Cerpen Musyafak Timur Banua (Republika, 29 Agustus 2010)

FULAN belum berhenti memandangi puncak masjid. Kubah itu masih separuh jadi. Sepertiga bagian belakangnya masih rangkaian besi yang belum ditutup lembaran stainless bening. Namun, dilihat dari depan kubah itu sudah tampak gagah. Tertimpa cahaya matahari hingga kilau-milaunya seolah mencolok mata.

Makin lama memandangi kubah itu, Fulan makin merasa kurang senang. Tidak seperti jamak orang yang bahagia-ria menyaksikan masjid baru itu hampir selesai dibangun. Dua mingguan lagi masjid itu diperkirakan sempurna wujudnya.

Mestinya Fulan turut bangga dengan berdirinya masjid baru yang besar di kampungnya. Luasnya dua kali lipat dari masjid yang dulunya masih tersusun dari kayu dengan lantai ubin biasa. Kini di hadapannya itu berdiri masjid tingkat dua. Alas dan dindingnya berlapis marmer. Juga kubah berbentuk cembung besar dengan ujungnya mengerucut yang disusun dari logam stainless yang rupanya nyaris serupa kaca cermin.

Perasaan antipatik itu dibiarkan Fulan berkembang di hatinya. Menurut dia, masjid itu terlalu megah berada di kampung orang-orang yang jamaknya tidak berkelebihan harta seperti dirinya. Barangkali perasaan Fulan hanya sentimental terhadap nasibnya sendiri yang lumrah dirundung kekurangan di dalam rumah tangganya. Tapi, yang lebih memungkinkan adalah ingatan-ingatan yang membuatnya lantas merenungi soal pembangunan masjid itu.

Tujuh tahunan silam ide pembangunan masjid dicetuskan. Penggagasnya adalah orang-orang kaya di kampungnya. Masjid yang lawas dirasa menyempit karena kian tahun jamaah makin bertambah. Khususnya setiap pelaksanaan shalat jumat atau tarawih di bulan puasa, masjid sangat sesak. Gagasan pelonggaran masjid masuk akal demi maslahat.

Rajul, salah satu orang kaya di kampungnya terpilih menjadi ketua panitia pembangunan. Rajul termasuk orang yang berapi-api menggagas pembesaran masjid. Ia banyak memberikan usul mengenai rancang-bangun masjid. Omongannya membuat banyak orang percaya hingga menyepakati ide-idenya. Tak kecuali para pemuka agama yang setuju penuh atas pelbagai perencanaan yang dikendalikan Rajul.

Pendanaan diperinci dengan matang agar dalam jangka waktu lima tahun ke depan masjid sudah berdiri. Biaya pembangunan masjid dibebankan kepada seluruh warga kampung dengan cara menyumbangkan amal jariyah gabah paling sedikit 50 kilogram setiap panen padi.

“Lalu, bagaimana orang-orang yang tidak memiliki hasil panen sebab tidak mempunyai sawah atau garapan?” tanya Fulan ketika itu.

Maka itu, ditetapkan bagi orang-orang yang tidak memiliki hasil panen harus mengganti uang yang setara nilai tukarnya dengan berat gabah. Putusan yang sebenarnya disepakati secara terpaksa oleh sebagian orang.

Mestinya, pikir Fulan, orang-orang yang tidak memiliki sawah beramal jariyah lebih ringan. Nyatanya, dua kali dalam setahun, Fulan tetap saja harus mengeluarkan uang jariyah Rp 100 ribu. Jumlah yang tidak kecil baginya, itu pun jika harga gabah berada di titik terendah. Jika harga gabah sedang tinggi, jariyah dikeluarkan Fulan bisa mencapai satu setengah kali lipat.

“Ini kesempatan untuk beramal sebanyak-banyaknya. Kesempatan menumpuk pahala setinggi-tingginya. Apalagi ini amal jariyah, pahalanya akan mengalir terus-menerus,” kata Rajul.

“Ya ya…” jawab Fulan. “Hanya ini yang bisa kuberikan.” Tangannya mengangsurkan selembar uang lima puluh ribuan.

“Ini belum ada separuh, Lan!”

“Hanya itu yang kupunya.”

“Baiklah, minggu depan aku ke sini lagi!”

Fulan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya menatap, seperti tatapan kosong, pada Rajul beserta rombongan panitia pembangunan yang bertugas menarik jariyah itu keluar dari rumahnya. Terjadi kekosongan pekat yang tiba-tiba di dalam dirinya. Lalu, ia merasa seperti seorang tawanan di dalam rumah sendiri. Tawanan yang seminggu kelak akan dieksekusi.

Tiba waktu yang dijanjikan Rajul. Tapi, Fulan tetap saja berkelit dari Rajul. Ia belum bisa memenuhi kekurangan amal jariyahnya. Ia meminta waktu lagi kepada Rajul.

“Saya belum ada uang. Barusan tadi pagi membayar uang sekolah anakku. Kasih waktu seminggu lagi, pasti kugenapi jika benar-benar ada uang,” pinta Fulan.

“Lan, Fulan…” Rajul mendecap. “Seminggu lagi, seminggu lagi! Urusan sekolah anak saja kamu dahulukan. Tapi, agama kau buat buntut! Di mana takwamu?”

Fulan tercekat. Dadanya serasa disentak benda keras secara tiba-tiba.

“Bagaimanapun caranya, minggu depan harus ada. Ini sudah batas waktu terakhir!” pesan Rajul dengan nada tinggi seraya melenggang pergi.

Fulan masih terpaut ucapan Rajul yang terus mengiang di telinganya. “Benarkah aku menjadikan agama sebagai buntut?” tanyanya pada diri sendiri. “Ah, tidak!” Fulan mengelak dari tudingan Rajul. Menurut perhitungannya sendiri, ia rutin melaksanakan shalat, tak sekali-kali ia tinggalkan kecuali aral sungguh-sungguh tak bisa dielak. Ia juga puasa ketika Ramadhan. Ia juga turut pengajian di masjid ketika waktunya senggang—bahkan sekali-kali disempatkannya. “Lalu di mana takwaku?” Fulan terus meraba dirinya. Hingga ia terlempar pada masa lalunya. Masa ketika ia masih suka mabuk-mabukan, main togel, juga botoh. Tapi itu dulu! “Kini aku adalah orang berbeda dari masa laluku. Orang yang sedapat-dapatnya berbuat baik dan mencegah hal-hal buruk, baik bagi diriku sendiri maupun orang lain. Lalu, takwa apa yang sedang kau tanyakan padaku, Jul, Rajul….”

Di dalam kamar, istri Fulan membekap dada. Sesekali diurut-urut, bahkan diremas-remas dadanya itu. Ucapan Rajul sekian detik lalu didengarnya pula. Dan, kini masih dilihatnya dari lobang dinding kamar, suaminya masih berdiri mematung sunyi.

Perempuan itu mulanya ingin meminta uang belanja kepada Fulan. Namun, kini ditahannya. Ia tak ingin menambah beban pikiran suaminya. Diam-diam perempuan itu meneteskan air mata. Dirasakan kedua pipinya tergores garis bening yang hangat. Selanjutnya, perempuan itu dikuasai kekalutan. Ia kembali mengingat masa-masa susah hidup berumah tangga dengan Fulan, lelaki yang berpekerjaan serabutan belaka itu. Penghasilan dari mencari barang-barang bekas atau rongsokan tidak membuat keluarganya berkelebihan. Malahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih sering kekurangan hingga tak jarang mencari bantuan utang dari kerabat atau tetangga. Perempuan itu senantiasa berupaya sedapat-dapatnya mencukupkan diri. Berkali-kali ia menahan diri untuk tidak menuntut lebih kepada Fulan yang sudah mengupayakan penghidupan secara sungguh-sungguh. Yang membuatnya senantiasa bersyukur adalah mendapati Fulan tidak lagi malakukan perbuatan haram sejenis mabuk, togel, dan botoh yang dulu menjadi kebiasaan buruknya. Sebuah berkah tak terkira baginya seusai kelahiran anak keduanya—kini berusia empat tahun—yang menyadarkan Fulan tidak lagi maksiat-maksiatan.

Perempuan itu sangat ingin memeluk Fulan.

***

Masjid sudah jadi sempurna. Fulan tidak bisa menepis kesan pongah dan angkuh atas tampakan masjid baru itu. Kubahnya berkilauan di siang hari. Malam harinya kubah itu berhias lampu warna-warni yang berkelap-kelip mirip ribuan kunang-kunang sedang berkejaran.

Rajul tampak bersuka-cita dan berbangga-ria sebab merasa telah berhasil mendirikan masjid baru nan besar. Nama Rajul dan sekawanan orang sebangsanya yang kaya masih tertulis dengan jelas di papan pengumuman amal jariyah beserta besaran uang atau material yang telah disumbangkan. Papan pengumuman itu selalu dilihat orang-orang ketika berjamaah di masjid. Dan, sekali-kali mereka masih membicarakannya.

“Kita sudah mendirikan rumah Tuhan yang besar dan megah. Dua ribu jamaah bisa tertampung di masjid baru ini. Semoga pahala kita terus mengalir tanpa putus,” kata Rajul serta membusungkan dada.

Orang-orang mengangguk-anggukkan kepala. Mereka turut merasakan sebuah kemenangan yang memuaskan. Sangkanya, tentu pahala dari amal jariyah yang disumbangkan untuk pembangunan masjid itu bisa menghapus dosa-dosa masa lalu. Ketika memandang masjid itu seolah orang-orang tengah menatap jauh pada surga yang dijanjikan Tuhan.

Namun, tak ada yang lebih membahagiakan bagi Fulan kecuali takkan ada lagi penarikan amal jariyah. Ia merasakan kebebasan di dalam diri untuk kelak bisa beribadah tanpa diminta atau diatur-atur orang lain. Ya, ia masih ingin bersedekah atau beramal jika kelak punya berlebih harta. Beramal dengan rasa senang dan ikhlas sekuasa dirinya, tanpa ditentukan besarannya oleh orang lain.

“Kita perlu menggelar tasyakuran. Karena itu, kita perlu sekali lagi menarik sedekah dari warga. Seikhlasnya saja,” usul Rajul. Disambut dengan jawaban sepakat secara cepat.

Esok harinya, sebagian orang utusan Rajul bertamu dari pintu ke pintu. Mereka sedang meminta amal sedekah berupa uang untuk rencana tasyakuran atas selesainya pembangunan masjid baru. Seorang pemuda mendatangi Fulan ketika sedang duduk-duduk di teras rumah.

“Seikhlasnya saja, Fulan,” kata pemuda itu.

“Tasyakuran?” Fulan tertawa kecil.

Lalu, Fulan memandangi pemuda itu dengan tersenyum. Lama-lama senyumnya tampak mengejek. Fulan terus tersenyum-senyum hingga pemuda itu salah tingkah. Dan mendadak senyum itu berubah menjadi gelak tawa ketika Fulan bangkit dari bangku yang sedari tadi didudukinya. Tawanya makin keras. Sekeras-kerasnya. Seperti tawa yang tidak lagi bisa dikendalikan. Kini pandangan Fulan tidak lagi tertuju pada wajah pemuda yang tengah kebingungan itu. Mata Fulan menatap kubah masjid yang masih terjangkau penuh meskipun dari teras rumahnya. Tawa Fulan masih bergolak keras. Perlahan-lahan Fulan merasakan tubuhnya seolah mau terbang. Berangsur-angsur tubuhnya terasa ringan. Masih ditatapnya kubah masjid yang kemilau. Tapi, kini tertampak di matanya kubah itu miring ke kiri. Sesaat kemudian kubah itu miring ke kanan. Mata Fulan kebingung an melihat kubah yang oleng ke sana kemari. Lalu, semua pandangannya kabur tertutup dinding berwarna kuning yang begitu pekat.

Fulan terjungkal. Tubuhnya roboh dan rebah di tanah. Perutnya yang selama tiga hari hanya terisi air putih tak lagi kuat diajak tertawa. (*)

 

 

Semarang, Agustus 2010

 

Advertisements