Cerpen Fitriyanti (Republika, 5 September 2010)

AKU berdiri di depan sebuah rumah mewah berlantai dua di kawasan elite ibu kota. Pagarnya terdiri dari beberapa tiang pancang berbentuk pilar bundar kira-kira setinggi tiga meter dikelilingi pagar besi berukir.

Aku menengok kiri-kanan, bak seorang maling mengintai rumah yang hendak disatroni. “Apa betul ini rumah Mamakku?” Lagi-lagi aku ragu.

Tapi pada amplop berisi sepucuk surat Etek yang ditujukan kepada Mamak, sudah tertulis dengan benar alamat yang kutuju. Rumah Mak Ujang, adik kandung ibu.

***

Ibuku empat bersaudara. Kakak ibu kupanggil Mak Tuo, ibu adalah anak kedua, Mak Ujang anak ketiga, dan Tek Gadih anak keempat. Tapi beda kehidupan mereka berempat bak bumi-langit. Orang tuaku sangat mapan. Sementara Mak Tuo, Mamakku, dan Etek Gadih, hidup pas-pasan. Mereka hidup dari upah jahit borongan dari ibu yang membuka toko pakaian muslim.

Seminggu sekali kulihat mereka datang ke rumah silih berganti. Kadang membawa anak-anaknya. Juga kulihat orang-orang dari kampung asal ibu dan ayah silih berganti datang. Ketika pulang mereka semua membawa bekal dengan kambuik yang aku tak tahu persis apa isinya.

Bila ayah ada, jangan harap tamu-tamu itu berani menginjakkan kakinya di rumah. Ibu memberi kode melalui jendela rumah supaya mereka menunggu di seberang jalan, atau menunggu di bawah jendela. Kemudian ibu keluar membawa bekal untuk mereka.

Ayahku biasanya duduk menatap ke arah jendela yang berlawanan, yakni ke arah pemandangan gunung Singgalang sambil merokok dan minum kopi dengan sepiring pisang goreng. Sungguh aneh menurut pemikiran kanak-kanakku: kenapa mereka tak berani masuk rumah bertemu ayah. Bahkan kehadiran mereka seolah bayangan tak ada arti di mata ayah. Atau mungkin ayah pura-pura tidak tahu kalau mereka bertamu ke rumah, atau bisa jadi ayah sudah tahu maksud kedatangan mereka yang rutin itu. Apalagi kalau bukan minta uang?

Pintu depan rumah tak pernah dibuka bila ada tamu ibu. Mereka masuk lewat pintu samping, melalui pintu dapur yang juga menjadi pintu ke luar masuk kami anak-anaknya. Pintu depan menuju ruang tamu hanya dibuka kalau itu tamu ayah atau di saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

***

Suatu hari di bulan Ramadhan, menjelang berbuka puasa, Mamakku datang. Entah bagaimana, dia basirobok dengan ayah yang baru tiba dari Jakarta. Tasirok darah mamakku melihat wajah ayah, yang menurutku biasa-biasa saja, tidak menyeringai apalagi meraung. Entah kenapa, sosok ayahku begitu menakutkan Mamakku itu.

Mamakku bergegas menyisi. Anehnya, ayah bersikap seolah-olah tidak ada siapa-siapa di hadapannya. Mamak tidak masuk ke rumah, dia balik berputar menuju bawah jendela di samping rumah.

Kalau terjadi “kecelakaan tertangkap basah” seperti ini, perkaranya pasti jadi panjang. Dari kamar tidur, sayup kudengar suara ibu bertengkar dengan ayah.

“Mau apa lagi dia ke sini? Sampai kapan adikmu menadahkan tangan. Sejak kecil dia ikut kita, kusekolahkan. Tapi tak ada hasilnya. Kumodali manggaleh. Rugi terus, jangankan beruntung, pokoknya pun tandas. Kunikahkan dia, sudah pula. Anak istrinya aku pula yang harus menanggung. Aku lelah. Aku sudah tua. Anak-anakku masih kecil dan perlu biaya.” Kudengar suara ayah penuh kemarahan.

Kulihat mamak berdiri di bawah jendela tak berkutik. Wajahnya pucat tapi sorot matanya begitu dalam. Seolah meredam geram. Rahangnya bergerak-gerak, seperti mau bicara tapi tak ada kata-kata yang terucap.

Tak lama kemudian ibu keluar dari kamar kemudian keluar memutar rumah ke tempat Mamak berdiri tegak bak patung. Ibu membungkus bekal seperti biasa dan Mamak bergegas pergi. Tanpa menoleh lagi.

***

Ibarat pepatah, hidup bagaikan roda berputar, kadang di atas kadang di bawah. Suatu hari, Pasar Atas Bukittinggi terbakar. Termasuk toko ayah yang menjual barang-barang bermerek buatan luar negeri. Juga toko-toko kecil lainnya yang mengambil barang secara grosir dari ayah.

Sejak itu ayah sakit-sakitan; ekonomi kami morat-marit. Pedagang tak mau membayar barang dagangan yang mereka ambil dari ayah, mereka tertimpa musibah yang sama.

Menurut salah seorang kakakku, ayah depresi hebat karena bangkrut. Ayah tak mengenali kami lagi. Ibu berusaha membuka toko lain dengan menjual emas simpanannya. Walau usaha ibu tidak sebesar dan semaju usaha ayah tapi masih bisa mencukupi kebutuhan kami sehari-hari.

Tiga tahun kemudian ayahku meninggal dalam kemiskinan. Kehidupan kami semakin parah, karena ibu berpulang menyusul ayah beberapa tahun kemudian, tak tahu aku apa penyakitnya. Mungkin ibuku depresi pula. Jadilah kami anak-anak yatim piatu.

***

Mak Ujang, setelah kebakaran itu merantau ke Jakarta, coba mengadu nasib. Hanya Etek Gadih saja yang berkomunikasi dengannya melalui surat dan menyimpan alamat Mak Ujang yang berpindah-pindah.

Aku tinggal bersama dua kakak dan seorang adik. Kami melakukan apa saja yang penting bisa menghasilkan uang. Kami serumah dengan Mak Tuo dan Etek Gadih. Rumah yang kami tempati dulu ternyata rumah kontrakan, bukan milik orang tuaku, kami tak sanggup membayar sewanya.

***

Beberapa bulan setelah lulus SMA, di bulan Ramadhan, aku minta izin pada keluarga untuk merantau ke Jakarta.

Aku sudah berbulat tekad meninggalkan Bukittinggi. Setelah bersitegang urat leher dengan kakak dan adikku, akhirnya dengan berat hati niatku mereka izinkan.

Etek Gadih, memberi uang untuk tiket bus dan bekal di perjalanan.
Kakak dan adikku juga memberi apa yang bisa mereka berikan, termasuk doa dan harapan tentunya. Mak Tuo menitipkan sedikit oleh-oleh.

Tak lupa alamat rumah Mak Ujang dan sepucuk surat dari Etek Gadih, juga nasihat agar aku hati hati di perjalanan. Kuperhatikan alamat rumah pada amplop surat terakhir dari Mak Ujang. Menurut teman SMA-ku yang pernah tinggal di Jakarta, alamat ini berada di kawasan perumahan elite. Itu artinya Mak Ujang sudah kaya pula. Sekaya apa dia, ya?

***

Gonggongan anjing yang menyalak dari balik pintu gerbang membuatku tersentak. Sebuah sedan mewah yang aku tak perhatikan mereknya membunyikan klakson dan tak lama pintu gerbang terbuka, mobil itu masuk. Aku menepi memberi jalan.

Aku terpaku berdiri di luar. Pintu gerbang masih menganga lebar ketika kulihat Mak Ujang keluar dari mobil. Aku tak pernah melupakan sosoknya, walau dia nampak lebih gemuk dan bersih, juga nampak sangat dandy. Berkacamata hitam dan menggenggam handphone model terbaru. Dia memandang sejenak ke arahku, kemudian berbalik seolah tak melihat apa pun. Mak Ujang masuk menuju pintu utama rumah yang tinggi berukir Jepara indah. Sebelum pintu ditutup sempat kulirik isi rumahnya yang mewah.

“Barangkali dia tak mengenalku lagi. Bagaimana tidak, hampir 15 tahun kami tak jumpa,” kucoba menghibur diri.

Tak lama kemudian istrinya keluar dari mobil dan memandang ke arahku. Aku melambaikan tangan. Herannya dia pun seolah tak kenal. Aku cuma berdiri menatapnya.

Di saat pintu gerbang hendak ditutup, seorang perempuan seumurku dengan wajah tak ramah menyapa dan bertanya, “Mau cari siapa?” Dia menatapku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Tanpa bicara sepatah kata pun, surat dari Etek Gadih yang sejak tadi kupegang yang kubolak-balik hingga kumal kuserahkan padanya. Aku rasa dia pembantu. Dia membaca nama dan alamat yang tertera di amplop, lalu menyuruhku menunggu tanpa mempersilahkan masuk.

Tak lama dia keluar lagi dan mempersilahkanku masuk. Kupikir masuk melalui pintu ruang tamu utama, seperti Mak Ujang dan istrinya tadi.
Ternyata tidak! Pintu utama ke rumah itu, tertutup rapat.

Aku dibawa masuk melalui pintu samping lewat dapur, lalu berputar-putar, bahkan melewati kolam renang yang lumayan besar ukurannya. Aku cingangak-cingangak melihat kemegahan rumah Mak Ujang.

Kami tiba di ruangan kecil, terletak antara dapur dan kamar pembantu. Banyak benda-benda tak berguna atau jarang dipakai, berserakan. Ada meja setrika dan kain bertumpuk di atasnya.

“Mungkin ini gudang,” pikirku sambil mencari kursi yang layak kududuki. Agak heran juga aku, kenapa tidak disuruh masuk menemui Mak Ujang; setidaknya aku disuruh duduk di ruang tamu. Entahlah, kepalaku begitu letih untuk memikirkan keganjilan ini. Perjalanan dari Bukittinggi ke Jakarta memakan waktu 30 jam lebih menguras energiku. Aku lelah sekali.

Pembantu itu datang lagi dengan segelas air putih dan sepiring kolak pisang. Beberapa menit lagi azan Maghrib. Tanpa mempersilahkan aku minum, dia berbalik meninggalkanku. Aku duduk tak tahu harus berbuat apa. Kenapa rumah yang begini besar terasa begitu sepi dan mencekam. Kucoba mengintip dari balik pintu yang mengarah ke ruang makan.

Sepi.

Tak ada keramahan yang menyambut kedatanganku. Terdengar suara azan dari televisi, aku tidak tahu di mana letak televisi itu.

Rasa haus mendadak menyerang. Tanpa pikir panjang aku meneguk air minum sampai habis tak bersisa. Melepas buka puasa, kulanjutkan menyantap sepiring kolak pisang. Nikmat sekali, walau aku sendirian di tempat yang asing ini.

Keteganganku agak berkurang. Ini hari terakhir puasa. Malam Takbiran telah tiba.

***

Pembantu seusiaku itu kembali dan membawa bungkusan plastik putih dengan tulisan Toko “La Mira”. Seingatku itu nama sepupuku, salah satu anak Mak Ujang. Alamat toko tertulis di sebuah Mall terkenal di Jakarta. Pembantu itu menyerahkan bungkusan itu serta sebuah amplop cukup tebal.

“Bapak dan ibu sedang istirahat, tak bisa diganggu. Lain kali saja kembali, jangan lupa telepon dulu dan buat janji kalau mau bertamu,” katanya dingin dengan wajah tanpa ekspresi.

Aku terpana, sungguh aku benar-benar terpana. Kupandang wajahnya, dia serius. Jangankan tegur sapa, ucapan selamat datang dan rasa rindu, apalagi pelukan dan usapan pada rambutku. Muncul pun tidak sosok Mak Ujang apalagi istrinya! Aku semakin terpana sewaktu pembantu itu seolah mengusir dengan menarik tanganku menuju pintu keluar, aku mengikutinya dari belakang seperti anak kecil yang dituntun ibunya. Linglung. Aku jatuah tapai.

Sewaktu melewati dapur ada pintu lebar yang menuju ruang tengah rumah, mungkin ruang keluarga. Kulirik ke dalam dan kulihat Mak Ujang sedang duduk di sofa sambil menghembuskan asap cerutu. Wajahnya menatap ke arah jendela di mana burung-burung peliharaannya berkicau merdu.

Di sebelah kursi, ada meja kecil yang penuh aneka kue-kue khas lebaran dan buah-buahan. Rasanya oleh-oleh yang kubawa dari Bukitttinggi, tak sepadan bila dijejerkan. Barangkali oleh-olehku hanya akan dimakan para pembantu.

Kulihat mulut Mak Ujang komat-kamit, persis seperti yang kusaksikan di masa kecilku dulu di Bukittinggi. Terasa ada sembilu mengiris ulu hatiku. Dadaku sesak dan sulit bernapas. Pandangan mataku nanar. Aku tidak tahan lagi.

Kukibaskan tangan pembantu yang masih mencekal tanganku. Aku berlari masuk rumah, tanpa dipersilahkan, mendekati Mak Ujang. Kulempar bungkusan serta amplop yang diberikan pembantunya tadi, persis di kakinya. Aku tahu bungkusan dan amplop itu pasti pemberian Mak Ujang.

Aku terduduk di lantai batu pualam yang begitu dingin. Aku menggigil kedinginan juga ketakutan. Menangis pilu kupegang kaki Mak Ujang. Aku merintih. Seluruh jiwa ragaku luluh lantak. Tak ada kata yang terucap. Tenggorokkanku tercekat.

Kuperhatikan Mak Ujang, aku merasa melihat sosok ayah…. Aku bergidik memandangnya.

Sayup kudengar takbir diiringi suara bedug bertalu-talu berirama merdu, menggema dari masjid, musholla, juga televisi.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa illaaha illallaahu wallahu Akbar… Allahu Akbar walillaah Ilham….”

Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi. Semuanya begitu gelap. (*)

 

 

Penulis tinggal di Jakarta dan cerpennya pernah mendapat penghargaan 20 besar AA Navis Award. Beberapa cerpennya juga diikutsertakan pada Khatulistiwa Award oleh Hamsad Rangkuti.

 

Advertisements