Oleh Setta SS (Kotasantri, 19 Februari 2009)

PAGI ini saya membaca sebuah berita terkait razia pasangan mesum yang tertangkap basah di tiga hotel di Surabaya di situs berita digital detik.com. Tampak ada beberapa pasangan mesum yang terkena razia dari foto-foto yang ditampilkan di halaman muka situs tersebut. Salah satunya adalah foto seorang remaja Pekerja Seks Komersil (PSK) yang sedang menangis ketika akan digelandang oleh petugas razia.

Apa hal yang pertama kali mencuat dalam benak saya sesaat setelah melihat ekspresi sang remaja PSK itu?

Saya teringat ketiga adik perempuan saya nun jauh di kampung halaman. Mereka sama-sama wanita seperti remaja PSK itu. Jika seandainya remaja PSK itu adalah salah seorang dari ketiga adik perempuan saya, bagaimana perasaan saya sebagai seorang kakak?

Benar, saat ini remaja PSK itu sedang berada di jurang kehinaan. Ada di titik nadir martabat seorang wanita sekaligus sebagai manusia yang beradab.

Namun, saya tidak tahu apa alasan sesungguhnya hingga ia menceburkan diri ke perbuatan nista itu. Saya tidak tahu apa motif di balik tindakannya berbuat mesum, bahkan saat bulan suci Ramadhan seperti sekarang ini. Saya tidak bisa menebak dengan pasti apa penyebab dari tindakan asusila wanita muda PSK itu. Saya tidak tahu apa-apa di balik pilihan hidupnya saat ini. Dan karenanya, saya sama sekali tidak punya hak untuk berburuk sangka dan menambah daftar penilaian negatif pada dirinya. Sama sekali tidak berhak!

Kita diciptakan bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk saling menasehati satu sama lain.

Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi lima atau sepuluh tahun yang akan datang pada diri seseorang. Bahkan, kita pun tidak tahu apa yang akan menimpa diri kita sendiri di kemudian hari.

Suatu sore, saat di masjid dekat rumahnya sedang ada kajian, seorang ustad Jefri Al-Bukhari yang masih jahiliah, dulu, justru sedang teler bersama kawan-kawannya.

Saat-saat masa kuliah, ada satu foto Aa Gym di buku Aa Gym Apa Adanya sedang berlagak seperti seorang rocker. Sepatu ket putih, celana jin ketat, jaket gaul dan topi koboi. Sedang genjrang-genjreng dengan gitarnya menyanyikan sebuah lagu dalam festival musik di kampusnya. Sekilas tampak sekali tipikal mahasiswa urakan.

Tetapi, dalam rentang waktu sekian tahun kemudian, saat ini, sebagian kita tentu mengenal cukup baik pribadi macam apa kedua sosok di atas.

Oleh karena itu, kita tidak berhak menghakimi seseorang betapapun hancur kehidupannya saat ini. Jangan pernah sekali-kali! (*)

 

Yogyakarta, 14 September 2oo8 o5:55 a.m.

Advertisements