Ritual Satu Syawal


Oleh Setta SS (Kotasantri 20 September 2oo9)

“Amal perbuatan adalah bagaikan gambar yang mati, dan ruhnya ialah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.” (Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari)

***

APA aktivitas saya saat tanggal 1 Syawal itu tiba setelah sebulan penuh berpuasa?

Saat masih usia praremaja hingga menjelang kelulusan SMA, di kampung nenek-kakek saya di ujung barat Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Jika malam ‘Idul Fitri cerah dan ada rombongan takbir keliling lewat, saya dan teman-teman sebaya akan ikut rombongan itu berkeliling ke kampung-kampung tetangga dengan berjalan kaki. Membawa obor dari bambu yang diisi minyak tanah. Dan tak ketinggalan membawa bedug berdiameter seukuran drum yang dibawa di atas gerobak untuk ditabuh. Bersahutan dengan suara takbir, menambah keceriaan suasana malam takbir keliling saat itu.

Tidur di masjid dan baru pulang selepas shalat Shubuh adalah aktivitas berikutnya sepulang dari takbir keliling. Di kampung nenek saya sudah menjadi tradisi, setiap malam ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha selalu diisi dengan takbir semalam penuh di masjid-masjid.

Selepas shalat ‘Id di lapangan dan berganti pakaian, dengan wajah cerah berhias senyuman dan hati penuh suka cita, saya akan ikut berkeliling kampung bersilaturahim ke setiap rumah—dan mau tak mau harus mencicipi hidangan yang disediakan di setiap rumah yang saya masuki. Begitulah rutinitas saya seperti yang sudah menjadi tradisi di negeri ini saat hari Fitri itu tiba.

Namun selepas meninggalkan dunia kampus, saya belajar untuk memaknainya secara lebih dalam dan dewasa. Selepas shalat Maghrib berjama’ah di masjid di hari terakhir Ramadhan di kampung nenek-kakek saya, saat anak-anak sudah mulai ramai berebut pengeras suara untuk mengumandangkan takbir atau mereka yang berebut untuk memukul bedug; saya masih terpekur cukup lama di dalam masjid. Mencoba menghitung tentang seberapa banyak amal yang telah saya perbuat selama Ramadhan yang baru saja berlalu sambil bertanya-tanya pada diri sendiri.

Puasa tingkatan manakah yang sudah saya jalankan sebulan penuh ini—khawashul khawash, khawash, atau baru sebatas tingkatan puasa awam?

Apakah saya termasuk dari golongan orang-orang yang mendapatkan keutamaan malam seribu bulan dan berhak atas pengampunan dosa-dosa yang terdahulu?

Cukup layakkah diri ini menyandang predikat takwa saat mentari menyinari bumi esok hari? Sudah ikhlaskah ibadah yang saya lakukan sepanjang Ramadhan ini semata hanya karena-Nya? Masih adakah kesempatan untuk kembali bersua denganmu, Ramadhanku, di tahun yang akan datang?

Tak terasa, air mata saya akan mengalir tanpa saya mampu membendungnya saat-saat terpekur di penghujung Ramadhan seperti itu.

If one star falls every time we make mistake, I bet the sky is dark already now. So let’s lighten it up again by forgiving each other.

Jauh selepas shalat Isya, saya akan beranjak ke masjid untuk bertakbir bersama sambil mencoba menghayati setiap maknanya dengan sepenuh hati. Bahwa takbir itu tidak sebatas terlantun di bibir saja. Tapi hakikat takbir itu adalah kemenangan yang hakiki.

Keesokan harinya, sepulang dari shalat ‘Id di lapangan, saya tidak ikut berkeliling ke setiap rumah seperti saat saya masih kecil dulu. Selain karena hampir semua sahabat karib dan kerabat dekat sekampung sudah bertemu, masih ada kesempatan di sore hari atau hari-hari berikutnya untuk berkunjung ke rumah mereka.

Untuk setiap kesungguhan kita menyapa Ramadhan, taqabbalallahu minnii wa minkum, shiyaa-manaa wa shiyaa-makum. Semoga selalu ada ruang maaf dalam silaturahim kita. Selamat ‘Idul Fitri! (*)

.

.

Yogyakarta, 24 Juni 2oo8 o8:2o a.m.

.

Catatan:

Imam Ghazali dalam Ihya membagi bobot puasa menjadi tiga tingkatan, yaitu:

[1] puasa awam, yakni menahan makan, minum dan syahwat pada lawan jenis di siang hari di bulan Ramadhan;

[2] puasa khawash, yaitu puasa anggota badan; menahan mata dan tangan dari yang haram, menahan langkah kaki dari jalan menuju maksiat, manahan telinga dari mendengarkan yang tidak ada manfaatnya, dan menahan lidah dari ghibah (membicarakan orang lain);

[3]puasa khawashul khawash, yaitu mengikat hati dengan kecintaan pada Allah Swt., tidak memperhitungkan selain-Nya, membenci perilaku maksiat kepada-Nya, dan hanya menyibukkan hati dengan ketaatan dan dzikir kepada-Nya.

.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: