepeda motor gandeng-samping Jepang.

“Rufus,” kulirik arloji. “Katakan, kita tidak menunggu. Silakan lurus ke Senen. Kita bertemu di depan jembatan Passer Baroe pukul 23.00. Kita akan menyusuri jalur yang biasa ditempuh oleh Batalion X, Weltevreden, Molenvliet, Stadhuis, putar balik, Noordwijk, lalu Passer Baroe.”

“Tapi, Sir?” Rufus kelihatan ragu. Ia memang belum pernah patroli malam, dan tahu betapa berbahayanya jalur yang akan kami lewati.

“Hei, Inggris,” Joris Zonderboots, si kopral Indo-Belanda, mendekati Rufus. “Takut pertempuran jarak dekat di jalanan becek? Tenanglah. Belum tentu kita bersua dengan bandit-bandit itu. Kalaupun mereka menghadang, apa boleh buat,” ia meniru gerakan menggorok leher dengan telunjuknya. “Percayalah, dua belas orang kita setara dengan seratus cecunguk itu.”

“Bahasa Inggrismu buruk, mestizo,” Rufus tampak tersinggung.

“Bukan jumlah orang, tapi senjata. Sejak para Nippon bodoh itu membiarkan gudang senjata mereka dirampok, kita tak punya gambaran pasti seberapa besar kekuatan lawan,” Rufus menggerutu, tetapi wajahnya kembali cerah melihat rokok yang kuangsurkan ke bawah hidungnya. “Betul, Letnan?” Rufus menoleh kepadaku, seolah minta dukungan.

“Kau orang radio, mestinya kau yang bercerita,” aku mencoba menyalakan kembali rokokku. “Mereka banyak, tapi tidak utuh. Ada tiga unsur yang saling berebut pengaruh. Pertama, para nasionalis. Ini tanggung jawab para diplomat, bukan urusan kita. Lalu para bandit, tukang pukul, jawara, yang tergabung dalam lasykar. Ada banyak kelompok. Terbiasa menggunakan senjata, tapi tidak terarah. Tak jarang menyerang untuk merampok. Terakhir, yang menamakan diri Tentara Keamanan Rakyat.”

“Resimen Tangerang termasuk yang terakhir?” Diederik Kjell, kopral Belgia yang malam ini bertugas menjadi sopirku, angkat bicara.

“Hati-hati dengan yang itu,” kuhirup rokokku dalam-dalam. “Tangguh, rapi, dan idealis. Banyak mantan tentara PETA di situ.”

“Bagaimana membedakan lasykar dan tentara republik? Wajah mereka sama dungunya,” Damien Shaun, si penjinak bom dari Irlandia, mengangkat tangan.

“Kau akan tahu saat berhadapan dengan mereka, Kopral.”

“Mereka boleh berhadapan dengan veteran Antwerp ini,” Diederik menepuk dada dengan pistolnya.

“Oh, pernah di Antwerp?” Kopral Geerd de Roode, yang baru selesai memasang senapan di mobil, membuka kaus hijaunya yang basah keringat. “Sebagai pembebas, atau yang dibebaskan?” lanjut de Roode, diikuti gelak tawa serdadu lain.

“Kusobek mulutmu,” Diederik memburu de Roode. Tapi segera ia ditarik oleh rekan-rekannya. Mau tak mau aku tersenyum pahit. Pecundang-pecundang ini tak tahu, di balik keelokan alam Hindia, maut mengintai dari seluruh pelosok. Kolonel Agerbeek, pada acara wejangan pembekalan untuk para perwira menengah yang baru tiba dari Eropa, juga menegaskan betapa berbahayanya hidup di Batavia saat ini, bahkan untuk tentara.

“Kita tahu, pemicunya adalah kekosongan kekuasaan setelah Jepang takluk,” katanya. “Ditambah kedatangan kapal perang Sekutu yang tertunda. Dan puncaknya, berita tentang berdirinya Republik Indonesia. Sejak itu, kita menyaksikan sederet kejahatan yang belum pernah terjadi di Hindia. Perampasan harta orang Eropa atau tuan tanah Tionghoa, pembunuhan keji sepanjang jalur Molenvliet-Risjwijk. Anda tahu? Mereka kerap mencincang orang Eropa dan memasukkannya dalam karung. Pria maupun wanita.”

“Mengapa tentara Nippon diam saja, Heer?” tanyaku saat itu.

“Entahlah. Tampaknya mereka diam-diam bersimpati kepada pergerakan pribumi. Terbukti hanya sedikit yang mempertahankan diri ketika dilucuti oleh tentara republik,” jawab Kolonel Agerbeek.

“Untunglah ada KNIL. Batalion X. Begitu dibebaskan dari penjara Jepang, mereka menyatukan diri, menyusun kekuatan, dan menguasai keadaan. Kita bisa meniru cara mereka. Membalas teror dengan teror. Berkeliling kota tengah malam, berteriak-teriak sambil melepas tembakan ke atas, dan menculik orang yang dicurigai sebagai tentara republik.”

 

AKU manggut-manggut. Tentu saja. Menguasai medan bukan persoalan sulit bila anggota pasukan berasal dari satu bangsa, dan dirancang sebagai kekuatan penggempur. Sayangnya, kami adalah pasukan aneka bangsa, yang diharapkan mampu meredam gejolak  revolusi melalui pendekatan yang cerdik, bermartabat, serta menghasilkan kemenangan berskala besar. Kalau bisa, menang tanpa harus menumpahkan sebutir pelor pun.

Bagaimanapun, rencana awal tetap kami jalankan. Setiap malam, sepuluh regu patroli disebar. Selain rutin menjaga keamanan, juga melatih koordinasi antarsatuan sebelum operasi sergap, yang rencananya akan digelar serempak di seluruh Batavia akhir Desember nanti.

“Letnan, kita berangkat?” Sersan James Richmond, orang kedua dalam rombongan, menepuk pundakku, mengembalikan pikiran ke ruang briefing. Aku mengangguk, lalu bangkit dari kursi diikuti yang lain.

“Mengapa tertawa? Angkat pantatmu!” bentakku kepada Joris.

“Oi, Sersan!” Joris melambai, memanggil Richmond. “Kurasa benar, Letnan Verdragen melamun. Teringat pada gadis Sunda kemarin sore itu agaknya.”

“Gadis Sunda? Oh, teman si pencuci baju?” Rufus memutar tas radionya ke punggung. Pembicaraan menyangkut wanita pribumi selalu menarik perhatiannya. “Aku tak pernah bisa menyebut namanya. Seperti mengatakan ace, bukan?”

“Euis,” kata Joris. “Lihat mulutku. E-uis. Tahan sebentar di rahang, lalu lepaskan. E-uis. Mudah bukan? Seperti mengatakan huis, tapi huruf awalnya diganti dengan e.”

“Mudah bagimu, lidahmu sebengkok kelakuanmu,” Rufus menggerutu.

“Tidak perlu lidah untuk menyebut nama itu, tolol!” Joris terbahak.

“Hati-hati, jangan ganggu gadis-gadis itu,” kuembuskan asap rokok terakhir, lalu kuinjak puntungnya.

“Anda terdengar sangat serius, Letnan,” Sersan Richmond mengokang Lee Enfield-nya.

“Aku serius. Bisa saja mereka mata-mata yang disusupkan. Kecuali itu, teman-teman mereka, para fanatik, akan menjagal gadis-gadis itu bila tahu mereka punya kisah asmara dengan salah satu dari kita,” aku membatalkan niat mengail rokok kedua. “Ah, hukuman berat untuk warga yang dianggap membantu tentara pendudukan tak hanya terjadi di sini. Tahun lalu aku ikut Divisi Infanteri ke-30 membebaskan Paris. Ketika masuk kota, selain hujan bunga dan ciuman, kami disuguhi pemandangan mengenaskan. Serombongan wanita, diarak telanjang. Rambut mereka tak bersisa. Wajah mereka lebam.”

“Kolaborator Nazi?” tanya Rufus.

“Ya,” sahutku. “Walau mungkin juga hanya tukang cuci, atau perempuan biasa, yang tidur dengan Nazi karena suami mereka mati setelah mewariskan anak-anak yang sedang kelaparan di rumah. Jadi, sekali lagi, jangan sentuh mereka. Bila kita sopan, mereka akan senang, lalu menyampaikan hal-hal baik tentang kita. Dan bila berita kebaikan itu tersebar ke seluruh desa, kita sudah menang satu langkah.”

“Anda pandai dan murah hati, Letnan. Kalau gadis Sunda itu mendengar, ia tentu bersedia menikah denganmu,” Rufus terpingkal-pingkal, disusul yang lain.

“Euis! Namanya Euis. Lihat mulutku. E-uis,” sergah Joris.

“Aaah, tutup mulutmu, Indo keparat!” Rufus menyepak kaki Joris, membuat tawa kami semakin keras.

“Cukup. Kita sudah sangat terlambat. Rufus, terus buka kontak dengan Bravo dan markas,” aku memeriksa pistol, memastikan kamar pelurunya terisi penuh.

 

SEBENTAR kemudian kami telah membelah malam, menyusuri Waterlooplein, mengarah ke kota lama Batavia. Aku, Joris, dan Diederik mengisi kabin depan truk yang membawa enam serdadu di bagian belakang. Sedangkan Sersan Richmond, Rufus, dan Geerd de Roode membuntuti kami dengan jip.

“Anda lahir di sini, Letnan?” Diederik memecah kesunyian. Kedua tangannya lebih sering dipakai memegang botol bir dan rokok dibandingkan roda kemudi.

“Di sini? Hindia Belanda, maksudmu? Ya, aku lahir di Bandung.”

“Keluarga tentara?”

“Bukan. Ayahku kepala perkebunan teh. Akrab dengan penduduk pribumi. Seorang dari mereka bahkan menjadi ibu susuku sampai aku berusia lima tahun, karena ibu kandungku meninggal tak lama setelah melahirkanku.”

“Maksudmu, sampai usia lima tahun kau masih menetek?”

“Pertanyaanmu membuktikan bahwa kau memang bukan orang Hindia, Kopral,” aku tersenyum. “Wanita pribumi punya cara cepat untuk mendiamkan anak asuh yang rewel. Pertama, mengusap kemaluan si anak. Terutama anak lelaki.”

“Itu betul,” Joris yang duduk dekat pintu kiri, menimpali.

“Whoa,” Diederik terbahak. “Aku suka itu. Lanjutkan.”

“Yang kedua, menyodorkan puting susu mereka. Ada atau tidak air susunya, akan menenangkan si anak. Dalam kasusku, air susu ibuku tetap keluar. Well, setidaknya itu yang kuingat.”

“Pantas bahasa Melayu dan Sundamu begitu fasih,” potong Joris.

“Lima tahun menelan susu pribumi.”

Kami semua tertawa.

“Ya. Masa lalu yang manis. Aku ingat, ayahku pernah menyelenggarakan pesta tahun baru.Yang hadir sekitar lima puluh orang. Meja-meja besar disusun keliling halaman. Kami makan malam, menunggu peralihan tahun, dilayani jongos-jongos berbaju putih dan bersarung.”

“Sebaiknya aku merokok lagi. Ceritamu membuatku lapar,” Joris menepuk perut sambil mencari pemantik di saku jaket. “Kau beruntung lahir di tengah keluarga kaya, Letnan. Aku anak kolong. Lima bersaudara. Lahir dari seorang gundik Jawa. Ayahku mati dalam perang Aceh, dan tak ada tuan Belanda yang mau meneruskan menjadi suami ibuku. Akhirnya ibu keluar dari tangsi, kembali kepada orang tuanya setelah menitipkan kami, anak-anaknya, di sebuah rumah panti asuhan. Belakangan kami mendengar, ibu mati dirajam penduduk desa. Yah, seperti ceritamu tadi, ia dianggap pelacur, pengkhianat, karena pernah hidup bersama kafir Belanda. Masa kecil yang sulit. Di kalangan Belanda, kami tidak pernah diterima utuh, sementara di lingkungan pribumi menjadi bahan cemooh,” api dari pemantik membuat sepasang mata Joris seperti berkobar.

“Aku tahu. Masuk dinas ketentaraan Belanda adalah langkah tepat. Setidaknya kau sudah memilih sisi berpijak,” aku mencoba menunjukkan simpati, walau terus terang tetap tidak paham bagaimana seharusnya menjaga sikap kepada para Indo. Barangkali karena aku terlalu percaya pendapat umum, bahwa mereka licin, perengek, dan sulit diatur.

“Anda lama di Eropa, tidak keberatan ditempatkan di sini?” Diederik mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Justru aku yang minta. Bagiku, Hindia Belanda seperti negeri ajaib yang senantiasa menawarkan penjelajahan spiritual. Membuatku ingin kembali meski aku punya istri dan rumah di Beziers,” sambungku.

 

PERLAHAN-LAHAN kami memasuki kawasan Molenvliet. Semasa kecil aku beberapa kali ikut ayah menonton festival lampion di atas Kali Ciliwung. Betapa berubah keadaannya saat ini. Sepi dan gelap. Seperti daerah yang ditinggalkan penduduknya karena terjangkit wabah cacar. Wakil peradaban modern sekaligus penanda kehidupan di sekitar situ hanyalah sorot lampu dan derum mesin kendaraan kami.

Viva Indonesian Republic. Freedom once and forever. Awas, anjing NICA,” Diederik membaca coretan pada beberapa dinding bangunan lalu menoleh padaku. “Anjing?” dahinya berkerut.

“Wuf-wuf,” sahutku.

Hampir saja pecah tawa kami seandainya Joris tidak berteriak tiba-tiba: “Sebelah kiri! Dua orang!”

Diederik membanting kemudi ke kiri. Beberapa sosok bayangan tampak berkelebat di dinding sebuah depot listrik.

“Hati-hati. Mungkin pancingan!” seruku.

Derit rem membuat jip di belakang kami ikut waspada, dan berputar ke sisi berlawanan. Agaknya mereka lebih beruntung. Sebentar kemudian kami mendengar rentetan senapan.

Mijn God! Mengapa harus melepas tembakan?” aku menggeleng, tapi tak urung kubuka pengaman Vickers-ku.

Para serdadu di belakang truk berlompatan turun, lalu berpencar di sekeliling lokasi. Aku, Joris, dan Diederik menghampiri jip. Tampak de Roode dan Sersan Richmond menodongkan pistol pada seseorang yang tertelungkup di tanah dengan kaki dan tangan terbuka lebar, sementara Rufus tetap di dalam jip.

“Yang satu lolos,” ujar Richmond.

Aku mengangguk. “Joris, Diederik, geledah dia.”

Joris menjambak orang itu, memaksanya duduk. Ia masih belia. Mungkin usianya sekitar 14 atau 16 tahun. Selembar ikat kepala merah putih melingkar di kepalanya. Wajahnya menyiratkan ketakutan teramat sangat. Bibirnya yang tebal bergetar hebat.

Godverdomme! Si bodoh ini kencing di celana,” pekik Joris, sambil mengayun telapak tangan. Pemuda itu menjerit, meraba pipinya.

“Tangan di kepala!” bentak Joris dalam bahasa Melayu. Pemuda itu merintih berlarat-larat, seolah Joris baru saja mencambuknya dengan seutas cemeti raksasa.

Kowe tentara republik?” cecar Joris.

Lagi-lagi hanya terdengar rintihan.

“Apa kowe bisu? Mengapa pakai ikat kepala dan seragam? Apa kowe mau bikin onar? Mau sabotase?”

“Ia bersih, tapi apa ini?” Diederik memutar senter ke dada si pemuda.

“Lencana merah putih,” kataku.

Joris merenggut lencana itu, lalu dijejalkannya ke mulut si pemuda.

“Kalau tidak bicara juga, kowe telan ini saja. Telan!” Si pemuda menggeliat-geliat. Air mata membanjiri wajahnya. Ada darah di bibirnya. Barangkali tergores peniti lencana.

 

TIBA-TIBA terdengar lolongan nyaring. Hampir saja senapan kami meletus. Entah dari mana, muncul seorang wanita berbadan tambun dalam balutan kebaya dan kain lusuh, lalu bersujud menciumi kaki Joris sambil berteriak-teriak histeris. Beberapa tentara yang semula menjaga lokasi bersiap menghampiri, tapi segera kuberi tanda agar tetap di tempat.

“Apa katanya?” agak gugup, Joris melirik ke arahku seraya berusaha membebaskan kakinya dari cengkeraman wanita itu.

“Tidak jelas,” aku memasang telinga. “Bahasa Jawa. Hanya sedikit yang tertangkap. Pemuda itu anak sulung. Kurang waras. Mimpi jadi tentara.”

Nonsense. Pasti dia kurir penghubung. Kalau bukan, dari mana seragamnya?” Joris mendorong wanita itu. “Tolong enyahkan monster ini, sebelum kuledakkan kepalanya.”

Diederik menitipkan senternya kepadaku, kemudian menarik tubuh wanita itu hingga nyaris terjengkang. Kami bisa melihat bahwa di balik kebayanya yang longgar, wanita itu tidak berkutang. Buah dadanya menggantung bebas, seperti pepaya raksasa dengan sepasang puting besar berwarna cokelat gelap. Agak ke bawah, perutnya yang lebar terlilit kencang oleh kain putih dengan banyak tali.

“Tampaknya ia baru punya bayi,” kataku.

Sementara kami tertegun, si pemuda melepaskan diri dari jepitan tangan Joris, lalu menubruk ibunya. Meraung-raung.

“Biarkan,” aku menahan langkah Joris.

Sunyi. Tak ada suara lain kecuali isak tangis wanita dan pemuda tadi. Angin malam yang lembap berputar sejenak di antara kami, mengantarkan sejumput aroma yang sungguh tak asing bagiku.

“Joris, kembalikan lencana bocah itu,” gumamku. “Kita pergi.”

“Tapi, Letnan,” Joris menatap wajahku.

“Lebih baik kita cari yang lolos tadi,” aku memutar badan, lalu melangkah menuju truk diikuti Diederik.

Di antara ayunan kaki, berangsur hadir kembali ingatan itu, memenuhi relung pikiran, seolah baru terjadi kemarin: bangku bambu di kamar belakang, wajah ramah seorang wanita Melayu, aroma minyak kelapa pelicin rambut, dan terakhir yang paling kuat adalah bau asam keringat bercampur susu yang berkumpul di sekitar puting buah dada cokelat yang ranum.

Wanita itu mengatur bantal, kemudian berbaring miring di sisiku. Sambil bersenandung, tangannya yang lembut mendorong kepala, mengarahkan bibirku menemukan ujung puting. Manakala tercecap olehku rasa asam itu, kuketatkan jepitan bibir, lalu perlahan-lahan kutarik dengan ujung lidah. (*)

 

 

Jakarta, 24 Oktober 2011

M. Iksaka Banu bekerja di bidang desain grafis dan periklanan. Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Bermukim di Jakarta.

Advertisements