Cerpen Setta SS

TENGAH hari tengah tahun tujuh tahun silam, Yogyakarta. Bulir-bulir keringat merembes di antara pori-pori kulit kepala, menetes dari wajah, dan berbiak di sekujur tubuh. Aku semakin gegas berjalan. Warung burjo si Mul tujuanku.

Detik itulah sesungguhnya aku memulai pengembaraan, membingkai auramu dalam kamar imajiku, Alin. Namun seperti juga diriku, pasti kau pun tak pernah berpikir perjumpaan pertama kita yang tak pernah direncanakan itu akan mengantarmu pada kisah yang akan kutuliskan ini.

Aku duduk di salah satu bangku panjang. Meletakkan tas gemblong yang selalu dipenuhi buku-buku. Ya, aku suka membaca. Tapi sesungguhnya, aku lebih suka membawa tas yang berat penuh dengan buku daripada tas yang mengkerut dan ringan tak ada isinya. Kau duduk tak tenang di ujung sana, di bangku panjang lain yang berbeda posisi sembilan puluh derajat.

Aku bersyukur, lensa mataku sempat memotret sosokmu sekilas. Wajah khas gadis ras kuning, rambut terurai sebahu, mengenakan kemeja warna merah menyala berlengan panjang, dan rok levis hitam selutut. Aku baru ingat, warna kemeja itu seperti warna yang mendominasi kelenteng Kwan Tee Kiong di pertigaan jalan tidak jauh dari kampusku. Tempat yang selalu dipadati warga keturunan Tionghoa saat hari ibadah. Jangan-jangan kau pun pernah hadir di sana?

Satu hal lagi yang khas darimu. Suara aneh yang tertangkap gendang telingaku. Bervolume kecil, sayup, dan basah. Tidak pernah aku mendengar pita suara lain mengolah bunyi seperti yang keluar dari tenggorokanmu. Tentu saja, aku mendengar suaramu dengan jelas ketika kau berbalik langkah ke warung. Memprotes si Mul yang memberikan gula pada minuman yang kau pesan.

“Buatkan lagi! Tapi tanpa gula, ya?!”

Kau bersungut-sungut seperti anak kecil, Alin. Dan, maafkan aku yang telah diam-diam menertawakanmu saat itu.

Kini izinkan aku menuliskannya untukmu, Alin. Cerita tentang kita.

***

Tuhan, tanpa kuberitahu pun, Kau pasti tahu apa yang berkecamuk di hatiku. Meski malu, aku tetap mengadu pada-Mu.

Maafkan aku, Tuhan, karena aku telah mengagumi salah seorang makhluk-Mu. Aku yang hatinya tak pernah tersentuh oleh laki-laki, kini telah terisi penuh olehnya. Aku tahu Kau pencemburu. Aku pun tidak ingin cintaku terhadapnya melebihi cintaku kepada-Mu. Aku sangat mencintai-Mu. Airmata ini sering mengalir karena sangat ingin berjumpa dengan-Mu. Tapi aku yakin, dia bisa membawaku ke surga untuk berjumpa dengan-Mu.

Dia hamba-Mu yang sangat baik, sangat terjaga. Dia selalu mengingatkanku untuk menghafalkan surat-surat cinta-Mu. Karena dia dan teman-temannyalah aku bisa mengenal agama-Mu. Meski aku kesal dia sering memarahiku, tetapi aku sangat suka marahnya. Dia marah agar aku menjadi lebih baik. Nasihat-nasihatnya mampu menjaga imanku.

Maafkan aku telah diam-diam bersimpati padanya, Tuhan. Aku tak tahu sejak kapan rasa ini ada.

***

Mengenal sosokmu adalah keajaiban. Semua tentangmu adalah keajaiban. Kau bercerita padaku; selepas shubuh pagi itu. Kau tentu masih mengingatnya kan?

“Namaku Lin Che Ying. Kau boleh memanggilku Alin…,” kau memahat namamu di dinding otakku pertama kali saat itu, sebelum memulai kisahmu. “Aku lahir prematur. Kekebalan tubuhku sangat jelek, sudah bagus bisa hidup seperti bayi lain. Tapi aku lelah sakit terus. Aku lelah harus menelan berbagai jenis obat setiap empat jam sekali setiap hari.” Aku terdiam, merekam semua yang kau ucapkan dalam pita memori.

“Keluargaku semua non-muslim, kecuali Mama. Saat menikahi Mama, Papa masuk Islam. Tetapi hanya sebentar, tak lama kemudian Papa balik lagi ke agama sebelumnya. Keluargaku sangat berkecukupan. Namun aku tumbuh dalam belaian Oma, ibu angkatku, sejak kecil. Papa sangat gila kerja. Sedangkan Mama bukan seorang ibu yang dekat dengan anak-anaknya.”

Aku menghela nafas berat, mencoba berbagi empati untukmu. Mencoba meraba apa yang sedang kau rasakan saat itu. “Sejak kapan kau menjadi seorang muslimah?” tanyaku memastikan, mengisi keheningan yang berdentang.

Dan kau tak pernah menjawab pertanyaanku.

Kau membetulkan syal yang membelit leher. Rambut panjangmu tergerai. Aku duduk bersandar ke dinding belakang masjid, masih dengan setumpuk buku-buku bacaanku. Dulu aku tinggal sebagai marbot di masjid itu. Sementara kau bersimpuh tak jauh di depanku, dibatasi pembatas shaf shalat wanita yang tak sampai satu meter tingginya. Tak ada orang lain. Shubuh baru saja lewat. Aku sempat kaget saat kau meminta izin masuk hanya bercelana jin dan jaket serta syal putih susu bersulam coklat.

“Mau ngobrol dengan Tuhan.”

Aku hanya mengangguk tak paham.

Setengah jam setelahnya, kau masih khusuk duduk berbicara dengan Tuhanmu.

Tuhanmu adalah Tuhanku juga, kan?

Guratan takdir menepikan kebersamaan kita yang baru seumur jagung. Aku sudah menyelesaikan studi, sementara kau baru memulai kuliah. Rentang waktu setelah shubuh pagi itu dan hari saat kuberkemas adalah hari-hari di mana aku menyaksikanmu tumbuh menjadi sosok seorang muslimah. Kau mulai belajar mengenakan hijab, tetapi masih lebih sering kau tak memakainya. Aku bahagia, sangat bahagia. Entahlah. Aku diam-diam mulai memendam perasaan ini.

Kita semakin kerap berinteraksi saat kau diajak teman-teman satu asramamu mengajar adik-adik sekitar kompleks membaca Al-Qur’an di masjid setiap sore hari. Aku semakin mengenalmu. Kau seorang gadis Chinese yang santun dan bertabur pesona. Tidak hanya aura masa remajamu sebagai seorang model top yang terus memancar, sikapmu yang tidak sombong di hadapan kami adalah nilai plus tersendiri. Kau sangat mencintai anak-anak. Kau ternyata memiliki tujuh anak angkat yang kau ambil dari beberapa panti asuhan dari beberapa negara yang berbeda—Zahra dari Palestina, Frint dari Negeri Sakura, Fizi dari Jakarta, dan empat anak lainnya yang aku lupa nama dan asal mereka—di istanamu di bilangan elit ibu kota, seperti yang kau ceritakan padaku pada suatu waktu.

Kau memiliki empati yang sangat dalam pada sesama yang sedang menderita. Bagaimana aku makan jika membayangkan saudara-saudaraku di pengungsian? Mereka sudah makan belum ya? Aku merasa seperti penjahat. Di luar sana banyak yang kena musibah, kenapa aku malah tiduran! Sesalmu saat menyaksikan di layar kaca ribuan pengungsi di Palestina, Libanon, dan Pangandaran—beberapa hari berselang setelah dihantam tsunami, berjejalan di tenda-tenda darurat dalam kondisi sangat memprihatinkan. Kau menumpahkan resah hatimu padaku.

Aku sangat yakin, setiap mata akan terpasung saat diam-diam menikmati pesonamu. Tetapi aku harus meninggalkanmu. Kita akan berpisah sementara waktu yang tak tentu. Untuk sebuah waktu yang tak berbingkai.

Alin, apakah kau pun merasakan sesuatu bergolak di hatimu tentang kita detik-detik itu?

***

Aku selalu menyebut namanya dalam setiap doaku. Kadang aku berkhayal bisa hidup bersamanya; shalat tahajjud bersama, ke masjid bersama, bahkan mendidik anak-anak bersama agar mereka menjadi hamba-hamba-Mu yang taat. Namun aku merasa tidak pantas untuknya. Aku tidak mau menjadi bebannya. Mencintai adalah membuat orang yang dicintai bahagia, bukan menyusahkannya.

Pintaku hanya satu, bahagiakanlah dia di mana pun dia berada. Kutitipkan dia pada-Mu. Jangan biarkan dia sendiri atau bersedih. Jika tidak berjodoh di dunia, semoga kami bisa bersama di surga-Mu kelak. Jika aku terlahir kembali di kehidupan mendatang, biarkan aku hidup bersamanya meski hanya sesaat.

Maafkan aku, Tuhan, tetapi aku sungguh mencintainya.

***

Aku hijrah ke Kota Hujan, bergelut dengan ritme kerja di sebuah perusahaan swasta yang tak pernah bisa kunikmati—aku ingin mencari tempat kerja baru dengan jam kerja normal. Tapi sepenggal hatiku tertinggal di satu sudut Kota Pelajar. Hari-hari setelah itu adalah hamparan kerinduan tak bertepi padamu. Ah, aku tidak harus malu mengakui hal ini sekarang. Karena aku tahu, kau pun diam-diam memendam rasa yang sama, senantiasa memandangku dari jauh. Kau selalu menyempatkan membaca tulisan-tulisanku di blogku ‘kan?

Dan waktu terus merambat pasti meniti keabadian. Aku sangat takjub dan kagum padamu saat seorang adik angkatku di kampus bercerita panjang lebar tentangmu, dua tahun tepat sesudah perpisahan itu berjarak. Hari-harimu adalah perbaikan diri menuju kesempurnaan. Kau terus belajar, belajar, dan tak pernah lelah belajar mengenal Tuhanmu. Jasa teman-teman sepondokanmu di Asrama Shafiyah tak ternilai harganya untuk percepatan perubahanmu itu tentunya. Kini kau selalu berangkat ke kampus mengenakan pakaian muslimah lengkap. Jilbab putih lebar dengan motif bunga-bunga melati merah jambu, gamis dan rok juga kaos kaki yang serasi di 174 sentimeter tinggimu, katanya. Aku tersihir hingga seketika lupa sosokmu terdahulu.

Hanya kemudian aku sangat sedih, Alin. Komplikasi sakitmu semakin kerap menggerogoti ragamu. Sebegitu rentankah tubuhmu yang terlahir prematur itu?

Alhamdulillah, aku lagi sakit parah. Mungkin harus dioperasi lagi yang kedua. Amandel. Sudah beberapa hari tidak bisa ngomong dan makan/minum.

Aku kena TBC usus. Aku turun 7 kg! Pantas kalau jalan seperti melayang-layang. But don’t worry! I’m gonna be OK! Sure! Insya Allah! Coz I know God with me.

Kabarmu lewat pesan singkat, dalam rentang waktu yang tak berjeda lama.

Sungguh aku tak dapat membayangkan penderitaanmu, tetapi yang kutahu kau selalu berusaha tegar dalam bayanganku. Bahkan kau masih sempat bercerita kepadaku di sela jeda sakitmu:

Aku lihat film sangat bagus. Pemuda yang dilahirkan beda dengan orang lain. Tidak bisa terkena cahaya apapun—apalagi cahaya matahari. Dia hanya bisa hidup tiga hari jika terkena cahaya. Karena kulitnya akan terkelupas dan kemudian akan mati mengenaskan. Semua dokter di dunia tidak tahu obatnya. Dia hidup dalam kegelapan. Jendela rumahnya saja berlapis tiga. Takut ada cahaya masuk. Setelah dewasa ia sadar, karena dirinya orang tuanya ikut terbiasa dalam kegelapan. Dia merasa bersalah. Tetapi ia juga ingin tahu dunia luar. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk hidup tiga hari dan merasakan hidup yang sesungguhnya. Awalnya orang tuanya tidak setuju. Tapi melihat anaknya bahagia hidup seperti anak lain; melihat laut, keramaian orang, berteman, jatuh cinta, berkelahi, akhirnya mereka setuju juga. Tiga hari berlalu, waktunya tiba. Pemuda itu pun mati dengan bahagia telah melihat dunia.

Ah, Alin! Aku tersenyum miris membacanya. Tidakkah cerita itu ditujukan khusus untuk dirimu sendiri dan bukan untukku?

Hingga aku pun pada akhirnya tahu, deritamu lebih ganas dari sekadar itu. Kau bercerita lebih jauh dan menyumpahku untuk merahasiakannya. Kau menderita kanker otak dan kanker darah stadium akhir!

Aku tertunduk dalam mendoakan kesembuhanmu di setiap jenak waktu.

***

Tuhan, aku sedang sangat sedih. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku dengar ada hadis yang mengatakan suami istri yang saleh di dunia, di akhirat pun akan tetap menjadi suami istri.

Jadi jika dia menikah dengan seseorang, istrinya di akhirat adalah wanita itu juga? Benarkah begitu? Lalu bagaimana denganku, Tuhan?

Aku berharap meski kami tidak berjodoh di dunia, semoga kami berjodoh di akhirat. Tapi jika hadis itu benar, berarti di akhirat pun aku tidak bisa bersamanya?

Oh, Tuhanku, aku sangat sedih. Tapi aku akan sangat bahagia jika bisa melihatnya meski dari jauh. Aku sangat ingin bersamanya, Tuhan. Meski hanya menjadi rumput dan memandang dia dan istrinya jalan-jalan di taman surga.

***

Dini hari, 2011, di salah satu hunian kompleks riset terpadu.

Lelaki muda itu menutup diary bersampul biru di atas meja kerjanya. Ia tak suka menangis. Tetapi ia selalu tak bisa tak menangis setiap membaca kembali diary biru itu. Ia menyelipkan diary itu di antara buku-buku tebal Teknologi Konservasi Energi di rak pustaka. Lampu duduk dimatikan dan ia beranjak ke luar ruangan.

Ghalia, istrinya, lelap telentang di ranjang mereka. Sepasang tangannya di atas perut yang membuncit tujuh bulan. Lelaki muda itu merunduk, membelai dan mencium perut istrinya. Menempelkan telinganya hati-hati, merasakan pergerakan makhluk mungil di dalamnya.

Lelaki muda itu bangkit, berlama-lama memandang wajah damai Ghalia. Dalam temaram lampu tidur, bibirnya tersungging indah, namun kedua ceruk matanya meleleh. Ia bahagia dan haru dalam selarik waktu. Sebelum mengecup kening istrinya seperti membaui wangi kasturi.

Wajah itu fotokopi Alin. Tak ada orang yang sanggup membedakan sosok keduanya kecuali lelaki muda itu, mertua, dan keluarga dekat mertuanya. Ia menikahinya setahun lalu, tak lama berselang setelah pertemuan pertama mereka—sebetulnya bukan pertemuan pertama, melainkan yang kesekian kalinya tanpa pernah disadari oleh lelaki muda itu; Ghalia sangat sering menggantikan adik kembarnya selama menjalani perkuliahan di Kota Pelajar karena sakit yang kerap menyambangi Alin— di rumah duka. Ketika ia mengantar Alin ke rumah peristirahatan terakhirnya.

Dinda, ikhlaskah kau membagi sepotong diriku untuk Alin di surga kelak? bisik lelaki muda itu pelan, berbaur dengan dengkur halus istrinya. (*)


 

Yogyakarta, 8 April – 4 September 2o1o 11:55 a.m.

Mengenangmu, Alinku.

 

Advertisements