Cerpen Chinua Achebe (Suara Merdeka, 31 Oktober 2010)

Hari-hari Sekolah Chike ilustrasi Abdullah Ibnu Thalhah - Suara Merdeka
Hari-hari Sekolah Chike ilustrasi Abdullah Ibnu Thalhah – Suara Merdeka

ANAK bungsu Sarah laki-laki, dan kelahirannya membawa kegembi raan besar dalam rumah ayahnya, Amos. Si anak menerima tiga buah nama pada pembaptisannya, yakni: John, Chike, Obiajulu. Nama terakhir berarti “pikiran pada akhirnya adalah ketenangan”. Siapa pun yang mendengar nama ini segera tahu bahwa pemiliknya hanyalah seorang bocah atau seorang anak lelaki. Chike satu-satunya anak lelaki. Orang tuanya punya lima anak perempuan sebelum dirinya.

Seperti kakak-kakaknya, Chike dididik “dalam kebiasaan orang kulit putih”, yang mana berarti berlawanan dengan cara tradisional. Amos telah menghabiskan waktu bertahun-tahun sebelum membawa pulang sebuah lonceng kecil yang ia gunakan untuk mengumpulkan keluarganya untuk berdoa dan menyanyikan lagu puji-pujian, pertama-tama pada pagi hari dan terakhir kalinya malam hari. Ini merupakan sebuah kebiasaan orang kulit putih. Sarah mengajarkan anak-anaknya tidak makan di rumah-rumah tetangganya lantaran “mereka mempersembahkan makanan kepada berhala”. Dan dengan begitu ia menyatakan dirinya menentang adat lama yang memperlakukan anak-anak sebagai tanggung jawab umum semua orang, toh tak peduli seperti apa hubungan di antara orang tua, anak-anak mereka bermain bersama dan saling berbagi makanan.

Suatu hari seorang tetangga menawarkan sepotong ubi jalar kepada Chike yang baru berusia empat tahun. Si bocah menggelengkan kepalanya dengan angkuh dan bilang, “Kami tidak makan makanan orang kafir.” Si tetangga marah sekali, namun ia mengendalikan diri dan hanya menggerutu bahwa bahkan seorang ‘Osu’ kini penuh harga diri karena orang kulit putih.

Dan ia benar. Di masa lalu seorang ‘Osu’ tak dapat mengangkat kepala kotornya di hadapan orang merdeka. Ia adalah budak bagi salah satu dewa-dewa suku. Ia orang yang dibedakan, bukan dihormati tetapi dipandang hina dan hampir diludahi. Ia tak dapat menikahi orang merdeka, dan ia tak dapat menyandang gelar sukunya. Jika ia mati, ia dikuburkan oleh sesamanya di ‘Semak-semak Buruk’.

Sekarang semuanya telah berubah, atau mulai berubah. Tak pelak seorang anak ‘Osu’ dapat melihat orang merdeka di bawah hidungnya, dan bicara tentang makanan orang kafir! Orang kulit putih sungguhlah pandai dalam berbagai hal.

Ayah Chike awalnya bukan seorang ‘Osu’, tetapi pergi dan menikahi seorang perempuan ‘Osu’ dalam nama Kristen. Belum pernah ada seorang laki-laki menjadikan dirinya ‘Osu’ seperti itu, dengan mata yang terbuka nyalang. Tetapi Amos pasti hilang ingatan jika tidak gila. Agama baru merasuki kepalanya. Seperti anggur palma. Sebagian orang meminumnya dan tetap waras. Sebagian yang lain kehilangan setiap pikiran sehat dalam keinginan mereka.

Satu-satunya orang yang mendukung Amos dalam pernikahan gilanya adalah Tuan Brown, seorang misionaris kulit putih yang tinggal di sebuah atap ilalang, rumah pendeta berdinding tanah merah dan sangat dihormati oleh banyak warga, bukan lantaran khotbahnya, melainkan karena klinik yang ia jalankan di salah satu ruangannya. Amos muncul dari rumah pendeta Tuan Brown yang sangat terlindungi itu. Beberapa hari kemudian ia memberi tahu ibunya yang sudah janda, yang baru-baru ini masuk Kristen dan mendapat nama Elizabeth. Rasa syok hampir membunuh perempuan itu. Ketika ia sembuh, ia berlutut dan memohon Amos untuk tidak melakukan hal ini. Tetapi Amos tak mau mendengar; telinganya tertutup rapat. Akhirnya, dalam keputusasaan, Elizabeth pergi mencari bantuan dukun.

Dukun ini seorang lelaki berkekuatan besar dan bijak. Sambil duduk di lantai gubuknya memukuli tempurung kura-kura, dengan selapis kapur putih di seputaran matanya, ia melihat tak hanya masa kini, tapi juga apa yang telah lewat dan yang akan terjadi. Ia dipanggil ‘manusia empat mata’. Bergegaslah Elizabeth tua bertandang, si dukun mengulurkan untaian kerang-kerangnya dan dikatakannya kepada Elizabeth apa tujuan kedatangan perempuan itu menemuinya. “Putramu bergabung dengan agama orang kulit putih. Dan kau juga pada masa tuamu tatkala kau tahu lebih baik. Dan apa kau mengira anakmu terserang penyakit jiwa? Mereka yang bertemu dengan kerumunan semut api harus bersiap-siap mengunjungi cicak.” Ia memberi kerang-kerangnya sebuah angka waktu dan menulis dengan jari di atas mangkuk pasir, dan terus menerus bicara sendiri. “Berhenti!” ia meraung, dan seketika ia pun terdiam. Dukun ini kemudian berkomat-kamit membaca sejumlah mantera dan terputus-putus melafalkan pepatah secara susul-menyusul seperti kerang-kerang dalam untaian sihirnya.

Akhirnya ia memberikan pengobatan. Para leluhur marah dan harus diredakan dengan seekor kambing. Elizabeth tua melakukan ritual, tetapi putranya tetap saja gila dan menikahi seorang gadis ‘Osu’ bernama Sarah. Elizabeth tua pun meninggalkan agama barunya dan kembali kepada kepercayaan suku mereka.

Ah, kita menyimpang dari pokok cerita. Tetapi ini penting untuk mengetahui bagaimana ayah Chike menjadi seorang ‘Osu’, karena bahkan sampai hari ini tatkala semuanya serba terbalik, cerita seperti ini masihlah sangat langka. Sekarang kembali pada Chike yang menolak makanan orang kafir pada waktu berumur empat tahun, atau mungkin lima.

Dua tahun kemudian ia masuk sekolah dusun. Tangan kanannya kini dapat melewati kepalanya mencapai telinga kiri yang membuktikan ia telah cukup besar untuk mengikuti pelajaran orang kulit putih yang misterius. Ia senang sekali pada pensil dan buku barunya, dan terutama pada kemeja putih dan celana pendek linen seragam sekolahnya. Namun pada masa-masa perkenalan baru sepanjang hari pertama, pikiran mudanya tertinggal dalam banyak kisah tentang guru-guru dan tongkat mereka. Dan ia mengingat lagu yang kakak perempuannya nyanyikan, sebuah lagu yang memiliki refrain agak mencemaskan:

Onye nkuzi ewelu itali piagbusie umuaka.”

Salah satu cara memberi tekanan dalam nyanyian “Ibo” adalah dengan dilebih-lebihkan, sehingga guru pada saat pengulangan lagu tak boleh memaksa anak-anak hingga membuat mereka kehilangan minat. Tetapi tanpa ragu si guru memaksa mereka. Dan Chike sangat memikirkan hal itu.

Sebagai anak kecil, Chike dikirim untuk apa yang disebut “kelas agama” tempat mereka menyanyi, dan kadang-kadang menari, katekismus. Ia mencintai riuh kata-kata dan ia mencintai irama. Selama pelajaran katekismus berlangsung, kelas dibentuk melingkar untuk menanggapi pertanyaan guru. “Siapakah Caesar?” tanyanya lantang, dan lagu pun pecah tiba-tiba dengan hentakan-hentakan kaki.

 

Siza bu eze Rome

Onye nachi enu uwa dum.”

 

Tak menjadi persoalan bagi mereka yang hidup di abad dua puluh. Caesar tak lagi menguasai dunia.

Dan kadangkala, mereka bahkan menyanyi dalam bahasa Inggris. Chike sangat menyukai “Ten Green Bottles”. Mereka jadi terampil berkata-kata tapi mereka hanya mengingat baris pertama dan terakhir. Bagian tengah lagu disenandungkan, pelan dan seperti berkomat-kamit:

 

Ten grin botr angin on dar war,

Ten grin botr angin on dar war,

Hm hm hm hm hm,

Hm hm hm hm hm hm,

An ten grin botr angin on dar war.”

 

Dengan cara ini, tahun pertama pun terlewati. Chike naik ke Taman Kanak-kanak, tempat tugas secara alami lebih serius dikerjakan.

Kita tak perlu mengikuti mereka meneruskan Taman Kanak-kanak. Itu bakal membuat penuh sebuah cerita tersendiri. Toh, tidak ada bedanya dari cerita anak-anak yang lain. Di Sekolah Dasar, bagaimana pun, karakter pribadinya mulai ditunjukkan. Ia mengembangkan kebencian yang kuat pada aritmatika. Namun ia mencintai kisah-kisah dan lagu-lagu. Dan ia menyukai, terutama sekali, bunyi kata-kata Inggris. Beberapa di antara mereka dengan gampang mengisi soal-soal dengan girang. ‘Periwinkles’ ibarat sebuah kata. Ia sekarang ingat bagaimana mempelajarinya atau apa persisnya itu. Ia punya maksud sendiri yang samar-samar untuknya dan itu sesuatu yang berhubungan dengan tempat menyenangkan.

Guru Chike gemar menyusun kata-kata panjang. Ia menyatakan diri sebagai lelaki yang sangat terpelajar. Hiburan favoritnya menyalin kata-kata kunci-pecahan dari Kamus Etimologi ‘Chambers’-nya. Hanya di waktu lain ia mendapatkan tepuk tangan dari kelasnya dengan mematahkan argumen seorang anak yang terlambat dengan pengetahuan tak terbantahkan. Katanya: “Penundaan adalah pembelaan orang malas”. Pengetahuan sang guru menunjukkan dirinya pada setiap pelajaran yang ia ajarkan. Pelajarannya mengesankan. Chike selalu ingat pelajaran metode penyebaran bibit. Menurut guru, terdapat lima metode: oleh manusia, oleh binatang-binatang, oleh air, oleh angin dan oleh mekanisme penguapan. Murid-murid yang lupa semua metode mengingat “mekanisme penguapan”.

Chike secara alamiah terkesan pada kata-kata sang guru yang meledak-ledak. Tetapi kenyamanan tempat menyenangkan yang kata-katanya diperuntukkan baginya merupakan persoalan berbeda. Kalimat pertama dalam “Metode Baru Bacaan”-nya cukup sederhana dan masih memenuhi mereka dengan sedikit luapan kegembiraan: “Dahulu ada seorang penyihir. Ia tinggal di Afrika. Ia pergi ke China untuk mendapatkan sebuah lampu.” Chike membacanya berulang-ulang di rumah dan kemudian membuat lagunya. Lagu itu merupakan sebuah lagu yang tak bermakna. “Periwinkles” termasuk di dalamnya, dan juga “Damascus”. Namun itu tak ubahnya sebuah jendela, yang melaluinya Chike melihat di kejauhan sesuatu yang asing, dunia baru yang ajaib. Dan ia bahagia. (*)

 

Catatan:

Osu: Orang buangan/terusir. Memiliki persembahan kepada dewa, Osu adalah tabu dan dilarang bercampur dengan orang merdeka dalam banyak hal (penerjemah).

 

Chinua Achebe lahir di Nigeria, 1930. Ia dibesarkan di Dusun Ogidi, sebuah pusat misionaris Anglikan pertama di bagian timur Nigeria dan mendapat pendidikan di University College, Ibadan. Achebe mempublikasikan puisi, novel, cerpen, esei, dan buku anak-anak. Puisinya Christmas in Biafra memenangi Commonwealth Poetry Prize dan novelnya Anthills of the Savannah merupakan salah satu finalis Booker Prize 1987.

Cerpen ini diterjemahkan oleh Sunlie Thomas Alexander dari judul asli “Chike’s School Days” dalam kumpulan cerpennya Girls at War and Other Stories (1973).

Advertisements