Ia Datang Tak Mengetuk Pintu Lebih Dulu


Oleh Setta SS (Eramuslim, 6 April 2009)

SEORANG pemuda di Damaskus telah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Dia memberi tahu ibunya bahwa waktu take-off pesawat adalah jam sekian. Ibunya diminta membangunkannya jika telah dekat waktunya. Dan pemuda itu pun tidur.

Sementara itu, si ibu mengikuti berita cuaca dari radio yang menjelaskan bahwa angin bertiup kencang dan langit sedang mendung. Sang ibu merasa sayang terhadap anak satu-satunya itu. Karenanya, dia tidak membangunkan anaknya dengan harapan dia tidak jadi pergi pada hari itu lantaran cuaca sangat tidak mendukung itu. Dia takut akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Ketika dia sudah yakin bahwa waktu perjalanan telah lewat dan pesawat telah tinggal landas, ibu itu bermaksud membangunkan anaknya. Ternyata si anak telah meninggal di tempat tidurnya. [1]

***

Di negeri Syam ada seorang laki-laki yang memiliki truk Lorie. Ketika truk itu dijalankan, tanpa diketahuinya di atas badan truk itu ada orang. Truk itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan.

Tiba-tiba hujan turun dan air mengalir deras. Orang itu pun bangun dan masuk ke dalam peti, dan membungkus dirinya dengan kain yang ada di dalam peti. Kemudian di tengah perjalanan ada seorang yang lain naik menumpang ke bak truk itu di samping keranda. Dia tidak tahu bahwa di dalam peti itu ada orang.

Hujan belum berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwa dirinya hanya sendirian di dalam bak truk itu. Tiba-tiba dari dalam peti ada tangan terjulur—untuk memastikan apakah hujan sudah berhenti atau belum. Ketika tangan itu terjulur, kain yang membungkusnya juga terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dan takut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada di dalam peti itu hidup kembali. Karena takutnya, dia terjungkal dari truk dengan posisi kepala di bawah. Dan, mati. [2]

***

Sebuah bus penuh sesak dengan penumpang. Sopirnya selalu menoleh ke kiri dan ke kanan, dan secara tiba-tiba sopir itu menghentikan bus itu.

Para penumpang pun bertanya, “Mengapa engkau menghentikan bus ini?” Sopir itu menjawab, “Saya berhenti untuk menghampiri orang tua yang melambai-lambaikan tangannya hendak turut menumpang bersama kita.”

Para penumpang jadi bertanya-tanya, “Kami tidak melihat siapa-siapa.”

Tapi sopir itu melihatnya, “Lihat, itu dia.”

Mereka tetap bingung, “Kami tidak melihat seorang pun.”

Sopir itu pun kembali berkata, “Kini dia datang untuk naik bersama kita.”

Semua penumpang berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat siapa-siapa.”

Dan secara tiba-tiba pula, sopir itu mati terduduk di atas kursinya. [3]

***

Seorang teman saya sakit demam berdarah dan harus dirawat inap di RSUD Sardjito, Yogyakarta. Selama seminggu lebih, kami teman-teman dekatnya bergiliran menjaganya di sana.

Di dalam satu ruang perawatan itu, ada dua orang pasien. Di samping ranjang teman saya adalah seorang kakek penderita asma akut. Istri dan seorang anak perempuan kakek menungguinya. Setelah lewat satu minggu menjalani perawatan, kondisinya sudah berangsur membaik. Nafasnya sudah mulai normal. Selang oksigen yang terpasang di hidungnya sudah boleh dilepas. Dan, kakek sudah mampu menghabiskan setiap jatah makannya dengan lahap.

Malam itu, Minggu, 27 Januari 2008. Saya kembali kebagian piket menunggui teman saya.

“Wah, Kakek sudah sehat ya?” kata saya ikut senang. “Kapan Kakek pulang?”

“Besok pagi Kakek pulang,” sang istri menimpali pertanyaan saya dengan wajah berhias senyuman.

Lewat tengah malam, saat lorong-lorong di sepanjang bangsal perawatan sudah senyap, saya mencoba memejamkan mata di sebuah bangku dengan posisi duduk. Di ruangan yang sama, istri kakek dan anak perempuannya tampak sudah tertidur di lantai di samping ranjang kakek. Teman saya juga sudah terlelap di ranjang pesakitannya.

Tiba-tiba, asma kakek kambuh lagi. Nafasnya tersengal hebat, memburu tak teratur. Tubuh kurusnya terguncang-guncang mengikuti irama tarikan nafasnya. Tampak tersiksa sekali. Spontan istri dan anak perempuan kakek terbangun dan panik seketika.

Dini hari itu, agak terlambat dokter jaga tiba untuk memeriksa kondisi sang kakek. Dan, kakek pun menghembuskan nafasnya yang terakhir tak lama berselang setelahnya.

Benarlah apa yang dikatakan istri kakek, pagi itu kakek pulang. Pulang meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

***

Maka sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib, “Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian jadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”

Ungkapan Ali itu mengingatkan kita, bahwa manusia harus selalu siap siaga, memperbaiki keadaannya, dan senantiasa memperbaharui taubatnya.

Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa saja, tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja, dan tidak pernah merajuk. Kematian itu tidak pernah memberikan aba-aba terlebih dahulu.

Sesungguhnya ada banyak sekali ragam potret kematian di sekitar kita. Semoga Allah Swt. menghindarkan kita dari kematian su’ul khotimah. Amin. (*)

 

 

4 April 2oo9 o8:o6 p.m.

[1], [2], dan [3] dikutip dari Kisah-Kisah Kematian oleh Dr. ‘Aidh Al-Qarni

 

One Response

  1. آمِيّنْ..آمِيّنْ..يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: