Oleh Setta SS (Eramuslim, 20 Januari 2008)

HWANG Yu-jin terbaring dalam peti mati di ruangan temaram. Insinyur Mesin berusia 29 tahun itu belum mati. Prosesi kematian bohong-bohongan di kantor pusat Korea Life Consulting Co. di Chungju, Korsel, tersebut merupakan bagian dari tren warga Korsel untuk menikmati suasana kematian. Di tengah kemajuan Korsel yang pesat, terapi nyeleneh itu dinilai bisa menentramkan jiwa. [1]

Ya, kalau hidup sehat dalam bahasa Inggris disebut well-being, di sana trennya well-dying, alias sakaratul maut yang nyaman.

Tetapi saya tidak tahu pasti, apa definisi menentramkan jiwa yang menjadi tujuan dari prosesi kematian bohong-bohongan di atas. Apakah hanya menentramkan jiwa sebatas wujud pelarian sesaat jasad kasar dari hiruk pikuk kehidupan duniawi yang semakin semrawut dan carut-marut ini atau sampai menyentuh ketenangan batin sebagai bentuk pengakuan akan kelemahan diri dan betapa kuasanya Sang Pencipta di atas sana? Apakah sampai pada pemaknaan hakikat kematian itu sendiri yang hakiki, yaitu bahwa kematian bukan hanya akhir dari episode perjalanan hidup seorang manusia di dunia ini, namun juga sekaligus merupakan pintu gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat sana. Kehidupan kedua dimana setiap kebaikan atau maksiat yang kita perbuat akan mendapatkan balasannya yang setimpal, yang akan menjadi warning untuk langkah-langkah kecil selanjutnya menyongosong ujung jatah usia, seperti apa yang saya yakini sebagai seorang muslim.

Terlepas dari apapun perbedaan motivasi melakukannya, tentu tidaklah salah jika seorang muslim pun mencobanya. Seperti yang pernah dilakukan oleh beberapa salafush shalih (orang-orang shalih terdahulu) pada zamannya dengan menggali tanah seukuran liang lahat dan masuk ke dalamnya saat-saat jiwa mereka terasa bebal untuk melakukan ibadah.

***

Apa yang paling sering menggoda manusia dari kehidupan dunia dan membuatnya mudah terlena, salah satunya ialah karena ajalnya juga tidak dia ketahui. Karena akhir dari hidup ini tidak pernah terdefinisi sebelumnya.

Dan tiada satu pun jiwa yang mengetahui apa gerangan yang akan ia lakukan esok hari dan di belahan bumi mana kelak ia akan meninggal. (Q.S. Luqman [31] : 34)

Oleh karena itu, nikmat kesehatan dan nikmat kemudahan seringkali membuat orang tidak menyadari bahwa kelak hidup ini akan berakhir.

Tetapi, jika kita melihat berkali-kali Al-Qur’an menekankan masalah ajal, dan Rasul Saw. juga berkali-kali menekankan tentang masalah kematian, sesungguhnya yang diinginkan oleh Al-Qur’an dan sunnah Rasul Saw. ialah agar setiap saat kita menyadari titik terakhir ke mana kita menuju. Atau kita menyadari visi dan misi dari kehidupan ini.

Sesungguhnya yang disebut dengan keimanan itu selalu bermula dari titik kesadaran ini. Bermula dari apa yang disebut oleh Ibnul Qoyyim dengan Al-Yaqallah. Saat dimana jiwa kita terhenyak oleh kenyataan, bahwa kita akan memiliki second life. Kehidupan kedua setelah kehidupan di dunia ini.

Maka, bagian yang paling menyentuh dan paling menggugah keimanan kita ialah kesadaran yang kuat tentang waktu. Karena kesadaran tentang waktu ini ialah bagian yang paling kuat membentuk gaya hidup seseorang. Oleh karena kesadaran tentang waktu merupakan bagian dari kesadaran tentang hidup itu sendiri.

Yaitu apabila kita mampu merasakan setiap detik dari perjalanan waktu kita. Merasakan keberartian pada setiap detik yang kita lalui. Menyadari bahwa pohon kehidupan kita daun-daunnya setiap hari mulai berguguran. Hingga ingatan kita tentang titik akhir dari kehidupan ini selalu kuat mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita merasa, dan cara kita bertindak. [2]

Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan menghadapi kematian itu. (H.R. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya)

Jadi, pertanyaannya sekarang ialah, “Sudahkah kita mengingat saat-saat kematian kita hari ini?” (*)

 

 

Yogyakarta, 19 Januari 2oo8 o3:o2 p.m.

 

Catatan:

[1] Harian Jawa Pos edisi 12 Januari 2oo8

[2] Disarikan dari ceramah Ustad Anis Matta Lc.

 

Advertisements